
"Aku salah bicara, Martha. Lupakan saja," ucap Sean yang terlihat serba salah.
"Kalau aku paksa, aku yakin Sean akan semakin menyembunyikannya dariku. Aku harus bisa merayu Sean agar dia jujur dan menceritakan rahasia di balik pernikahan Gail yang sebenarnya kepadaku," gumam Martha dalam hati.
"Ayolah, Sean." Martha meraih tangan Sean kemudian menggenggamnya dengan erat."
"Jujur, aku sudah tidak peduli dengannya. Aku sudah sadar bahwa cinta memang tidak bisa dipaksakan, Sean. Sekarang aku sudah berhasil move on darinya dan aku bahagia menjalani hidupku sekarang ini. Namun, aku hanya penasaran saja, sebenarnya apa yang membuat Gail memilih menikahi Lea. Secara 'kan Lea ...." Martha mulai memancing-mancing.
Sean melirik tangan Martha yang kini bermain liar di atas punggung tangannya. Wanita itu terus tersenyum manja, seolah menggoda dirinya.
"Serius, kamu sudah tidak peduli dengan Gail?" tanya Sean yang masih meragui pengakuan dari wanita cantik itu.
"Terserah jika kamu tidak percaya karena yang tahu tentang perasaanku hanya aku dan Tuhan," jawabnya mencoba meyakinkan.
Sean terdiam lagi dengan tatapan yang masih tajam tertuju pada Martha.
"Jadi, kamu masih tidak ingin menceritakan soal itu kepadaku, Sean?" tanya Martha lagi.
Sean tetap diam dan hal itu benar-benar membuat Martha kesal. Namun, ia tidak ingin Sean tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya.
"Ehm, ya sudah jika kamu tidak ingin menceritakannya kepadaku. Lagi pula aku juga tidak ingin memaksamu." Martha melirik jam tangan mahal yang ada di pergelangan tangannya.
"Sepertinya aku harus pulang. Terima kasih atas waktunya, Sean."
Martha bangkit dari kursinya kemudian bersiap untuk pergi dari tempat itu. Namun, tiba-tiba Sean meraih tangannya dan menahan langkah Martha.
"Duduklah, akan kuceritakan semuanya."
Martha senang bukan kepalang. Tidak sia-sia ia bersandiwara karena Sean memang terlalu mudah untuk masuk ke dalam jebakannya.
Martha duduk kembali di tempatnya semula sembari menatap Sean dengan lekat. Martha benar-benar sudah tidak sabar menunggu cerita di balik pernikahan mewah itu.
Sean membuang napas berat. "Aku harap kamu tidak akan menceritakan hal ini kepada siapa pun, Martha. Aku harap ini hanya akan menjadi rahasia kita," ucap Sean, sebelum ia menceritakan semua rahasia besar itu kepada Martha.
Martha menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Ya! Aku berjanji tidak akan menceritakan rahasia ini kepada siapa pun," sahut Martha.
__ADS_1
"Gail pernah bercerita padaku bahwa ia menikahi Lea bukan karena dia mencintai wanita itu ...."
Sean menceritakan semua rahasia Gail kepada Martha. Mulai dari kecelakaan yang terjadi pada malam itu hingga akhirnya Gail memutuskan untuk menikahi Lea tanpa dasar rasa cinta.
Martha begitu syok setelah mendengar cerita yang sebenarnya di balik pernikahan itu. Ternyata selama ini dugaannya terhadap Gail sama sekali tidak benar. Gail bahkan tidak pernah berselingkuh ataupun bermain api di belakangnya.
"Seharusnya Gail menceritakan semua ini kepadaku agar aku tidak berburuk sangka kepadanya. Dengan menceritakan semuanya, siapa tahu masalah ini bisa terselesaikan tanpa harus menikahi wanita cacat itu," gumam Martha dengan wajah sedih.
"Tapi semuanya sudah terlambat, Martha. Lagi pula Abigail sudah bahagia dengan pilihannya. Apalagi ditambah dengan hadirnya buah hati mereka," sahut Sean.
"Ya, kamu benar, Sean."
Sean membuang napas berat.
"Berjanjilah, Martha, bahwa kamu tidak akan menceritakan rahasia ini kepada siapa pun. Karena Gail akan membunuhku jika aku ketauan menceritakan rahasia ini kepada orang lain," ucap Sean lagi, mencoba mengingatkan Martha.
