Gadis Kaki Palsu

Gadis Kaki Palsu
GKP 23


__ADS_3

Di tempat lain.


Martha sedang asik berbincang bersama salah satu sahabat lamanya. Mereka berbincang cukup lama di ruangan megah itu. Sesekali terdengar suara gelak tawa mereka yang saling bersahutan.


"Oh ya, Martha! Bagaimana gaun pengantinmu? Apakah sudah selesai dibuat?" tanya wanita itu dengan wajah serius.


"Masih 85 persen, memangnya kenapa?" tanya Martha balik sambil menautkan kedua alisnya heran.


"Tidak apa, hanya saja aku ragu dengan hasilnya. Apa mungkin sesuai dengan keinginanmu. Bagaimana kalau hasilnya mengecewakan? Mana untuk acara sekali seumur hidup lagi," celetuk wanita itu, mencoba mempengaruhi Martha.


"Ish, jangan begitu, dong! Kata temanku hasil rancangannya sangat bagus."


"Iya, itu 'kan menurut temennya kamu. Tapi kamu belum pernah melihat kan bagaimana hasil rancangannya?" lanjut wanita itu, mencoba meyakinkan


"Belum, sih. Lah, trus bagaimana, dong? Apa aku harus membatalkan pesananku?" Martha mulai ragu-ragu.


"Kalau menurutku, ya, sebaiknya kamu batalkan saja pesananmu kepada orang itu. Lebih baik pesan di designer langgananku saja. Dijamin, hasilnya pasti sangat memuaskan! Ya, walaupun harganya jauh lebih mahal. Lagian kamu ini ada-ada aja, Martha. Punya uang banyak kok malah pesan gaun pengantin di tempat yang belum terkenal seperti itu. Mana harganya murah pula," celetuk wanita itu sambil tersenyum tipis.


Martha terdiam sambil memikirkan apa yang dikatakan oleh temannya itu.


"Bukankah kamu tahu pribahasa ini, 'Ada harga, ada rupa'. Nah, itu artinya walaupun harganya mahal, tapi sesuai dengan kualitasnya. Kamu ingat, gak, waktu nikahan aku dulu? Bagaimana menurutmu gaun pengantin yang aku kenakan saat itu? Bagus 'kan? Selain bagus, dikenakan pun nyaman," tutur wanita itu dengan mantap.


Martha semakin ragu dibuatnya. Kini ia mulai berpikir untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu.


"Lalu bagaimana dengan gaun yang sudah kupesan itu? Apakah aku harus mengenakan kedua-duanya?"


Wanita itu tergelak. "Ya ampun, Martha! Begitu saja kamu bingung. Tinggal hubungi wanita itu, kasih tau bahwa kamu membatalkan pesananmu. Biarkan saja dia ambil DP yang sudah kamu berikan. Ya, hitung-hitung sebagai biaya ganti rugi. Atau kalau perlu, bayar saja seluruh kerugian wanita itu. Beres, 'kan!"


Marta kembali berpikir keras. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa kasihan kepada pemilik butik sederhana itu. Namun, di sisi lain, apa yang dikatakan oleh temannya itu ada benarnya. Ia takut kecewa dengan hasil rancangan wanita itu. Ia takut kebahagiaannya rusak hanya gara-gara gaun pengantin yang ia kenalan nantinya mengecewakan.


"Bagaimana, Martha? Jika kamu setuju, aku akan bantu kamu menghubungi designer langgananku itu," lanjut wanita itu.


Setelah berpikir keras dan menimbang-nimbang, akhirnya Martha pun menganggukkan kepalanya, tanda setuju.


"Baiklah, aku setuju. Sini, mana nomor designer-mu itu! Biar aku yang hubungi dia langsung," sahut Martha.

__ADS_1


"Tidak perlu. Biar aku saja yang menghubunginya, Martha. Kamu tinggal terima beres. Kamu tinggal bilang sama aku, gaun seperti apa yang kamu inginkan," tolak wanita itu.


Martha tidak ingin ambil pusing. Ia percaya seratus persen dengan omongan sahabatnya itu. "Ya, sudah kalau begitu. Aku percayakan semuanya kepadamu. Aku yakin hasilnya pasti bagus."


"Tentu saja, Martha. Aku jamin, kamu pasti akan puas dengan hasilnya nanti. Tapi sebelum itu, aku butuh DP yang akan kuserahkan kepada designer itu," ucap wanita itu lagi sambil tersenyum lebar menatap Martha.


"DP? Sekarang juga?"


Martha tampak kebingungan karena sahabatnya itu minta DP sekarang. Sementara mereka saja belum bertemu untuk memastikan gaun seperti apa yang diinginkan olehnya. Namun, ia lagi-lagi tak ingin ambil pusing dan menyetujui apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu.


"Baiklah, mana nomor rekeningnya?"


"Ini, dan DP dia 100 juta," ucap wanita itu sembari memberikan nomor rekening yang diminta oleh Martha.


