
Karena merasa kelelahan, Lea akhirnya tertidur lebih dulu. Padahal Gail masih berada di kamar mandi. Gail yang sudah selesai dengan ritual mandinya, segera kembali ke kamar dan menemukan Lea yang sudah terlelap di atas tempat tidur mewahnya.
Gail tersenyum lalu menghampiri Lea yang sedang terlelap. Ia mengelus lembut puncak kepala sang istri lalu mengecup keningnya dengan penuh kelembutan.
"Selamat tidur, Sayang. Mimpi indah," ucap Gail.
Waktu terus berlalu dan tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi. Lea menggeliatkan badannya. Ia merasa kehausan. Sangat-sangat haus hingga kerongkongannya terasa kering kerontang. Bahkan untuk menelan saliva pun terasa sulit untuknya.
Dan anehnya, saat itu tercium aroma wangi teh yang sama seperti buatan Sri tadi siang. Mendadak Lea menginginkan teh itu lagi. Ia berniat ingin membuat teh yang sama seperti buatan Sri.
Perlahan Lea membuka mata dan tampaklah wajah tampan yang kini tengah tertidur lelap di sampingnya. Hembusan napas lelaki itu mengenai kulitnya dan hal itu terasa sangat menyenangkan bagi Lea.
Lea menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan berniat bangkit dari tempat itu. Setelah menyingkirkan tangan kekar yang melingkar di perutnya, Lea kemudian mencari kaki palsunya.
"Di mana kakiku? Bukankah sebelum tidur, aku meletakkannya di sini?" gumam Lea sembari melihat ke samping tempat tidurnya.
Namun, benda itu tidak terlihat. Lea mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar mandi luas itu hingga akhirnya ia menemukan benda itu tergeletak di samping sofa, dengan jarak cukup jauh dari tempat tidurnya.
"Ya Tuhan, siapa yang meletakkan kakiku di sana? Hmm, siapa lagi kalau bukan Gail?!" gumam Lea sambil menggelengkan kepalanya.
Lea menurunkan satu kakinya yang masih utuh lalu mencoba berdiri. Namun, sayangnya tubuh Lea mendadak oleng dan akhirnya jatuh ke lantai, dekat tempat tidur.
"Awww!" pekik Lea sembari mengelus lembut bokongnya yang terasa sakit.
Mendengar suara pekikan Lea, Gail pun langsung terbangun. Ia melihat ke samping dan ternyata tempat itu sudah kosong. Tidak ada sesiapa pun di sana. Namun, tempat itu masih terasa hangat. Itu artinya Lea baru saja meninggalkan posisinya.
Gail bangkit dan tatapannya langsung tertuju pada Lea yang terduduk di lantai kamar. "Lea?! Apa yang kamu lakukan di sana?"
Gail dengan cepat menghampiri Lea lalu mengangkat tubuh istrinya itu. Ia kembali meletakkan tubuh Lea ke posisinya semula.
"Kamu kenapa, Sayang? Dan untuk apa kamu duduk di sana?" tanya Gail dengan cemas.
"Aku terjatuh, Mas. Aku ingin mengambil kakiku, tetapi tiba-tiba kepalaku pusing dan akhirnya aku pun terjatuh," tutur Lea sambil meringis kesakitan.
"Kakimu?" Gail tiba-tiba ingat bahwa ia lah yang sudah meletakkan kaki palsu milik Lea di samping sofa.
Gail segera mengambil kaki palsu milik Lea kemudian menyerahkannya kepada wanita itu. Lea meraihnya, lalu meletakkannya di samping tempat tidur. Di mana ia dapat meraih benda itu sendiri, tanpa meminta bantuan siapa pun.
"Memangnya kamu mau ke mana? Ke kamar mandi?" tanya Gail sembari mengelus lembut punggung Lea.
Lea menggelengkan kepalanya. "Bukan, tapi aku kehausan, Mas. Aku ingin meminum secangkir teh hangat," sahut Lea.
