
Sementara itu.
"Pelakunya sudah ditemukan, Harris. Kakak berjanji padamu, akan terus memperjuangkan keadilan untukmu. Setidaknya, lelaki itu harus merasakan dinginnya lantai penjara," gumam Lea yang kini berdiri di depan pusara sang adik.
Tanpa ia sadari, ternyata Nick sudah berdiri di belakangnya. Nick terdiam sejenak dengan tatapan yang terus tertuju kepada Lea. Matanya tampak berkaca-kaca sebab ia turut merasakan kesedihan yang begitu dalam.
"Nona Lea," panggil Nick dengan pelan.
Mendengar suara Nick dari balik punggungnya, Lea pun segera membalikkan badan dan kini mereka berdiri dengan posisi saling berhadap-hadapan.
"Mau apa kamu ke sini, Nick?! Tidak puaskah kamu melihat penderitaanku?" ucap Lea dengan wajah geram menatap lelaki dewasa itu.
Nick membungkuk hormat. Sama seperti yang ia lakukan sebelum-sebelumnya. "Sebenarnya ada berita penting yang ingin saya sampaikan kepada Anda, Nona Lea."
"Soal apa?" Lea menyilangkan kedua tangannya ke dada.
"Tuan Gail sudah menyerahkan diri ke pihak yang berwajib untuk mempertanggung jawabkan semua kesalahannya, Nona Lea. Dan sekarang mereka sudah menahannya," sahut Nick.
Lea tersenyum sinis. "Hmm, baguslah kalau begitu! Biar dia membusuk di penjara," ucap Lea.
"Nona Lea, tidak bisakah Anda memikirkannya lagi dan memaafkan Tuan Gail? Biar bagaimanapun dia adalah suami dan ayah dari bayi yang tengah Anda kandung. Bayi itu pasti membutuhkan ayahnya," bujuk Sean, berharap Lea membuka sedikit pintu maafnya untuk Gail.
"Anak ini tidak membutuhkan ayahnya, Tuan Nick! Aku akan menjadi ayah sekaligus ibu untuknya. Hidupnya akan penuh dengan cinta dan kasih sayang hingga ia tidak akan pernah merasakan kekurangan kasih sayang," jawab Lea dengan mantap.
Nick menghembuskan napas berat. "Ya, mungkin Anda benar. Bayi Anda tidak akan pernah kekurangan kasih sayang dari Anda. Namun, ketika ia sudah mulai besar, Anda akan tahu betapa pentingnya peran seorang Ayah bagi anak itu. Jika suatu saat nanti teman-temannya bertanya, di mana ayahnya? Apa yang akan Anda jawab, Nona? Apakah Anda akan berkata bohong bahwa ayahnya sudah meninggal? Atau Anda akan berkata jujur kepadanya bahwa ayahnya adalah seorang penjahat yang kini mendekam di penjara? Lalu, apa yang akan anak Anda pikirkan soal itu? Apa yang akan dipikirkan oleh teman-temannya?" jelas Nick dengan tegas.
Ini pertama kalinya bagi Nick, membuka suaranya hingga panjang lebar seperti itu. Ia sudah tidak tahan dengan sikap keras Lea yang tidak memikirkan soal masa depan bayi itu.
"Seharusnya kamu katakan hal itu kepada Gail, bukan kepadaku. Dia yang sudah membuat kesalahan besar ini, bukan aku! Aku adalah korban, Nick! Korban dari keegoisan Gail dan kau pun ikut andil dalam hal ini, 'kan?" Lea kembali tersenyum sinis.
Nick menghembuskan napas berat. "Maafkan saya, Nona. Tapi saya mohon dengan sangat, pikirkanlah sekali lagi. Setidaknya demi masa depan bayi Anda, Nona."
Lea membuang muka dengan raut wajah kesal. Ia tidak ingin menimpali ucapan lelaki dewasa tersebut. Nick memohon diri dan segera pergi dari tempat itu.
__ADS_1
"Ya, Tuhan. Semoga suatu saat nanti Nona Lea dapat membuka hatinya dan memaafkan Tuan Gail," gumam Nick dalam hati.
Waktu terus berlalu hingga tak terasa sudah berbulan-bulan Gail terkurung di penjara, sementara Lea memilih untuk tetap menyibukkan dirinya di butik agar bisa mengurangi rasa kecewa serta rasa sakit di hatinya.
Seperti hari ini, Lea dan Sri masih disibukkan dengan pekerjaan mereka di tempat itu. Di mana banyak orderan yang masuk dan harus dikerjakan dalam waktu dekat. Jika Sri terlihat begitu semangat dengan pekerjaannya, Lea malah tampak malas-malasan.
