
Jarum jam menunjukkan pukul 03.00 pagi, Gail memerintahkan salah seorang sopir untuk menjemput Sri di kontrakannya. Lea senang bukan kepalang, menanti kedatangan Sri yang akan membuatkan teh hangat untuknya.
Sementara itu.
Sri yang sedang asik-asik tidur, tiba-tiba dibangunkan oleh suara ketukan yang cukup keras di pintu depan kontrakannya. Sri terbangun lalu dengan terhuyung-huyung berjalan menuju pintu utama.
Tok ... tok ... tok!
"Siapa?"
"Saya diperintahkan oleh Tuan Gail untuk menjemput Anda," sahut lelaki yang berada di balik pintu kontrakannya.
"Tuan Gail? Tapi untuk apa?" tanya Sri lagi, yang ragu dengan ucapan lelaki itu.
"Nona Lea membutuhkan bantuan Anda, Nona Sri. Jika Anda tidak percaya, Anda bisa mengecek pesan chat di ponsel Anda sekarang," jawab lelaki itu lagi.
"Mbak Lea?"
Sri teringat bahwa tadi siang boss-nya itu kurang enak badan dan ia yakin ini ada hubungannya dengan hal itu. Sri segera mengambil ponselnya dan ternyata yang dikatakan oleh lelaki itu benar.
Ada beberapa pesan chat serta panggilan dari Lea. Sama seperti yang diucapkan oleh lelaki itu, pesan chat itu mengatakan bahwa Lea meminta dirinya untuk segera datang ke kediaman mewah mereka.
Setelah yakin bahwa lelaki itu adalah orang suruhan Tuan Gail, Sri pun bergegas membukanya. Lelaki itu meminta Sri agar segera ikut dengannya. Walaupun sebenarnya masih ada keraguan di hati Sri, Sri tetap memutuskan untuk ikut bersama lelaki itu.
"Anda tenang saja, Nona Sri. Setibanya di sana, Tuan Gail berjanji akan memberikan sejumlah hadiah untuk Anda sebagai ucapan terima kasihnya," ucap lelaki itu sambil melajukan mobil tersebut menuju kediaman Gail.
"Memangnya ada apa, sih? Mbak Lea sakit, ya?" tanya Sri penasaran.
Lelaki itu menggelengkan kepalanya. "Entahlah. Bahkan Tuan Gail saja bingung melihat sikap . Non Lea malam ini."
"Ya ampun, ada apa sebenarnya?" ucap Sri bingung.
Tidak berselang lama, mereka pun tiba di kediaman Gail. Sri diminta agar segera menemui Lea di kamar utama dan ia pun menurut saja. Lea begitu senang melihat kedatangan Sri. Ia meminta gadis itu untuk duduk di samping ranjangnya.
"Ada apa, Mbak? Mbak sakit?" tanya Sri dengan wajah cemas.
Lea menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, Sri. Aku baik-baik saja. Suhu tubuhku bahkan masih normal."
"Trus, kenapa Mbak memintaku ke sini? Mana malam-malam begini lagi," celetuk Sri.
Lea tersenyum kecut menatap Sri. "Sebenarnya aku ingin kamu buatin aku teh hangat seperti tadi siang, Sri. Entah kenapa teh buatanmu membuat aku candu," tutur Lea.
Sri membulatkan matanya dengan sempurna. "Apa? Jadi Mbak memintaku ke sini hanya untuk minta buatin teh hangat doang?"
__ADS_1
Lea mengangguk dengan cepat. "Bikinin ya, Sri. Please, yang sama seperti buatanmu tadi siang."
"Okeh! Apa sih yang enggak buat Mbak Lea!" sahut Sri dengan begitu semangat.
Lea menjerit kesenangan. Ia bahkan sampai memeluk tubuh Gail dengan erat dan tidak hentinya mengucapkan kata terima kasih.
"Terima kasih, Mas Gail."
Sama-sama, Lea sayang. Apa pun untukmu, jawab lelaki itu.
Sementara itu.
Kini Sri berada di dapur, di mana ia bersiap membuatkan teh hangat untuk Lea. Para pelayan bingung ketika menyaksikan Sri yang sibuk membuat teh tersebut. Cara pembuatan dan bahan-bahannya pun sama seperti cara mereka membuatnya.
Para pelayan deg-degan menunggu hasil teh hangat buatan Sri tersebut. Hingga akhirnya cangkir yang berisi teh hangat tersebut sampai di tangan Lea.
"Hmmm, akhirnya!" seru Lea sembari menghirup aroma teh tersebut.
"Bagaimana tehnya?" tanya Gail yang ikut penasaran.
