
Setelah mendapatkan kembali kaki palsunya, Lea pun berinisiatif untuk melanjutkan kembali aktifitasnya yang sempat tertunda. Seperti hari ini, setelah selesai sarapan, Lea bersiap untuk berangkat menuju butiknya.
"Hati-hati di jalan ya, Non." Bi Enah dengan setia mengikuti langkah Lea menuju halaman depan dan kini berdiri di samping mobil milik wanita muda itu.
"Terima kasih, Bi."
Setelah berpamitan, Pak Rahman pun segera melajukan mobil itu ke jalan raya.
Di perjalanan.
"Pak, boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Lea kepada Pak Rahman yang sedang fokus dengan kemudinya.
"Boleh saja, Non. Non mau tanya apa?" jawab lelaki paruh baya itu sambil terus fokus pada kemudinya.
"Apa yang membuat Pak Rahman begitu mencintai bi Enah padahal bapak tahu bahwa bibi tidak bisa memberikan keturunan?" lanjutnya dengan sangat hati-hati. Takut lelaki paruh baya itu tersinggung dengan kata-kata yang ia lontarkan.
Pak Rahman adalah suami bi Enah. Sudah 25 tahun mereka menjalin bahtera rumah tangga. Namun, hingga sekarang mereka belum juga di karuniai buah hati. Pasangan itu pernah memeriksakan kondisi kesehatan mereka dan ternyata bi Enah lah yang memiliki masalah pada kandungannya hingga tidak mungkin di karuniai seorang generasi penerus. Walaupun begitu, Pak Rahman tetap setia dan bahkan tidak pernah menghiraukan masalah itu.
Lelaki itu tersenyum. "Apa, ya? Bagi Bapak, bi Enah itu baik dan pengertian. Kalo soal keturunan, yang penting kami berdua sudah berikhtiar dan selanjutnya kami serahkan semuanya kembali kepada Tuhan," jawab Pak Rahman.
"Memangnya kenapa, Non?" tanya lelaki paruh baya itu balik.
Lea tersenyum getir. "Bukan apa-apa, Pak. Hanya saja saya merasa iri kepada kalian. Coba lihat saya, dalam kondisi yang masih sempurna saja, saya sudah dikhianati. Apalagi dengan kondisi saya seperti sekarang ini? Tapi semoga saja Tuhan mengirimkan sosok lelaki yang seperti Pak Rahman, yang bisa menerima kekurangan saya."
"Aamiin, aamiin, aamiin!" Pak Rahman mengamini ucapan Lea dengan lantang.
"Non Lea adalah wanita yang baik. Tuhan pasti akan mengirimkan sosok yang baik, yang akan mencintai dan menerima apa pun kondisi Non Lea. Percayalah sama ucapan Bapak ini," lanjut Pak Rahman dengan mantap.
"Aamiin!" balas Lea sambil tersenyum.
Tak terasa, akhirnya mobil yang mereka tumpangi, tiba di depan butik. Lea bergegas keluar dari dalam mobil dan berdiri di depan butik.
__ADS_1
"Pak, hari ini aku pulangnya lebih cepat. Siang nanti aku harus cek lagi ke rumah sakit," ucap Lea sebelum Pak Rahman pergi meninggalkan tempat itu.
"Oh, iya. Baik, Non!"
Lea mengangguk pelan lalu bergegas masuk ke dalam butik setelah Pak Rahman pergi. Kini Lea berada di dalam ruangan pribadinya. Ia memperhatikan sekeliling ruangan tersebut dengan wajah kusut. Kenangan Amanda di tempat itu masih begitu lekat. Bahkan barang-barang pribadi milik mantan sahabatnya itu masih tergeletak di sana.
"Barang-barang Amanda harus segera disingkirkan. Aku tidak ingin melihat apa pun lagi yang berhubungan dengan wanita itu," gumam Lea.
Setelah meletakkan tasnya ke atas meja, Lea pun segera membersihkan ruangan itu dari barang-barang milik Amanda yang masih tertinggal. Semuanya dimasukkan ke dalam sebuah kotak besar, yang kemudian di bawa keluar dari butik tersebut.
Dengan sekuat tenaga, Lea menyeret kotak berukuran besar itu menuju halaman butik. Ia meletakkan benda tersebut di samping tempat sampah dan berharap ada petugas kebersihan yang mengambilnya.
