Gadis Kaki Palsu

Gadis Kaki Palsu
GKP 26


__ADS_3

Lea tiba di rumahnya. Ia bergegas masuk dan berjalan menuju kamar utama. Bi Enah yang melihat kedatangan Lea, segera menghampiri dan menyambut kedatangan majikannya tersebut.


"Selamat datang, Non Lea."


"Hmm," sahut Lea dengan bergumam. Ia terus melangkahkan kakinya tanpa menoleh sedikit pun kepada Bi Enah.


Wanita paruh baya itu kebingungan. Apalagi melihat ekspresi wajah Lea yang terlihat kusut.


"Non Lea kenapa lagi, ya?" gumamnya sambil terus memperhatikan Lea yang kini sudah menghilang di balik pintu kamar utama.


Di dalam kamar utama.


"Enak saja mereka bicara seperti itu tentangku! Mereka bahkan tidak tahu siapa aku, tetapi sudah berani menyimpulkan bahwa aku tidak bisa ini, tidak bisa itu! Hhh, menyebalkan!" gerutu Lea sembari melemparkan tasnya ke atas tempat tidur mewah dan empuk itu.


Ia lalu menjatuhkan dirinya di tempat ternyaman itu kemudian menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan nanar.


"Mungkin seperti itu lah pemikiran mereka tentang orang-orang yang memiliki nasib sepertiku. Padahal mereka tidak tahu bahwa kami pun bisa melakukan kegiatan yang sama seperti mereka, tanpa bantuan orang lain," gumamnya lagi.


Lea bangkit dari posisinya. Ia berjalan menuju kamar mandi kemudian melakukan ritual mandinya di sana. Lea berendam air hangat di dalam bathtub agar pikirannya bisa rileks seperti semula.


Satu minggu kemudian.


Jika Lea menyibukkan dirinya dengan berbagai pekerjaan. Rangga dan Amanda yang sibuk menikmati bulan madu mereka. Di tempat lain, Martha juga tengah sibuk mempersiapkan diri untuk menyambut hari pernikahan mereka yang sudah di depan mata.


"Rin, bagaimana kabar gaun pengantinku? Sampai sekarang, designer kondang yang kamu sebut itu tidak juga menghubungiku. Lalu, bagaimana aku tahu kalo gaunku sudah selesai atau tidak," tanya Martha sambil mendengus kesal kepada temannya melalui sambungan telepon.


"Ehmm, itu ... Sebenarnya begini, Martha. Gaun pengantinmu masih dalam proses pembuatan dan tinggal sedikit lagi. Tapi ...." Rina, wanita itu kembali terdiam dan membuat Martha penasaran.


"Tapi, apa?!"


"Dia membutuhkan uang lagi, Martha. Dia ingin membeli mutiara asli untuk ditempelkan di gaun milikmu itu," jawab Rina.


"Apa, duit lagi?! Sebenarnya temanmu itu designer atau perampok, sih? Dikit-dikit duit, dikit-dikit duit!" gerutu Martha dengan wajah menekuk kesal.


Rina tertawa lepas untuk beberapa saat setelah mendengar celetukan Martha dan hal itu berhasil membuat Martha semakin meradang.


"Jangan ketawa! Ini sangat tidak lucu, Rina!" tegasnya.


"Oh, iya-iya, maafkan aku. Tapi serius, Martha. Bukankah kamu sendiri yang minta agar gaun pengantinmu nanti dibuat berbeda dari yang lain. Kamu ingin yang spesial dan tak ada yang menyamainya. Benar, 'kan? Nah, dia sudah melakukan itu. Gaunmu sangat cantik dan berbeda dari yang lain. Mutiaranya terbuat dari mutiara asli, bukan imitasi. Bahkan ada beberapa biji berlian yang sengaja ditempelkan di bagian dadanya agar membuat kesan mewah, wah, wah!"


Martha mendengus kesal dan ia pun kembali luluh dengan ucapan wanita itu. "Hhh, baiklah. Sekarang berapa lagi yang harus aku transfer?"

__ADS_1


Rina tertawa pelan. "Tidak banyak, kok. Paling juga senilai jajanmu sehari-hari," jawabnya.


"Jangan bertele-tele! Sebutkan saja berapa nominalnya!" Martha mulai kesal dan emosi.


"Hanya lima puluh juta saja, kok. Jauh lebih sedikit, 'kan?"


"Lima puluh juta lagi? Ya ampun, kalian ini benar-benar, ya!"


Walaupun kesal, Martha tetap mengirimkan uang dengan jumlah yang disebutkan oleh Rina ke nomor rekening milik Rina. Sudah kepalang tanggung dan hari pernikahan mereka pun sudah dekat.


"Rina, aku sudah mempercayakan semuanya kepadamu. Please, jangan kecewakan aku!" ucap Martha dengan penuh penekanan.


"Ah, pokoknya kamu tenang saja, Martha. Hari ini aku akan menemui designer itu dan memperlihatkan foto gaun pengantinnya kepadamu," sahut Rina dengan wajah berbinar karena uang sejumlah lima puluh juta itu sudah masuk ke dalam rekeningnya.


"Baiklah, aku percaya." Martha mendengus kesal lalu memutuskan panggilannya bersama wanita itu.


