
"Ayah! Ibu! Harris! Kalian di mana? Jangan tinggalkan aku!"
"Mbak! Mbak! Bangun, Mbak!" Sri menggoyang-goyangkan tubuh Lea perlahan. Mencoba membangunkan Lea yang tengah mengigau.
Lea tersentak kaget. Ia terbangun dari tidurnya dengan wajah yang memucat serta dipenuhi dengan keringat dingin. Sri bergegas meraih segelas air putih yang terletak di atas meja Lea lalu menyerahkannya kepada wanita itu.
"Minumlah, Mbak."
"Terima kasih, Sri." Lea meraih gelas itu lalu meminum air putih tersebut hingga tandas.
"Ada apa, Mbak? Mbak mimpi buruk, ya?" tanya Sri sembari meraih gelas yang telah kosong itu dari tangan Lea.
"Bukan, Sri. Barusan aku mimpi bertemu dengan Harris dan juga kedua orang tuaku yang sudah lama meninggal. Mereka memberitahu aku tentang sesuatu. Menurutmu, apakah aku harus mengikuti perkataan mereka, atau mengacuhkannya saja?"
Sri tampak berpikir keras. Namun, setelah beberapa detik berikutnya, ia pun kembali membuka suaranya.
"Maaf, Mbak. Memang apa yang dikatakan oleh mereka?" tanya Sri dengan raut wajah serius.
Lea mengerucutkan bibirnya. Ia tampak ragu-ragu menceritakan tentang mimpinya barusan kepada Sri.
"Mereka bilang, aku harus membuka pintu hatiku dan memaafkan semua kesalahan yang pernah dilakukan oleh Gail. Memang terdengar sangat mudah, tetapi sulit untuk dicoba, Sri, karena aku sudah terlanjur membenci lelaki itu," tutur Lea.
Sri menghembuskan napas berat. "Maafkan aku, Mbak. Tapi menurutku apa yang dikatakan oleh adik serta kedua orang tua Mbak itu benar. Lupakanlah semua yang pernah terjadi dan mulailah kehidupan baru bersama Tuan Gail. Setidaknya, demi bayi yang ada di dalam kandunganmu," jawab Sri, mencoba meyakinkan.
Lea membuang napas kasar. "Huft! Sudah kubilang, Sri. Itu sangat sulit untukku aku lakukan."
Ruangan itu mendadak menjadi hening. Lea dan Sri sama-sama terdiam. Mereka tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Hingga beberapa menit kemudian, Lea pun kembali membuka suaranya.
"Aku ingin mengunjungi Gail, Sri."
Sri menyunggingkan sebuah senyuman setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Lea barusan.
__ADS_1
"Nah, ini yang ingin aku dengar sejak dulu, Mbak. Mbak memang harus mengunjungi tuan Gail. Karena bagaimanapun juga, tuan Gail masih berstatus sebagai suaminya Mbak."
Lea bangkit dari posisinya sambil mencebikkan bibir, menatap Sri. "Heleh, kamu itu!"
Sri tersenyum kecil dan tak menimpali omongan Lea.
Satu jam kemudian.
"Aku pergi duluan ya, Sri. Jangan lupa kunci pintunya yang benar. Jangan teledor lagi seperti kemarin." Lea mencoba mengingatkan, karena beberapa waktu yang lalu Sri pernah teledor, meninggalkan butik dengan pintu yang belum terkunci sempurna.
Sri tersenyum kecut sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ah, iya, Mbak. Pasti," jawabnya.
Lea pun bergegas pergi bersama Pak Rahman yang akan mengantarkannya ke tempat Gail di tahan. Tidak butuh waktu lama, Lea pun tiba di tempat itu. Lea segera masuk lalu meminta izin kepada petugas untuk menjenguk Gail.
"Silakan tunggu di ruangan itu. Saya akan memanggil Tuan Gail ke sini," ucap petugas tersebut lalu pergi meninggalkan Lea di dalam sebuah ruangan.