"100 juta? Itu DP?!" pekik Martha heran.


"Ish, Martha! Kan sudah kubilang, ada harga, ada rupa! 100 juta sebagai DP, itu bukanlah apa-apa. Lagi pula, calon suamimu 'kan pengusaha kaya, jadi uang segitu gak masalah lah buat kamu," sahutnya.


Martha menghembuskan napas berat. "Ok, baiklah kalau begitu."


"Sudah."


"Terima kasih, Martha sayang. Pokoknya dijamin, kamu akan menjadi pengantin paling cantik sepanjang masa. Semua orang akan terpana melihat kecantikanmu. Habis banyak buat hari pernikahan itu wajib, Martha. Toh acaranya sekali seumur hidup, 'kan," celetuk wanita itu lagi.


"Iya, kamu benar."


"Ya, sudah. Aku mau pulang dulu. Nanti biar sekalian aku temui designer itu dan membicarakan soal gaun pengantinmu," ucap wanita itu.


"Baiklah. Pokoknya aku percayakan semuanya padamu," jawab Martha.


Wanita itu pun pamit kemudian pulang dengan wajah semringah. Sepeninggal wanita itu, Martha mulai memikirkan bagaimana caranya membatalkan pesanan gaun pengantin yang sudah dipesannya itu. Biar bagaimanapun, Martha tidak ingin nama baiknya tercemar hanya gara-gara sebuah gaun pengantin.


Setelah berpikir keras, Martha pun akhirnya memutuskan untuk menghubungi nomor seseorang yang merancang gaunnya itu.


Sementara itu.

__ADS_1


Lea tengah asik melanjutkan pekerjaannya seorang diri. Dengan sangat hati-hati, ia menempel dan menjahit butiran batu swarovski ke gaun pengantin cantik yang ada di hadapannya.


Tiba-tiba ...


Drrrtttt ... drrrtttt ....


Konsentrasi Lea buyar seketika setelah mendengar suara getar dari ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ia bergegas meraih benda pipih itu lalu memperhatikan layarnya.


"Nona Martha?" gumamnya sambil menautkan kedua alisnya.


Lea menghentikan pekerjaannya lalu menerima panggilan dari wanita cantik itu. "Selamat siang, Nona Martha. Ada yang bisa saya bantu?"


"Ehm, siang. Begini, aku ingin membatalkan pesanan gaun pengantin itu. Tiba-tiba saja calon suamiku memberi kejutan kepadaku, ternyata gaun pengantinku sudah ia persiapkan dan tidak mungkin 'kan aku mengenakan dua gaun pengantin di hari pernikahanku nanti?" celetuknya dengan berbohong.


Lea terkejut bukan main. Gaun pengantin yang sudah hampir selesai itu tiba-tiba saja ingin dibatalkan oleh pemesannya. Begitu banyak uang yang ia keluarkan untuk membuat gaun pengantin cantik dan mewah itu. Selain itu ia juga sudah menghabiskan waktu dan pikirannya hanya untuk fokus ke gaun tersebut. Namun, sekarang bisa-bisanya wanita itu ingin membatalkan pesanannya.


"Tapi, Nona Martha. Apakah Anda tidak berpikir bagaimana saya, jika Anda membatalkan pesanan Anda ini? Begitu banyak kerugian yang harus saya tanggung. Belum lagi waktu dan tenagaku yang harus terbuang sia-sia hanya untuk mengerjakan gaun itu," tutur Lea dengan wajah sedih.


"Kalau soal kerugianmu, kamu tenang saja. Aku bisa ganti semuanya. Tinggal sebut saja, berapa aku harus mengganti kerugianmu itu," jawab Martha dengan angkuhnya.


Lea menghembuskan napas berat. "Ini bukan hanya sekadar soal uang, Nona Martha. Sikap dan tanggung jawab Anda sebagai seorang costumer."


"Loh, memangnya tanggung jawab seperti apa lagi yang kamu inginkan? Bukannya aku sudah menawarkan ganti rugi senilai dengan kerugianmu?" celetuk Martha, tidak mau kalah.


"Pokoknya aku tidak mau tahu. Aku tetap akan membatalkan gaun itu karena aku sudah tidak menginginkannya lagi. Sekarang sebut saja nominalnya, biar aku transfer uang kerugianmu," lanjutnya.


Lea menghembuskan napas berat. "Baiklah, terserah Anda."


Lea pun mengalah dan ia tidak ingin berdebat dengan wanita kaya itu. Lea meminta ganti rugi sesuai dengan kerugian yang ia alami dan wanita itu pun mengiyakannya.


Setelah semuanya beres, Lea segera memutuskan panggilan dari Martha. Ia meletakkan kembali ponselnya ke atas meja sambil menatap gaun pengantin cantik itu dengan tatapan nanar.


"Malang sekali nasibmu. Dibuang sebelum sempat merasakan sebuah kebahagiaan." Lea tersenyum kecut.


***

__ADS_1


__ADS_2