"Ya, sesuai dengan keinginanku," jawab Lea dengan begitu antusias.
Gail tersenyum kecut. Menurutnya teh buatan Sri tidak ada bedanya dengan teh buatan para pelayan sebelumnya. Namun, menurut Lea rasa serta aroma teh tersebut jelas sangat berbeda.
"Sering-sering begini ya, Tuan. Biar saya bisa membeli sebuah rumah kecil untuk saya tinggali," celetuk Sri dengan wajah berbinar.
"Aamiin, aamiin," seru Lea menimpali.
Keesokan paginya.
"Aku baik-baik saja, kok, Mas! Aku masih bisa bekerja hari ini," celetuk Lea yang bersikeras ingin kembali bekerja pada hari ini.
Namun, Gail tetap tidak mau mengizinkannya. Ia tidak ingin Lea kenapa-napa di tempat kerja.
"Hei, Nona Azalea Sebastian! Sekarang dengarkan kata-kataku! Sekali kubilang tidak, tetap tidak dan keputusanku tidak bisa diganggu gugat. Titik!" tegasnya dengan intonasi suara yang mulai meninggi.
"Coba cek sekali lagi suhu tubuhku jika kamu tidak percaya, Tuan Abigail Sebastian! Aku ini sehat-sehat saja!" balas Lea yang tidak kalah kesal.
"Kata Sri kamu hampir saja jatuh ke lantai kalau saja dia tidak menangkap tubuhmu kemarin siang. Apa kamu masih ingin mengelak soal itu?" sambung Gail dengan mata yang sengaja di besar-besarkan.
Lea tidak bisa berkutik. Ia menghembuskan napas berat dan akhirnya memilih kalah dari suaminya itu.
"Ya, sudah. Terserah kamu, lah!"
__ADS_1
Gail tersenyum lebar lalu menghampiri Lea. "Begitu, dong. Aku semakin cinta saja sama kamu," ucapnya sembari mencubit hidung mancung Lea dengan perlahan.
Gail melirik jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya kemudian segera pamit kepada Lea.
"Aku harus berangkat sekarang. Aku tidak ingin terlambat lagi seperti kemarin," ucap Gail.
"Baiklah, hati-hati di jalan, ya!"
"Ya!"
Gail melangkah menelusuri setiap ruangan yang ada di bangunan megah itu. Hingga ia tidak sengaja mendengar percakapan para pelayan di salah satu pojok ruangan. Para pelayan itu tengah asik membicarakan sikap aneh Lea tadi malam dan mereka pun mulai menebak-nebak.
"Aku rasa Nona Lea itu hamil, deh!" celetuk salah satu dari mereka.
"Ah, iya. Aku juga mikirnya ke situ. Soalnya sikap Nona Lea tiba-tiba aneh 'kan," timpal yang lainnya.
Gail yang tidak sengaja mendengar percakapan para pelayan itu, segera menghentikan langkahnya. Ia terdiam di posisinya sambil mendengarkan perbincangan mereka.
"Hamil? Apa mungkin Lea sedang hamil?" gumam Gail dalam hati.
Gail mengurungkan niatnya. Ia yang ingin menuju halaman depan, tiba-tiba kembali lagi menuju kamar utama, di mana Lea masih beristirahat di sana.
Dengan langkah tergesa-gesa, Gail memasuki kamar utama. "Lea! Lea sayang?!" panggilnya.
Gail tidak menemukan keberadaan Lea di dalam ruangan itu. Bahkan tempat tidur mewahnya masih terlihat sangat rapih.
"Ke mana dia?" gumam Gail sambil mengedarkan pandangannya.
Gail meletakkan tasnya dengan sembarang kemudian berjalan menghampiri kamar mandi. Ternyata firasatnya benar, wanita itu tengah berada di dalam sana. Tampak Lea tengah membungkuk di wastafel.
Gail menghampiri Lea lalu berdiri di sampingnya. "Kamu kenapa, Sayang?" tanyanya.
Hoeekkk! Hoeekkk!
Bukannya menjawab pertanyaan Gail, Lea malah mengeluarkan isi perutnya di tempat itu. Melihat kondisi Lea, Gail pun segera membantu mengelus punggungnya dengan lembut.
"Kamu kenapa, Lea? Apa kamu sakit?" tanya Gail dengan wajah cemas. Mencemaskan keadaan Lea.
Lea tidak mampu menjawab pertanyaan Gail. Ia terus saja mengeluarkan isi perutnya dan itu benar-benar membuat Lea merasa tidak nyaman.
"Sebaiknya aku panggil dokter Roni untuk segera memeriksa kondisimu, Lea. Aku tidak ingin kamu sakit," lanjut Gail.
...***...
__ADS_1