Gadis Kaki Palsu

Gadis Kaki Palsu
GKP 40


__ADS_3

Hari berganti hari dan tak terasa sebulan sudah Gail dan Lea menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Lea mulai terbiasa dengan kehadiran lelaki itu di sisinya. Begitu pula Gail, lelaki itu bahkan sudah merasa sangat nyaman ketika bersama Lea.



Hari ini Gail berencana mengajak Lea jalan-jalan. Ia meraih ponselnya lalu mencoba menghubungi Lea yang masih sibuk bekerja di butiknya.



Dreeettt ... dreeettt!



Lea dan Sri yang sedang fokus menjahit manik-manik ke gaun pengantin, tiba-tiba dikejutkan dengan suara getar ponsel milik Lea yang terletak di atas meja.



"Ponselmu, Mbak. Dari Babang Gail," goda Sri yang membantu meraih benda pipih itu kemudian menyerahkannya kepada Lea.



"Ah, iya. Terima kasih, Sri." Lea meraih ponsel tersebut dari tangan Sri kemudian menerima panggilan dari itu.



"Ya?"



"Sayang, kamu di mana?" tanya Gail.



"Seperti biasa, di butik. Memangnya kenapa?" tanya Lea balik.



"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Boleh 'kan?"



Lea terkekeh pelan. "Seandainya aku bilang tidak boleh pun, kamu pasti tetap akan datang dan menjemputku, 'kan?"



Terdengar suara gelak tawa Gail dari seberang telepon. "Sekarang kamu sudah hapal dengan sikapku, Sayang. Ya, sudah. Tunggulah di sana, aku akan segera menjemputmu."



Setelah mengucapkan hal itu, Gail pun segera memutuskan panggilannya. Lea kembali meletakkan benda pipih itu ke atas meja kemudian menghampiri Sri.



"Ada apa, Mbak? Mbak mau pergi lagi, ya?" tanya Sri dengan wajah sendu.



"Ya, Sri. Kamu tau sendiri, 'kan bagaimana Gail. Walaupun aku bilang sibuk, dia pasti akan tetap datang ke tempat ini dan mengajakku pergi," jawab Lea.



Sri menghembuskan napas kasar. "Hhh, Tuan Gail bener-bener!"



Tidak butuh lama, akhirnya Gail tiba di tempat itu. Setelah memarkirkan mobilnya di depan, lelaki itu pun bergegas masuk sambil menyunggingkan sebuah senyuman hangat.



"Sayang, apa kabar?" Gail menghampiri Lea sembari merentangkan kedua tangannya, berharap mendapatkan balasan yang sama dari wanita itu. Namun, seperti biasanya. Ia hanya mendapatkan sebuah penolakan lembut dari Lea.



"Eits, jangan macam-macam, Gail." Lea terkekeh sambil mendorong pelan tubuh kekar Gail yang kini sudah berada di hadapannya.



Gail membuang napas panjang. "Ayolah, Sayang. Hanya satu pelukan saja, masa tidak boleh!"


__ADS_1


Lea menggelengkan kepalanya. "Tidak, nanti kamu akan melonjak. Setelah dikasih pelukan, kamu pasti akan meminta hal lainnya lagi. Memang seperti itu 'kan laki-laki?" celetuk Lea.



Sri yang berada tak jauh dari pasangan itu, hanya bisa terkekeh mendengar percakapan mereka.



"Tuan Gail, supaya Mbak Lea tidak menolak keinginan Anda lagi, sebaiknya halalkan saja dia. Setelah itu Mbak Lea pasti tidak akan menolak," sela Sri.



Gail tersenyum lebar. "Wah, ide yang sangat bagus, Sri. Tapi, aku tidak yakin dia bersedia menerima lamaranku," jawab Gail sambil melirik Lea yang masih menatapnya dengan tatapan datar.



"Tentu saja mau lah, Tuan. Apalagi kalau lamarannya dilakukan semanis mungkin," celetuk Sri lagi.



"Hhh, kalian ini bicara apa, sih!" ucap Lea sembari menggelengkan kepalanya.



Gail terkekeh melihat reaksi Lea. Ia mendekati wanita itu kemudian meraih tangannya. "Ayo, Sayang. Sebaiknya kita pergi sekarang," ucap Gail kemudian.



"Memangnya kita mau ke mana sih, Gail?"



"Hanya jalan-jalan di taman. Kali ini aku berjanji tidak akan lama, serius!" ucap Gail dengan sangat antusias.



Lea pun akhirnya mengangguk dan menyetujui ajakan Gail.



"Sri, kunci ada di dalam laci mejaku. Jika kamu ingin pulang, bawa saja sekalian kuncinya bersamamu," ucap Lea kepada Sri yang kini menatap mereka dengan tatapan galau.




"Kamu tenang saja, Sri. Nanti kamu akan mendapatkan bonus dariku," ucap Gail kepada Sri.



Sri akhirnya tersenyum. "Serius ya, Tuan! Saya tunggu transferannya di akhir bulan."



"Kenapa harus menunggu hingga akhir bulan, Sri? Aku akan mentransfer bonusnya hari ini juga," ucap Gail lagi, yang berhasil membuat Sri begitu senang.



