Gadis Kaki Palsu

Gadis Kaki Palsu
GKP 25


__ADS_3

Kini Lea sudah tidak sendirian lagi ketika bekerja. Ada Sri yang setia menemaninya di tempat itu. Tidak kalah dari Amanda, gerakan lincah tangan Sri ketika bekerja, berhasil membuat Lea mengacungkan dua jempolnya.


Seperti hari ini, Sri begitu semangat melakukan pekerjaannya. Namun, berbanding terbalik dengan sang owner yang terlihat uring-uringan. Lea terlihat lemas dan tidak bersemangat melakukan pekerjaannya. Bahkan untuk menempelkan satu biji batu swarovski saja, Lea membutuhkan waktu bermenit-menit.


Tentu saja hal itu membuat Sri kebingungan melihatnya, sebab tak biasanya Lea seperti itu. Tak bosan-bosan Sri memperhatikan ekspresi Lea. Ia penasaran dan ingin bertanya, tetapi takut Lea tersinggung dan marah kepadanya.


Namun, tidak semudah itu Sri menepis rasa keinginantahuannya. Rasa itu terus bergejolak dan akhirnya Sri pun kalah. Ia menghampiri Lea yang masih terdiam sambil menatap sebuah gaun dengan tatapan kosong menerawang.


"Mbak," sapa Sri dengan ragu-ragu.


Lea tersentak kaget. Ia menoleh kemudian tersenyum tipis. "Ya?"


"Mbak Lea kenapa, sih? Sejak tadi aku perhatikan, Mbak murung saja. Apa ada yang salah?" tanya Sri.


"Hah? Ehm, itu ...." Lea terdiam lagi sembari menghembuskan napas berat. Ia melemparkan batu swarovski yang ada di tangannya kembali ke kotaknya. Kemudian berjalan menuju sebuah sofa yang ada di ruangan itu lalu berbaring di sana.


"Aku benar-benar gak bersemangat, Sri. Seandainya gak ingat sama job yang menumpuk, mungkin hari ini aku memilih untuk beristirahat di rumah," ucap Lea sambil menatap langit-langit ruangan.


"Memangnya kenapa, Mbak? Maaf, saya memang suka kepo," sahut Sri sambil tersenyum kecut.


Lea melirik wanita muda itu sambil tersenyum. "Apa kamu tahu, Sri? Hari ini seharusnya menjadi hari yang sangat spesial untukku. Di mana seharusnya aku bahagia dan duduk di pelaminan menjadi ratu sehari. Namun, apalah daya. Kita hanya bisa berencana dan Tuhan lah yang mengaturnya. Lelaki yang seharusnya menjadi imamku, ternyata menjadi imam dari sahabatku sendiri."


Sri membulatkan kedua matanya. "Ya Tuhan! Kenapa bisa begitu?"


"Ya, karena mereka memang berjodoh. Sementara aku hanya sebagai perantara untuk mereka," sahut Lea sambil terkekeh.


Sri tampak geram mendengarnya. "Owalah, Mbak. Aku salut padamu. Seandainya aku berada di posisinya Mbak, mungkin sudah aku datangi dan kacaukan acara pernikahan mereka."


Lea kembali terkekeh. "Aku tidak akan melakukannya karena aku takut digebuk."


Sri menghembuskan napas panjang lalu menghampiri Lea yang masih berbaring di atas sofa.


"Aku do'akan semoga Mbak mendapatkan jodoh yang jauh lebih baik dari lelaki pengkhianat itu. Dan semoga saja rumah tangga mereka dipenuhi dengan ujian dan cobaan berat, aamiin!" seru Sri sambil berdoa.


Lea refleks memukul lengan Sri kemudian tertawa pelan. "Ish, kamu ini, Sri! Gak boleh begitu."


"Habisnya aku gedek, Mbak! Aku paling sebal mendengar cerita laki-laki yang suka berselingkuh itu," jawab Sri.


