
Di perjalanan.
Gail terlihat gelisah. Ia bahkan tidak bisa duduk dengan tenang di dalam mobil. Beberapa kali Nick melirik lelaki itu dan ia tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres padanya.
"Ada apa, Tuan Gail? Dari tadi saya perhatikan, Anda terlihat tidak tenang. Ada apakah gerangan?" tanya Nick dengan alis yang saling bertaut.
"Ehm, sebaiknya kita putar balik, Nick. Antar aku kembali ke rumah," jawab Gail sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tapi, Tuan." Nick protes karena mereka ada jadwal penting yang harus dihadiri pada pagi ini.
"Bagaimana dengan meeting hari ini?" lanjut Nick.
Gail menghembuskan napas kasar. "Lupakan! Aku sudah tidak peduli dengan meeting itu. Sekarang yang terpenting, kita harus kembali ke rumah!"
Nick tidak bisa berbuat apa-apa, selain menuruti perintah dari big boss nya itu. "Baiklah, Tuan."
Nick memutar balik dan kini mereka kembali menuju kediaman mewah Gail. Setibanya di tempat itu, Gail dengan terburu-buru memasuki rumahnya. Ia bahkan tidak berkata-kata apa pun lagi kepada Nick dan pergi begitu saja.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi pada tuan Gail. Sikapnya benar-benar terlihat aneh," gumam Nick sambil memperhatikan punggung Gail yang berjalan semakin menjauh darinya.
Gail berjalan menuju ruangan pribadinya yang ada di lantai dua. Ia memasuki ruangan itu lalu berjalan menghampiri meja kerja. Gail membuka laci meja dan mulai mencari-cari sesuatu di dalam sana.
Gail memporak-porandakan isi laci tersebut hingga ia berhasil menemukan setumpuk berkas yang ia simpan di tempat itu. Gail lalu duduk di kursi sambil membawa berkas itu. Ia membuka berkas tersebut kemudian membacanya dengan begitu serius.
"Putri Azalea dan Harris Sanjaya ...." Gail tiba-tiba terdiam dan seluruh tubuhnya bergetar dengan hebat. Bahkan berkas yang masih berada di genggamannya pun, ikut bergetar seiring dengan pergerakan tubuhnya.
"Ya, Tuhan! Apa yang sudah aku lakukan," gumamnya dengan mata yang mulai tampak berkaca-kaca.
__ADS_1
"Ternyata akulah orang yang kejam itu. Yang sudah merenggut nyawa Harris dan menghancurkan kehidupan Lea. Orang macam apa aku ini! Hanya demi menjaga sebuah nama baik, aku rela menghancurkan kehidupan orang lain."
Kini mata hati Gail telah terbuka. Ia baru sadar bahwa apa yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan yang sangat besar. Hanya demi menjaga nama baiknya di depan khalayak umum, dengan egoisnya ia melakukan hal yang tak terpuji itu.
"Sekarang, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana cara menebus semua kesalahanku? Apakah aku harus mengakuinya di hadapan Lea? Aku yakin, jika ia tahu bahwa akulah penyebab kecelakaan itu, ia pasti akan membenciku seumur hidupnya dan aku tidak ingin itu terjadi," gumam Gail sambil mengacak rambutnya yang sudah tersisir rapih.
Gail meraih ponselnya lalu menghubungi Nick yang ternyata juga masih berada di kediaman mewah itu. Gail meminta asistennya itu untuk segera menemuinya. Ia ingin minta penjelasan soal isi berkas itu. Tidak butuh waktu lama, Nick pun tiba di ruangan itu dengan wajah bingung. Ia bingung kenapa tiba-tiba Gail memanggilnya.
"Ya, Tuan?" Nick perlahan masuk ke dalam ruangan itu lalu berjalan menghampiri meja kerja Gail.
"Coba lihat ini!" Gail melemparkan berkas yang masih ada di tangannya ke atas meja. Tepatnya di hadapan asistennya itu.
