
Lea bergegas menghampiri pintu, di mana Gail sudah berdiri di sana sambil tersenyum hangat kepadanya.
"Tuan Gail, ada yang bisa saya bantu?"
"Boleh aku masuk?" tanya Gail balik, karena Lea tidak juga mempersilakan dirinya untuk masuk ke dalam butik sederhana itu.
Lea tampak berpikir sejenak. "Mau apa dia sebenarnya? Dasar laki-laki aneh," batin Lea.
Setelah beberapa detik berikutnya, Lea pun menganggukkan kepala. "Baiklah, silakan masuk, Tuan Gail."
"Terima kasih."
Gail memasuki ruangan itu sambil melihat-lihat sekeliling. Ada banyak jejeran gaun pengantin yang cantik dan elegan terpajang di setiap sisi ruangan itu. Gail tidak pernah menyangka bahwa ternyata Lea adalah seorang perancang gaun pengantin.
"Semua ini, kamu yang membuatnya?" tanya Gail dengan takjub.
"Ya, Tuan. Ehm, mari silakan duduk."
"Oh ya, Terima kasih."
Gail segera menjatuhkan dirinya di sofa yang ada di ruangan itu. Begitu pula Lea, ia pun ikut duduk tak jauh dari lelaki itu. Pandangan Gail masih tertuju pada salah satu gaun pengantin yang terpajang di tengah-tengah ruangan. Gaun pengantin yang beberapa waktu yang lalu dibatalkan oleh Martha. Entah mengapa gaun itu berhasil mencuri perhatian Gail.
"Gaun itu cantik sekali," ucap Gail lagi.
Lea menoleh ke arah gaun itu kemudian tersenyum tipis. "Ya, Anda adalah orang yang kesekian kalinya berkata seperti itu. Namun, sayangnya hal itu tidak berlaku untuk sang pemilik. Pemiliknya sudah membatalkan orderannya dengan alasan yang menurut saya tidak masuk akal," tutur Lea.
"Benarkah?" Gail tampak terkejut. "Padahal gaun ini cantik sekali. Serius! Aku yang tidak mengerti dengan fashion-nya wanita saja, tahu bahwa gaun pengantin ini sangat cantik. Aku yakin dia pasti akan menyesali keputusanya," lanjut Gail.
Lagi-lagi Lea tersenyum tipis. "Ya, Anda benar. Wanita kaya itu memang menyesal dan ingin meminang gaun ini lagi. Tapi pantang bagi saya menyerahkan gaun ini karena dia sudah pernah menolaknya," sahut Lea.
"Ya, kamu benar. Aku suka dengan keputusanmu," jawab Gail dengan mantap.
__ADS_1
Lea melirik buket bunga mawar yang masih berada di tangan lelaki itu. "Sebenarnya apa yang membuat Anda berkunjung ke tempat ini. Jangan bilang kalau Anda ingin memesan gaun pengantin kepada saya," celetuk Lea.
"Ah, iya! Hampir saja aku lupa," ucap Gail sambil terkekeh pelan.
Gail lalu menyerahkan buket bunga mawar yang ia pegang kepada Lea dan disambut oleh Lea dengan ekspresi wajah bingung.
"Untuk apa bunga ini, Tuan?" Kedua alis Lea mengerut, menatap rangkaian bunga nan cantik itu.
"Untukmu, Lea. Bunga itu khusus khusus untukmu. Semoga kamu menyukainya," sahut Gail dengan wajah semringah menatap Lea.
"Untukku?" Lea makin kebingungan. Ia merasa ada yang aneh pada sikap lelaki yang baru ia kenal itu. Namun, walaupun ia tidak mengerti dengan maksud Gail, Lea tetap menerima hadiah itu dengan senang hati.
"Ya, untukmu."
"Terima kasih, Tuan. Bunganya cantik, aku suka." Lea pun tersenyum hangat.
"Syukurlah kalau kamu menyukainya. Oh ya, bisakah kamu berhenti memanggilku 'Tuan'? Panggil saja aku Gail, biar kita ngomongnya sedikit lebih nyaman," ucap Gail kemudian.
Lea pun mengangguk pelan. "Ehm, baiklah kalau begitu, Gail. Tapi kamu masih belum menjawab pertanyaanku. Mau apa kamu ke sini? Dan satu lagi, siapa yang sudah kasih tau kamu kalau aku berada di sini?"
Lea mengangguk pelan. Sekarang ia tahu siapa yang sudah memberikan alamat butiknya kepada Gail.
"Sebenarnya aku ...." Gail menghentikan ucapannya karena tiba-tiba Sri muncul dengan membawa nampan berisi dua buah minuman segar serta beberapa camilan untuk Gail dan Lea.
