Gadis Kaki Palsu

Gadis Kaki Palsu
GKP 44


__ADS_3

"Apakah itu benar, Gail? Apakah aku orang ke-tiga di dalam hubungan kalian?" tanya Lea dengan lirih, menatap lekat Gail yang masih berdiri di hadapannya.



Gail menggelengkan kepalanya. "Tidak, Lea! Itu tidak benar. Aku sudah putus dengan Martha, bahkan sebelum kita jadian," jelas Gail sambil menggenggam erat tangan Lea.



"Seperti yang kamu dengar sendiri, Martha adalah wanita posesif, egois dan keras kepala. Apa pun yang ia inginkan harus dituruti. Kalau tidak, dia tidak akan segan mengancam serta melakukan hal bodoh lainnya. Aku lelah, Lea. Sikapnya benar-benar membuat aku muak," lanjutnya.



Lea tersenyum kecut. "Aku malu, Gail. Apa yang dikatakan oleh nona Martha barusan itu benar."



"Benar? Benar apanya?" pekik Gail.



"Aku hanya wanita cacat, kakiku buntung. Rasanya benar-benar tidak pantas bersanding denganmu," lirih Lea lagi sambil melirik kaki palsunya.



"Ya ampun, Lea! Kamu masih saja membahas masalah itu! Baiklah, aku akan buktikan bahwa aku benar-benar serius ingin hidup bersamamu. Aku ingin kamu menjadi istri dan juga ibu dari anak-anakku kelak," sahut Gail dengan mantap.



Gail melirik jam antik berukuran besar yang berdiri di salah satu sudut ruangan. "Karena ini sudah malam, sebaiknya kita membicarakannya besok saja. Aku ingin kita merundingkan soal hari pernikahan kita. Aku ingin pernikahan kita dilaksanakan secepatnya agar kamu yakin dan percaya bahwa aku benar-benar serius denganmu," lanjut Gail dengan mantap.



"Serius?" Lea menautkan kedua alisnya.



"Ya, besok jangan ke mana-mana. Aku akan berkunjung ke rumahmu untuk membicarakan hari pernikahan kita."



.



.



.



Keesokan harinya.



Lea bangun pagi-pagi sekali. Seperti biasa, setelah melakukan ritual mandinya, Lea pun segera berpakaian dan berdandan di depan cermin rias. Namun, berbeda dari hari-hari biasa. Kali ini Lea memilih pakaian terbaiknya serta berdandan jauh lebih cantik dari biasanya.



Setelah selesai, ia pun bergegas menuju dapur, di mana Bi Enah tengah sibuk menyiapkan makanan serta minuman untuk menyambut kedatangan Gail hari ini. Bi Enah tersenyum ketika Lea datang menghampirinya. Akhirnya ia melihat secercah kebahagiaan di wajah cantik majikannya itu.



"Non Lea cantik sekali," ucapnya sambil berdecak kagum.



"Ah, Bibi bisa aja." Lea tersipu malu.



"Selamat ya, Non. Semoga kalian selalu bahagia," ucap wanita paruh baya itu lagi dengan mata berkaca-kaca.



Ketika mereka tengah asik berbincang, tiba-tiba Pak Rahman masuk, kemudian menghampiri mereka dengan langkah yang sangat cepat.



"Ayo, Non! Tuan Gail sudah tiba. Ada dua buah mobil mewah yang sudah terparkir di halaman depan," ucap Pak Rahman dengan sangat antusias.

__ADS_1



"Benarkah?" Lea membulatkan matanya. Ia lalu merapikan dress serta rambutnya kemudian menatap Bi Enah lekat. "Bi, bagaimana penampilanku?" tanya Lea yang tampak gugup.



"Sempurna, Non. Cepat, sambut kedatangan mereka," sahut Bi Enah dengan mata berkaca-kaca karena bahagia.



"Baiklah."



Lea dan Pak Rahman bergegas menuju pintu utama. Di mana tamu spesialnya sudah menunggu penyambutan dari sang pemilik rumah. Ternyata Gail tidak sendirian. Ia datang bersama Nick serta satu orang kerabat dekatnya. Lea membuka pintu lalu melemparkan senyum untuk orang-orang yang berdiri di hadapannya.



"Mari, silakan masuk." Lea membuka pintu lebih lebar lagi dan membiarkan tamu-tamunya masuk lalu duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.



"Lea, kenalkan. Ini Sean, sepupu yang sering aku ceritakan kepadamu. Hari ini dia sengaja kuajak sebagai perwakilan dari pihak keluargaku," ucap Gail sembari memperkenalkan Sean kepada Lea.



Sean mengulurkan tangannya ke hadapan Lea dan segera disambut olehnya.



"Sean!"



"Lea."



Sean memindai tubuh Lea dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Alisnya berkerut ketika menyadari kekurangan yang dimiliki oleh Lea. Ia tidak habis pikir dengan keputusan Gail yang malah memilih Lea untuk dijadikan pasangan hidup.



