Gadis Kaki Palsu

Gadis Kaki Palsu
GKP 63


__ADS_3

Maaf, baru bisa up 🙈🤧 Wifi othor gangguan lagi. Rencananya tadi malam mau up, eh gak bisa. 🙏🙏🙏


Hari itu, Gail membuktikan keseriusannya. Ia mendatangi kantor polisi terdekat lalu menyerahkan diri. Nick dan Sean begitu sedih melihatnya, tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.


"Sean, bolehkah aku minta sesuatu sama kamu?" tanya Gail yang kini sudah berganti pakaian.


Dari setelan jas mahal menjadi kemeja yang biasa dikenakan oleh para tahanan. Ia menatap sedih ke arah Sean dan Nick yang berdiri di depan sel. Sebuah pagar besi yang kini menjadi pemisah untuk mereka.


"Apa itu, Gail? Katakan saja," ucap Sean dengan mantap.


"Begini, Sean. Aku butuh bantuanmu untuk mengurus perusahaanku selama aku berada di sini. Aku percayakan semuanya kepadamu. Jika ada sesuatu yang tidak bisa kamu tangani, kamu bisa meminta Nick untuk membantumu," ucap Gail dengan wajah penuh harap menatap sepupunya itu.


"Tapi, Gail ...." Sean mencoba menolak permintaan Gail saat itu. "Kamu tahu sendiri 'kan bagaimana aku? Jangankan mengurus perusahaanmu, perusahaan peninggalan mendiang daddy-ku saja, mommy-ku yang mengurusnya. Jadi, bagaimana bisa kamu mempercayakan perusahaanmu kepadaku?" jelas Sean.


"Ayolah, Sean. Aku yakin kamu pasti bisa! Kamu hanya malas, bukan berarti kamu tidak pandai. Sekarang aku mohon padamu, Sean. Hanya kamu harapanku satu-satunya," bujuk Gail lagi.


Sean menatap wajah Gail yang memelas penuh harap. Hingga akhirnya hatinya pun luluh. Sean menganggukkan kepalanya, meskipun saat itu ia benar-benar ragu. Ragu bisa menjalankan tugas seberat itu.


"Baiklah, Gail. Akan kucoba," jawab Sean.


"Terima kasih banyak, Sean." Sekarang tatapan Gail tertuju pada Nick yang sejak tadi hanya diam dengan kepala tertunduk menghadap lantai.


"Nick, tolong sampaikan salamku untuk Lea. Katakan kalau aku sangat mencintainya. Dan satu lagi, tolong jaga dia dan juga anakku. Pastikan bahwa mereka hidup bahagia dan tidak kekurangan apa pun," lanjut Gail dengan lirih.

__ADS_1


Nick mengangkat kepalanya lalu menatap Gail dengan mata berkaca-kaca. "Baik, Tuan. Tentu saja."


Sean dan Nick pun pamit karena waktu membesuk sudah habis dan mereka harus segera pulang. Dengan perasaan yang begitu hancur, Sean melangkahkan kakinya keluar dari tempat itu, begitu pula Nick.


Lelaki itu bahkan sampai menitikkan buliran bening di kedua sudut matanya. Namun, dengan cepat ia seka. Tak ingin siapa pun melihat kelemahannya saat itu.


"Ehm, Nick. Kamu pulanglah dulu. Aku masih ada urusan," ucap Sean ketika mereka berada di tempat parkir.


"Baik, Tuan Sean." Nick pun mengangguk.


Nick segera masuk ke dalam mobil lalu melaju meninggalkan tempat itu. Sama halnya dengan Nick, Sean pun bergegas melajukan mobil miliknya menuju suatu tempat. Di mana ia sudah berjanji akan bertemu dengan seseorang.


Selang beberapa jam kemudian, Sean pun tiba di sebuah vila yang terletak tak jauh dari bibir pantai. Setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir, lelaki itu pun bergegas menuju sebuah kamar yang sudah ia sewa khusus untuk pertemuannya dengan seseorang itu.


