
Lea masih kepikiran dengan kata-kata yang diucapkan oleh Nyonya Helena barusan. Namun, ia tidak ingin menceritakannya kepada Gail. Lea lebih memilih menyimpannya seorang diri.
Lea duduk di depan meja rias sambil termenung, memikirkan kata-kata wanita itu. Sementara Gail sudah berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Gail merendam tubuhnya di dalam bathtub yang berisi air hangat. Mata lelaki itu tampak terpejam, sementara kepalanya terus memikirkan sesuatu.
"Apa yang harus aku lakukan malam ini? Apakah aku bisa menyentuhnya?" gumam Gail dengan raut wajah cemas.
Setelah puas berendam, Gail pun segera keluar dari bathub kemudian membilas tubuhnya hingga bersih. Ketika Gail sudah keluar dari kamar mandi, ternyata Lea sudah selesai melepaskan gaun pengantin serta semua aksesoris yang menempel di tubuhnya.
Tampak Lea tengah mempersiapkan tempat tidur untuk mereka nanti malam. Gail tersenyum kecil lalu menghampiri Lea yang sedang sibuk menata bantal serta guling yang ada di atas tempat tidur mewah itu. Ia memeluk Lea dari belakang sambil menciumi puncak kepalanya.
"Sayang, apa kamu sudah siap untuk malam ini?" bisik Gail dengan begitu mesra.
Lea tersipu malu. "Sebagai seorang istri yang baik, aku harus tetap siap, walaupun sebenarnya aku masih takut dan deg-degan."
Gail semakin erat memeluk tubuh Lea. "Aku sayang kamu, Lea."
"Aku juga, Mas."
Gail melerai pelukannya kemudian duduk di tepian tempat tidur sambil menatap Lea yang terlihat cantik dengan balutan dress tipis. Lea tampak serba salah ketika suaminya itu menatap dirinya tanpa berkedip sedikit pun.
"Ehm, sepertinya aku harus ke kamar mandi," ucap Lea, mencoba mengalihkan perhatian Gail.
"Butuh teman? Aku siap menemanimu," ucap Gail sambil tersenyum menggoda.
Lea menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Ehm, tidak usah. Aku bisa sendiri," sahut Lea.
Lea bergegas masuk ke dalam kamar mandi, sementara Gail masih tertawa pelan di sana sambil memperhatikan Lea yang sudah menjauh. Sepeninggal Lea, Gail segera berpakaian. Ia mengenakan setelan piyama tidur berwarna abu-abu.
Tok ... tok ... tok! Terdengar suara ketukan di pintu kamar, tepat setelah Gail selesai mengenakan pakaiannya.
"Ya?"
"Obat Anda sudah tiba, Tuan."
__ADS_1
Gail segera menghampiri pintu lalu membukanya. Tampak kepala pelayan berdiri di hadapannya sambil membungkuk hormat. Ia lalu menyerahkan obat yang sudah dipesan oleh Gail.
"Ini obat Anda, Tuan."
"Siapa yang mengantarkannya?" tanya Gail sembari meraih obat itu dari tangan sang kepala pelayan.
"Dokter Roni sendiri yang mengantarkannya, Tuan. Namun, ia tidak bisa menyerahkannya langsung kepada Anda karena ada sesuatu yang mendadak," jelas sang kepala pelayan.
Gail pun mengangguk kemudian menutup kembali pintu kamarnya. Ia membawa obat itu menuju tempat tidur. Gail kembali duduk di tepian tempat tidur sembari membaca aturan pakai yang tertera di bungkusan obat.
"Baiklah, cukup satu saja," gumam Gail setelah selesai membacanya.
Gail meraih satu buah pil tersebut kemudian meminumnya dengan secangkir air putih yang tersedia di atas nakas. Sementara obat yang masih tersisa, ia simpan di dalam laci nakas.
Tepat ketika Gail meminum pil itu, Lea keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang terlihat jauh lebih segar. Lea sempat melihat Gail menenggak obat tersebut. Namun, ia tidak tahu obat apa yang sudah diminum oleh suaminya itu.
Lea menghampiri Gail sambil tersenyum, begitu pula Gail. Lelaki itu segera membalas senyuman Lea dan berpura-pura seolah ia sedang baik-baik saja.
