Gadis Kaki Palsu

Gadis Kaki Palsu
GKP 42


__ADS_3

"Ada apa, Martha? Apa yang terjadi?" Wanita paruh baya itu menggoncang tubuh Martha yang tengah menangis dengan tersedu-sedu.



"Gail, Bu! Gail berbohong pada kita. Semua penolakan itu hanya alasannya saja! Ternyata dia memiliki wanita idaman lain!" seru Martha dengan air mata yang berderai.



"Benarkah?" Wanita paruh baya itu seolah tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh anak perempuannya itu.



"Coba lihat ini, Bu! Lihatlah, dia bahkan sudah melamar wanita itu!" sahut Martha lagi, di sela-sela isak tangisnya.



Martha menyerahkan ponsel miliknya kepada sang Ibu dan segera disambut oleh wanita paruh baya itu. Ia lalu memperhatikan foto-foto tersebut dengan seksama dan setelah menyadari apa yang dikatakan oleh anak perempuannya itu adalah benar, ekspresi raut wajahnya pun seketika berubah.



"Hhh, dasar! Jangan-jangan kamu benar, Martha. Mungkin saja Gail sengaja memutuskan hubungan kalian demi bisa bersama wanita ini!" geram wanita paruh baya itu.



Martha segera menyeka air matanya. Ia meraih ponselnya kembali kemudian mencoba menghubungi Helda sekali lagi. Tidak butuh waktu lama, panggilannya pun segera diterima oleh sahabatnya itu.



"Ya, Martha?"



"Apakah mereka masih di sana, Helda?" tanya Martha dengan begitu serius.



"Ehm, ya. Mereka masih di sini. Memangnya kenapa? Apa kamu—" Belum selesai Helda berucap, Martha sudah memutuskan panggilannya.



"Martha mau apa? Apa dia mau ke sini, menemui Gail? Ah, entahlah," gumam Helda sembari menyimpan kembali ponselnya.



Sementara itu.



Martha bangkit dari tempat tidur dengan tergopoh-gopoh. Ia hampir saja terjatuh, jika saja sang ibu terlambat menangkap tubuh kurusnya.



"Kamu mau ke mana, Martha?" tanya sang Ibu.



"Aku ingin menemui Gail, Bu. Dia harus menjelaskan semua ini kepadaku."



"Tapi Martha, kamu masih lemah. Ingat kata dokter, kamu masih harus beristirahat," teriak wanita paruh baya itu.



Namun, peringatannya sama sekali tidak digubris oleh Martha. Anak perempuannya itu berjalan dengan cepat, menuruni anak tangga. Menapaki satu persatu anak tangga sambil berpegangan pada railing-nya. Sementara wanita paruh baya itu hanya bisa menatap kepergian Martha dengan tatapan sedih.



Martha tiba di halaman depan rumah. Ia menghampiri sopir pribadinya kemudian meminta lelaki itu untuk segera mengantarnya ke taman tengah kota. Di mana Lea dan Gail masih berada di sana.



"Pak, antar aku ke taman kota. Cepat!" ucap Martha sembari masuk ke dalam mobilnya.



"Baik, Nona." Lelaki paruh baya itu pun bergegas masuk kemudian melajukan mobil tersebut menuju taman kota.

__ADS_1



Martha tampak gelisah. Sudah beberapa kali ia melirik jam digital yang ada di dashboard mobil. Wajahnya tampak kesal karena sekarang mereka malah terjebak macet.



"Ada apa lagi, Pak? Tidak bisakah kamu terobos saja kemacetan ini!" kesal Martha dengan mata membulat sempurna.



"Maafkan saya, Nona. Saya tidak bisa melakukan apa yang Nona perintahkan. Sepertinya di depan baru saja terjadi kecelakaan. Ada beberapa anggota polisi yang sedang berjaga-jaga di sana," jawab sopir itu.



"Aakhh, menyebalkan! Dasar sopir tidak berguna." Martha berteriak histeris sembari menendang-nendang jok mobil yang diduduki oleh sopirnya itu.



Cukup lama mereka tertahan di sana, hingga akhirnya mereka berhasil melewatinya. Martha menghembuskan napas lega. Ia berharap masih bisa menemui Gail di taman tersebut.



Beberapa menit kemudian, mobil yang membawa Martha tiba di depan taman tersebut. Tanpa pikir panjang, Martha pun segera keluar dari mobilnya kemudian memasuki taman tersebut sambil berlari kecil.



"Di mana mereka?!" gumam Martha sambil melihat sekelilingnya. Berharap menemukan Gail dan wanita itu.



