
"Nona Martha, Anda baik-baik saja?"
Martha mengerjapkan matanya. Ia melihat ke sekeliling dan ternyata ia sudah berada di dalam mobilnya. Perlahan Martha bangkit lalu duduk sambil bersandar di sandaran jok.
"Ya ampun, kepalaku sakit sekali," gumam Martha sembari mengacak kepalanya yang terasa sakit.
Martha memperhatikan jalan yang tengah ia lewati dan ternyata ia sedang di perjalanan menuju kediamannya. Martha tidak menginginkan hal itu. Ia lalu protes kepada pak sopir sambil menepuk kasar jok yang diduduki oleh lelaki paruh baya itu.
"Berhenti, Pak! Putar balik," titah Martha dengan tegas kepada lelaki paruh baya itu.
"Ehm, tapi, Non. Nyonya meminta saya untuk mengantarkan Anda kembali ke rumah. Kedua orang tua serta dokter yang merawat Anda, sedang menunggu di rumah," jelas lelaki paruh baya itu.
"Aku tidak peduli! Aku bilang putar balik, ya, putar balik, Pak! Kalau Bapak tidak menuruti perintahku, maka hari ini juga Bapak aku pecat!" ucap Martha lagi dengan tegas.
"Ba-baik, Nona! Kita sekarang ke mana?"
"Ke tempat tinggal Gail!"
Karena takut dipecat, akhirnya lelaki paruh baya itu pun menuruti perintah Martha. Ia putar arah dan sekarang menuju kediaman mewah milik Gail. Selang beberapa saat kemudian, mereka pun tiba di tempat itu.
Dengan tergesa-gesa, Martha berjalan menghampiri pagar rumah Gail. Jika biasanya ia mudah keluar masuk ke dalam rumah megah itu, kali ini ia harus meminta izin terlebih dahulu kepada penjaga yang berjaga di sana sama seperti tamu lainnya.
Martha mencoba meredam emosinya. Ia menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya kembali. Wanita itu memasang senyum, lalu berbincang kepada penjaga tersebut.
"Penjaga, tolong bukakan pagar ini! Aku ingin bertemu Gail sebentar!" ucap Martha, seolah tidak terjadi apa pun.
"Apakah Anda sudah membuat janji kepada Tuan Gail sebelumnya?" tanya lelaki itu dengan wajah datar.
Emosi Martha kembali memuncak. Namun, ia harus menahannya agar bisa memasuki bangunan megah itu.
"Tentu saja, Tidak. Aku ke sini untuk memberikan sedikit kejutan kepadanya. Lagi pula, kalian ini seperti tidak kenal aku saja! Aku ini 'kan tunangannya Gail! Aku sudah sering keluar masuk tempat ini tanpa seizin kalian," celetuknya.
__ADS_1
Lelaki itu tersenyum miring. "Anda hanya mantan, bukan tunangan. Tapi, baiklah. Silakan masuk," sahut lelaki itu tanpa sadar bahwa Martha memiliki niat lain.
Martha senang bukan kepalang. Akhirnya ia bisa memasuki bangunan megah itu tanpa kesulitan. Setelah pagar menjulang tinggi tersebut terbuka, Martha pun bergegas masuk. Ia lalu berjalan menghampiri bangunan megah itu dan menelusurinya.
"Aku yakin wanita itu juga ada di sini! Bagus, setidaknya aku bisa membuktikan bahwa Gail memang berselingkuh di belakangku," gumamnya sambil memperhatikan sekeliling ruangan yang ia lewati.
Hingga akhirnya langkah kaki Martha terhenti di depan ruang utama. Di mana ia berhasil menemukan sosok Gail dan Lea yang sedang asik berbincang di ruangan itu. Tampak Gail tengah memperkenalkan seluruh keluarganya yang ada di dalam sebuah foto.
Foto berukuran besar yang terpajang di ruangan itu. Lea mendengarkan cerita Gail dengan begitu serius. Sesekali Gail mencuri kesempatan untuk bisa menyentuh pipi atau rambut Lea. Sederhana, tetapi terlihat begitu manis.
Namun, hal itu tidak berlaku untuk Martha. Melihat kebersamaan mereka, Martha pun kembali terbakar emosi. Tanpa keduanya sadari, Martha telah berjalan dengan cepat menghampiri Lea.
Ia menarik tangan Lea dengan kasar kemudian mendorongnya dengan sangat keras hingga akhirnya Lea jatuh tersungkur di lantai ruangan.