"Sebaiknya aku menemui Gail. Aku lelah, aku butuh bahunya untuk bersandar," ucap Martha kemudian. Ia meraih tas miliknya lalu segera pergi meninggalkan kamar mewahnya.


Sementara itu.


"Ehmm, tiba-tiba aku teringat lagi padanya," gumam Gail, memecahkan keheningan di ruangan pribadinya itu.


Gail tersenyum kecil. "Martha? Ya Tuhan, aku bahkan lupa sama wanita itu."


"Lalu, siapa yang Tuan maksud?" tanya Nick lagi.


"Gadis itu! Gadis berkaki palsu." Gail kembali tersenyum sambil mengingat kebersamaannya dengan wanita itu. Wanita pertama yang berani menolak dirinya mentah-mentah.


"Maksud Anda, Nona Lea?" Nick mencoba meyakinkan.


"Ya, Lea. Entah mengapa beberapa hari ini, aku sering sekali mimpi bertemu dengannya. Tapi di mimpiku itu, dia sempurna, Nick. Kakinya masih utuh. Namun, sayangnya raut wajah gadis itu selalu murung. Sebenarnya ada apakah gerangan? Apakah kamu tahu apa arti dari mimpiku itu?" tanya Gail dengan wajah serius menatap Nick-sang Asisten.


"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak mengerti soal mimpi. Jika Anda mau, saya bisa carikan penafsir mimpi," celetuk Nick.


"Ah, tidak usah. Kamu ini ada-ada saja."


Nick kemudian tersenyum. "Ya, siapa tahu Tuan butuh," jawabnya.


Beberapa menit kemudian.


Ceklek!

__ADS_1


Pintu ruangan itu terbuka. Gail dan Nick yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, tersentak kaget dan langsung menoleh ke arah pintu. Tampak seorang gadis cantik tengah berdiri di ambang pintu sambil tersenyum menatap Gail. Wanita itu segera menghampiri sambil merentangkan kedua tangannya, bersiap memeluk Gail yang duduk di kursinya.


"Sayang! Aku kangen," ucapnya lalu memberikan ciuman di pipi kanan dan kiri Gail. Menyadari Martha datang, Nick pun bergegas pamit lalu keluar dari ruangan itu.


"Martha, tumben?" Gail tampak terheran-heran melihat Martha yang datang secara tiba-tiba.


"Loh, kok tumben, sih? Kamu tidak senang ya, aku datang ke sini?" Martha menekuk wajahnya dengan manja.


"Tidak, Martha. Bukan begitu. Aku senang kok, kamu datang ke sini. Hanya saja aku bingung, kok, tumben kamu datang ke sini tanpa menghubungiku dulu? Setidaknya 'kan aku bisa menyambut kedatanganmu," sahut Gail.


Martha mendudukkan dirinya di atas paha Gail. Sementara kedua tangannya melingkar di dada bidang lelaki itu.


"Aku 'kan ingin kasih kejutan ke kamu, Sayang. Tapi terima kasih, kamu manis sekali." Martha kembali memeluk tubuh kekar itu dengan sangat erat.


"Sayang, aku lagi bete ini!" lanjut Martha dengan manja.


"Bete kenapa lagi, ha? Lihat, wajahmu jelek kalau menekuk seperti itu," sahut Gail.


"Ish, Sayang. Aku tidak jelek!" rengeknya seperti bayi, duduk di pangkuan Gail. "Sayang, beberapa waktu yang lalu, aku membatalkan pesanan gaun pengantin di butik yang tidak terkenal itu. Sekarang aku memesan gaun di tempat lain dan temanku yang urus semuanya. Tapi sayang, sampai sekarang tidak ada kejelasan soal gaun pengantin itu. Sementara dia terus saja meminta uang Dp-nya agar ditambah," lanjut Martha.


"Astaga, Martha! Kamu ini ada-ada saja. Lalu bagaimana dengan pemilik butik itu? Dia pasti sangat kecewa dengan keputusanmu itu.," ucap Gail.


"Ya, dia kecewa, sih. Tapi mau bagaimana lagi? Aku sudah terlanjur membatalkannya. Lagi pula aku sudah mengganti semua kerugian wanita itu, kok."


"Lain kali jangan seperti itu, Martha. Kamu hanya akan merugikan orang saja," sahut Gail.


"Iya-iya, lalu bagaimana pendapatmu soal gaun pengantin yang sudah aku pesan kepada temanku itu?"


"Ya, mau bagaimana lagi? Memangnya masih sempat, jika kamu memesan lagi di tempat lain? Ah, Martha-Martha! Ada-ada saja," sahut Gail sambil menggelengkan kepalanya heran.


"Gak bakal sempat, Sayang." Martha makin galau.


"Ya, sudah. Tinggal lihat saja nanti bagaimana hasilnya," ucap Gail.


"Kalau hasilnya jelek dan tidak sesuai harapan?"


"Risikomu, Martha. Kenapa kamu tidak dari awal memesan gaun itu kepada designer yang sudah terpercaya. Jadinya, 'kan tidak seperti ini?!"


Martha semakin galau. Entah kenapa keraguannya semakin menjadi-jadi.


***

__ADS_1


__ADS_2