
Hampir setiap malam sebelum menyentuh Lea, Gail selalu mengkonsumsi obat pemberian dokter pribadinya itu. Ia berpikir bahwa tanpa bantuan dari pil setan itu, gairahnya kepada Lea tidak bisa bangkit.
Seperti malam ini, ketika Lea sedang berada di dalam kamar mandi, Gail kembali menelan pil setan tersebut lalu bersiap menyambut kedatangan isterinya itu. Tidak berselang lama, Lea pun keluar dari ruangan sempit itu sambil tersenyum menatap Gail. Lea duduk di samping Gail kemudian mengajaknya bicara.
"Sayang?" Lea merebahkan kepalanya di pundak Gail.
Hmmm?"
"Aku ingin tanya soal pil yang ada di dalam laci nakas. Sebenarnya itu obat untuk apa? Aku sering lihat kamu meminumnya. Apa kamu punya riwayat penyakit yang tidak aku ketahui, Gail?" tanya Lea dengan wajah cemas.
"Ya Tuhan, aku harus jawab apa?" Gail bergumam dalam hati.
"Ehmm, sebenarnya itu obat maag. Aku punya riwayat sakit maag dan diwajibkan minum pil itu oleh dokter setiap malam, sebelum tidur," jawab Gail dengan sangat meyakinkan.
Lea mengangguk. Ia pun percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Gail barusan. Tidak butuh waktu lama, pil setan itu kembali bereaksi. Hasrat Gail sebagai laki-laki kembali bergelora.
Melihat kemolekan tubuh Lea, membuat Gail kambali menjadi buas dan ingin melahapnya sama seperti malam-malam sebelumnya. Permainan ranjang mereka terasa semakin hangat saja. Apalagi sekarang Lea sudah mulai berani membalas setiap gerakan yang dilakukan olehnya.
Setelah beberapa jam beradu di atas tempat tidur mewah itu, Gail pun kembali menegang. Ia meraung di atas tubuh Lea sambil menumpahkan cairan kental ke dalam rahim Lea. Setelah selesai, Gail pun terjatuh dan terkulai lemas dengan keringat yang masih bercucuran.
"Aku mencintaimu, Gail," bisik Lea di samping telinga Gail.
"Aku juga, Lea. Aku sangat mencintaimu," jawabnya dengan mata terpejam.
\*\*\*
Keesokan harinya.
Lea mencari keberadaan Gail yang sejak sarapan tadi pagi, belum juga menemuinya. Ia menelusuri bangunan megah itu sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Hingga akhirnya Lea bertemu dengan kepala pelayan yang sedang berkeliling, mengawasi kerja para pelayan dan yang pekerja lainnya.
"Ehm, Pak. Apa Bapak tau di mana suamiku berada?" tanya Lea.
Kepala pelayan itu mengangguk pelan sembari tersenyum. "Tuan Gail ada di ruang gym, Nona."
"Oh ya, Terima kasih," jawab Lea dengan raut wajah yang sedikit lebih tenang.
__ADS_1
"Saya permisi dulu, Nona. Saya masih harus melanjutkan pekerjaan saya," ucap kepala pelayan, meminta izin untuk pamit.
"Oh iya, silakan."
Setelah lelaki paruh baya itu pergi, Lea pun bergegas menuju ruang gym. Entah kenapa ia merasa kangen dengan sosok lelaki tampan itu. Padahal baru beberapa jam yang lalu mereka bertemu.
Kini Lea sudah berada di depan ruang gym. Salah satu ruangan terfavorit milik Gail. Lea memasuki ruangan itu sambil melihat-lihat. Namun, sepertinya Gail tidak berada di sana. Hanya ada seorang pelayan yang sedang membersihkan ruangan itu.
"Hmm, di mana dia? Ah, kepala pelayan itu sudah membohongiku," gumam Lea sambil menekuk wajahnya.
Perhatian Lea teralihkan pada berbagai macam alat kebugaran dan pembentukan otot yang ada di ruangan itu. Sekarang Lea tahu dari mana Gail bisa mendapatkan bentuk tubuh yang hampir bisa dikatakan sempurna itu.
"Pantas saja body Gail bagus, ternyata dia rajin nge-gym rupanya," gumam Lea sambil tersenyum kecil.