"Wah, serius, Tuan? Terima kasih banyak!" Sri senang bukan kepalang. Yang tadinya tampak galau, kini raut wajahnya terlihat berbinar-binar.



"Ya, sama-sama."



Gail menuntun Lea hingga memasuki mobilnya. Setelah itu mereka pun meluncur ke suatu tempat, di mana Gail sudah mempersiapkan sebuah kejutan untuk Lea.



"Ayolah, Gail! Katakan padaku, sebenarnya kamu ingin mengajakku ke mana?" tanya Lea penasaran.



"Kejutan," balas Gail sambil tersenyum manis.



Karena lelaki itu masih bersikeras untuk tidak mengatakannya, Lea pun akhirnya menyerah dan membiarkan ke mana pun Gail membawanya.

__ADS_1



Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, Gail pun akhirnya menghentikan laju kendaraan beroda empat itu di depan sebuah taman yang berada di tengah kota.



"Kita sudah sampai. Mari," ajak Gail sembari mengulurkan tangannya ke hadapan Lea.



Lea pun tersenyum. Ia senang karena kejutan yang dibuat oleh Gail kali ini terlihat lebih sederhana dibanding kejutan-kejutan yang lainnya. Ya, baru sebulan mereka menjalin hubungan, sudah berbagai macam kejutan diberikan oleh lelaki itu kepadanya.



"Aku suka kejutanmu kali ini, Gail. Karena sudah lama sekali aku tidak berkunjung ke tempat ini," ucap Lea sembari meraih uluran tangan Gail.



Terakhir kali Lea berkunjung ke tempat itu, ketika ia dan Rangga masih berstatus pacaran. Lea bahkan pernah mengajak Amanda serta bersama mereka, tanpa ada kecurigaan sedikit pun.



Kini Gail menuntun Lea menelusuri taman itu hingga mereka berhenti di sebuah kursi kosong yang ada di tengah-tengah taman tersebut.



"Duduklah di sini sebentar. Aku ingin beli sesuatu untukmu," ucap Gail sembari mendudukkan Lea di sana.



Lea pun mengangguk dan membiarkan Gail pergi meninggalkannya. Sembari menunggu Gail kembali, Lea memilih memainkan ponselnya. Tanpa ia sadari, pengunjung taman itu semakin lama, semakin ramai.



Lea mengangkat kepalanya lalu memperhatikan tempat itu dengan seksama. Pengunjung taman itu terlihat jauh lebih ramai dari hari-hari biasanya dan yang lebih menarik, muda-mudi yang berkumpul di sana memakai pakaian dengan warna yang hampir senada.



Lea tidak merasa curiga sedikit pun hingga sesuatu yang tidak pernah terbayangkan, terjadi di matanya. Tiba-tiba muda-mudi itu berkumpul di hadapannya. Mereka berbaris dengan rapi hingga salah satu dari mereka mulai memberikan aba-aba.



Terdengar sebuah alunan musik menggema di taman itu. Entah dari mana asalnya, Lea pun tak tahu. Tiba-tiba orang-orang yang tadinya berbaris dengan rapi, menari-nari mengikuti alunan musik dengan ritme yang cukup cepat tersebut.



Lea kebingungan dibuatnya, karena orang-orang itu menari di hadapannya sambil terus tersenyum. Bukan hanya itu, tiba-tiba segerombolan laki-laki bersetelan jas hitam datang berbondong-bondong dengan membawa berbagai macam peralatan di tangan mereka.



Dalam sekejap mata, taman itu berubah menjadi sangat cantik. Dekorasi yang mereka ciptakan hampir sama seperti dekorasi pernikahan outdoor. Sangat cantik dan hal itu berhasil membuat Lea berdecak kagum.



"Aku yakin ini pasti ulah Gail! Hmm, tidak salah lagi!" gumam Lea sambil tersenyum tipis.



Dan benar saja, tidak berselang lama Gail hadir di tempat itu kemudian berdiri di tengah muda-mudi yang sedang menari. Ia tersenyum kepada Lea, sementara tangannya tampak sedang memegang sesuatu.



Beberapa detik kemudian, tarian para muda-mudi itu berakhir dan mereka kembali membuat barisan yang sangat rapi di belakang Gail. Tiba-tiba mereka membuka sebuah spanduk dengan ukuran yang cukup besar, dengan bertuliskan 'Lea, will you marry me?'.



Lea membulatkan matanya dengan sempurna. Ia bahkan menutup mulutnya yang masih terbuka dengan kedua tangan sambil memperhatikan Gail yang kini berjalan ke arahnya.



Gail menghentikan langkahnya tepat di hadapan Lea. Ia kemudian berjongkok sembari memperlihatkan sebuah cincin emas bertahtakan berlian ke hadapan wanita itu.



"Lea, jadilah istri serta ibu dari anak-anakku," ucap Gail yang kemudian disusul tepuk tangan yang meriah dari orang-orang yang berkumpul di taman itu.



"Gail?" Lea speechless, ia tidak tahu harus berkata apa.

__ADS_1


... ***...


__ADS_2