Gadis Kaki Palsu

Gadis Kaki Palsu
GKP 30


__ADS_3

"Gail! Gail!" Martha memasuki kediaman mewah Abigail sambil berteriak-teriak memanggil nama lelaki itu.



Gail sama sekali tidak terkejut. Ia sudah paham bagaimana sikap wanita itu. Jika sebelumnya ia menganggap hal itu biasa-biasa saja. Namun, beda halnya kali ini. Entah kenapa ia merasa sangat bosan dan muak dengan sikap tunangannya itu.



"Di luar ada Nona Martha," ucap Nick kepada Gail yang terlihat semakin kacau.



"Biarkan saja! Aku tidak peduli," jawab Gail sambil mendengus kesal.



Tepat di saat itu, pintu ruangan tersebut dibuka dengan cukup keras dan tidak berselang lama, tampaklah Martha yang tengah berjalan memasuki ruangan itu.



"Gail! Kenapa panggilanku tidak diangkat?!" kesal Martha dengan mata membulat menatap Gail yang tengah duduk di kursi kekuasaannya.



Gail melirik ke arah lantai dengan wajah malas, di mana benda pipih kesayangannya tergeletak dengan kondisi rusak parah. "Lihat saja!"



Martha pun refleks melirik ke arah yang ditunjukan oleh Gail. Wanita itu sontak terkejut setelah mengetahui bagaimana kondisi ponsel tunangannya itu.



"Loh, ada apa dengan ponselmu, Gail? Kenapa bisa jadi seperti ini?" tanya Martha kebingungan.



"Aku melemparkannya, puas!" sahut Gail dengan kasar.



"Apa! Dilempar?" pekiknya sembari menatap Gail dengan lekat. "Ta-tapi kenapa? Apa kamu sengaja melemparkan ponsel itu hanya karena aku terus memanggilmu, iya?!" Martha bertanya-tanya.



"Ya, aku melemparkan ponsel itu karena ia terus saja berdering dan mengganggu konsentrasiku! Aku sedang sibuk, Martha. Duniaku tidak hanya melulu tentang kamu, kamu dan kamu saja! Masih ada hal lain yang harus aku kerjakan," jelas Gail dengan penuh penekanan.



Kedua netra indah Martha mulai berkaca-kaca. Jawaban dari Gail barusan berhasil membuat hatinya sakit.



"Lagi pula apa yang ingin kamu bicarakan padaku, Martha? Paling seperti biasa, 'kan? Sesuatu yang tidak penting, pertanyaan yang terus diulang-ulang setiap hari. Trus, apalagi?"



Air mata yang sejak tadi tertahan di pelupuk matanya, kini lolos dan membasahi kedua belah pipi wanita itu. Ia terisak dan tubuhnya tampak bergetar dengan hebat. Ya, selama ini dia memang terlalu over posesif terhadap Gail. Ia terlalu banyak mengatur dan jika Gail tidak menuruti keinginannya, maka ia akan mengancam lelaki itu dengan berbagai cara.



"Aku tidak pernah menyangka bahwa kamu sudah bosan mendapatkan perhatian dariku, Gail. Hanya itu caraku memberikan perhatian kepadamu di saat kita jauh. Sekarang, karena aku sudah tahu, maka aku berjanji tidak akan pernah melakukannya lagi," ucap Martha dengan lirih di sela isak tangisnya.



"Itu bukan perhatian, Martha. Kamu itu terlalu posesif! Mungkin bukan hanya aku, laki-laki mana pun tidak akan tahan dengan sikapmu itu," geram Gail.



"Maafkan aku," lirih Martha dengan kepala tertunduk.



"Sudahlah, aku malas berdebat. Sebaiknya kamu pulang saja karena aku masih banyak pekerjaan, Martha."

__ADS_1



"Apa kamu mengusirku, Gail?" tanya Martha sambil menatap lekat Gail dengan mata sembabnya.



"Aku tidak mengusirmu, Martha. Aku hanya ingin melanjutkan pekerjaanku tanpa ada gangguan dari siapa pun, termasuk kamu!" tegas Gail.



Martha yang sudah tidak bisa menahan emosinya segera berlari meninggalkan Gail di ruangan itu. Ia terus berlari sambil sesekali menyeka air matanya.



Setibanya di halaman depan kediaman mewah itu, Martha menghentikan langkahnya. Ia kembali berpaling dan berharap Gail menyusulnya. Namun, ternyata harapan hanya tinggal harapan. Lelaki itu bahkan tidak kelihatan batang hidungnya.



"Keterlaluan kamu, Gail!" geram Martha.