Perlahan Lea menghampiri pelayan itu kemudian bertanya. "Apa kamu lihat Tuan Gail?"
"Barusan tuan pergi, Nona. Kalau tidak salah mereka ke ruang garasi," jawab pelayan itu.
"Ehm, itu, Nona. Tuan Gail dan Tuan Sean."
"Oh!" Lea ber-oh ria sambil menganggukkan kepala.
Ia kemudian pergi dari ruangan itu dan sekarang menuju garasi mobil. Ternyata benar saja, Gail dan Sean berada di ruangan super luas itu. Gail dan Sean tampak berbincang dengan serius. Membicarakan tentang keunggulan mobil-mobil mewah koleksi Gail.
Lea datang mendekat. Ia berdiri di samping tubuh Gail yang masih dibasahi oleh keringat. Gail tersentak kaget setelah menyadari bahwa Lea sudah berada di sana. Ia segera memeluk dan menciumi puncak kepala istrinya.
"Wow! Aku tidak menyangka bahwa ternyata koleksi mobil dan motormu sebanyak ini, Gail," celetuk Lea.
"Apa kamu menyukainya, Lea?" tanya Sean. Sementara Gail hanya tersenyum.
Lea mengangguk pelan sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu. "Ehm, suka. Tapi aku tidak terlalu mengerti soal keunggulan mobil-mobil seperti ini," jawab Lea.
Tiba-tiba mata Lea terhenti pada sebuah mobil yang tertutup cover khusus berwarna silver. Lea ingin mengintip, mobil seperti apa gerangan yang tersembunyi di balik cover itu.
__ADS_1
"Ehmm, Gail ... itu mobil apa? Kok dia beda sendiri? Dia dikasih cover, sementara yang lain tidak dikasih apa pun," tanya Lea dengan wajah bingung.
Deg!!!
Gail terkejut bukan main. Ia bahkan sampai lupa sama mobil hitam yang menjadi penyebab kecelakaan di malam naas itu. Beruntung mobil itu sudah ia kasih cover. Jika tidak, mungkin saat ini nyawa Gail sudah berada di ujung tanduk.
"Ehm, itu ... sebenarnya itu hanya mobil biasa. Mobil itu sudah tidak bisa digunakan lagi. Namun, aku sangat menyayanginya karena mobil itu adalah pemberian terakhir mendiang daddy-ku," sahut Gail yang berhasil membuat Lea mengerti dan tidak ingin bertanya lebih jauh lagi.
"Pasti mobil itu sangat istimewa buatmu. Benar 'kan, Sayang."
"Ya, kamu benar. Ehmm, Sayang, sebaiknya kita kembali ke kamar. Aku ingin mandi dan beristirahat sejenak," ucap Gail sembari meraih tangan Lea.
Belum sempat Lea menjawab, Gail sudah menarik tangannya dan membawanya pergi dari tempat itu.
"Hai, tunggu! Kenapa kalian tergesa-gesa sekali, sih?" teriak Sean yang akhirnya menyusul pasangan itu dari belakang.
"Aku kebelet, Sean." Gail terkekeh sambil terus melangkahkan kakinya menjauhi garasi.
Setibanya di kamar utama.
Gail menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar utama.
"Lea sayang, tunggu sebentar di sini. Aku ingin menemui kepala pelayan. Ada yang ingin aku bicarakan kepadanya. Aku berjanji akan kembali secepatnya," ucap Gail sambil tersenyum menggoda.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama, ya." Lea mengizinkan tanpa merasa curiga sedikit pun.
Setelah Lea masuk ke dalam kamar, Gail pun bergegas pergi. Ia mencari keberadaan sang kepala pelayan dan akhirnya berhasil menemukan lelaki paruh baya itu di ruang utama.
"Pak, aku ingin bicara denganmu!"
Lelaki paruh baya itu datang mendekat lalu membungkuk hormat di hadapan Gail. "Ya, Tuan?"
"Ingat, mulai dari sekarang, jangan biarkan Lea memasuki garasi. Cegah dia dan katakan apa saja yang penting dia tidak akan pernah memasuki ruangan itu lagi. Mengerti?" tegas Gail sambil menatap lekat lelaki itu.
__ADS_1
Lelaki paruh baya itu pun mengangguk. "Baik, Tuan."
... ***...