
Lea merasa sangat kelelahan. Bekerja sendirian, ternyata tidak semudah yang ia bayangkan sebelumnya. Selain karena geraknya yang tidak selincah dulu, Lea pun merasa kewalahan. Apalagi jika orderan sedang banyak-banyaknya.
"Sepertinya aku butuh teman untuk membantuku bekerja. Selain itu, aku juga butuh teman bicara. Sendirian di ruangan ini, benar-benar membuatku menjadi suntuk," gumamnya sambil memijat tengkuknya yang terasa berat.
Lea menghentikan pekerjaannya. Ia meraih laptopnya kemudian mulai membuat sebuah selebaran. Ia ingin mencari seorang partner kerja yang bisa membantunya bekerja. Tidak butuh waktu lama, selebaran itu pun selesai dibuat. Lea membawa selebaran itu keluar lalu menempelkannya di depan butik.
"Selesai, semoga saja ada yang berminat," gumamnya lagi.
Lea kembali masuk ke dalam dan melanjutkan pekerjaannya.
Beberapa saat kemudian.
Seorang wanita muda tampak berdiri di depan butik Lea. Wanita itu tengah asik membaca selebaran yang ditempel oleh Lea beberapa jam yang lalu. Setelah selesai membaca selebaran itu, ia mulai melihat ke dalam butik, seperti sedang mencari seseorang.
Lea tidak sengaja melihat pemandangan itu. Ia terdiam dan menghentikan pekerjaannya sembari memperhatikan gerak-gerik wanita muda itu.
"Apa dia tertarik dengan lowongan pekerjaan yang aku tempelkan di sana?" gumam Lea dengan tatapan yang masih tertuju pada wanita muda itu.
Cukup lama wanita muda itu diam di sana sambil melihat-lihat ke dalam butik milik Lea. Sepertinya ia ingin masuk, tetapi masih ragu-ragu. Bahkan tampak sesekali ia bergumam sendiri sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk menghampiri pintu ruangan itu. "Permisi," ucapnya.
Lea pun bergegas menghampiri wanita muda itu sambil tersenyum hangat. "Ya, ada yang bisa aku bantu?"
Wanita muda itu sempat terkejut melihat kondisi kaki Lea. Ia tampak bingung melihat Lea yang ternyata menggunakan kaki palsu untuk membantunya berjalan.
"Ehm, begini, Mbak. Barusan saya membaca selebaran yang ada di depan. Katanya butik ini membutuhkan seorang karyawan. Apa itu benar?" tanyanya dengan ragu-ragu.
"Iya, itu benar. Kamu berminat, ya?" tanya Lea balik.
Wanita muda itu mengangguk dengan cepat. "Ya, saya sangat berminat, Mbak."
"Sudah dibaca semua persyaratannya?" tanya Lea lagi sembari memindai penampilan wanita muda yang memiliki kulit sawo matang tersebut dengan seksama.
__ADS_1
Ya, wanita muda itu memiliki warna kulit sawo matang dengan rambut hitam panjang serta bergelombang. Penampilannya sangat sederhana, orangnya sopan dan tutur bahasanya pun lemah lembut. Melihat dari penampilannya, Lea yakin bahwa wanita muda itu bisa dipercaya.
"Sudah, Mbak," sahutnya sambil tersenyum manis.
"Ehm, kalau begitu silahkan masuk. Biar kita bicara di dalam," ucap Lea sembari mempersilakan wanita itu untuk masuk ke dalam butik sederhana miliknya.
Wanita muda itu mengikuti langkah Lea dari belakang, kemudian berhenti tepat di depan meja kerja Lea. Sebelumnya ia sempat terbengong-bengong melihat tempat itu.
Perlahan Lea menjatuhkan dirinya di kursi lalu mempersilakan wanita itu untuk duduk di depannya. Kebetulan ada sebuah kursi plastik nganggur di depan mejanya.
"Siapa namamu dan di mana tempat tinggalmu?" tanya Lea kemudian.
"Nama saya Sri Wulandari, Mbak. Usia saya 21 tahun. Saya berasal dari desa lalu merantau ke kota untuk mencari pekerjaan dan sekarang saya tinggal di sebuah kontrakan tak jauh dari tempat ini," tuturnya.
Lea kembali tersenyum. "Benarkah? Wah, bagus itu. Oh ya, Sri. Apakah kamu memiliki pengalaman kerja di butik seperti ini sebelumnya?"
