
"Gail! Gail!"
Terdengar suara teriakan Martha dari luar ruangan. Ternyata wanita itu tahu bahwa Gail sudah kembali ke perusahaannya. Ada satu karyawan yang memberitahunya soal kedatangan Gail di tempat itu.
Ceklek!
Pintu ruangan itu dibuka dengan cukup keras dan tampaklah Martha yang kini tengah berjalan ke arahnya.
"Kenapa teleponku tidak diangkat, Gail?! Kenapa chat-ku tidak dibalas? Dan kenapa ponselmu tiba-tiba dinonaktifkan?!" kesal Martha dengan wajah memerah menatap Gail yang masih duduk di kursi kesayangannya.
Gail mengusap wajahnya dengan kasar. Ia lalu menatap Martha yang kini berdiri di hadapannya dengan wajah malas.
"Kamu masih belum bisa mengubah sikapmu, Martha. Lihatlah, kamu masih saja bersikap seperti kekanak-kanakan dan aku tidak suka itu," ucap Gail.
"Seandainya kamu merespon pesan serta panggilan dariku, mungkin aku tidak akan melakukan itu, Gail. Tidak sadarkah kamu, Gail? Itu adalah satu-satunya caraku mencari perhatian darimu," sahut Martha dengan mata berkaca-kaca.
Gail menghembuskan napas berat. Ia bangkit dari posisinya lalu berdiri di depan Martha yang masih menatap dirinya lekat.
"Maafkan aku, Martha. Aku menyerah, aku benar-benar tidak sanggup menghadapi sikapmu ini. Mulai hari ini dan detik ini, aku ingin kita putus."
"Apa?!"
Kedua netra Martha terbelalak dengan sempurna setelah mendengar kata-kata menyakitkan yang diucapkan oleh Gail barusan. Ia tidak menyangka bahwa Gail dengan begitu mudah mengatakan kata putus. Padahal hubungan mereka hanya tinggal sedikit lagi.
"Ga-Gail, apa aku tidak salah dengar? Ka-kamu ingin kita putus."
"Ya, aku ingin kita putus, Martha. Aku sudah tidak sanggup menghadapi sikapmu dan aku rasa perjuanganku bertahan di sisimu sudah cukup sampai di sini. Dan tidak lupa aku ucapkan terima kasih karena sudah menemani hari-hariku," tutur Gail sambil menatap lekat kedua bola mata Martha yang masih membola.
"A-aku tidak mau, Gail! Apa yang akan dikatakan oleh orang-orang tentangku jika kita tiba-tiba putus sementara pernikahan kita sudah berada di depan mata," pekik Martha.
"Maafkan aku, aku tidak bisa mempertahankan hubungan ini. Aku rasa sudah cukup perjuanganku selama ini," ucap Gail dengan wajah datar menatap Martha.
"Kamu jahat, Gail. Aku yakin, kedua orang tuaku tidak akan pernah membiarkan hal ini terjadi. Lakukan saja apa yang kamu inginkan, tetapi pernikahan kita tetap akan dilaksanakan!" teriak Martha dengan geram.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, aku akan bicarakan masalah ini kepada ayahmu. Aku akan bertanggung jawab atas keputusanku ini, tetapi untuk mempertahankan hubungan ini, maaf, aku tidak bisa." Gail lalu pergi dari ruangan itu dan meninggalkan Martha yang masih terisak di sana.
"Gail! Tunggu, kita belum selesai bicara, Gail!" teriak Martha sembari berlari kecil mengejar Gail yang sudah berjalan di depannya.
Hingga akhirnya Martha berhasil menyusul Gail. Ia meraih tangan lelaki itu kemudian mencoba menghentikan Langkahnya.
"Gail, dengarkan aku!"
Langkah Gail terhenti. Ia berbalik lalu menatap Martha dengan malas. "Ada apa lagi, Martha. Apakah ucapanku tadi belum jelas?"
"Aku tidak mau, Gail! Enak saja kamu bilang 'tenang'. Bagaimana aku bisa tenang, sementara masa depanku terancam!" balas Martha.
"Aku rasa semuanya sudah jelas, Martha. Di antara kita sudah tidak ada kecocokan lagi." Gail mendengus kesal sambil membuang muka.
