Gadis Kaki Palsu

Gadis Kaki Palsu
GKP 58


__ADS_3

Lea masih ragu-ragu. Ia kemudian menatap Sri, seakan minta pendapat wanita itu. Sri menggelengkan kepalanya perlahan dan wajahnya terlihat begitu cemas.


"Jangan, Mbak. Biarkan aku di sini. Aku tidak akan meninggalkan Mbak ke mana-mana. Aku takut dia melakukan sesuatu yang tidak diinginkan sama Mbak," ucap Sri bersikeras tidak ingin meninggalkan Lea sendirian.


Martha sudah tidak sabar. Ia tampak kesal karena kelamaan menunggu. "Ya, sudah! Sebaiknya aku pulang saja. Lagi pula, kamu juga tidak tertarik dengan ceritaku," ucapnya lagi.


"Tunggu, Martha! Baiklah," sahut Lea, sebelum Martha sempat melangkahkan kakinya.


Kini Lea menatap Sri dengan wajah sendu. Sri mengerti apa maksud majikannya itu. Namun, ia masih bersikeras ingin menemani dan menjaganya.


"Please, Sri. Sebentar saja," ucap Lea, memohon agar Sri mengerti akan keinginannya.


"Baiklah, Mbak." Sri melangkahkan kakinya melewati tubuh Martha yang berdiri tepat di hadapan Lea. Sri mendengus kesal dan dengan mata melotot menatap wanita itu.


"Awas, kamu! Jangan macam-macam!" ancam Sri kepada Martha.


Martha tersenyum sinis sambil bergidik. "OMG, aku takut sekali!" jawabnya.


Sepeninggal Sri.


"Baiklah, Martha. Sri sudah pergi dan sekarang hanya kita berdua. Sekarang katakan padaku, siapa yang sudah menabrak kami pada malam itu," tanya Lea yang sudah tidak sabar.

__ADS_1


Martha tersenyum kemudian kembali menjatuhkan dirinya di sofa. "Kamu , Lea. Kamu bahkan mengenalnya seperti ini," sahut Martha. Memperlihatkan dua jarinya kepada Lea. Jari tengah dan jari telunjuk yang saling berdempetan.


"Tidak usah berbasa-basi, Martha. Cukup katakan saja, siapa orang itu!" tegas Lea.


"Serius? Kamu ingin mengetahuinya sekarang?" tanya Martha sambil tersenyum sinis.


Lea memasang wajah malas. Seandainya bukan karena ingin mengetahui siapa pelakunya, mungkin Lea tidak akan pernah ingin berhadapan dengan wanita aneh itu.


"Jangan berbelit-belit, Martha. Jika memang kamu tahu siapa pelakunya, sebaiknya katakan saja. Jika kamu memang hanya ingin mengulur waktuku saja, sebaiknya kamu pulang sekarang karena aku masih banyak pekerjaan."


Martha terkekeh mendengarnya. Ia menarik napas dalam lalu bangkit dari posisi duduknya. Ia berdiri di hadapan Lea kemudian menatapnya dengan begitu serius.


"Baiklah kalau begitu. Sekarang aku bertanya padamu. Apa alasan Gail menikahimu, Lea? Jawab dengan jujur!"


"Jawab saja," sahut Martha.


"Ya, karena dia mencintaiku lah, apa lagi?" celetuk Lea, walaupun sebenarnya ia ragu apakah jawabannya benar atau salah. Sebab selama ini Lea sama sekali tidak tahu apa alasan Gail menikahinya.


Martha tergelak. " Sekarang pasang telingamu dan dengarkan ceritaku baik-baik." Martha memutari tubuh Lea sambil tersenyum sinis.


"Kenapa kamu yakin sekali kalo Abigail benar-benar mencintaimu, Lea? Apa kamu tidak sadar, kondisimu dan Abigail itu sangatlah jauh berbeda. Kalian itu bagai bumi dan langit. Dia adalah lelaki yang sempurna, tampan dan mapan. Tapi, cobalah lihat dirimu! Kamu itu cacat dan tidak cocok jika bersanding dengannya. Kamu tidak tahu 'kan kalau ada sesuatu yang tengah ditutupi oleh Abigail di balik pernikahan kalian ini? Kalau kamu ingin tahu jawabannya, sebaiknya kembalikan ke rumahmu dan temukan sesuatu yang sudah disembunyikan oleh Abigail darimu,"tutur Martha panjang lebar.

__ADS_1


Alis Lea berkerut. "Apa maksudmu, Martha? Jangan bilang kalau kamu ingin mengatakan bahwa pelakunya adalah Abigail, suamiku?"


Martha tertawa pelan. "Memangnya kamu pikir dia menikahimu karena dia begitu mencintaimu, Lea? Oh, kamu salah besar! Dia melakukannya karena merasa kasihan padamu, hanya kasihan!"


Lea menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Ti-tidak mungkin! Itu tidak mungkin!" elak Lea.


"Sekarang pulanglah, Lea. Mumpung suamimu masih bekerja karena jika ia berada di rumah, dia tidak akan pernah membiarkan kamu berhasil menemukan bukti-bukti itu," ucap Martha lagi.


"Oh ya, sedikit bocoran. Setelah pulang, segeralah masuk ke garasi mobil. Karena di sana kamu akan menemukan barang bukti yang sangat kuat dan kamu akan sadar bahwa yang aku katakan itu adalah benar. Jangan lupa untuk berterima kasih padaku, ya!" celetuk Martha sambil tersenyum puas.


Lea masih syok mendengar ucapan Martha barusan. Ia terdiam dengan wajah bingung.


"Tabahkan hatimu, Lea, karena mimpi tidak seindah kenyataan," ucap Martha sembari tergelak. Ia melenggang pergi dan meninggalkan Lea yang masih kebingungan di tempat itu.


Melihat Martha sudah melenggang pergi, Sri pun bergegas masuk lalu menghampiri Lea yang masih terdiam di posisinya. wajahnya tampak memucat dan sepertinya wanita itu tidak sedang baik-baik saja.


"Apa yang dibicarakan oleh wanita itu, Mbak?" tanya Sri penasaran.


"Sri, aku harus segera pulang!" ucap lea.


***

__ADS_1


Maaf, segini dulu, ya. soalnya beberapa hari ini otor gak sempat nulis karena si kecil suka rewel 😢


__ADS_2