Gadis Kaki Palsu

Gadis Kaki Palsu
GKP 52


__ADS_3

Tidak terasa, dua bulan sudah Lea berstatus menjadi istri dari Abigail Sebastian. Tidak ada yang berubah dari sikap Gail selama dua bulan ini. Bahkan semakin hari, sikap lelaki itu semakin manis dan romantis saja.



Kini Lea kembali beraktivitas sama seperti biasanya. Merancang dan membuat gaun pengantin untuk para costumernya. Seperti hari ini, ia kembali bekerja bersama Sri di butik sederhana miliknya.



Namun, ada yang sedikit aneh pada Lea beberapa hari terakhir ini. Mood-nya sering berubah-ubah tak beraturan. Kadang suka marah-marah tidak jelas, kadang suka menangis sendiri dan bahkan suka uring-uringan seperti hari ini.



Tidak jarang Sri menjadi bulan-bulanan bossnya itu. Walaupun sering kena marah dengan alasan yang tidak jelas dari Lea, tetapi Sri tidak pernah memasukkannya dalam hati. Ia tetap setia dan menemani majikannya itu.



"Mbak kenapa lagi? Sakit? Atau ada masalah sama Tuan Gail?" tanya Sri kepada Lea yang sedang termenung di meja kerjanya sambil menatap kosong ke arah laptop.



"Enggak, Sri. Hari ini aku hanya kurang mood aja. Aku merasa lelah, sangat lelah," tutur Lea.



"Ya, sudah kalau begitu. Mbak istirahat aja, biar aku yang kerja," sahut Sri dengan begitu bersemangat.



"Maafkan aku ya, Sri."



Lea mencoba bangkit dari posisinya, tetapi tiba-tiba pandangannya menjadi kabur dan kepalanya terasa berputar-putar hingga 360 derajat. Tubuh Lea tiba-tiba oleng dan beruntung ada Sri yang cekatan menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.



"Mbak tidak apa-apa?" tanya Sri dengan sangat cemas, sembari membantu Lea untuk kembali duduk di kursinya.



"Tiba-tiba kepalaku sakit, Sri. Untung kamu berhasil menahan tubuhku. Kalau tidak, aku pasti sudah terjatuh tadi," ucap Lea sembari memijat lembut pelipisnya.



"Mbak sudah makan belum?" tanya Sri lagi, karena wajah Lea terlihat memucat.



Lea menganggukkan kepalanya pelan. "Sudah, Sri, sedikit. Beberapa hari ini napsuu makanku berkurang, entah apa sebabnya aku pun tidak tahu," tutur Lea.



"Tunggu sebentar di sini ya, Mbak. Aku bikinin teh hangat dulu," ucap Sri lalu bergegas pergi ke belakang untuk membuatkan teh hangat.



Tidak berselang lama, Sri pun tiba dengan membawa secangkir teh hangat lengkap dengan camilannya. Ia meletakkan teh hangat serta camilan itu ke atas meja Lea.



"Yuk, Mbak, diminum dulu," ucap Sri.



Perlahan Lea membuka matanya. Ia mencium aroma yang begitu wangi dari secangkir teh buatan Sri. Lea meraih cangkir itu lalu menyeruput teh tersebut dengan begitu antusias.

__ADS_1



"Ehmm, Sri. Ini teh apa? Kok, enak banget. Wangi lagi," tanya Lea sambil terus menciumi aroma teh hangat itu.



Sri menautkan kedua alisnya heran. "Ini teh yang sama, yang ada di lemari penyimpanan kok, Mbak. Kan biasanya Mbak memang sering meminum teh ini," sahut Sri heran.



"Masa, sih?" Lea tidak percaya, karena menurutnya teh itu enak sekali. Beda dari biasanya.



"Iya, Mbak. Serius," sahut Sri.



Lea kembali menikmati teh itu sambil sesekali menciumi aroma wanginya. Sementara Sri hanya bisa menatapnya dengan wajah heran. Karena penasaran yang amat sangat, Sri pun kembali membuat teh itu untuk dirinya sendiri.



Sri mencicipi teh itu dan ternyata rasanya tidak berubah. Masih sama seperti hari-hari biasanya. Begitu pula aromanya, sama sekali tidak ada yang berubah. Akhirnya Sri memutuskan untuk kembali bekerja, sementara Lea beristirahat sambil menikmati teh hangat serta kue kering yang tadi diberikan oleh Sri.



