
"Tolong pikirkan lagi, Gail. Kamu serius ingin mengajakku makan malam di luar?" tanya Lea, mencoba meyakinkan.
"Ya, tentu saja aku serius. Memangnya kenapa, kok kamu bertanya seperti itu?" tanya Gail balik.
"Aku hanya takut kamu jadi olokan orang lain, Gail, karena sudah mengajakku makan malam bersamamu. Jika kamu bersedia, kita bisa makan malam di sini saja. Aku jamin, kamu pasti tidak akan menyesal karena masakan Bi Enah sangat enak."
"Kenapa kamu bicara seperti itu, Lea. Tidak akan ada yang mengolok-olok kita, percayalah padaku. Dan untuk tawaranmu, mungkin kita bisa makan malam di sini malam berikutnya," sahut Gail dengan mantap.
Lea menghembuskan napas berat. "Baiklah kalau kamu yakin begitu."
Gail mengulurkan tangannya ke hadapan Lea, berharap Lea bersedia bergandeng dengannya. "Mari, Nona Azalea."
Lea terkekeh pelan kemudian meraih tangan Gail yang terulur di hadapannya. "Hati-hati, banyak mata yang akan menatapmu dengan tatapan aneh, Gail."
Gail kembali terkekeh. "Aku tidak peduli, terserah mereka mau berpikir apa pun tentangku," jawabnya dengan yakin.
Gail membuka pintu mobil sport bermuatan dua orang tersebut dan mempersilakan Lea untuk masuk ke dalam. Sebelum memasuki mobil mewah itu, Lea sempat terdiam sambil memperhatikan benda beroda empat itu dengan seksama. Lepe
"Beda lagi?" Lea tersenyum miring.
"Ya, memangnya kenapa? Mobilnya jelek?" tanya Gail balik.
Lea menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak, mobilnya keren. Aku yakin kamu pasti sangat kaya hingga bisa gonta-ganti mobil mewah dalam waktu 24 jam saja."
Gail terkekeh. "Aku tidak sekaya yang kamu pikirkan, Lea. Sebenarnya aku punya showroom mobil bekas, makanya aku bebas gonta-ganti mobil," jawabnya dengan bohong.
"Hmmm, yang penting tidak gonta-ganti pasangan aja," celetuk Lea sembari masuk lalu duduk di kursi dekat kemudi.
"Tentu saja tidak, Lea." Gail tersenyum lalu menutup pintu mobilnya. Ia kemudian menyusul Lea dan duduk di kursi kemudi.
"Sudah siap?" tanya Gail sambil melirik Lea yang masih asik memperhatikan kemewahan mobil sport itu.
"Ya, tapi jangan cepat-cepat karena aku masih trauma dengan kejadian naas itu."
Gail terdiam sejenak sambil menatap Lea dengan lekat. "Baiklah, aku berjanji tidak akan cepat-cepat."
Gail melajukan mobil mewahnya itu memecah jalan raya, menuju sebuah restoran yang sudah ia pesan sebelumnya.
__ADS_1
Di perjalanan.
Saat mereka masih berbincang-bincang ringan di dalam mobil tersebut, tiba-tiba saja Lea menundukkan kepala jauh lebih dalam. Tangannya terlihat saling meremass satu sama lain dan keringat dingin mengucur begitu saja dari pelipisnya.
Gail kebingungan ketika melihat reaksi Lea yang seperti itu. Ia segera menghentikan mobilnya di pinggir jalan kemudian menyentuh pundak Lea dengan perlahan.
"Kamu kenapa, Lea? Apakah ucapanku barusan menyinggung perasaanmu?" tanya Gail.
"Jalan terus, Gail! Kumohon," ucap Lea dengan lirih, tanpa berani mengangkat kepalanya.
Gail melihat ke sekeliling tempat itu dan tidak ada yang aneh di sana, hingga akhirnya Gail menyadari bahwa tempat itu adalah tempat di mana kecelakaan itu terjadi. Jalan yang menjadi saksi bisu atas kejadian yang menimpa Lea dan adiknya.
Tanpa pikir panjang, Gail langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi hingga ia berhasil melewati jalan tersebut. Gail menyentuh lembut pundak Lea sembari berkata.
"Lea, bukalah matamu. Kita sudah melewatinya," ucap Gail, mencoba menenangkan Lea yang masih memejamkan matanya dengan wajah memucat.
Perlahan Lea membuka matanya kemudian memperhatikan sekeliling. Ia menghembuskan napas berat setelah sadar bahwa mereka sudah berhasil melewati jalan tersebut.
