Gadis Kaki Palsu

Gadis Kaki Palsu
GKP 39


__ADS_3

Keesokan harinya.



Lea duduk termenung di tempat kerjanya sambil menatap gaun cantik milik Martha yang gagal order. Terdengar berkali-kali wanita itu menghembuskan napas beratnya. Sri yang sejak tadi memperhatikannya, menjadi penasaran dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada boss-nya itu.



Sri menghampiri Lea lalu ikut duduk di sampingnya. "Ada apa, Mbak? Sepertinya Mbak ada masalah, ya? Ceritakan saja sama saya, siapa tahu saya bisa membantu," ucap Sri sambil menatap lekat Lea.



Lagi-lagi Lea menghembuskan napas beratnya. "Kamu tau gak, Sri? Ternyata insting-mu benar," sahut Lea.



"Insting? Maksud Mbak?" Sri kebingungan.



"Ini soal Gail dan firasatmu tentang lelaki itu benar. Ternyata dia menyukaiku, Sri."



"Hah, serius?!" pekik Sri dengan mata membulat sempurna.



"Ya, Sri. Tadi malam dia menyatakan perasaanya kepadaku. Dia bilang bahwa dia jatuh cinta kepadaku," lanjut Lea, masih dengan ekspresinya yang sulit dijelaskan.



"Wah, selamat ya, Mbak! Aku turut senang mendengarnya. Semoga kalian berdua selalu bahagia," ucap Sri dengan begitu antusias.



Lea menepuk pelan lengan Sri sembari menekuk wajahnya. "Hei, aku bahkan belum menjawab pernyataan lelaki itu, Sri."



Sri mencebikkan bibirnya. "Loh, kenapa tidak dijawab, Mbak? Ish, kalau aku jadi Mbak, udah aku jawab iyes! Iyesss!"



"Hhh, tapi kami baru saja saling mengenal, Sri. Aku bahkan tidak tahu seperti apa dia yang sebenarnya," sahut Lea sambil memasang wajah masam.



"Aku rasa semua orang juga seperti itu, Mbak. Sebaiknya terima saja dan Mbak akan tau seperti apa Tuan Gail yang sebenarnya," tutur Sri.



"Jujur, aku masih trauma, Sri. Pengkhianatan yang dilakukan oleh Rangga dan Amanda berhasil membuat aku takut untuk membuka hati kepada lelaki mana pun, terlebih Gail. Lelaki yang baru aku kenal dan tiba-tiba menyatakan cinta padaku."



"Kalau begitu jalani saja dulu, Mbak. Tetapi jangan libatkan perasaan apa pun. Dan jika ternyata tuan Gail sama sekali tidak serius, maka Mbak tidak akan sakit hati walaupun hubungan kalian harus berakhir," ucap Sri memberi saran.



"Helehhh, Sri-Sri. Kayak yang pengalaman aja," celetuk Lea sambil melirik wanita muda itu.



Sri terkekeh. "Begini-begini, aku pengalaman loh, Mbak. Dan satu lagi!"



Lea menatap Sri dengan wajah malas. "Apa lagi?"



"Tunjukkan pada Rangga dan Amanda bahwa Mbak sudah move on! Khususnya untuk Rangga, si lelaki menyebalkan itu! Biar dia tahu bahwa Mbak pun bisa mendapatkan pria yang jauh lebih tampan dan mapan dibanding dirinya," celetuk Sri tanpa disaring.

__ADS_1



Lea menggelengkan kepalanya. "Ya ampun, Sri. Sempat-sempatnya kamu berpikir seperti itu," sahut Lea sambil terkekeh pelan.



Keesokan harinya.



Hari ini adalah hari terakhir, di mana Lea harus menjawab pernyataan Gail. Sejak tadi siang, lelaki itu tidak henti-hentinya menghubungi nomor Lea. Sepertinya Gail sudah tidak sabar ingin mengetahui jawaban dari wanita itu. Namun, sayangnya Lea belum berani memberikan jawaban kepada lelaki itu, hingga Gail pun semakin penasaran.



Dreeettt ... dreeettt!



"Lihatlah, Sri! Dia menghubungiku lagi," pekik Lea dengan wajah bingung menatap layar ponselnya.



"Ya sudah, Mbak, angkat!" seru Sri dengan begitu antusias.



"Trus aku harus jawab apa?" tanya Lea.



"Iyess, Mbak! Iyesss!" sahut Sri dengan mata membulat sempurna.



