Gadis Kaki Palsu

Gadis Kaki Palsu
GKP 61


__ADS_3

"Tuan Gail, Nona Lea ...." Ucapan wanita itu terhenti. Ia menghampiri Gail yang sedang berjalan dengan cepat menuju kamarnya. Wajah wanita itu tampak panik dan berhasil membuat Gail semakin ketakutan.


"Ada apa? Apa yang terjadi pada Lea, katakan!" tanya Gail dengan setengah berteriak.


"Non Lea membawa pisau lalu masuk ke dalam kamar utama," jawab pelayan itu.


"Apa!" Tanpa pikir panjang, Gail pun segera berlari menuju kamar utama. Ia begitu khawatir. Takut terjadi sesuatu kepada istri beserta bayi di dalam kandungannya.


"Ya Tuhan, semoga dia tidak melakukan hal bodoh itu lagi!" gumam Gail.


Setibanya di depan pintu kamar utama, Gail pun segera mendorong pintu tersebut dengan cukup keras. Ternyata pintunya tidak dikunci dan Gail pun berhasil membukanya dengan mudah.


Brakkk!


Lea sudah bersiap menyambut kedatangan lelaki itu. Ia berdiri dengan tegap menghadap pintu kamar. Tangannya mengepal dengan kuat. Menggenggam sebuah pisau tajam yang ia peroleh dari dapur.


"L-Lea ...." Gail menatap lekat kedua netra yang kini tengah memperhatikan dirinya bagai seorang mangsa.


"A-aku bisa jelaskan," ucap Gail dengan terbata-bata.


"Ceritakan yang sebenarnya Tuan Abigail Sebastian!" tegas Lea dengan penuh penekanan. Matanya memicing tajam, setajam pisau yang sedang berada di genggamannya.

__ADS_1


Gail menelan salivanya dengan susah payah. Ia berjalan pelan mencoba mendekati Lea.


"Malam itu, aku mendapatkan telepon dari Martha. Ia mengancam akan mengakhiri hidupnya jika aku tidak datang. Karena panik, aku sampai kehilangan kontrol atas mobilku hingga tak sengaja menabrak kalian. Aku pikir kalian baik-baik saja dan aku pun melanjutkan perjalananku. Beberapa hari setelah itu, aku mendapatkan kabar bahwa orang yang aku tabrak meninggal dunia. Demi menjaga reputasiku, aku meminta semua orang yang terlibat untuk tutup mulut. Termasuk saksi dan pengacaramu, Lea. Maafkan aku," tutur Gail dengan lirih.


Buliran bening itu kembali mencair dan lolos dari kedua sudut matanya. Namun, ekspresi wajah Lea sama sekali tidak berubah. Wajahnya tetap terlihat tegas, seolah ia baik-baik saja.


Lea menelan salivanya. "Lanjutkan, Tuan Abigail!"


"Setelah pertemuan kita yang tidak disengaja, akhirnya aku tahu bahwa kamu adalah korban kecelakaan pada malam naas itu. Jujur, aku benar-benar merasa bersalah, Lea. Aku pikir, apa pun yang terjadi padamu adalah tanggung jawabku. Oleh sebab itu aku memutuskan untuk menikahimu dan berjanji akan membahagiakanmu hingga akhir hayatku," tutur Gail dengan wajah memucat.


"Termasuk ini?!" Lea melemparkan obat yang pernah dikonsumsi oleh Gail, tepat ke hadapan lelaki itu.


"Ya, termasuk itu." Gail terdiam sejenak. "Tapi itu hanya di awal-awal pernikahan kita, Lea. Setelah aku sadar bahwa aku benar-benar mencintaimu, aku sudah tidak mengkonsumsi obat itu lagi. Demi Tuhan!"


"Jangan bawa-bawa nama Tuhan, Tuan Abigail!" teriak Lea dengan geram. "Anda adalah seorang aktor yang paling hebat di muka bumi ini. Saking hebatnya, Anda bahkan sampai menciptakan sebuah sandiwara di kehidupan real-mu! Hebat sekali!" Lea tersenyum sinis.


"Maafkan aku," ucap Gail lagi dengan lirih.


Lea meradang. Ia berjalan dengan cepat menghampiri Gail lalu menghujamkan pisau yang sejak tadi berada di genggamannya ke dada Gail. Kini ujung pisau yang tajam itu tertancap dan menembus lapisan-lapisan jas mahal yang dikenakan oleh Gail.


Gail sama sekali tidak bereaksi. Ia diam dan tampak pasrah, menerima apa pun yang akan dilakukan oleh Lea saat itu. Kedua netra keduanya saling beradu. Jika Gail menatap Lea dengan penuh perasaan, berbanding terbalik dengan wanita itu. Lea menatap Gail dengan tatapan membunuh. Seolah ingin menyingkirkan lelaki itu dari muka bumi.

__ADS_1


"Seharusnya nyawa dibayar nyawa, Tuan Gail! Namun, aku tidak akan mengotori tanganku dengan darahmu yang menjijikan itu," ucap Lea dengan geram. Gigi-giginya bahkan terdengar bergemeretak.


"Bunuhlah aku, jika itu akan membuatmu puas, Lea. Jika nanti aku mati, maka seluruh harta dan kekayaan ini akan tetap jatuh untuk anak kita dan juga kamu," jawab Gail dengan lirih.


Lea tersenyum sinis. "Persetan dengan hartamu, Tuan Abigail! Aku bahkan tidak tertarik dengan harta kekayaanmu itu."


Lea melemparkan pisau yang tadi sempat menancap di dada Gail ke sembarang arah. Lea mundur beberapa langkah kemudian meraih kopernya yang sejak tadi sudah ia persiapkan.


"Aku tunggu tanggung jawabmu, Tuan Abigail!"


Setelah mengucapkan hal itu, Lea pun segera menyeret kopernya keluar dari ruangan itu. Ia berjalan dengan cepat hingga berhasil mencapai pintu utama rumah megah tersebut. Sementara Gail masih terdiam di dalam kamarnya dengan wajah sedih.


"Maafkan aku, Lea," gumamnya dengan penuh penyesalan.


Di depan pintu, Lea sempat bertemu dengan Nick yang ternyata masih berada di tempat itu. Lelaki itu tengah berbincang bersama kepala pelayan, membicarakan tentang kejadian yang terjadi saat ini. Raut wajah keduanya terlihat kacau. Terlebih ketika melihat Lea yang kini berjalan ke arah mereka dengan membawa koper.


Kini Lea berada tepat di hadapan Nick dan kepala pelayan. Ia berhenti sejenak di sana sambil menatap mereka secara bergantian.


"Aku yakin, kalian pun ikut andil di dalam sandiwara ini. Benar, 'kan? Hmmm, menjijikan!" Lea meludah ke samping kiri lalu kembali melanjutkan langkah, melewati mereka berdua.


...***...

__ADS_1


__ADS_2