"Gail, beri aku kesempatan satu kali lagi. Aku berjanji akan menjadi seperti yang kamu mau. Aku tidak akan melakukan hal ya ng tidak kamu sukai. Tapi, kumohon! Jangan putuskan hubungan kita," ucap Martha, memohon kepada Gail sambil memasang wajah memelas.
"Aku sudah pernah memberikan kesempatan itu kepadamu, tetapi kamu tidak pernah memanfaatkannya, Martha. Kamu selalu berbohong, kamu selalu melakukannya lagi dan lagi," ucap Gail lagi.
Tiba-tiba saja terlintas di pikiran Martha bahwa ada orang ke-tiga di antara mereka karena Gail begitu keras kepala. Padahal biasanya lelaki itu selalu menuruti apa pun permintaannya. Terlebih jika Martha mengancamnya, maka Gail tidak akan berdaya menolak semua keinginan wanita itu.
Gail tersenyum sinis. "Ini tidak ada kaitannya dengan siapa pun, Martha. Ini murni tentang kita. Tentang hubungan kita yang sudah tidak bisa dipertahankan lagi."
Gail kembali meneruskan langkahnya, meninggalkan Martha di ruangan itu.
"Gail! Kumohon," lirih Martha di sela sesenggukannya.
Gail pergi, kemudian kembali ke kediaman mewahnya. Ia ingin mempersiapkan dirinya untuk dinner nanti malam bersama Lea.
\*\*\*
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 07.30 malam. Lea yang baru selesai berdandan alakadarnya, berdiri di depan sebuah lemari, di mana ia meletakkan koleksi sepatu serta tasnya.
Ia menatap nanar ke dalam lemari sambil sesekali melirik kaki palsunya. Lea membuka lemari itu lalu meraih sepasang high heels kesayangannya. High heels cantik yang ia beli beberapa waktu yang lalu, sebelum kejadian naas itu berhasil merenggut kakinya.
__ADS_1
"Pantas saja aku ragu-ragu ketika ingin membayar high heels ini ke kasir. Entah mengapa hati kecilku berkata bahwa aku tidak akan pernah bisa mengenakannya. Dan ternyata semua itu menjadi kenyataan," gumam Lea dengan lirih sambil menatap benda itu.
Tok ... tok ... tok!
Terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Lea segera menghampiri pintu lalu membukanya. Ia tersenyum ketika melihat Bi Enah yang kini berdiri tepat di hadapannya.
"Non, makan malam sudah siap."
"Ehm, Bi. Sepertinya malam ini aku akan makan di luar," sahut Lea.
"Baiklah kalau begitu, Non."
Setelah mendapatkan jawaban dari Lea, Bi Enah pun kembali ke ruang makan untuk membereskan makanan yang tadinya sudah ia siapkan untuk majikannya itu. Namun, belum selesai Bi Enah berberes, tiba-tiba rumah itu kedatangan seorang tamu.
Seorang lelaki tampan dengan setelan jas hitam andalannya. Ia tersenyum hangat menatap Bi Enah yang kini berjalan menghampirinya.
"Eh, Tuan Gail." Bi Enah membalas senyuman Gail.
"Lea ada?"
"Ya, tentu saja, Tuan. Silakan masuk!" Bi Enah mempersilakan Gail untuk masuk.
Gail mengikuti langkah Bi Enah yang menuntunnya ke sebuah sofa yang ada di ruang depan.
"Silakan duduk, Tuan. Tunggulah sebentar, biar saya panggil non Lea," ucap Bi Enah kemudian.
"Terima kasih, Bi." Gail pun duduk di sana dan menunggu kehadiran sang pemilik rumah.
Tidak butuh waktu lama, Lea pun tiba di ruangan itu dengan penampilan yang begitu berbeda menurut Gail. Lea terlihat jauh lebih cantik dari pada sebelumnya. Gail bangkit dari posisi duduknya lalu menyambut kedatangan Lea sembari mengulurkan tangannya ke hadapan wanita itu.
"Selamat malam, Lea. Serius, kamu cantik sekali malam ini," ucap Gail.
Lea tersenyum tipis. "Jangan keseringan memujiku, Gail. Nanti aku bisa besar kepala dan itu sangat tidak baik," balas Lea.
__ADS_1
... ***...