"Ya, kita bisa mencari jalan lain sepulang nanti," jawab Gail dan berhasil membuat Lea sedikit lebih tenang.
"Maafkan aku, Lea. Aku tidak ingat jika tempat itu—" Belum selesai Gail berkata, Lea sudah menyela ucapannya.
"Tidak apa, Gail. Ini bukan salahmu. Entah kenapa setiap kali aku melewati jalan itu, kenangan buruk itu seakan kembali terlintas di kepalaku dengan sangat jelas dan aku tidak sanggup untuk melihatnya," tutur Lea.
Raut wajah Gail kembali murung. Rasa bersalah itu kembali menguasai jiwanya. "Maafkan aku, Lea." lirih Gail dalam hati.
Tidak berselang lama, akhirnya mereka pun tiba di depan sebuah restoran ternama, di mana mereka akan menikmati makan malam mereka di sana.
Gail mengulurkan tangannya ke hadapan Lea dan segera disambut oleh wanita itu. Mereka berjalan memasuki restoran mewah tersebut sambil bergandengan tangan. Gail menuntun Lea bahkan hingga ke sebuah ruangan yang sudah ia pesan sebelumnya.
"Bagaimana menurutmu tempat ini?" tanya Gail sembari mendudukkan Lea di sebuah kursi kosong yang sudah dipersiapkan oleh pihak restoran, kemudian Gail pun segera menyusul dan duduk tepat di hadapannya.
"Bagus sekali. Jujur, aku belum pernah menginjakkan kakiku di tempat seperti ini, Gail. Bukan apa-apa, aku hanya sayang sama duitnya." Lea tertawa pelan sembari memperhatikan sekeliling ruangan itu. Di mana tidak ada siapa pun di sana, hanya ada mereka berdua.
"Tapi, kenapa di sini hanya ada kita berdua? Eh, jangan bilang kalau kamu memang memesan tempat ini khusus untuk dinner kita malam ini, iya?" lanjut Lea dengan mata membulat menatap Gail.
__ADS_1
Gail terkekeh. "Ya, sekali-sekali."
"Tapi maaf, Gail. Lidahku ini, lidahnya kaum menengah ke bawah. Aku jauh lebih senang menikmati kuliner di pinggir jalan. Serius," tutur Lea dengan berbisik agar pelayan di tempat itu tidak mendengar apa yang ia katakan.
"Baiklah, lain kali kita akan menjelajahi kuliner kesukaanmu," jawab Gail.
"Hhh, memangnya kamu tidak malu?" Lea mencebikkan bibirnya.
"Kenapa harus malu? Kan aku sama kamu," jawab Gail yang berhasil membuat Lea terdiam dengan tatapan maut menatapnya.
Tepat di saat itu, beberapa orang pelayan datang menghampiri meja mereka dengan membawa berbagai menu hidangan. Lea kembali terdiam dibuatnya setelah melihat banyaknya menu yang dipesan oleh Gail.
Mereka menatanya dengan rapih ke atas meja. Setelah semuanya selesai, mereka pun segera kembali dan meninggalkan pasangan itu.
"Makanlah apa pun yang kamu suka, Lea. Jangan sungkan karena aku memesannya khusus untukmu," ucap Gail sambil tersenyum hangat menatap Lea.
"Banyak sekali. Memang siapa yang akan menghabiskannya, Gail?" tanya Lea sembari memilih menu makanan yang akan ia makan malam ini.
"Kalau tidak habis, kita bisa membungkusnya."
"Ya, kamu benar juga. Aku bisa membawanya untuk dibagikan kepada Bi Enah dan Pak Rahman." Lea terkekeh pelan kemudian segera memulai makan malamnya.
Setelah beberapa saat kemudian.
"Lea, kenapa berhenti? Ayo, tambah lagi!" ucap Gail ketika Lea menyelesaikan makan malamnya.
"Sudah cukup, Gail. Aku sudah kenyang," tolak Lea.
Gail pun segera menyelesaikan makan malamnya dan segera memanggil para pelayan untuk membereskan semua makanan dari atas meja. Hanya dalam hitungan menit, meja itu pun kembali bersih sama seperti semula.
"Lea, ada yang ingin aku bicarakan padamu dan ini sangat penting," ucap Gail sembari meraih tangan Lea yang terulur di atas meja lalu menggenggamnya dengan erat. Lea sempat menarik kembali tangannya. Namun, Gail sudah mengunci pergerakannya dan terpaksa Lea pun membiarkan Gail menggenggamnya.
"Bicara apa, Gail? Katakan saja," jawab Lea tampak serba salah.
"Lea, sebenarnya aku ...."
... ***...
__ADS_1