"Sudah-sudah, ayo kerja lagi! Jangan ngerumpi aja," ucap Lea sembari menarik tubuh Sri pelan dan mengajaknya kembali bekerja.

__ADS_1


Satu jam kemudian.


"Hmm, sepertinya aku tidak bisa memaksakan diriku, Sri. Aku tidak bisa fokus. Pikiranku terus melayang tak karuan," ucap Lea kemudian sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Lah, trus bagaimana sekarang?" Protes Sri dengan wajah sedikit menekuk.


"Sebaiknya kita istirahat saja dan lanjutkan pekerjaannya besok," jawab Lea sembari berjalan menuju ruang pribadinya.


Sri pun tidak bisa menolak perintah atasannya itu. Ia segera menghentikan pekerjaannya lalu berberes-beres.


"Mari, Sri!" ajak Lea sembari melangkah ke luar dari ruangan tersebut.


"Baik, Mbak." Sri mengikuti langkah Lea yang berjalan di depannya. Setelah mereka keluar dari tempat itu, Lea pun bergegas mengunci pintunya.


"Sampai jumpa besok pagi, Sri. Ingat, jangan sampai terlambat," ucap Lea sebelum wanita muda itu pergi meninggalkannya.


"Tentu saja, Mbak. Akan kuingat itu!" sahutnya sambil melambaikan tangan.


Lea tersenyum sembari memperhatikan Sri yang semakin menjauh darinya. Hanya beberapa menit setelah Sri pergi, sebuah taksi online tiba dan berhenti tepat di hadapan Lea. Taksi online yang sengaja ia pesan untuk mengantarkannya.


"Atas nama Nona Lea?"


Setelah memastikan bahwa Lea sudah duduk dengan santai di belakangnya, sopir taksi itu pun bergegas melajukan kendaraan beroda empat tersebut menuju lokasi yang sudah diminta oleh Lea sebelumnya


Dua puluh lima menit kemudian.


"Mbak, kita sudah sampai," ucap sopir taksi tersebut.


"Oh iya, maafkan saya." Lea yang sejak tadi hanya melamun, tidak menyadari bahwa dirinya sudah tiba di lokasi yang ia tuju.


Setelah membayar ongkos taksi tersebut, Lea pun kembali melangkahkan kakinya menuju ke suatu tempat. Tempat di mana terselenggaranya acara pernikahan Rangga dan Amanda.


Dari kejauhan terdengar suara alunan musik yang mendayu-dayu. Suara merdu sang biduan, seolah berhasil menyihir ribuan tamu yang terus berdatangan silih berganti. Lea ikut masuk kemudian berbaur dengan tamu undangan lainnya.


Bola mata indah milik Lea langsung tertuju ke arah pelaminan, di mana Rangga dan Amanda tengah bersanding menjadi raja dan ratu sehari. Amanda terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna putih keemasan, senada dengan warna setelan jas yang dikenakan oleh Rangga.


Lea masih ingat betul bahwa setelan jas yang dikenakan oleh Rangga adalah pilihannya. Bukan hanya setelan jas itu, tetapi juga dekor, pelaminan, jamuan serta semua yang ada di acara itu adalah hasil pilihannya.


"Benar sekali, aku hanya sebagai perantara di antara mereka. Tidak ada yang tahu rencana Tuhan yang sebenarnya. Lihatlah, semua yang ada di sini adalah hasil pilihanku. Aku yang mengatur semuanya dan sekarang Amanda yang menikmatinya," ucap Lea dalam hati.

__ADS_1


"Lea?"


Tiba-tiba Lea dikejutkan oleh seseorang yang begitu mengenalinya. Lea berbalik kemudian tersenyum kecut.


"Hai!"


"Ehm, sudah makan?" tanyanya lagi sembari memperhatikan ekspresi wajah Lea.