"Teh hangat?" Gail melirik jam dinding antik berukuran besar itu dengan alis yang saling bertaut. Ia merasa heran karena ini pertama kalinya Lea menginginkan teh hangat di jam-jam seperti itu. Biasanya hanya air putih saja.
Gail pun mengangguk lalu bangkit dari posisinya. "Kamu tunggu saja di sini. Aku akan minta pelayan untuk membuatkan secangkir teh hangat untukmu."
__ADS_1
"Baiklah, tapi jangan lama, ya. Aku haus sekali," ucap Lea dengan wajah kusut.
"Tenang saja, tidak akan lama, kok." Gail pun bergegas pergi dan kini berjalan menuju kamar kepala pelayan.
Namun, di tengah perjalanan menuju kamar kepala pelayan, Gail menemukan pria paruh baya itu di ruang utama. Seperti biasa sebelum tidur, pria paruh baya itu mengelilingi kediaman mewah Gail untuk memastikan bahwa semuanya aman.
"Selamat malam, Tuan Gail," sapa kepala pelayan sembari membungkuk hormat kepada Gail.
"Istriku ingin minum secangkir teh hangat dan segera antar ke kamarku," titah Gail.
"Baik, Tuan."
Setelah mengucapkan hal itu, Gail pun segera kembali ke kamarnya. Sementara pria paruh baya itu pun terpaksa membangunkan seorang pelayan untuk membuatkan secangkir teh hangat.
Tidak berselang lama, seorang pelayan tiba di depan kamar utama dengan membawa sebuah nampan berisi secangkir teh hangat. Perlahan pelayan itu mengetuk pintu dan setelah mendapatkan izin dari sang pemilik kamar, ia pun segera masuk.
"Ini teh hangatnya, Tuan."
"Sini, serahkan padaku," ucap Gail sembari mengulurkan tangannya ke hadapan pelayan itu.
Setelah mendapatkan teh hangat tersebut, Gail pun segera menyerahkannya kepada Lea. "Sayang, ini teh hangatmu."
Lea meraih teh hangat itu lalu menghirup aromanya untuk beberapa saat. Tiba-tiba alisnya berkerut. Ia merasa heran karena aroma teh itu berbeda dari buatan Sri kemarin siang.
"Sebentar!"
Pelayan itu mengurungkan niatnya. Ia lalu berbalik dan menghadap ke arah Lea. "Ya, Nona?"
"Kamu menggunakan teh dengan merk yang sama seperti biasa, 'kan?" tanya Lea dengan wajah serius menatap pelayan itu.
Pelayan itu pun mengangguk. "Ya, Nona. Masih dengan merk yang seperti biasanya," jawab pelayan itu gugup.
"Loh, kok rasanya beda, sih? Aromanya juga. Apa jangan-jangan teh ini sudah expired?" jelas Lea lagi.
"Apanya yang beda sih, Sayang. Jangan-jangan cuma perasaanmu saja. Tidak mungkin 'kan kepala pelayan memberikan teh yang sudah kedaluwarsa kepada kita?" balas Gail dengan wajah bingung.
"Coba ambil kemasannya! Aku mau lihat," titah Lea kepada pelayan itu.
"Baik, Nona." Pelayan itu pun bergegas pergi untuk mengambil sampel teh yang tadi ia seduh.
Sepeninggal pelayan itu.
"Memangnya apa yang beda dari teh itu, Sayang?" ucap Gail lagi, sembari meraih cangkir teh tersebut lalu mencicipinya. Benar saja, tidak ada yang berbeda dari rasa maupun aroma teh tersebut. Namun, Lea tetap bersikeras mengatakan bahwa rasa dan aromanya jauh berbeda dengan teh buatan Sri tadi siang.
"Aku rasa rasanya sama saja seperti biasanya," lanjut Gail, sembari meletakkan kembali cangkir teh itu.