"Hhh! Biarin sajalah!" Lea mencoba mengacuhkan panggilan itu untuk kesekian kalinya. Ia pergi meninggalkan benda pipih itu kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.



Namun, tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan butiknya. Kaki Lea bergetar dengan hebat ketika menyadari siapa pemilik mobil mewah itu. Dia adalah Gail.




"Hai, Lea! Aku harap kamu tidak lupa sama janjimu," ucap Gail sambil menyelonong masuk ke dalam ruangan yang berukuran cukup besar itu.



"Ja-janji? Janji apa? Perasaan aku tidak pernah berjanji apa pun kepadamu," sahut Lea sembari mencoba menenangkan dirinya sendiri.



Gail tersenyum lalu berbalik dan menatap Lea dengan lekat. "Jangan berpura-pura lupa ingatan, Lea. Apa kamu tahu? Aku sudah tidak sabar menunggu hari ini. Dua hari yang merupakan hari terpanjang di dalam hidupku."



Lea menelan salivanya dengan susah payah. Tatapan tajam Gail, membuat tubuh Lea semakin bergetar tak menentu.



"Sekarang apa jawabanmu?" lanjut Gail.



"Bi-bisakah kita bicara di dalam, Gail?" ajak Lea sambil tersenyum kecut.



"Baiklah, kalau itu maumu. Kebetulan aku haus sekali," celetuknya sembari berjalan menghampiri sofa yang ada di pojok ruangan. Ia duduk di sana kemudian menunggu Lea yang saat itu tengah berjalan ke arahnya.



"Sri, bisa minta tolong buatin minuman untuk Tuan Gail?" Lea memelas, memohon kepada Sri yang saat itu kebetulan juga berada di ruangan itu.

__ADS_1



"Oke, Boss!" Sri pun segera beranjak untuk membuatkan minuman.



Kini hanya Lea dan Gail di ruangan itu. Gail kembali tersenyum sembari menepuk pelan ruang kosong yang ada di samping tubuhnya.



"Duduklah, Lea. Bukankah kamu ingin kita bicara di sini?"



Lea pun segera duduk di sana, tak jauh dari posisi Gail berada.



"Jadi, apa jawabanmu, Lea? Jangan mencoba untuk menunda-nundanya lagi," ucap Gail sembari menyeringai menatap wanita itu.



Lea menghembuskan napas berat. "Memang jawaban seperti apa yang kamu harapkan dariku, Gail?" tanya Lea dengan begitu serius.



"Jawaban yang aku harapkan? Ya, tentu saja kata 'Ya', Lea. Aku berharap kamu bersedia menerimaku menjadi pasanganmu," sahut Gail dengan mantap.



"Bagaimana? Ayolah, Lea! Katakan 'Ya'!" Gail kembali membujuk.



"Aku tidak tahu apakah keputusanku ini benar atau salah. Namun, aku sangat berharap bahwa pilihanku kali ini benar." Lea menarik napas dalam kemudian menghembuskannya lagi secara perlahan.



"Baiklah, aku menerimamu."



Senyuman lebar terukir di wajah Gail. Lelaki itu senang bukan kepalang setelah mendengar jawaban dari Lea barusan.



"Serius? Kamu menerimaku, Lea?" tanyanya, mencoba meyakinkan.



Lea mengangguk pelan. Ya, walaupun dari raut wajahnya, terlihat jelas bahwa Lea masih ragu-ragu dengan keputusannya itu.



"Ya, aku menerimamu menjadi kekasihku, Gail. Tapi dengan syarat," ucapnya dengan wajah serius.



"Baiklah, apa syaratnya? Katakan saja," sahut Gail dengan penuh percaya diri.



"Kamu tahu sendiri bahwa aku pernah trauma karena sebuah pengkhianatan dan rasanya benar-benar sakit, Gail. Aku tidak ingin hal itu terulang lagi. Jujur, sulit rasanya membuka hati untuk memulai hubungan baru. Namun, untukmu, aku akan mencobanya. Jadi, kumohon padamu, Gail. Tolong, jangan kecewakan aku," ucap Lea dengan lirih.



Gail sempat terdiam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya ia pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum menatap Lea.



"Ya, Lea. Aku berjanji tidak akan pernah mengecewakan kamu. Aku tidak akan membuatmu merasa kecewa untuk yang ke-dua kalinya," sahut Gail dengan penuh keyakinan.


__ADS_1


"Aku pegang ucapanmu, Gail."


... ***...


__ADS_2