"Ya Tuhan, gadis ini cacat! Apa yang ada di pikiran Gail hingga lebih memilih gadis cacat ini dibanding Martha? Ya, cantik sih ... tapi kakinya, hmmm!" gumam Sean yang tanpa berkedip menatap Lea.




Jika Gail ditemani oleh Nick dan sepupunya yang berasal dari luar negeri itu, Lea memilih ditemani oleh Pak Rahman yang kini sebagai pihak dari keluarganya.



Gail membuka percakapan dan mereka pun mulai berunding soal hari pernikahan mereka di ruangan itu.



Beberapa jam kemudian.



Akhirnya kesepakatan pun sudah diperoleh. Pernikahan mereka akan dilaksanakan dua minggu setelah hari ini. Semua biaya, tempat, sajian dan sebagainya sudah disanggupi oleh Gail dan akan diatur oleh pihaknya. Sementara Lea hanya perlu mempersiapkan diri saja.



"Setelah menikah, Lea akan ikut bersama saya, Pak Rahman. Jadi, rumah ini saya serahkan kepada kalian untuk menjaga dan merawatnya dengan baik. Sebab saya tahu, rumah ini adalah aset yang paling berharga untuk Lea," ucap Gail kepada Pak Rahman yang duduk tepat di hadapannya.



"Baik, Tuan Gail."



Pak Rahman mengangguk pelan dengan mata berkaca-kaca. Ada perasaan senang sekaligus sedih. Senang, karena pada akhirnya Lea berhasil menemukan seseorang yang begitu mencintainya. Sedih, karena tidak lama lagi ia harus berpisah dengan Lea yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri.



"Pak Rahman dan Bi Enah tenang saja. Lea tidak akan pernah melupakan kalian. Dia pasti akan sering mengunjungi kalian di sini," lanjut Gail sambil tersenyum tipis.



Pak Rahman pun tersenyum. Rumah ini pasti akan terasa sangat sunyi," ucapnya dengan lirih.

__ADS_1



Gail melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sepertinya aku harus pulang, Lea. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan di kantor."



Lea pun mengangguk. Ia bangkit dari posisinya kemudian mengantarkan para tamunya itu hingga ke halaman depan rumah.



"Hati-hati di jalan, Gail."



"Terima kasih." Gail tersenyum sembari menggenggam erat tangan Lea.



"Sekarang kamu percaya 'kan, kalau aku benar-benar serius denganmu?"



Lea kembali mengangguk. "Ya, aku percaya."



"Ayo, Gail! Apa kamu ingin terus di sana?" goda Sean sambil terkekeh.



"Iya-iya, baiklah."



Gail melepaskan tangan Lea dari genggamannya kemudian masuk ke dalam mobil milik Sean dan mereka pun segera melaju meninggalkan kediaman Lea.



Di perjalanan.



"Gail, apa kamu serius ingin menikahi gadis itu?" tanya Sean yang sedang asik mengemudikan mobilnya.



"Memangnya kenapa? Ada yang salah?" tanya Gail balik.



"Ehmm, bagaimana, ya?" Sean menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.



"Bagaimana, apa maksudmu, Sean? Aku mengerti, kamu pasti ingin bilang kenapa aku menikahi Lea, padahal gadis itu cacat. Benar 'kan?"



Sean tersenyum kecut. "Ehm, maksudku begini, Gail. Kamu adalah seorang lelaki yang memiliki segalanya. Kaya, tampan dan hampir bisa dikatakan sempurna. Namun, kondisi istrimu malah berbanding terbalik denganmu. Orang-orang pasti akan bertanya-tanya, Gail. Bukan hanya orang-orang, bahkan keluarga kita sendiri pun akan bertanya-tanya dengan keputusanmu ini," tutur Sean.



Gail menghembuskan napas berat. "Sebenarnya ada sesuatu yang membuat aku harus melakukan ini, Sean," sahut Gail dengan ekspresi wajah sedih.



Sean menoleh sambil menautkan kedua alisnya heran. "Apa maksudmu, Gail?"



Gail lalu menceritakan semuanya kepada Sean. Mulai kejadian naas di malam itu, hingga akhirnya ia memilih untuk mengambil keputusan yang sangat berat tersebut. Gail yakin, Sean tidak akan pernah menceritakan rahasia terbesarnya itu kepada siapa pun.



Sean terkejut bukan kepalang. Ia tidak menyangka bahwa Gail memiiki sebuah rahasia sebesar itu.



"Ya ampun, Gail! Serius, jika aku jadi kamu, mending aku jujur saja," celetuk Sean sambil menggelengkan kepalanya.


__ADS_1


"Mau bagaimana lagi, Sean. Aku sudah terlanjur masuk ke dalam permainanku sendiri," sahut Gail.


... ***...


__ADS_2