Ia bergegas masuk ke dalam mobil lalu pergi meninggalkan tempat itu. Sementara di ruang pribadinya, Gail tengah berdiri di balik jendela sambil melihat ke arah luar. Ia memperhatikan Martha yang kini sudah melaju bersama mobil mewahnya lalu menghilang dari pandangan lelaki itu.



"Aku benar-benar sudah muak dengan sikapnya, Nick," gumam Gail sambil berdecak sebal.



Nick yang masih berada di ruangan itu, hanya bisa diam seribu bahasa tanpa berani berkata sepatah kata pun.



Sementara itu, di perjalanan.




Tiba-tiba ponsel milik Martha berdering dan berhasil membuat tangisan wanita itu terhenti. Ia bergegas meraih benda pipih itu dan berharap itu adalah panggilan dari Gail yang ingin meminta maaf kepadanya. Namun, ternyata bukan. Itu adalah panggilan dari Rina, teman lamanya. Ekspresi wajah Martha langsung berubah. Yang tadinya tampak bersemangat, kini kembali murung.



"Ya?" Martha memasang wajah malas.



"Martha, bisakah kamu menemuiku? Aku punya kejutan untukmu," ucap Rina dari seberang telepon.



Martha memutarkan bola matanya. "Kejutan? Kejutan apa?" tanyanya dengan malas.



"Kalau aku kasih tau sekarang, itu bukan kejutan namanya, Martha!" jawab Rina sambil tertawa pelan.



"Kasih tau, atau aku tidak akan pernah menemuimu," jawab Martha dengan serius.



Rina mendengus kesal. "Hmmm, baiklah kalau begitu. Ini soal gaun pengantinmu, Martha. Gaun pengantinmu sudah selesai dibuat dan temanku ingin melihat kamu mencobanya."



Martha tersenyum. Terlihat sedikit kebahagiaan di wajah cantik itu. "Gaun pengantinku? Baiklah, aku akan segera ke sana! Tapi sebelumnya, aku butuh serlok," jawabnya dengan penuh semangat.



"Hhh, 'kan! Sekarang saja kamu semangat. Tadi mah ogah-ogahan," celetuk Rina dengan wajah menekuk.

__ADS_1



"Sudah, jangan banyak bicara. Sekarang lakukan saja perintahku," tegas Martha.



"Ya-ya, baiklah." Rina bergegas mengirimkan serlok kepada Martha.



"Nah, udah selesai!" ucap Rina.



"Bagus! Terima kasih," jawab Martha.



Setelah memutuskan panggilan dari Rina, Martha segera meminta sopir pribadinya untuk mengantarkan ke alamat yang diberikan oleh Rina barusan. Tidak butuh waktu lama, Martha pun tiba di tempat itu.



Martha terdiam melihat bangunan berlantai dua yang terlihat sangat sederhana itu. Tidak seperti designer-designer ternama lainnya, yang memiliki tempat kerja yang bagus dan juga megah.



"Bener gak, sih, ini tempatnya?" gumam Martha dengan alis yang saling bertaut. Ia kembali melihat ke layar ponsel dan ternyata alamatnya sesuai dengan alamat yang tertera di depan bangunan itu.



"Hhh, ternyata benar."



Martha melangkahkan kakinya memasuki bangunan sederhana itu. Ia melihat sekeliling dan ternyata ada banyak sekali dress-dress yang terpajang di ruangan bernuansa serba putih itu. Namun, anehnya dress yang terpanjang di sana terlihat biasa-biasa saja. Sama sekali tidak mencerminkan rancangan seorang designer terkenal.



"Permisi!" ucapnya.



"Martha!" Tiba-tiba Rina datang dan menghampirinya sambil tersenyum lebar. Ia lalu meraih tangan Martha dan mengajaknya memasuki sebuah ruangan.



"Kemarilah!"



Martha mengikuti langkah Rina dan ternyata di dalam ruangan itu ada seorang lelaki bertulang lunak. Lelaki itu tersenyum dengan sangat manis menyambut kedatangan Martha.



"Selamat datang, Nona Martha." Ia mengulurkan tangannya ke hadapan Martha lalu segera disambut oleh wanita itu.



"Di mana gaun pengantinku?" tanya Martha, tanpa berbasa-basi sembari memperhatikan sekeliling ruangan itu.



Ada sebuah gaun pengantin yang terpajang di ruangan itu. Gaun berwarna putih yang terlihat murahan dan tidak ada yang menarik di gaun tersebut hingga Martha yakin bahwa gaun itu bukanlah miliknya.



"Ini gaun pengantin milikmu," sahut Rina sambil tersenyum lebar.



"Apa?!" pekik Martha dengan mata membulat sempurna.


... *** ...

__ADS_1


__ADS_2