
Sementara itu.
Gail tiba di kediaman mewahnya. Kedatangan Gail segera disambut oleh kepala pelayan yang sejak tadi memang sudah menunggu kedatangannya. Lelaki paruh baya itu bergegas menghampiri Gail kemudian berbicara kepadanya.
"Selamat datang, Tuan Gail. Di dalam ada tamu yang sejak tadi menunggu kedatangan Tuan," ucap lelaki tua itu.
Gail menautkan kedua alisnya heran. "Tamu? Malam-malam begini? Siapa?" tanyanya.
"Tuan dan nyonya Prayoga."
"Apa?" Gail tersentak kaget. Ia pun segera mempercepat langkahnya, memasuki ruangan itu. Di mana tuan Jaya Prayoga dan sang istri sudah menunggu kedatangannya.
"Hmm, aku yakin ini ada hubungannya dengan keputusanku tadi siang. Baguslah, setidaknya masalah ini bisa aku selesaikan," gumam Gail.
Setibanya di ruangan itu, ternyata bukan hanya tuan dan nyonya Prayoga saja yang sudah menunggunya. Ternyata ada Martha yang saat itu tengah bersandar di pundak sang ibu sambil terisak. Ia mengangkat kepala lalu menatap Gail dengan mata sembabnya. Wajah Martha pun tampak pucat pasi.
"Selamat malam, Tuan Jaya. Maaf sudah menunggu," ucap Gail sembari mengulurkan tangannya ke hadapan Tuan Jaya.
Lelaki paruh baya yang bernama Jaya Prayoga itu pun segera menyambut uluran tangan Gail. "Selamat malam, Gail. Maaf, mengganggu."
"Tidak apa, Tuan Jaya. Mari, silakan duduk." Gail duduk tepat berseberangan dengan Martha dan ibunya.
"Begini, Gail. Kedatangan kami ke sini hanya untuk memastikan keputusanmu yang katanya ingin menyudahi hubungan kalian. Apakah itu benar, Gail?" tanya Tuan Jaya tanpa ingin berbasa-basi.
"Ya, itu benar, Tuan Jaya. Maafkan saya," sahut Gail dengan mantap.
"Tapi kenapa, Gail? Tidak bisakah masalah kalian diselesaikan secara baik-baik tanpa harus memutuskan hubungan? Lagi pula, pernikahan kalian sudah di ambang mata dan semuanya sudah dipersiapkan dengan matang," ucap Tuan Jaya.
"Maafkan saya sekali lagi, Tuan Jaya. Mungkin keputusan saya sangat merugikan kalian. Rugi tenaga, waktu, serta pikiran. Namun, tenang saja. Saya akan mengganti semua kerugian Anda dan keluarga. Tetapi, untuk kembali melanjutkan hubungan ini, saya rasa tidak bisa. Jika Anda tanya kenapa saya melakukan ini, jawabannya ada pada putri Anda," jawab Gail dengan mantap.
__ADS_1
Tuan Jaya dan sang istri segera menoleh ke arah Martha dan dari raut wajah kedua orang itu, Gail yakin bahwa mereka mengerti apa yang ia maksudkan.
"Martha, bisa kamu jelaskan? Biar semuanya clear!" ucap Tuan Jaya dengan tatapan tegas menatap Martha.
Martha memperhatikan ekspresi wajah semua orang yang ada di ruangan itu satu-persatu, termasuk Gail. Ia tampak memelas ketika bersitatap mata dengan mantan tunangannya itu.
"Ehm, sebenarnya aku memang salah. Aku memang tidak bisa mengubah sifat egois serta kekanak-kanakanku, Yah. Tapi, setidaknya Gail bisa memberikan aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki sikapku. Aku berjanji akan berubah," jawab Martha yang saat itu tengah menundukkan kepalanya menghadap lantai. Sementara tangannya, terus memilin-milin ujung dress yang ia kenakan.
Tuan Jaya menghembuskan napas kasar. Begitu pula sang istri, ia pun ikut mendengus kesal lantaran putrinya itu baru jujur sekarang soal alasan Gail memutuskan hubungan mereka. Sebagai orang tua, mereka tahu betul bagaimana sikap Martha. Mereka pun tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Gail dalam masalah ini.
"Saya sudah terlalu sering memberikan kesempatan itu, Tuan Jaya. Namun, sepertinya Martha memang sulit untuk berubah," jelas Gail lagi.
