Gadis Kaki Palsu

Gadis Kaki Palsu
GKP 55


__ADS_3

Setelah agak mendingan, Gail segera mengangkat tubuh Lea dan membawanya ke tempat tidur.



"Wajahmu pucat sekali, Lea." Gail tampak bersedih. Ia membelai lembut puncak kepala Lea kemudian menciumnya.



"Tunggulah sebentar lagi, Dokter Roni akan segera tiba," ucap Gail.



Tidak berselang lama, Dokter Roni pun tiba di kediaman mewah Gail. Kepala pelayan segera menyambut Dokter itu lalu menuntunnya menuju kamar utama.



"Silakan masuk, Dok. Tuan Abigail ada di dalam," ucap pria paruh baya itu sembari membuka pintu kamar utama dan mempersilakan sang dokter agar segera masuk ke dalam.



"Terima kasih," jawab Dokter itu.



Abigail begitu senang melihat kedatangan Dokter Roni. Ia segera menghampiri dan meminta Dokter itu agar segera memeriksa kondisi Lea saat ini.



"Cepat periksa kondisi istriku, Dok. Lihatlah, dia terlihat sangat lemah," ucap Gail dengan wajah cemas.



"Baik, Tuan Gail. Saya akan segera memeriksanya," sahut Dokter yang kemudian mulai memeriksa kondisi kesehatan Lea.



Sementara Dokter Roni tengah sibuk memeriksa Lea, Gail memilih untuk memperhatikan mereka dari jarak yang cukup dekat.



Setelah beberapa menit kemudian.



"Bagaimana, Dok?" tanya Gail, yang sudah tidak bisa membendung rasa penasarannya lagi.



Dokter Roni tersenyum kemudian menepuk pelan pundak Gail. "Selamat, Tuan Gail. Nona Lea positif hamil. Namun, untuk hasil yang lebih meyakinkan, Anda bisa memeriksakannya kembali ke dokter spesialis kandungan."



"Hamil?" Raut wajah tegang itu perlahan sirna. Tampak sebuah senyuman terukir indah di wajah tampan Gail.



"Ja-jadi, sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah?" lanjutnya dengan terbata-bata.



"Ya, Tuan Gail."



"Terima kasih, Dok. Terima kasih banyak," ucap Gail dengan kedua netra yang tampak berbinar.



"Sama-sama, Tuan."



Setelah selesai memeriksa kondisi Lea, Dokter Roni pun pamit dan kembali ke rumah sakit untuk melanjutkan tugasnya. Sementara itu, Gail kembali menghampiri Lea kemudian duduk di sampingnya.



"Lea, apa kamu sudah tahu soal berita baik ini?" tanya Gail sembari mengelus lembut puncak kepala Lea.



Lea menggeleng pelan. "Apa yang sebenarnya terjadi padaku, Mas."


__ADS_1


"Kamu hamil, Lea. Sebentar lagi kita akan menjadi Mommy dan Daddy," seru Gail dengan mata berkaca-kaca.



Mata Lea membulat sempurna. "Aku hamil? Benarkah itu, Mas?"



"Ya, Sayang. Itu benar," jawab Gail.



"Oh ya, Tuhan, terima kasih banyak!" seru Lea sembari memeluk tubuh Gail dengan erat.



\*\*\*



Kebahagiaan Gail terdengar hingga ke telinga Nyonya Helena. Wanita itu geram setelah mendengar berita baik itu.



"Apa, hamil?!" pekiknya dengan mata membulat sempurna.



"Dasar Gail bodoh! Mau-maunya aja dia punya anak bersama wanita cacat itu! Memangnya dia gak takut apa kalau anaknya nanti lahir dengan cacat, sama seperti ibunya! Hhh," geram Nyonya Helena dengan wajah menekuk sempurna.



"Ayolah, Mom. Bukankah Gail sudah seperti anak Mommy sendiri? Dari pada terus menghinanya, lebih baik Mommy restui hubungan mereka. Do'akan yang baik-baik untuk keluarga kecilnya. Toh, itu sudah menjadi pilihannya dan buktinya Gail bahagia dengan pilihannya," sahut Sean.



"Bahagia, hhh! Mommy sangsi akan hal itu. Kita lihat saja nanti, sampai di mana kebahagiaan Gail bersama wanita cacat itu," celetuk Nyonya Helena lagi.



Sean hanya menggelengkan kepala. "Ya ampun, Mommy."




"Ya-ya, baiklah. Ehm, sudah dulu ya, Mom. Aku mau makan, perutku sudah lapar," sahut Sean yang saat itu sedang duduk di sebuah kafe.