__ADS_1
"Beda loh, Sayang. Teh ini tidak wangi dan rasanya pun jelas-jelas berbeda!" Lea bersikeras.
Tepat di saat itu, kepala pelayan dan pelayan yang tadi membuatkan teh itu tiba di kamar tersebut dengan membawa kemasan teh yang diminta oleh Lea.
Kepala pelayan menyerahkan kemasan teh tersebut kepada Lea dan segera disambut olehnya. Lea memperhatikan kemasan teh itu kemudian menautkan kedua alisnya.
"Expired-nya masih lama, tapi kenapa rasanya berbeda?" gumam Lea.
"Coba buatkan satu lagi untukku? Tapi minta pelayan yang lain saja," titah Lea lagi sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Kepala pelayan pun mengangguk lalu meminta pelayan lain membuat satu cangkir teh hangat lagi untuk Lea.
Tidak berselang lama, pelayan itu pun tiba dengan membawa satu cangkir teh lagi dan ternyata hasilnya pun tetap sama. Lea bersikeras mengatakan bahwa rasa teh serta aromanya jauh berbeda.
Hal itu terus terulang hingga kini terkumpul sepuluh cangkir teh berbeda yang berjejer di atas nakas. Yang menurut Lea rasanya tidak sesuai dengan keinginannya.
Gail tampak pasrah. Begitu pula kepala pelayan serta para pelayan yang membuat teh tersebut. Mereka keluar dengan membawa sepuluh cangkir teh yang ditolak oleh Lea dan membawanya kembali ke dapur. Sementara Lea masih sedih karena keinginannya tidak terpenuhi.
"Sebaiknya kamu tidur, Sayang. Besok kamu bisa minta Sri untuk membuatkan teh yang sesuai dengan keinginanmu," bujuk Gail.
Lea menekuk wajahnya kemudian berbaring dengan membelakangi Gail. Namun, Gail tidak marah. Ia malah merasa lucu karena ini pertama kalinya Lea bersikap seperti itu.
Gail memeluk tubuh Lea dari belakang kemudian melanjutkan tidurnya. Sementara Lea masih terjaga. Ia yang tidak bisa menahan rasa kesalnya, akhirnya menangis tanpa suara di ruangan itu.
"Kenapa aku cengeng sekali? Hanya karena satu cangkir teh hangat saja, aku menangis," gumamnya pelan.
Hingga akhirnya terlintas sebuah ide di kepalanya. Lea bergegas menyeka air matanya, kemudian kembali membangunkan Gail yang baru saja tertidur.
"Mas! Mas, bangunlah!" Lea menggoyang-goyangkan tubuh kekar Gail hingga lelaki itu kembali terbangun.
Ia sedikit kesal karena Lea membangunkannya lagi. Namun, dia tidak ingin marah dan dengan terpaksa mengikuti keinginan istrinya itu.
"Ada apa lagi sih, Sayang?"
"Tolong jemput Sri, Mas! Ajak dia ke sini dan minta dia buatin teh hangat untukku. Please, ya!" Lea menangkupkan kedua tangannya ke hadapan Gail. Berharap lelaki tu bersedia mengabulkan keinginannya.
"Ya ampun, Sayang! Malam-malam begini? Sri saja masih tidur dan kamu ingin membangunkannya hanya demi sebuah teh hangat?" pekik Gail dengan mata membulat sempurna.
Lea terdiam dengan wajah sedih menatap Gail. Melihat wajah sendunya, Gail pun merasa tidak tega dan akhirnya menyetujui keinginan istrinya itu.
"Baiklah, tapi ini yang terakhir. Jika rasa tehnya tetap sama, maka jangan minta aku untuk melakukan hal-hal yang aneh lagi. Bagaimana?"
"Setuju!" jawab Lea dengan wajah semringah.
\*\*\*
__ADS_1