Sean mendorong pintu kamar yang sudah ia sewa itu dengan perlahan dan dari dalam ruangan tampak seorang wanita berpakaian seksi tengah berdiri didepan jendela. Jendela yang mengarah langsung ke arah lautan luas.


"Sean, akhirnya kau datang juga," ucap wanita itu tanpa menoleh sedikit pun kepada Sean yang kini memasuki ruangan itu.


"Sudah lama menunggu?" Sean melepaskan jaket denim yang sejak tadi menempel di tubuh kekarnya lalu melemparkannya ke atas sofa yang ada di dalam ruangan itu.


"Tidak juga. Mungkin sekitar 25 menit yang lalu," jawabnya sambil tersenyum. Namun, tatapan wanita itu masih tertuju pada pemandangan indah yang terhampar di hadapannya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan padaku, Sean? Jangan katakan kalau sebenarnya kamu hanya kangen sama aku," ucapnya dengan manja. Ia berbalik lalu menatap Sean yang sejak tadi berdiri di belakangnya dengan wajah serius.

__ADS_1


Sean tersenyum miring. "Sama sekali tidak, Martha. Aku tidak akan pernah ingin bertemu denganmu kalau saja tidak ada yang penting, yang ingin aku bicarakan padamu."


Martha—Wanita itu mengernyitkan dahinya. "Kenapa kamu bicara seperti itu, Sean? Apa ada yang salah denganku?"


Dengan secepat kilat, Sean menghampiri Martha. Tangan kekarnya refleks mencengkeram wajah cantik itu dengan sangat kuat hingga Martha meringis kesakitan.


"Kamu benar-benar wanita yang licik, Martha! Sangat-sangat licik! Sekarang kamu pasti senang, 'kan melihat rumah tangga Gail hancur berantakan! Kamu juga pasti sangat senang melihat Gail yang akhirnya mendekam di penjara!"


"Ga-Gail di penjara? Ta-tapi kenapa? Akh," tanya Martha dengan terbata-bata. Ia meringis kesakitan karena cengkeraman Sean semakin keras saja. Martha terus mencoba melepaskan wajahnya dari cengkeraman lelaki itu, tetapi tidak bisa.


Sean tertawa sinis. "Jangan sok polos kamu, Martha! Karena mulutmu yang bocor ini, akhirnya Gail mendekam di penjara."


"Ta-tapi dia memang pantas mendapatkannya, Sean! Dia sudah menghancurkan harapanku. Menghancurkan semua mimpi-mimpiku," ucap Martha sambil menahan sakit.


"Ada satu hal yang harus kamu ketahui, Martha! Kecelakaan itu terjadi karena kamu. Seandainya pada malam itu kamu tidak pernah mengancam Gail, mungkin kecelakaan itu tidak akan pernah terjadi. Mungkin adik Lea masih hidup sampai sekarang. Mungkin anggota tubuh Lea masih lengkap hingga saat ini. Jadi, yang seharusnya dihukum itu bukanlah Gail, tetapi kamu, Martha! Kamu!" ucap Sean dengan penuh penekanan.


Sean melepaskan cengkeramannya dengan sangat kasar hingga tubuh Martha tersungkur ke lantai. Ia meringis sambil memegangi wajahnya yang masih terasa sakit. Wanita itu tidak dapat berkata-kata dan hanya diam sambil memikirkan kata-kata yang dilontarkan oleh Sean barusan.


"Hidupmu tidak akan pernah bahagia, Martha. Sebelum kamu meminta maaf atas semua kesalahan yang sudah kamu lakukan kepada mereka," ucap Sean lagi, sambil menunjuk ke hadapan wajah wanita itu.


Sean segera pergi dari tempat itu dan meninggalkan Martha yang masih meringkuk di lantai.


...***...

__ADS_1


__ADS_2