"Sudah. Barusan," sahut Lea bohong. Padahal satu biji nasi pun, tak tersentuh olehnya. Ia sama sekali tidak memiliki napsu makan ketika berada di tempat itu.


Wanita itu tersenyum sembari mengelus pundak Lea dengan lembut. Dia adalah sepupu Rangga, di mana dulu sering sekali menyambut kedatangan Lea ketika ia berkunjung ke rumah Rangga.


"Aku salut sama kamu, Lea. Padahal Rangga ...." Wanita itu terdiam lalu memasang wajah sendu. "Semoga kamu selalu bahagia, Lea, dan mendapatkan jodoh yang baik," lanjutnya.


"Aamiin," sahut Lea.


"Apa kamu ingin menemui Rangga? Sini, biar aku temenin!" ajaknya, sembari menarik tangan Lea pelan.


"Tidak, terima kasih." Lea menggelengkan kepalanya dan terus menolak keinginan wanita itu. Akhirnya wanita itu pun kalah. Ia melepaskan tangan Lea kemudian tersenyum.


"Baiklah kalau begitu. Ehm, aku harus pergi. Masih ada pekerjaan yang sedang menungguku, menyambut tamu yang lainnya. Selamat menikmati pestanya, Lea!" ucap wanita itu kemudian lalu pergi meninggalkan Lea di tempat itu.


Sepeninggal wanita itu, Lea pun segera pergi. Ia kembali melangkahkan kakinya keluar dari lingkungan pesta. Namun, tiba-tiba langkahnya kembali terhenti tatkala ia melihat Bu Fika (Ibundanya Rangga) tengah berbicara dengan salah satu sahabatnya.


"Oh ya, Bu Fika, bukannya kemarin calon istri Rangga bukan yang ini, ya? Aku pikir Rangga akan menikah dengan wanita itu," tanya teman Bu Fika.


"Hmm, tentu saja tidak, Jeng. Jeng tau, gak? Wanita yang itu mengalami kecelakaan parah dan sekarang ia cacat. Kakinya sudah buntung! Ngapain aku mau punya mantu seperti itu. Yang ada nantinya malah nyusahin anak aku lagi. Belum lagi nanti kalo dia punya anak. Gimana dia bisa rawat anaknya kalo dia sendiri saja tidak bisa merawat dirinya sendiri," celetuk Bu Fika yang berhasil membuat telinga Lea meradang.


Lea menghampiri kedua wanita paruh baya itu kemudian berdiri di hadapan mereka. Alangkah terkejutnya kedua wanita itu setelah melihat Lea berdiri di hadapan mereka. Terutama Bu Fika, ia tidak menyangka bahwa Lea hadir di pesta pernikahan tersebut.


"Maafkan saya jika lancang menyela pembicaraan kalian. Ya, saya memang wanita cacat, tetapi saya bukan wanita yang suka menyusahkan orang lain. Saya bisa berjalan sendiri tanpa bantuan orang lain, saya bisa melakukan apa saja tanpa di bantu oleh siapa pun. Dan saya akan buktikan bahwa saya bisa merawat anak saya sendiri tanpa bantuan orang lain! Ingat itu, Bu Fika!"


Lea yang geram tidak bisa menahan kekesalannya lagi. Ia mengeluarkan seluruh kekesalannya terhadap wanita paruh baya itu. Bu Fika menelan salivanya dengan susah payah. Tiba-tiba bibirnya kelu dan tak bisa berkata apa-apa lagi.


"Dan satu lagi, Bu Fika. Semoga pernikahan anakmu ini langgeng. Aku hanya takut mereka terkena karma sebab sudah bahagia di atas penderitaan orang lain. Ingat, segala ucapan orang yang terdzolimi itu mustajab, Bu Fika!"


Setelah puas mengeluarkan unek-uneknya, Lea pun bergegas pergi dan meninggalkan Bu Fika dan temannya yang masih terdiam seribu bahasa.


***

__ADS_1


__ADS_2