
"Coba ceritakan kepadaku. Kamu tenang saja, aku adalah pendengar yang baik dan siapa tahu aku bisa membantumu," bujuk Gail sambil tersenyum menatap Lea.
"Tidak ada yang perlu diceritakan, Tuan Gail." Lea masih enggan bercerita kepada lelaki itu karena menurutnya tidak etis saja menceritakan semua tentang dirinya kepada orang yang baru ia kenal.
"Ayolah, Nona Lea. Aku sudah pernah mempertaruhkan nyawaku demi menyelamatkan dirimu. Jadi, kenapa masih ragu menceritakan tentang dirimu kepadaku?"
"Baiklah jika Anda memaksa." Lea menghela napas berat dan akhirnya mengalah.
"Saya ke sini untuk mencari keadilan. Keadilan untuk nyawa adik saya yang melayang dengan sia-sia. Namun, mereka tetap bersikeras menutup kasusnya dengan alasan tidak adanya bukti yang kuat."
"Memangnya apa yang terjadi pada adikmu?" tanya Gail penasaran.
"Adik saya meninggal karena sebuah kecelakaan dan karena kecelakaan itu pula lah, saya harus kehilangan kaki saya dan menjadi wanita cacat untuk seumur hidup," tutur Lea dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
Deg!
Tiba-tiba mata Gail membulat sempurna. Penuturan Lea barusan membuat dirinya teringat akan kejadian pada malam itu. Di mana dirinya tidak sengaja menabrak pengendara motor lalu pergi meninggalkannya begitu saja.
Setelah mendengar korban sudah melaporkan perbuatannya kepada pihak yang berwajib, demi nama baiknya, Gail meminta sang asisten untuk menutupi kasus itu. Gail tidak ingin nama baiknya rusak dan akhirnya rela membayar mahal kepada siapa pun yang terlibat.
Mendengar penuturan Lea yang hampir mirip dengan kasus yang sengaja ia tutupi, Gail pun menjadi penasaran.
"La-lalu, bagaimana dengan pelaku yang sudah mengakibatkan kecelakaan itu? Apa dia sudah ditangkap?" tanya Gail dengan jantung yang berdebar-debar. Berharap apa yang ia pikiran adalah salah.
__ADS_1
Lea menggelengkan kepalanya perlahan. "Seandainya orang itu sudah ditangkap, mungkin saya tidak akan berada di sini, Tuan Gail. Orang itu masih berkeliaran di luaran sana dengan bahagia. Sementara saya di sini, harus menderita akibat perbuatannya," tutur Lea dengan geram.
Keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya. Entah kenapa Gail merasa bahwa Lea adalah korban dari kecelakaan yang terjadi pada malam naas itu.
"Malam itu, kami ditabrak oleh sebuah mobil mewah berwarna hitam. Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana tubuh Harris terpental setelah dihantam oleh mobil itu. Tidak cukup sampai di situ, saya pun turut merasakan bagaimana dahsyatnya tabrakan itu hingga akhirnya saya tidak sadarkan diri. Bukannya berhenti dan menolong kami, mobil mewah itu malah pergi dan meninggalkan kami yang sudah tidak berdaya."
Gail langsung terdiam seribu bahasa. Bibirnya mendadak kelu dan tidak mampu mengeluarkan satu patah kata pun. Seluruh tubuhnya mendadak terasa panas seolah darahnya tengah mengalir dengan kencang.
"Ya Tuhan, itu benar! Lea dan mendiang adiknya adalah orang yang aku tabrak waktu itu," batinnya.
"Saya yakin sekali mereka sudah berhasil memecahkan kasus ini. Hanya saja, orang itu berhasil membungkam mulut semua orang yang terlibat. Bahkan pengacara saya saja, yang dulunya begitu antusias menolong kami, tiba-tiba meminta saya untuk berhenti mengurus kasus ini. Dia bilang kasusnya sudah ditutup karena tidak adanya bukti yang kuat. CCTV di jalan itu pun mendadak mati, padahal setahu saya tempat itu memang rawan kecelakaan dan CCTV selalu memantau tempat itu dan dapat dipastikan bahwa benda itu selalu berfungsi dengan baik," jelas Lea dengan mata yang mulai memerah karena tangisnya semakin menjadi.
