Gadis Kaki Palsu

Gadis Kaki Palsu
GKP 57


__ADS_3

Baru saja menginjakkan kakinya di rumah sakit, Rangga sudah disambut oleh suara tangisan seorang bayi berjenis kelamin laki-laki. Bayi tampan itu lahir secara cesar karena kondisi bayi serta ibunya tidak memungkinkan untuk melakukan persalinan secara normal.



"Dengarlah, Rangga! Bayimu sudah lahir," ucap Bu Fika dengan mata berkaca-kaca.



Perasaan Rangga campur aduk. Antara senang sekaligus sedih. Senang, karena bayi yang begitu ia idam-idamkan akhirnya lahir juga. Sedih, karena bayinya lahir prematur dan harus mendapatkan perawatan lebih lanjut.



"Iya, Bu. Syukurlah," sahut Rangga dengan mata berbinar.



Setelah beberapa saat kemudian. Amanda pun kmbali ke ruangannya. Sementara anaknya masih dirawat dan sedang berada di dalam inkubator.



Rangga datang mendekat ke tempat tidur, di mana Amanda masih terbaring di sana. Lelaki itu tersenyum lalu duduk di sebuah kursi yang terletak di samping tempat tidur.



"Bagaimana kabarmu, Manda?" tanya Rangga sambil mengelus lembut puncak kepala wanita itu.



"Kabarku buruk!" jawabnya dengan ketus. Amanda membuang muka. Entah kenapa ia sangat kesal melihat wajah Rangga.



"Kenapa kamu bicara seperti itu, Amanda? Seharusnya kamu bersyukur karena Tuhan masih memberikan umur panjang kepadamu dan juga bayi kita," celetuk Rangga sambil terus tersenyum dan mencoba menenangkan Amanda.



"Aku kesal, Mas! Aku lagi kesakitan karena kontraksi, kamu malah tidak ada di sampingku. Enak aja! Pas lagi sakit-sakitnya, aku ditinggal sendirian. Kamu tidak tau aja, rasanya sangat sakit, Mas! Sangat-sangat sakit!" geram Amanda yang merasa kesal karena Rangga tidak datang tepat waktu.



"Ya, mau bagaimana lagi. Aku 'kan kerja dan tidak semudah itu meminta izin keluar di saat jam kerja. Beginilah nasib ikut kerja di perusahaan, Amanda." Rangga menjelaskan.



Amanda mendengus kesal. Ia membuang muka ke arah lain.



\*\*\*


__ADS_1


Beberapa hari kemudian. Di butik milik Lea.



"Ya, ampun, Mbak Lea! Cepat, turun!" pekik Sri ketika melihat Lea menaiki sebuah kursi untuk menggapai sesuatu yang terletak di dalam lemari paling atas.



Sri datang mendekat lalu memegang kursi yang menjadi pijakan Lea dengan erat agar Lea tidak terjatuh. Lea hanya tersenyum kemudian perlahan ia turun dari kursi tersebut dengan dibantu oleh Sri.



"Kenapa Mbak tidak bilang-bilang aku, sih? Biar aku saja yang mengambilnya. Kalau terjadi sesuatu, bagaimana? Aku bisa mati digantung sama Tuan Gail," ucap Sri dengan setengah kesal.



Lea terkekeh. "Memangnya suamiku sejahat itu, ya?"



"Enggak tau, tapi yang pasti aku takut, Mbak," ucap Sri.



Tepat di saat itu, seorang wanita cantik memasuki butik milik Lea tanpa permisi sedikitpun. Wanita berkacamata hitam dengan rambut panjang dikuncir kuda itu berjalan mendekati meja Lea.




Sri memegang erat lengan Lea. Jika seandainya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, setidaknya ia sudah siap membela majikannya itu.



"Oh ayolah, jangan takut, Lea. Aku hanya ingin bersilaturahmi ke sini. Aku ingin mengucapkan selamat atas kehamilanmu. Ya, walaupun aku tahu, aku telat mengucapkannya," ucap Martha sembari membuka kacamata hitamnya kemudian tersenyum menatap Lea.



Lea tidak berniat menimpali ucapan wanita itu. Ia hanya diam sambil memperhatikannya dengan penuh selidik.



"Apakah kamu tidak ingin mempersilakan aku untuk duduk di sofamu, Lea? Atau kamu akan terus-menerus menatapku dengan tatapan aneh seperti itu?" celetuk Martha sekali lagi.



"Sudahlah, Martha. Aku tahu siapa kamu. Sekarang katakan saja apa maumu. Tidak usah berbasa-basi seperti itu," ucap Lea dengan wajah masam.



Martha kembali tersenyum. Tanpa peduli Lea mengizinkannya atau tidak, ia tetap menjatuhkan dirinya ke atas sofa yang ada di ruangan itu. Ia duduk bersandar di sandaran sofa dan dengan kaki yang menyilang.

__ADS_1



"Ehm, sepertinya kamu sudah hapal siapa aku, Lea. Baiklah, aku tidak akan berbasa-basi lagi." Martha menatap lekat Lea dengan tatapan yang begitu serius.



"Aku ingin bicara empat mata denganmu. Hanya denganmu saja, Lea." Martha melirik Sri yang masih berdiri di samping Lea sambil berjaga-jaga.



"Biarkan Sri di sini," sahut Lea dengan ekspresi wajah datar.



Martha menggelengkan kepalanya. "Hanya kita berdua," tegas Martha



"Tanpa Sri, sebaiknya lupakan saja!" tegas Lea uang yang tidak mau kalah.



Martha memutarkan bola matanya. Ia kesal karena Lea begitu keras kepala. Martha bangkit dari posisinya kemudian kembali berdiri di hadapan Sri dan Lea.



Martha menghembuskan napas berat. "Baiklah, sebaiknya kita lupakan saja. Lagi pula aku sangat yakin bahwa kamu pun tidak ingin mendengarkan kisah yang sebenarnya di balik kecelakaan yang merenggut nyawa adikmu itu."



Martha membalikkan badan kemudian pergi melenggang, meninggalkan Lea dan Sri yang masih kebingungan. Dada Lea tiba-tiba bergetar dengan hebat setelah mendengar kata-kata Martha barusan. Sebelum Martha berhasil menggapai gagang pintu utama, Lea pun segera memanggilnya.



"Tunggu, Martha! Dari mana kamu tahu soal kecelakaan itu?" tanya Lea dengan wajah heran.



Martha tersenyum sinis. Akhirnya ia berhasil memancing emosi wanita itu. Ia kembali membalikkan badan, lalu menghadap Lea.



"Bukan hanya sekedar tahu, Lea. Namun, aku tahu semuanya! Aku bahkan tahu siapa yang sudah menabrak kalian pada malam itu," ucap Martha sambil menyeringai menatap Lea.



"Apa kamu serius, Martha?" Lea makin penasaran.



"Lebih dari serius," jawab Martha sambil tersenyum miring.

__ADS_1


... ***...


__ADS_2