Lea terlihat lebih berisi dari sebelumnya. Bawaan janin, tubuh Lea mengalami kenaikan berat badan yang cukup banyak. Perut wanita itu juga terlihat membesar dan jelas sekali bahwa Lea sudah mulai kesusahan membawa perutnya.
"Lea, Sayang! Apa kabar? Senang sekali bisa melihatmu kembali," ucap Gail dengan mata berkaca-kaca.
Gail merentangkan kedua tangan. Berharap Lea bersedia memberikan sedikit pelukan untuknya. Namun, ternyata Lea sama sekali tak bereaksi. Ia tetap berada di posisinya dengan wajah dingin, tanpa ekspresi apa pun.
"Aku baik. Bagaimana denganmu?" tanya Lea balik.
"Baik. Sangat baik, Lea. Apalagi setelah melihatmu di sini. Bagaimana dengan anak kita? Dia sehat-sehat saja, 'kan? Dia pasti sudah sangat lincah di dalam sana. Sayang, aku tidak bisa merasakan bagaimana R bayiku," ucap Gail dengan lirih. Wajahnya kembali sendu dan terlihat jelas kesedihan di mata lelaki itu.
"Dia sehat dan ya, dia sangat aktif."
"Kata Nick, bayi kita laki-laki dan akan launching beberapa minggu lagi. Aku harap, semoga saja mereka mengizinkan aku, aku ingin menemanimu ketika melahirkan nanti, Lea. Aku ingin menyaksikan sendiri kelahiran putra pertama kita," lanjut Gail, masih dengan wajah sendunya.
__ADS_1
Lea hanya diam dan tak ingin menimpali ucapan Gail barusan.
"Lea, apakah kamu bersedia menerima diriku kembali setelah aku menyelesaikan hukumanku ini?" tanya Gail penuh harap.
"Entahlah, aku tidak tahu." Lea memalingkan wajahnya karena tak tahan menghadapi tatapan memelas Gail.
"Please, Lea. Berilah aku kesempatan kedua. Aku ingin membahagiakan kamu dan juga anak kita," sambungnya.
"Tanpa dirimu pun, kami akan tetap bahagia. Bahkan jauh lebih bahagia karena cinta yang akan kami berikan satu sama lain adalah cinta yang murni, bukan cinta rekayasa yang berlatar atas dasar rasa kasihan." Lea tersenyum sinis.
"Maafkan aku, Lea. Mungkin benar, jika dulu aku sempat membohongimu soal perasaanku. Namun, kali ini aku berani bersumpah bahwa aku benar-benar mencintaimu, Lea. Aku ingin hidup bersamamu, bersama anak-anak kita hingga maut memisahkan," tuturnya lagi.
Baru selesai Gail mengutarakan isi hatinya kepada Lea, tiba-tiba ekspresi wajah Lea berubah. Ia terlihat seperti sedang menahan rasa sakit. Lea memegang perutnya dan semakin lama, wajahnya terlihat semakin memucat.
"Ka-kamu kenapa, Lea? Apa kamu baik-baik saja?" Gail tampak panik. Ia segera bangkit dari posisinya lalu menghampiri Lea yang tengah meringis kesakitan.
"Perutku sakit sekali. Apa mungkin aku akan melahirkan sekarang?" sahut Lea.
"Sebaiknya aku minta pertolongan," ucap Gail kemudian.
Gail berteriak meminta tolong dan tidak butuh lama, para petugas kepolisian pun datang berbondong-bondong ke ruangan itu dan segera menolong Lea.
Melihat Lea dibawa ke rumah sakit, Gail pun refleks mengikuti. Namun, langkahnya dihentikan oleh beberapa petugas.
"Anda mau ke mana?"
"Kumohon, aku ingin menemani istriku melahirkan. Kali ini saja," ucapnya lirih.
Namun, para petugas itu bersikeras untuk tidak memberikannya izin. Hingga Gail pun terpaksa membiarkan Lea sendiri. Ia menatap sedih ke arah ambulans yang kini membawa Lea ke rumah sakit. Sementara dirinya tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya bisa berdoa untuk keselamatan anak dan istrinya.
... ***...
__ADS_1