Tak terasa sore pun menjelang. Kini Lea dan Sri bersiap untuk pulang. Setelah selesai membersihkan butik itu, mereka pun segera keluar.



"Kamu pulang saja, Sri. Aku baik-baik saja, kok," ucap Lea kepada Sri yang masih tidak ingin meninggalkannya sendiri di sana.




Mata Lea berkaca-kaca. "Terima kasih, Sri. Kamu benar-benar baik," ucapnya.



"Sama-sama, Mbak. Eh, tiba-tiba aku teringat saat di pernikahan Mbak dulu." Sri terkekeh pelan.



"Memangnya ada apa di hari pernikahanku? Apa ini soal Martha yang mengamuk dan mengancam bunuh diri?" sahut Lea.



"Eh, bukan, Mbak. Dulu itu 'kan aku datangnya terlambat, mana perut udah lapar banget. Aku ambil tu ayam goreng lengkap sama sambal terasi di stand makanan. Ketika membawa ayam goreng itu ke meja kosong, tiba-tiba ada seorang bule menabrak aku, Mbak. Otomatis ayamku terbang, dong! Dan sambal terasi itu menempel semua di jas mahal milik si bule. Beruntung dia cuma ngomel aja, gak minta ganti rugi. Seandainya dia minta ganti rugi, bisa mati aku, Mbak," tutur Sri yang kemudian kembali tertawa mengingat kecerobohannya waktu itu.



"Bule? Siapa, ya?"



"Ada, Mbak. Ish, siapa sih, namanya. Aku lupa," sahut Sri lagi.



Lea tampak mengingat-ingat. Seingatnya tidak ada tamu bule yang hadir di hari pernikahannya itu. Namun, ada yang wajahnya persis seperti bule dan itu adalah Sean, selebihnya hanya campuran, termasuk suaminya—Gail.



"Apa maksudmu Sean, sepupunya Gail?"

__ADS_1



"Sean? Ah, ya! Mungkin itu dia, Mbak!" Sri tertawa lagi ketika teringat akan wajah marah Sean kala itu.



"Sean itu sebenarnya baik loh, Sri. Tapi sayang dia itu playboy cap kabel," ucap Lea sambil terkekeh.



"Wajarlah menurutku, Mbak. Sebab dia itu tampan. Nah, yang menyebalkan itu sudah jelek, playboy lagi!" celetuk Sri.



"Iya, kamu benar," sahut Lea.



Tepat di saat itu, mobil milik Gail tiba di tempat itu dan berhenti tepat di depan Lea dan Sri. Gail keluar dari dalam mobil lalu membukakan pintu mobilnya untuk Lea.



"Mari, Sayang."



Lea pun segera masuk ke dalam mobil lalu melambaikan tangannya kepada Sri. "Bye, Sri!"



"Bye!" Sri membalas lambaian tangan Lea sambil tersenyum lebar. Setelah Lea menghilang dari pandangannya, Sri pun segera melanjutkan langkahnya menuju kontrakan.



Sementara itu di dalam mobil.



"Kenapa wajahmu terlihat memucat, Sayang? Apa kamu sakit?" Gail meraba kening Lea dengan wajah cemas. Namun, ternyata suhu tubuh Lea masih normal.



"Sepertinya aku kelelahan sebab seminggu terakhir ini kami dikejar deadline," sahut Lea.



Gail menghembuskan napas berat. "Sebaiknya kamu tambah beberapa orang karyawan lagi, Sayang. Cari yang berpengalaman, yang bisa membantu kamu meng-handle semuanya," ucap Gail memberi saran.



"Cari karyawan yang klop sama kita itu susah, Mas. Lagi pula, aku belum punya modal sebanyak itu untuk menambah karyawan lagi," sahut Lea.



Gail melirik Lea dengan alis yang saling bertaut. "Lalu kamu anggap aku ini apa? Orang lain? Aku ini suamimu, Lea. Tinggal bilang kamu butuh berapa, nanti akan aku transfer," ucap Gail dengan sedikit kesal.



Lea tersenyum. "Baiklah kalau begitu, tapi mukanya jangan ditekuk begitu, Sayang. Nanti kadar ketampananmu berkurang," goda Lea lalu menyandarkan kepalanya di pundak Gail.



Gail mengelus lembut puncak kepala Lea lalu memeluk tubuh itu dengan erat. Sementara pak sopir hanya bisa melirik dari kaca spionnya.


... ***...

__ADS_1


__ADS_2