Wanita muda itu tersenyum lebar. Ia kemudian meletakkan isi nampan tersebut ke atas meja. Setelah semuanya tersusun rapi, Sri pun segera kembali ke dalam. Namun, diam-diam ia mengintip dari dalam. Mengamati wajah tampan itu dari kejauhan.
"Ya, Tuhan! Ganteng sekali pria itu. Tapi sepertinya dia menyukai Mbak Lea, deh. Ya, sudahlah. Semoga mereka berjodoh," gumam Sri sambil terkekeh pelan.
Sementara itu.
"Minumlah, Gail. Dan jangan lupa lanjutkan Kata-katamu," ucap Lea dengan wajah datar.
__ADS_1
Gail tertawa pelan sambil mengelus tengkuknya. "Ehm, terima kasih. Sebenarnya aku ke sini ingin mengajakmu jalan-jalan, Lea. Aku ingin kenal lebih jauh tentangmu. Boleh 'kan?"
Lea menautkan kedua alisnya heran sambil berpikir. "Mengajakku jalan-jalan? Ehm, maafkan aku, Gail. Aku bukannya menolak ajakanmu. Tapi sepertinya untuk saat ini aku tidak bisa. Aku masih punya banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan," sahut Lea.
Gail tersenyum kecut. Seumur hidupnya, ini adalah pertama kali ajakannya ditolak oleh seorang wanita. Bahkan Martha saja sangat menunggu moment-moment yang seperti itu.
"Ehm, bagaimana kalau nanti malam? Kamu tidak sibuk 'kan? Aku ingin mengajakmu dinner ke suatu tempat," ajak Gail lagi, berharap kali ini Lea menerima ajakannya.
Lea tampak berpikir keras. Sebenarnya ia ingin menolak ajakan Gail. Namun, sayangnya ia sudah tidak punya alasan apa pun lagi yang sekiranya masuk akal serta tidak melukai perasaan lelaki yang baru dikenalnya itu.
Lea menghembuskan napas berat. "Baiklah, tapi hanya sekedar acara makan malam, 'kan? Soalnya kamu tahu sendiri bagaimana kondisiku. Aku tidak bisa terlalu lama beraktivitas seperti orang pada umumnya, Gail. Aku mudah sekali lelah dan kaki ini ...." Lea mengelus kaki palsunya.
"Kaki ini akan terasa perih dan panas jika aku terlalu lama menggunakannya," lanjut Lea dengan tatapan sedih menatap kaki palsunya.
Gail tiba-tiba terdiam. Penuturan Lea barusan berhasil membuat hati Gail terasa dicabik-cabik. Ia kembali teringat bahwa yang terjadi pada Lea adalah karena perbuatannya. Ingin sekali ia memeluk dan menenangkan wanita di hadapannya itu. Namun, ia tidak mungkin melakukan hal itu karena Lea pasti akan menolaknya.
Gail pun menepuk pundak Lea dengan lembut. "Ya, kita hanya akan makan malam saja. Aku berjanji tidak akan membuatmu lelah."
Lea mengangkat kepala lalu menepis tangan Gail dari pundaknya dengan lembut. "Ya, jemput aku di rumah pukul 8 malam ini," ucapnya.
Gail tersenyum lebar. "Ya, baiklah. Pukul delapan malam. Terima kasih, Lea, karena sudah bersedia memberikan sedikit waktu berhargamu kepadaku."
"Ehm, sama-sama."
Lea berharap Gail segera pergi setelah ia menyetujui ajakannya. Namun, ternyata salah. Lelaki itu malah terlihat betah berada di butiknya tersebut. Padahal Lea sudah berkali-kali mencoba menyindir lelaki itu. Hingga tidak terasa, matahari pun sudah berada tepat di atas kepala.
Kini tiba saatnya untuk Lea dan Sri beristirahat makan siang. Tanpa diduga, Gail sudah mempersiapkan makan siang untuk mereka. Lelaki itu sengaja memesan makanan untuk mereka nikmati bersama-sama.
"Wah, sering-sering seperti ini ya, Tuan Gail. Biar kami semangat kerjanya," celetuk Sri dengan wajah berbinar menatap berbagai menu yang tertata rapi di atas meja.
Lea menyikut lengan Sri kemudian melototkan matanya ketika Sri menoleh. "Ish, kamu ini."
__ADS_1
"Tentu saja, Sri. Kalau boss-mu mengizinkan, aku pasti akan sering-sering berkunjung ke sini," jawab Gail sembari melirik Lea yang masih menatapnya dengan tatapan datar.
...***...