Lea kembali tersipu malu. Wajahnya tampak merah merona dan ia pun menundukkan kepalanya, tak ingin membalas tatapan Gail. "Aku ingin memakai piyamaku, Mas."
Gail meraih wajah Lea lalu menatapnya lekat. "Kenapa harus piyama? Kenapa tidak lingerie saja? Aku sudah menyediakan banyak lingerie di dalam sana dan kamu bisa memilihnya mm sesuka hatimu," ucap Gail lagi.
"Lingerie?" Lea tersenyum.
"Ya, Lingerie," jawab Gail.
"Baiklah kalau begitu." Lea segera bangkit dari posisinya kemudian bergegas memasuki ruang ganti pakaian, di mana lingerie itu berada.
Ternyata apa yang dikatakan oleh Gail benar. Ada berbagai macam lingerie berjejer di dalam sana. Berbagai macam bentuk serta berbagai variasi warna yang berbeda.
"Hmm, aku harus memilih yang mana? Semuanya cantik dan semuanya menggoda iman," celetuk Lea sambil memperhatikan satu persatu lingerie tersebut.
Hingga akhirnya pilihan Lea jatuh pada sebuah lingerie berwarna merah yang terlihat sangat cantik. Ia meraih lingerie itu lalu menentengnya.
__ADS_1
"Baiklah, aku pilih ini saja," gumamnya lagi.
Lea segera mengenakan pakaian penggoda iman tersebut ke tubuhnya. Setelah selesai, ia pun langsung berdiri di depan cermin untuk melihat apakah benda itu cocok di tubuhnya.
"Ah, lumayan lah! Setidaknya ini lebih baik," ucapnya sambil melenggak-lenggok di depan cermin berukuran besar itu.
Setelah beberapa saat, Lea pun kembali ke kamar. Ia melihat Gail masih duduk di tepian tempat tidur dengan kepala tertunduk menghadap lantai. Lea datang menghampiri, kemudian duduk di sampingnya.
"Kamu kenapa, Mas? Kamu sakit?" tanya Lea dengan cemas sambil memperhatikan wajah Gail yang masih tertunduk.
Gail menggeleng pelan. Obat yang ia minum kini mulai bereaksi. Gail mengangkat kepalanya lalu menatap Lea dengan tatapan lapar.
"Apa kamu sudah siap, Lea? Aku sudah tidak sabar," ucapnya sambil melepaskan satu persatu kancing piyamanya.
Lea menautkan kedua alisnya heran. Sikap Gail tiba-tiba berubah menjadi sedikit beringas. Lelaki itu memegang kedua pundaknya dengan erat lalu mendorongnya hingga terbaring di atas tempat tidur.
"Mas, kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Lea, mencoba memastikan bahwa Gail dalam kondisi yang baik-baik saja.
"Ya, aku baik, Lea. Bahkan aku tidak pernah merasa sebaik ini sebelumnya," sahut Gail dengan seringaian nakal.
Dengan buasnya Gail melucuti lingerie yang dikenakan oleh Lea. Ia mulai menciumi wajah, leher, pundak, dan hampir seluruh tubuh Lea dengan begitu beringas. Efek obat itu membuat Gail lupa diri. Ia tidak bisa mengontrol hasratnya yang menggebu-gebu.
Sebagai seorang istri yang baik, Lea hanya bisa pasrah dan membiarkan Gail menikmati seluruh tubuhnya tanpa bersisa sedikit pun.
\[Karena ini bulan puasa, yang hot-hot diskip aja ya, pemirsah 😆 author takut dosa!\]
Setelah beberapa jam kemudian.
Piyama milik Gail serta lingerie merah milik Lea berserak di lantai kamar. Kedua insan yang baru saja menyelesaikan kewajiban mereka, kini terkapar dengan napas yang masih memburu.
Lea berbaring di samping Gail dengan berbantalkan tangan kekar milik suaminya itu. Sementara Gail masih terdiam dengan tatapan kosong, menatap langit-langit kamar. Perasaan lelaki itu campur aduk. Antara senang dan sedih.
Senang, karena ia sudah berhasil menjadi suami yang sempurna untuk Lea walaupun saat ini hatinya masih kosong. Sedih, karena ia tidak tahu sampai kapan bisa menutupi kesalahan yang sudah ia lakukan kepada wanita itu.
... ***...
__ADS_1