Braakkk!
"Awww!" pekik Lea yang kini tengah tersungkur di lantai. Ia mengelus bagian tubuhnya yang sakit sambil menatap Martha yang kini berdiri di hadapannya.
Menyadari hal itu, Gail pun bergegas menghampiri Lea lalu membantunya berdiri. Gail benar-benar marah, wajahnya memerah menatap Martha.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Martha!" kesal Gail dengan intonasi suara yang mulai meninggi.
Lea memperhatikan wanita cantik berwajah pucat serta bertubuh kurus itu dengan seksama hingga akhirnya ia pun mengenalinya.
"Nona Martha?" pekik Lea.
Gail terkejut setelah mengetahui bahwa Lea ternyata kenal dengan mantan tunangannya itu. "Kamu mengenalnya?" tanya Gail sambil menatap lekat kedua netra indah milik Lea.
Martha pun ikut terkejut setelah mengetahui bahwa Lea mengenali dirinya. Ia memperhatikan Lea dari ujung rambut hingga ke ujung kaki, hingga ia pun menyadari bahwa Lea adalah designer yang dulu pernah ia minta untuk membuatkan gaun pengantinnya.
"Oh, tenyata kamu!" pekik Martha.
__ADS_1
Martha tersenyum sinis. "Oh, ternyata ini wanita simpananmu, Gail? Hhh, rendah sekali seleramu! Sudah kampungan dan itu apa? Lihat, dia wanita cacat! Kakinya buntung," celetuk Martha dan membuat Gail benar-benar meradang.
"Tutup mulutmu, Martha!" teriak Gail. Sementara Lea hanya terdiam seribu bahasa. Ia tampak kebingungan dengan situasinya saat ini.
"Kenapa? Apakah aku salah?! Kalian benar-benar hebat! Sandiwara kalian memang the best! Kamu berpura-pura seolah aku yang salah. Kamu bilang aku terlalu posesif dan egois, ternyata kamulah yang egois, Gail! Dengan alasan itu kamu memutuskan pertunangan kita dan ternyata di balik itu kamu memiliki wanita idaman lain," geram Martha.
"Dan kamu!" Martha menunjuk ke arah Lea. "Aku yakin kamu memang sengaja menolak keinginanku soal gaun pengantin itu agar aku tidak jadi menikah dengan Gail. Iya, kan?! Kalian benar-benar pasangan yang ideal. Sama-sama licik," lanjut Martha dengan wajah memerah.
"Anda salah, Nona Martha! Saya bahkan baru tahu sekarang kalau Gail adalah tunangan Anda," sahut Lea.
"Halah, alasan!" Martha mendengus kesal
"Tidak usah dijelaskan, Lea. Dia tidak akan pernah mendengarkan ucapanmu," sela Gail sembari berjaga-jaga. Ia tidak ingin Martha kembali menyentuhnya.
"Penjaga! Penjaga!" teriak Gail.
"Tidak perlu berteriak, Gail! Tanpa kamu usir pun, aku memang akan pergi dari sini," sahut Martha.
Kepala pelayan tiba di ruangan itu bersama dua orang bodyguard. Tanpa menunggu perintah dari Gail, mereka pun segera menghampiri Martha dan mengusirnya.
"Ayo, Nona!"
"Jangan sentuh aku! Aku bisa jalan sendiri," geram Martha sembari menepis tangan kekar para bodyguard.
"Ingat, Gail. Aku tidak akan membiarkan kalian hidup bahagia! Kamu sudah membuat hidupku hancur berantakan, maka aku pun akan membuat hidupmu berantakan," ucap Martha dengan begitu serius.
"Dasar wanita cacat! Kaki buntung! Kamu tidak cocok bersanding dengan Gail! Sebaiknya kamu berkaca, wanita cacat!" teriak Martha sambil tertawa lantang. Ia melangkah dengan cepat, meninggalkan ruangan itu bersama dua orang bodyguard.
Lea terdiam dengan kepala tertunduk. Kata-kata kasar yang dilontarkan oleh Martha barusan berhasil membuat hati kecilnya merasa tersentil. Ia melihat kembali dirinya kemudian membandingkan dengan tubuh sempurna milik Gail. Benar-benar pemandangan yang kontras.
"Lea, kumohon! Jangan dengarkan kata-kata Martha barusan. Itu semua tidak benar. Aku bisa menjelaskannya kepadamu," ucap Gail, mencoba menenangkan Lea.
__ADS_1
... ***...