Wanita muda itu menggelengkan kepalanya perlahan. "Kalau butik seperti ini, saya belum pernah, Mbak. Tapi kalau ikut kerja di konveksi, saya pernah. Dulu di tempat saya ada orang yang buka konveksi dan saya ikut bekerja sama dia. Namun sayang, karena sesuatu hal, akhirnya dia bangkrut dan tidak bisa meneruskan usahanya. Alhasil, saya pun dipecat," tuturnya.
"Oh, saya lulusan sekolah menengah kejuruan, Mbak, dengan jurusan tata busana," jawabnya dengan mantap.
Lea tersenyum lebar kemudian kembali bicara. "Begini saja, jika kamu bersedia, hari ini kamu bisa membantuku. Aku ingin melihat cara kerjamu. Jika kerjamu bagus, maka mulai besok, kamu sudah bisa bekerja denganku. Bagaimana?"
Wanita muda itu pun mengangguk dengan cepat. "Ya, Mbak. Tentu saja saya mau," jawabnya dengan begitu antusias.
Sri mulai bekerja membantu Lea. Mulai dari menjahit, memasang payet, dan lain sebagainya. Lea tampak senang karena hasil kerja Sri sangat bagus dan rapi. Wanita muda itu pun mengerti soal pola-pola hingga Lea tidak terlalu sulit untuk mengarahkannya.
Tak terasa sore pun menjelang. Lea bersiap untuk pulang, begitu pula Sri. Wanita muda itu begitu semangat menunggu keputusan Lea hari ini.
"Sri, ini untukmu." Lea menyerahkan dua lembar uang kertas berwarna merah kepada Sri.
"Apa ini, Mbak?" tanya Sri kebingungan melihat lembaran uang kertas yang kini berada di tangannya.
"Itu sebagai ucapan terima kasihku karena kamu sudah membantuku hari ini," jawab Lea sambil tersenyum hangat.
__ADS_1
Sri tiba-tiba murung. "A-apakah ini artinya Mbak tidak ingin saya bekerja besok hari?"
"Eh, bukan begitu! Ini hanya sebagai ucapan terima kasihku dan untuk besok, kamu bisa bekerja lagi kepadaku. Aku suka hasil kerjamu dan aku harap kamu serius ingin bekerja bersamaku," sahut Lea.
Sri tersenyum lebar. Ia senang bukan kepalang setelah mendengar jawaban dari Lea tersebut. Sri refleks memeluk Lea lalu mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih, Mbak. Terima kasih banyak," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Sama-sama. Mohon kerjasamanya, ya. Dan jangan lupa, besok bawa berkas-berkas lamaran kerjamu," sahut Lea sembari melerai pelukan mereka.
"Siap, Boss!" Sri kembali tersenyum.
"Oh ya, boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Sri seraya menghampiri sebuah gaun pengantin yang terpajang di tengah-tengah ruangan.
Lea menoleh ke arah Sri. "Apa?"
"Gaun ini cantik sekali, Mbak. Ini gaun pengantin tercantik yang pernah saya lihat. Ini juga hasil dari rancangan Anda?" tanya Sri lagi.
Lea tersenyum kecil. "Ya. Sangat cantik, bukan? Namun, sayangnya nasib gaun ini tidak seindah bentuknya. Orang yang memesan gaun ini, membatalkan pesanannya. Ia ditinggalkan oleh sang pemilik ketika ia sudah siap untuk dikenakan," tutur Lea.
"Ya ampun, padahal gaun ini cantik sekali, Mbak. Apa dia tidak menyesal karena sudah membatalkan gaun secantik ini?" gumam Sri sambil terus menatap gaun indah itu.
"Entahlah, aku juga tidak mengerti."
"Gaun ini pasti sangat cantik jika dikenakan olehmu, Mbak." Tiba-tiba Sri berceletuk seperti itu dan membuat Lea terkejut.
"Aku?" Lea terkekeh pelan. "Aku sih mau, tapi rasanya itu sangat mustahil. Memangnya siapa yang sudi menikah dengan wanita cacat sepertiku," lanjut Lea.
"Eh, jangan bilang begitu, Mbak. Gak boleh! Mbak itu cantik, mandiri dan punya usaha sendiri lagi. Aku yakin sekali, banyak di luaran sana yang ingin mempersunting Mbak," protes Sri.
Lea hanya tersenyum dan tak ingin menimpalinya lagi.
***
__ADS_1