Tuan Jaya menghela napas berat. "Tapi, Gail. Tidak bisakah kamu memaklumi sikapnya? Siapa tahu setelah menikah, Martha bisa menjadi lebih baik. Wajar saja 'kan saat ini ia bersikapnya seperti itu karena selama ia tinggal bersama kami, kami selalu memanjakannya."
Gail menggeleng pelan. "Maafkan saya, Tuan Jaya. Saya tidak bisa. Saya rasa perjuangan saya sudah cukup sampai di sini dan saya tidak ingin melanjutkan hubungan ini lagi."
"Baiklah kalau seperti itu keputusanmu, Gail. Kami sebagai kedua orang tua Martha, tidak bisa berbuat apa-apa dan menerima semua keputusanmu," lanjut Tuan Jaya.
"Apa! Tidak bisa seperti itu, dong, Yah!" pekik Martha tidak terima.
Ia tampak kesal dan segera bangkit dari posisinya. Ia berdiri di hadapan sang ayah kemudian berteriak kesal. Tidak terima dengan sang ayah yang menerima keputusan Gail begitu saja.
"Martha, sudahlah. Jangan bikin malu," ucap Sang Ibu dengan setengah berbisik. Ia meraih tangan Martha dan mencoba mengajak putrinya itu untuk duduk kembali seperti sebelumnya.
"Aku tidak mau, Bu. Aku ingin pernikahan ini tetap dilanjutkan. Aku sayang Gail dan akan terus seperti itu," ucap Martha dengan air mata yang kembali berlinang.
"Maafkan aku, Martha. Semoga kamu mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik dariku," ucap Gail. Sementara Tuan Jaya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Lelaki paruh baya itu terdiam seribu bahasa.
__ADS_1
"Aku tidak mau! Aku hanya ingin kamu, Gail. Aku hanya ingin kamu!"
Martha yang sudah tidak bisa mengontrol emosinya, segera menghampiri Gail kemudian memeluk lelaki itu dengan sangat erat. Gail ingin menghindar, tetapi ia terlambat dan dengan terpaksa membiarkan wanita itu menangis sambil memeluk tubuhnya.
Tuan Jaya dan sang istri merasa sangat malu. Mereka mencoba melerai pelukan Martha dan mengajaknya untuk pulang.
"Sudahlah, Martha! Sebaiknya kita pulang!"
"Tidak, Bu, Yah! Aku tidak mau! Aku ingin terus di sini bersama Gail," sahutnya sembari mempererat pelukannya.
"Kamu ini apa-apaan sih, Martha! Malu-maluin aja," celetuk sang Ibu yang kemudian menarik paksa tubuh anak semata wayangnya itu dan akhirnya berhasil melerai pelukannya.
"Sebaiknya kita pulang!"
Tuan Jaya meraih tangan Martha kemudian menariknya dengan paksa agar ikut dengannya. Namun, sebelum ia pergi meninggalkan tempat itu, Tuan Jaya kembali bicara kepada Gail.
"Kami terima semua keputusanmu, Gail. Tetapi jangan lupa untuk mengganti seluruh kerugian kami," ucapnya dengan tegas.
Gail pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Tuan Jaya. Terima kasih banyak atas pengertiannya."
Martha masih saja tidak terima dengan keputusan mereka. Ia terus berteriak histeris bahkan hingga memasuki mobilnya.
"Gail, jangan lakukan ini padaku! Aku pastikan kamu akan menyesali ini, Gail! Kamu pasti akan menyesali ini," teriak Martha.
"Diamlah, Martha! Apa kamu tidak malu teriak-teriak seperti itu? Kamu itu masih muda dan cantik, pasti masih banyak pria lain yang bersedia menjadi kekasihmu, menggantikan Gail yang bodoh itu!" kesal Tuan Jaya sambil mendengus kesal.
"Minta ganti ruginya yang banyak, Yah. Biar lelaki itu tahu rasa karena sudah berani memutuskan hubungan dengan anak kita," timpal sang istri yang juga tak kalah kesal.
__ADS_1
"Lagian kamu ini, Martha! Kenapa kamu tidak pernah berubah? Jangankan Gail, kami saja seringkali muak melihat sikapmu itu," celetuk sang Ibu.
... ***...