Martha terus melangkahkan kakinya walaupun saat itu kondisi tubuhnya sedang tidak fit. Setelah beberapa menit kemudian, Martha akhirnya berhasil menemukan pasangan itu.



Namun, sayangnya Gail dan Lea sudah memasuki mobil mewah milik lelaki itu. Martha kembali berlari dan mengejar mobil milik Gail yang sudah melaju memecah jalan raya.



"Gail! Gail! Tunggu!" teriak Martha dengan sisa-sisa tenaganya.




Di dalam mobil milik Gail.



"Gail, sepertinya tadi ada yang memanggil namamu," ucap Lea sembari melihat-lihat ke belakang mobil. Mencoba mencari seseorang yang tadi memanggil Gail.



"Benarkah? Aku tidak dengar apa pun," jawab Gail yang sedang fokus dengan setir mobilnya.



"Iya, serius. Aku dengar dan sepertinya itu suara wanita, deh."



Karena tidak menemukan siapa pun di belakang mobil, Lea kembali fokus pada jalanan yang membentang di hadapannya.



"Mungkin salah satu penggemarku," celetuk Gail sambil terkekeh pelan.



Gail meneruskan perjalanan mereka menuju kediaman mewahnya. Ia ingin mengajak Lea ke tempat itu karena selama ini ia tidak pernah jujur soal kehidupan aslinya. Setelah beberapa menit kemudian, mereka pun tiba di sana.



"Hei, sebentar! Ini rumah siapa?" tanya Lea dengan mata membulat sempurna ketika mobil yang dikemudikan oleh Gail mengarah ke bangunan megah itu. Ia menahan tangan kekar lelaki itu dan mencoba menghentikannya.



Gail terkekeh setelah mendengar pertanyaan dari Lea barusan. "Ini rumahku, Lea. Yang sebentar lagi akan menjadi rumahmu juga."

__ADS_1



"Apa? Rumahmu?!" pekik Lea, seolah tidak percaya.



Gail mengangguk sambil tersenyum. Ia terus memacu kemudinya memasuki tempat itu. Gerbang tinggi yang berdiri kokoh di hadapan mereka terbuka secara otomatis dan kini tampaklah sebuah bangunan nan megah.



Lea terpelongo melihat bangunan megah itu. Betapa tidak, ia sama sekali tidak menyangka bahwa ternyata Gail sekaya itu.



"Gail, serius ini rumahmu?" tanya Lea lagi, mencoba meyakinkan.



"Iya, Lea sayang. Kenapa? Masih tidak percaya?"



Setelah selesai memarkirkan mobilnya secara sembarang, Gail pun segera keluar lalu menghampiri pintu di samping tubuh Lea. Ia membukakan pintu tersebut sembari mengulurkan tangannya ke hadapan Lea.



"Mari! Biar kuperkenalkan kamu dengan orang-orangku," ucap Gail.



"Orang-orangmu?" tanya Lea sembari menyambut uluran tangan Gail.



"Ehm, maksudku para pelayan dan pekerja lainnya," jelas Gail seraya menuntun Lea memasuki kediaman mewahnya itu.



Baru saja Gail dan Lea menginjakkan kaki mereka di depan bangunan mewah itu, seorang lelaki paruh baya dengan pakaian rapi, serta beberapa orang pekerja di rumah besar itu segera menyambut kedatangan mereka. Mereka tersenyum hangat kemudian menyapa Gail dan Lea.



"Selamat datang kembali, Tuan Gail," sapa kepala pelayan yang mewakili seluruh pekerja di rumah itu, dengan sedikit membungkuk di hadapan Gail dan Lea.



"Oh ya, kenalkan. Ini adalah calon istriku, namanya Azalea. Panggil saja dia Nona Lea," ucap Gail, memperkenalkan Lea kepada kepala pelayan serta para pekerja di rumah besar tersebut.



"Selamat datang, Nona Lea," sapa mereka dan dibalas anggukan oleh Lea.



"Oh ya, jangan lupa siapkan makan malam untuk kami karena malam ini Nona Lea akan ikut makan malam di sini."



"Baik, Tuan."



Gail dan Lea pun melanjutkan langkah mereka, meninggalkan ruangan tersebut.



Sepeninggal pasangan itu, kepala pelayan kembali berbicara kepada para pelayan serta pekerja lainnya dengan begitu serius.



"Ingat pesan Tuan Gail! Jangan pernah melihat ataupun menyinggung soal kaki Nona Lea. Tuan Gail tidak ingin Nona Lea merasa minder dan malu dengan kondisinya. Mengerti?" tegasnya.



"Mengerti, Tuan!" jawab mereka dengan serempak.


... ***...

__ADS_1


__ADS_2