Nick segera meraih berkas itu lalu membacanya dengan serius. "Bukankah ini—"
Belum habis Nick bicara, Gail sudah memotong pembicaraannya. "Ya, itu adalah data korban kecelakaan pada malam naas itu, Nick. Lalu kenapa kamu tidak memberitahu aku bahwa korban kecelakaan pada malam itu adalah Lea dan adiknya? Jangan bilang kalau kamu juga tidak mengetahuinya, Nick!" sela Gail dengan geram.
"Ya, Tuhan! Sekarang apa yang harus aku lakukan? Di satu sisi, aku ingin bertanggung jawab kepadanya, tapi di sisi lain aku tidak ingin berkata jujur. Aku takut Lea membenciku," ujar Gail dengan raut wajah frustrasi.
Nick hanya diam dengan kepala tertunduk. Ia tidak berani memberikan pendapatnya.
"Aaakhhh, aku pusing!" Lagi-lagi Gail mengacak rambutnya dengan kasar. "Heh, Nick! Tidak bisakah kamu membantuku berpikir dan mencari jalan keluar untuk masalahku ini!?" pekiknya dengan setengah berteriak kepada Nick yang masih terdiam.
"Ehm, saya—"
Baru saja Nick ingin berbicara, tiba-tiba ponsel Gail berdering dengan cukup keras dan berhasil mengalihkan perhatian mereka untuk sesaat. Gail segera meraih benda pipih itu lalu melihat ke layarnya.
"Martha?!" pekiknya dengan alis yang saling bertaut.
__ADS_1
Karena pikirannya yang masih kalut, Gail pun mencoba mengabaikan panggilan itu. Ia meletakkan kembali benda pilih itu ke atas meja dan membiarkannya terus berdering.
Gail terus memperhatikan benda itu hingga berhenti berdering. Namun, Martha tetaplah Martha. Wanita over posesif itu tidak akan pernah berhenti, sebelum panggilannya diterima oleh sang kekasih.
"Gail, kenapa kamu tidak menerima panggilanku?" gumamnya dengan wajah kesal.
Lagi-lagi ponsel milik Gail berdering dan lelaki itu masih tidak ingin menanggapinya. Bukan hanya sekedar panggilan saja, puluhan chat pun mulai masuk ke dalam ponsel milik lelaki itu.
Akhirnya Gail meradang. Ia sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya terhadap tunangannya itu. "Dasar wanita over posesif! Tidak bisakah ia membiarkan aku tenang, sehari saja!"
Gail meraih ponselnya lalu melemparkan benda pipih itu hingga membentur daun pintu dengan sangat keras. Nick yang masih berdiri di ruangan itu pun terkejut dibuatnya. Namun, ia tidak berani berbuat apa-apa. Ia hanya bisa terdiam sambil menatap ponsel Gail yang hancur tiada rupa.
"Semakin hari, sikap Martha semakin menyebalkan saja! Aku tidak tahu, apakah aku bisa bertahan dengan sikap posesifnya setelah menikah nanti," gerutu Gail sambil mendengus kesal.
Sementara itu.
"Ada apa dengannya? Beraninya dia tidak menerima panggilanku. Aku tidak bisa Terima ini! Aku tidak ingin dia mengacuhkanku," kesal Martha dengan wajah yang menekuk sempurna.
Martha kembali menghubungi nomor Gail, tetapi karena ponsel lelaki itu sudah rusak, maka ia pun sudah tidak bisa menghubunginya lagi.
"Gail, ada apa denganmu! Kenapa ponselmu dinon-aktifkan!" ucapnya lagi dengan kesal.
Berbagai macam pemikiran negatif mulai memenuhi isi kepala wanita itu. Ia sudah tidak tahan dan akhirnyamemutuskan untuk menemui Gail.
"Aku tidak akan pernah tenang, sebelum menemuimu, Gail."
Martha pun segera berangkat menuju tempat tinggal Gail yang mewah itu.
__ADS_1
\*\*\*