Gadis Kaki Palsu

Gadis Kaki Palsu
GKP 68


__ADS_3

Hari pun berganti minggu, tak terasa sudah hampir sepuluh hari Abigail dirawat di rumah sakit. Namun, kondisinya masih sama seperti pertama kali Lea menemuinya. Tidak ada tanda-tanda kemajuan yang berarti pada kesehatan lelaki itu.


Lelah tiada tara. Membagi waktu antara bayi dan suaminya yang masih tergolek tak berdaya di rumah sakit. Akan tetapi, hal itu tidak membuat Lea mengeluh dan putus asa. Ia yakin akan ada secercah keajaiban untuk Abigail dan kehidupan mereka nantinya.


Hari ini, Lea kembali menitipkan bayi mungilnya kepada Bi Enah. Hanya demi bisa menjaga Gail di rumah sakit. Seperti biasa, setibanya di sana, ia segera membantu membersihkan tubuh suaminya itu. Membersihkan setiap bagian tubuhnya dengan air hangat tanpa ada yang terlewat sedikit pun.


Ceklek!


Pintu terbuka dan tampaklah Sean yang kini tersenyum menatap Lea.


"Bagaimana kondisinya, Lea?" Sean yang baru tiba di ruangan itu, segera menghampiri tempat tidur pasien. Di mana Abigail masih terbaring lemas di sana.


Lea menggelengkan kepalanya perlahan. "Masih sama seperti sebelumnya, Sean."


Lea menarik napas dalam kemudian menghembuskannya lagi. Tampak buliran kristal itu kembali menggumpal di pelupuk mata indahnya.


"Kamu tahu, Sean? Kemarin dokter mengatakan sesuatu yang membuatku syok mendengarnya," lanjut Lea dengan nada suara yang terdengar begitu berat.


"Apa itu?" Sean mengerutkan alisnya. Antara cemas dan tak sabar ingin mengetahui apa yang dikatakan oleh Dokter tentang sepupunya itu.

__ADS_1


"Kata Dokter, sebenarnya ini bukan hanya p tentang masalah kesehatan Gail yang semakin memburuk. Semua ini terjadi karena Gail memang tidak memiliki semangat untuk hidup, Sean. Sekuat dan sehebat apa pun para tim medis mencoba menyembuhkannya, tetapi jika Gail sendiri tidak menginginkan kesembuhan, maka usaha mereka pun akan sia-sia," tutur Lea.


Lea terisak. Buliran bening yang tadinya sempat tertahan, akhirnya luruh dan membasahi kedua belah pipinya.


Sean berdecak. Ada rasa sakit dan kecewa di hatinya setelah mendengar kabar buruk itu. Ia menjatuhkan dirinya di kursi dengan ekspresi wajah frustrasi.


"Jika apa yang dikatakan oleh dokter itu benar, maka akan sangat kecil peluang Gail untuk kembali sembuh."


Lagi-lagi Sean membuang napas berat. Ia melirik Lea yang masih terdiam dengan kepala tertunduk menghadap lantai ruangan.


"Lea," panggil Sean, yang berhasil mengalihkan perhatian Lea. Wanita itu mengangkat kepalanya lalu menatap lekat sepupu dari suaminya itu.


"Jika terjadi sesuatu kepada Gail, aku sebagai sepupunya, meminta maaf yang sebesar-besarnya sama kamu dan juga seluruh keluargamu. Setidaknya, dengan begitu ia bisa beristirahat dengan tenang," tutur Sean, membuat isakan tangis Lea kembali menguat.


"Aku sudah memaafkannya, Sean. Aku sudah memaafkan semua yang telah ia lakukan kepadaku dan juga mendiang adikku. Mungkin pada awalnya aku memang merasa berat untuk memaafkan semua kesalahannya. Namun, seiring berjalannya waktu, aku pun tersadar bahwa semua orang di dunia ini pasti pernah melakukan kesalahan, termasuk aku. Tidak adil rasanya jika aku tidak membuka hatiku dan memaafkannya."


Tersungging sebuah senyuman tipis di wajah tampan Sean. Sekarang ia merasa sedikit lebih tenang. "Terima kasih banyak, Lea. Setidaknya dengan begitu, Gail akan merasa sedikit lebih tenang dan kembali tanpa membawa beban," tutur Sean lagi.


Baru saja Sean selesai berkata seperti itu, tiba-tiba alat monitor jantung yang terhubung di tubuh Gail mengeluarkan sebuah bunyi yang asing. Grafik yang ada di layar monitor tersebut, tiba-tiba menjadi lurus dan itu artinya tidak ada aktivitas detak jantung atau pasien sudah tidak lagi bernapas.

__ADS_1


Sean panik, begitu pula Lea. Sean bergegas memanggil dokter dan meminta mereka untuk segera mengecek kondisi kesehatan Gail. Tidak butuh waktu lama, para tim medis yang memang selalu siap sedia itu pun tiba. Mereka segera mengecek kondisi kesehatan Gail lalu berusaha semampu mereka untuk menyelamatkan nyawanya yang sudah di ujung tanduk.


Sean dan Lea menyaksikan hal itu dengan tubuh yang bergetar. Bibir mereka tak hentinya berdoa untuk keselamatan Abigail. Namun, ternyata takdir berkata lain. Dokter pun tidak bisa mempertahankan nyawa lelaki itu.


Lelaki bersetelan jas putih itu menghampiri Lea dan Sean yang masih ketakutan dengan raut wajah sedih. "Tuan Sean, Nyonya Lea, maafkan kami. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, ternyata Tuhan sudah memiliki rencana lain," tutur sang Doktor.


"Ti-tidak, Dok! Itu tidak mungkin!" ucap Lea yang kini histeris setelah mengetahui bahwa Gail sudah meninggalkan dirinya. Lea berlari ke arah tempat tidur, di mana tubuh Gail yang sudah tidak bernyawa, ditutupi dengan kain putih bersih hingga sebatas kepala.


Ia menggoyang-goyangkan tubuh tak bernyawa itu lalu membuka penutupnya sambil berteriak histeris.


"Abigail, buka matamu! Jangan pergi, Gail! Jangan! Aku mohon," ucapnya dengan lirih, di sela-sela isak tangisnya.


Sean bergegas menghampiri dan mencoba menahan aksi Lea. "Sudahlah, Lea. Ikhlaskan dia," ucap lelaki itu dengan suara berat.


"Tidak, Sean! Abigail tidak boleh pergi!" pekiknya dengan bibir bergetar hebat. Sementara cairan bening itu tidak henti-hentinya keluar dan membasahi kedua pipinya.


"Abigail!"


...***...

__ADS_1


Hari ini Gadis Kaki Palsu akan Author kasih lebel End, ya. Tapi, untuk kelanjutan cerita masih bisa kalian baca di ekstra part nantinya. Yang insyaallah akan author Up secepatnya. Terima kasih! 🙏🙏🙏


__ADS_2