"Aku, kalo sudah tidak menyukai seseorang, jangankan orangnya, barang-barangnya saja aku singkirkan!" gumam Lea sambil tersenyum sinis.
Tiba-tiba mata Lea tertuju pada sebuah buku milik Amanda yang tergeletak di antara tumpukan barang-barang lainnya. Ia meraih buku itu kemudian membukanya. Sebuah buku harian milik Amanda. Di mana terdapat berbagai curahan hati dari wanita itu.
Berbagai curahan hati Amanda tertulis rapi di sana. Kebahagian, kekesalan, kemarahan, kecemburuan dan lain sebagainya, yang ia tujukan khusus untuk lelaki yang sekarang menjadi calon suaminya.
"Ya, Tuhan! Bodohnya aku. Mereka bahkan sudah saling berhubungan ketika Rangga melamarku," gumam Lea sambil menggelengkan kepalanya perlahan.
Lea melemparkan buku itu kembali ke dalam kardus besar, setelah itu ia pun bergegas masuk kemudian melanjutkan pekerjaannya.
***
Jarum jam menunjukkan pukul 15.30, kini saatnya Lea bersiap untuk pulang. Hari ini ia pulang lebih awal dari biasanya karena harus memeriksakan kondisi kakinya ke rumah sakit. Padahal saat itu masih ada costumer yang ingin bertemu dengannya dan dengan terpaksa menunda pertemuan mereka.
Tidak berselang lama, Pak Rahman tiba dan segera mengantarkan majikannya itu ke rumah sakit. Setelah 25 menit menempuh perjalanan, mereka pun tiba di tempat yang dituju.
"Pak Rahman tunggu di sini saja, ya. Tidak akan lama, kok," kata Lea sebelum ia pergi meninggalkan pria paruh baya itu.
"Siap, Non."
__ADS_1
Lea berbalik dan bersiap untuk memasuki rumah sakit ternama itu. Namun, tiba-tiba langkahnya tertahan ketika melihat sesuatu yang sama sekali tidak ingin ia lihat.
"Mas Rangga, kamu ingin bayi laki-laki atau bayi perempuan?"
"Apa saja, yang penting sehat dan lahir dengan selamat, baik kamu mau pun bayi kita." Rangga mengelus lembut perut Amanda lalu melabuhkan ciuman hangatnya di puncak kepala calon istrinya itu.
Lea terdiam menyaksikan pemandangan itu. Pemandangan yang benar-benar tidak ingin ia lihat. Pasangan itu masih belum menyadari bahwa Lea juga berada di sana dan tengah memperhatikan kebersamaan mereka.
Hingga akhirnya Amanda menyadari hal itu. Ia segera memberitahu Rangga bahwa Lea tengah memperhatikan mereka.
"Mas, ada Lea," ucapnya dengan setengah berbisik. Ia menyikut perut Rangga yang berada di sampingnya dengan sangat pelan.
Rangga refleks menoleh ke arah Lea. Ia tampak serba salah dan segera menundukkan kepalanya. Ia juga menarik tangan Amanda dan mengajaknya mencari jalan lain.
"Ish, mau ke mana, Mas!" protes Amanda dengan wajah menekuk.
"Aku tidak enak, Manda. Sebaiknya kita cari jalan lain saja," sahut Rangga.
Namun, belum sempat Amanda mengiyakan keinginannya, tiba-tiba Lea melanjutkan perjalanannya dan melewati pasangan itu dengan wajah acuh tak acuh.
"Ehm, Lea! Tunggu sebentar," panggil Amanda yang berhasil membuat Lea kembali menghentikan langkahnya.
Amanda melepaskan tangan Rangga yang masih memeganginya dengan erat lalu segera menghampiri Lea.
"Lea, aku ingin mengembalikan kunci butikmu." Amanda membuka tasnya lalu meraih sebuah kunci dari dalam tas tersebut. Ia lalu menyerahkan benda kecil itu ke hadapan Lea.
"Ini, ambillah."
Lea segera meraih kunci tersebut dari tangan Amanda dan tanpa bicara sepatah kata pun, ia kembali melanjutkan langkahnya dan meninggalkan mantan sahabatnya itu. Lea menggenggam erat kunci tersebut hingga urat-urat di tangannya terlihat dengan jelas. Sampai detik ini, ia masih belum bisa mengendalikan rasa kesalnya terhadap pasangan itu.
***
__ADS_1