"Sebentar, Sean! Kamu itu kapan balik? Kamu sudah berbulan-bulan di sana dan membiarkan Mommy sendirian di sini mengurus semuanya. Kamu itu ya, benar-benar!" kesal Nyonya Helena sambil mendengus.



Sean terkekeh. "Aku akan segera kembali, tapi setelah mendapatkan pasangan hidup."



"Sean!" geram Nyonya Helena.



Sean tertawa sembari memutuskan panggilannya. Sementara Nyonya Helena begitu kesal karena sudah dikerjai oleh putranya sendiri.



"Silakan, Tuan," ucap seorang waitress yang mengantarkan makanan serta minuman yang tadi sudah dipesan oleh Sean.



"Terima kasih."



Sepeninggal waitress itu, Sean pun segera menikmati makanan serta minumannya. Ia yang sudah lapar, menikmati santapan itu dengan begitu lahap. Sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa saat itu ia tengah diperhatikan oleh seorang wanita dari kejauhan.



"Bukankah itu Sean, sepupunya Gail? Sedang apa dia sendirian di sini?" gumamnya yang kemudian berjalan menghampiri meja lelaki itu.



"Hai, Sean. Apa kabar?"

__ADS_1



Sean yang sedang asik menikmati makanannya, tiba-tiba dikejutkan oleh suara seorang wanita cantik. Sean mengangkat kepalanya lalu menatap wanita cantik itu.



"Martha?"



"Aku kebetulan lewat dan tidak sengaja melihat kamu di sini. Jadi ya, aku mampir saja. Tidak apa-apa, kan?"



"Tentu saja, tidak. Mari, silakan duduk." Sean tersenyum lalu mempersilakan wanita itu untuk duduk tepat di hadapannya.



"Terima kasih, Sean." Martha pun segera duduk.



"Ehm, kamu mau pesan apa? Katakan saja, biar aku pesankan," ucap Sean.



"Tidak usah, terima kasih. Aku sudah kenyang, kok. Beneran," sahut Martha.



"Serius? Aku tidak jamin loh, kalo kamu ngiler lihat aku makan," ucap Sean lagi.



Martha tertawa pelan. "Tidak mungkin lah," jawabnya.



Sean memperhatikan penampilan Martha saat itu. Tampak jauh berbeda dari saat terakhir ia bertemu dengannya. Terakhir kali mereka bertemu di saat hari pernikahan Gail dan Lea dilaksanakan. Di mana Martha mengamuk seperti orang gila. Selain terlihat semakin cantik, body Martha pun kembali seperti sebelumnya. Berisi, tapi seksi.



"Oh ya, bagaimana kabar Gail? Setelah hari itu, aku sama sekali tidak pernah bertemu dengannya lagi," tanya Martha.



"Gail baik, Lea juga." Sean tersenyum.



Martha merasa sedikit kesal ketika Sean menyebut nama Lea. Padahal ia sama sekali tidak ingin mendengar nama itu disebutkan.



"Aku senang mendengarnya." Martha tersenyum untuk menutupi rasa kesalnya.



"Ada berita yang jauh lebih membahagiakan. Saat ini Lea tengah mengandung dan tidak lama lagi mereka akan menjadi sebuah keluarga yang sempurna," lanjut Sean, tanpa peduli dengan ekspresi Martha saat itu.



Martha mendengus kesal, tetapi Sean tidak mengetahui hal itu. Sean masih asik menikmati minuman yang ada di hadapannya.



"Senang sekali mendengarnya. Siapa sangka, ternyata cinta Gail benar-benar tulus kepada Lea," ucap Martha.



"Hmm, kamu benar. Padahal dulunya Gail menikahi Lea hanya karena ingin bertanggung jawab atas kesalahan yang pernah dilakukannya," celetuk Sean tanpa sadar.



"Bertanggung jawab? Maksudmu?" Martha kebingungan dan ia begitu penasaran, kesalahan apa yang sudah dilakukan oleh Gail hingga membuat lelaki itu nekat mengambil sebuah keputusan sebesar itu.



Mata Sean membulat sempurna setelah sadar bahwa ia sudah membocorkan rahasia terbesar Gail kepada Martha.



"Sean, katakan padaku. Apa alasan Gail menikahi Lea? Dan kesalahan apa yang dilakukan oleh Gail hingga ia berani mengambil keputusan seberat itu," tanya Martha yang begitu penasaran.

__ADS_1


... ***...


__ADS_2