
"Saya mohon, Pak! Ini adalah kelahiran anak pertama saya. Saya ingin sekali melihat proses kelahirannya. Tolong, izinkan saya untuk pergi ke rumah sakit," ucap Gail dengan lirih.
Entah sudah berapa kali Gail memohon kepada para petugas, tetapi mereka tetap bersikeras tidak mengizinkannya. Hingga akhirnya Gail pun nekat. Ia berlari dengan secepat-cepatnya. Melewati para petugas yang berusaha menangkapnya kembali.
Bahkan ada petugas yang mengancam akan menembaknya, tetapi Gail tetap tidak peduli. Ia terus berlari hingga ke pagar utama. Di sana ada dua petugas yang berjaga. Mereka bersiap menghadang Gail dan akhirnya terjadilah perkelahian sengit antara Gail dan kedua petugas tersebut.
Dengan susah payah, akhirnya Gail berhasil memenangkan perkelahian itu. Kedua petugas jatuh, sementara Gail kembali berlari dengan tubuh dan wajah yang penuh luka lebam akibat pukulan kedua petugas tersebut. Ia terus berlari dan akhirnya berhasil menemukan sebuah mobil angkutan yang kebetulan lewat dan bersedia membawanya ke rumah sakit.
Tidak butuh waktu lama, Gail pun tiba di tempat tujuan. Ia segera menemui resepsionis dan bertanya di mana Lea berada. Setelah mendapatkan informasi dari resepsionis tersebut, ia pun kembali berlari menuju ruang bersalin, di mana Lea masih berjuang antara hidup dan mati di ruangan tersebut.
Baru saja Gail tiba di ruangan, tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi yang memecah keheningan di ruangan tersebut. Buliran bening itu akhirnya lolos dan Gail begitu bahagia mendengarnya. Ya, walaupun ia tidak sempat melihat bagaimana proses kelahiran putra pertamanya itu.
"Ya, Tuhan. Terima kasih," gumamnya sambil berjalan mendekati pintu ruangan tersebut.
Gail ingin mengintip ke dalam ruangan melalui kaca yang ada di pintu. Namun, tiba-tiba pintu tersebut terbuka dan tampaklah seorang perawat yang ingin keluar untuk mengambil sesuatu.
"Sus, itu anak saya 'kan? Boleh saya melihatnya?" ucap Gail dengan mata berkaca-kaca menatap perawat itu.
Perawat itu sempat terdiam sambil memperhatikan penampilan Gail yang acak-acakan serta wajahnya yang dipenuhi oleh luka lebam.
"Ehm, Anda suaminya Nona Azalea?"
"Ya, Sus. Saya suaminya. Bagaimana dia? Bagaimana bayi saya?" tanya Gail dengan begitu antusias.
__ADS_1
Perawat itu pun tersenyum. "Nona Azalea dan bayinya sehat. Anda bisa menemui mereka di dalam," ucap Perawat itu.
"Baik, Sus. Terima kasih," jawab Gail yang tanpa pikir panjang, segera masuk ke dalam ruangan itu.
Lea yang masih tergolek lemah di atas tempat tidur pasca melahirkan, tiba-tiba dikejutkan dengan kehadiran Gail di ruangan itu. Bukan hanya itu, Lea juga dibuat bingung dengan penampilan Gail yang terlihat acak-acakan dan dipenuhi oleh luka lebam.
"Gail?!" Lea mengerutkan alisnya heran.
"Le-Lea ...." Gail tersenyum kemudian segera menghampiri tempat tidur istrinya itu. Ia meraih sebuah kursi lalu duduk tepat di samping Lea.
"Maafkan aku, Lea. Maafkan aku yang tidak bisa menemanimu berjuang melahirkan buah hati kita," ucap Gail kemudian dengan mata berkaca-kaca.
"Apa yang terjadi padamu, Gail?" tanya Lea, sebab terakhir kali ia melihat lelaki itu, kondisinya masih baik-baik saja. Namun, sekarang wajahnya malah dipenuhi oleh luka lebam.
Lea menatap ke dalam mata lelaki itu dan ia melihat kesedihan yang begitu mendalam. Lea mengangkat tangannya kemudian menyentuh sudut bibir Gail yang membiru dan masih mengeluarkan sedikit darah segar.
"Mereka memukulimu?"
Gail tersenyum kecut lalu memegangi tangan Lea yang masih berada di wajahnya. "Aku tidak peduli, walau mereka menembakku sekali pun. Aku akan tetap berlari demi bisa menemui kamu dan buah hati kita," sahut Gail.
Tak terasa buliran bening itu pun akhirnya lolos dari sudut mata Lea. Di balik rasa bencinya yang begitu mendalam, tak bisa dipungkiri bahwa masih ada rasa cinta yang selalu ia simpan untuk lelaki itu.
Tepat di saat itu, Perawat yang tadi berbicara bersama Gail, datang menghampiri lalu menyampaikan sebuah berita yang cukup mengejutkan.
__ADS_1
"Tuan, di luar ada petugas dan mereka ingin membawa Anda kembali," ucap Perawat itu dengan sangat hati-hati.
Gail menelan salivanya dengan susah payah. Ia tidak percaya bahwa pertemuannya bersama Lea akan sesingkat itu. Ia kembali tersenyum lalu melabuhkan ciuman hangatnya di punggung tangan Lea yang masih berada di dalam genggamannya.
"Sekarang sudah saatnya aku untuk kembali, Lea. Kumohon, tunggulah aku hingga aku menyelesaikan hukumanku ini. Aku berjanji, setelah itu aku akan menyerahkan seluruh sisa hidupku hanya untuk kalian," ucapnya dengan bibir bergetar.
"Gail ...." Lea pun tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
Gail bangkit dari posisinya kemudian melabuhkan ciuman hangat di puncak kepala Lea. "Aku mencintaimu, Lea. Dan akan selalu seperti itu hingga ajal menjemputku," ucapnya lagi.
"Gail!" panggil Lea dengan bibir yang bergetar ketika Gail ingin beranjak dari posisinya.
Namun, Gail tetap beranjak. Ia pergi meninggalkan Lea lalu menghampiri tempat tidur buah hatinya. Perlahan Gail mengangkat tubuh mungil itu lalu menciumi hampir seluruh wajah mungil yang masih kemerahan.
Tak terasa Gail pun terisak. kedua pundaknya yang lebar itu bergetar dengan hebat. Ia menyesal karena tidak bisa ikut merawat dan menyaksikan pertumbuhan bayinya nanti. Belum selesai ia melepaskan rindu, para petugas kembali mendesaknya agar segera keluar.
Gail meletakkan kembali bayi mungilnya ke dalam keranjang bayi lalu menatap Lea yang terbaring di atas tempat tidur, sembari menyeka air matanya.
"Selamat tinggal, Lea."
"Gail!" panggil Lea dengan lirih.
Gail berbalik lalu segera melangkah keluar dan menemui para petugas yang sudah menunggu kedatangannya. Para petugas itu lalu membawanya dan mengembalikan Gail ke sel tahanan.
__ADS_1
... ***...