Bawaan bayi dalam perut, membuat Lea mudah lelah dan juga gampang mengantuk. Terlihat beberapa kali Lea menguap dan membuat matanya berair.
"Aduh, Sri. Sepertinya aku sudah tidak sanggup lagi. Aku harus tidur sekarang juga. Kau lihat mataku ini?" Lea menunjuk matanya yang hanya tinggal beberapa watt lagi.
Sri tersenyum. "Iya, Mbak. Mbak istirahat saja. Biar aku yang lanjutin pekerjaannya," ucap Sri.
"Terima kasih, Sri." Lea pun bergegas menuju ruang pribadinya. Ia meletakkan sebuah bantal kecil di atas sofa kemudian berbaring di sana dan memejamkan matanya.
Beberapa menit kemudian.
Lea membuka mata. Tampak sebuah pemandangan indah terhampar di depan matanya. Sebuah taman dengan berbagai macam bunga bermekaran dan wanginya benar-benar membuat candu indera penciuman.
"Kak."
Lea tiba-tiba mematung dengan mata membulat sempurna. Suara itu, suara yang begitu ia kenali. Suara seseorang yang begitu ia rindukan. Perlahan Lea membalikkan badan dan tampaklah seorang laki-laki muda nan tampan tengah tersenyum menatapnya.
"Ha-Harris? Kau kah itu?" tanya Lea dengan terbata-bata.
Sosok lelaki muda itu adalah Harris, adik laki-lakinya yang meninggal pada kecelakaan di malam tragis itu. Harris terlihat tampan dengan busana serba putih. Wajahnya begitu bercahaya dan membuat siapa pun yang melihatnya akan berdecak kagum.
"Ya, Kak. Ini aku, Harris." Harris kembali tersenyum.
"Ha-Harris ...."
Lea melangkahkan kakinya dengan tergopoh-gopoh menghampiri Harris. Buliran bening itu kembali merembes tanpa bisa ia tahan. Kini Lea berdiri tepat di hadapan Harris. Ia mengangkat kedua tangannya kemudian menyentuh wajah tampan itu sambil terisak.
"Harris, Kakak kangen kamu."
__ADS_1
"Harris juga, Kak."
Lelaki muda itu meraih kedua tangan Lea lalu menuntunnya duduk di sebuah kursi di taman tersebut. Mereka duduk dengan posisi saling berhadap-hadapan.
"Kak, aku ingin bicara padamu."
"Katakan saja, Harris. Apa pun yang ingin kamu katakan, Kakak pasti akan mendengarkannya dengan baik."
Ekspresi wajah Harris tampak berubah. Ia terlihat lebih sendu dari sebelumnya. Harris menggenggam erat tangan Lea kemudian mulai bicara.
"Kak Lea, sebaiknya bukalah pintu maaf Kakak untuk Tuan Abigail. Biar bagaimanapun, dia adalah suami kakak dan ayah dari bayi ini." Harris menyentuh perut besar Lea dengan lembut.
"Tapi, Harris, dia —" Belum selesai Lea berkata, Harris sudah memotong ucapannya.
"Ya, itu memang benar. Dia memang salah karena sudah membohongi Kakak, tetapi kematianku ini adalah takdir Tuhan yang tidak akan bisa dirubah. Maafkan dia, setidaknya untuk bayimu, Kak. Dia sangat membutuhkan ayahnya."
Lea terdiam dengan tatapan tajam tertuju pada adik lelakinya itu.
"Adikmu benar, Lea."
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba kedua orang tuanya yang sudah lama meninggal pun hadir di sana dan berdiri tepat di belakang Lea. Lea begitu bahagia. Ia segera memeluk kedua orang tuanya dengan berderai air mata.
"Ayah, Ibu! Aku merindukan kalian," ucapnya dengan bibir bergetar.
"Kami juga, Lea. Kami sangat merindukanmu." Wanita paruh baya dengan wajah cantik itu tersenyum lalu melerai pelukan mereka.
"Dengarkan kata adikmu, Lea. Yang lalu biarlah berlalu. Lupakan masalah itu dan mulailah kehidupan yang baru bersama Gail. Lagi pula, Gail berkata jujur, Lea. Dia benar-benar mencintaimu," tutur wanita paruh baya itu.
Lea terdiam dengan kepala tertunduk untuk beberapa saat. Memikirkan ucapan ibu serta adik laki-lakinya. Setelah beberapa detik berikutnya, ia pun kembali mengangkat kepalanya. Namun, tiba-tiba seluruh keluarga kecilnya menghilang dan hanya tersisa dirinya sendiri.
Lea ketakutan. Ia bangkit dari posisi duduknya lalu melihat ke sekeliling sambil berteriak.
"Ayah! Ibu! Harris!"
__ADS_1
... ***...