"Selain menjadi cacat, kecelakaan itu pun berhasil membuat hidup saya porak poranda. Kehilangan adik semata wayang, pengkhianatan kekasih dan hinaan orang-orang di sekitar karena kondisi saya sekarang," lanjut Lea di sela isak tangisnya.
Lea menoleh ke arah Gail kemudian menatap lelaki itu dengan penuh harap. "Tuan Gail, saya tidak tahu siapa Anda. Namun, saya tahu Anda adalah orang baik. Anda bahkan rela membahayakan nyawa Anda demi menolong saya yang notabennya adalah orang asing, yang sama sekali tidak pernah Anda kenal. Kali ini saya mohon dengan sangat, bisakah Anda membantu saya mengungkapkan kasus ini? Atau ya, mungkin saja Anda memiliki kenalan yang mampu membantu saya," ucap Lea lagi dengan lirih.
Gail menatap ke dalam mata Lea dan ia melihat bahwa wanita itu benar-benar meletakkan harapan sebuah yang besar kepadanya agar bisa membantunya memecahkan kasus itu serta mengungkapkan identitas pelaku yang telah mengakibatkan kematian adiknya serta membuat dirinya menjadi wanita cacat.
"E-ehm, ba-baiklah, Lea. A-aku berjanji akan membantumu mengungkapkan kasus ini," jawab Gail dengan terbata-bata.
Lea tersenyum. Secercah harapan sudah ia dapatkan dan ia berharap Gail bisa membantunya menemukan sebuah keadilan.
Lea tersenyum lebar. Ia lalu menyeka air mata yang kembali menetes di kedua sudut matanya. "Terima kasih banyak, Tuan Gail. Terima kasih banyak," ucap Lea dengan mata berbinar-binar.
__ADS_1
"E-ehm, ya. Sama-sama," sahut Gail sambil tersenyum kecut.
Lea melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya lalu segera bangkit dari posisi duduknya. "Tuan Gail, sepertinya saya harus berangkat. Saya sudah terlambat, saya yakin anak buah saya pasti sudah menunggu," ucap Lea sembari mengulurkan tangannya ke hadapan Gail.
Dengan gemetar, Gail menyambut uluran tangan Lea dan ia pun kembali menyunggingkan sebuah senyuman kecil. "Baiklah. Hati-hati di jalan, Lea."
Setelah melepaskan genggaman tangan Gail, Lea pun kembali melangkahkan kakinya menuju mobil miliknya yang sedang terparkir. Sementara Gail masih terdiam di tempat itu sambil memperhatikan Lea yang sudah menjauh darinya. Wajah lelaki itu terlihat kacau setelah mengetahui siapa Lea yang sebenarnya.
"Le-Lea, maafkan aku!" gumamnya dengan bibir yang bergetar hebat.
Nick yang saat itu tengah menunggu Gail di dalam mobil, beberapa kali melirik jam tangan mewahnya.
"Ini sudah terlambat, tapi kenapa Tuan Gail masih berada di sana. Sementara gadis kaki palsu itu sudah pergi meninggalkannya," gumam Nick dengan alis yang saling bertaut.
Karena sudah tidak sabaran, Nick pun berniat menghampiri sang boss dan mengingatkannya soal meeting penting yang harus mereka hadiri. Nick keluar dari dalam mobil lalu berjalan menuju tempat, di mana Gail masih duduk termenung dengan wajah yang kusut.
"Tuan Gail," sapa Nick, setibanya di tempat itu.
Lamunan Gail mendadak buyar. Ia tersentak kaget kemudian mengangkat kepalanya, menatap Nick yang kini tengah berdiri di sampingnya.
Nick sedikit membungkuk di hadapan Gail kemudian berkata, "Tuan, Gail. Sebaiknya kita berangkat sekarang. Sebentar lagi meeting akan segera dimulai."
"Hmm, baiklah."
__ADS_1
Gail menghembuskan napas berat. Mencoba menenangkan dirinya yang saat itu tengah kacau. Perlahan ia melangkah menuju mobil lalu diikuti oleh Nick dari belakang. Ia masuk ke dalam mobil mewah itu dan Nick pun kembali melajukan benda tersebut menuju kantor mereka.
***