Martha tersenyum. "Kamu tenang saja, Sean. Aku tidak akan pernah menceritakan rahasia besar ini kepada siapa pun. Dan benar apa katamu, sekarang Gail dan Lea sudah berbahagia, dan itu lah yang lebih penting."
"Sepertinya aku harus pulang, Sean. Terima kasih banyak atas waktumu," ucap Martha sambil tersenyum menggoda.
"Ingat pesanku, Martha. Jangan pernah ceritakan rahasia ini kepada siapa pun." Sean kembali mengingatkan.
Martha tersenyum. "Kamu bisa pegang janjiku, Sean."
Martha menyerahkan jari kelingkingnya ke hadapan Sean dan segera dibalas oleh lelaki itu.
"Aku pegang janjimu, Martha."
Martha pun segera pergi, meninggalkan Sean yang masih termenung di kafe tersebut. Ia merasa sangat menyesal karena sudah menceritakan rahasia terbesar tentang Gail kepada Martha.
"Ah, semoga saja Martha bisa menutup mulutnya serapat mungkin," gumam Sean sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Sementara itu di perjalanan.
__ADS_1
Martha terdiam di dalam mobilnya sambil memikirkan cerita Sean barusan.
"Gail, kenapa kamu tidak pernah jujur kepadaku soal kecelakaan itu. Seandainya dulu kamu berkata jujur, mungkin kita sudah menjadi pasangan suami-istri sekarang ini," gumam Martha dengan wajah sedih.
Beberapa hari kemudian.
Gail masih bersuka cita menyambut kehamilan Lea. Gail bahkan sampai mengadakan acara syukuran di perusahaannya untuk menyambut calon generasi penerusnya itu.
Seluruh karyawan juga ikut bersuka cita menyambut acara syukuran tersebut, termasuk Rangga, yang merupakan salah satu karyawan di perusahaan besar itu.
"Sebenarnya untuk apa Tuan Abigail mengadakan acara syukuran ini? Apakah kita akan meluncurkan sebuah produk baru?" tanya Rangga kepada salah satu teman kerjanya.
"Loh, kamu belum tahu, ya? Tuan Abigail mengadakan acara syukuran ini untuk menyambut kehamilan istrinya. Sebentar lagi big boss kita akan menjadi seorang Ayah, sama seperti dirimu," jawab lelaki itu sambil tertawa pelan.
Rangga tersentak kaget. Ia tidak percaya bahwa sekarang Lea sedang mengandung anak dari big boss-nya itu. Mengandung calon pewaris seluruh harta kekayaan Tuan Abigail Sebastian, termasuk perusahaan besar yang saat ini menjadi tempatnya berpijak.
"Ja-jadi saat ini istri Tuan Abigail sedang hamil?" tanya Rangga lagi.
"Ya, memangnya kenapa? Apa kamu mengenali wanita itu?" tanya lelaki itu tiba-tiba.
Rangga menggelengkan kepalanya dengan perlahan. "Tidak, aku tidak mengenalnya," jawab Rangga.
Tepat di saat semua karyawan sedang asik menikmati acara tersebut, Rangga tiba-tiba mendapatkan panggilan dari nomor Amanda. Rangga bergegas menerima panggilan itu dan ternyata yang sedang berbicara dengannya adalah sang ibu.
"Rangga, cepatlah pulang! Amanda tiba-tiba mengalami kontraksi hebat dan sekarang kami sedang di perjalanan menuju rumah sakit," ucap Bu Fika dengan panik.
"Apa? Ba-baiklah! Aku akan segera menyusul ke sana," jawab Rangga.
Rangga bergegas mencari atasannya. Setelah menemukan lelaki tersebut, ia pun segera meminta izin untuk pulang.
Beruntung atasannya itu bersedia memberikan izin untuknya dan Rangga pun segera menyusul Amanda yang saat ini masih di perjalanan menuju sebuah rumah sakit umum terbesar di kota mereka.
Rangga mengemudikan mobilnya dengan wajah panik. "Apa yang sebenarnya terjadi pada Amanda? Kehamilannya baru memasuki bulan ke-tujuh, tapi kenapa dia sudah mengalami kontraksi?" gumam Rangga yang masih fokus pada kemudinya.
... ***...
__ADS_1