
Semalaman Gail tidak dapat memejamkan matanya. Ia terus dihantui rasa bersalah yang amat sangat. Kejadian di malam naas itu seakan kembali terlintas di pikirannya dengan sangat jelas.
"Semua yang terjadi pada Lea adalah akibat perbuatanku. Sekarang aku harus bertanggung jawab dan memberikan kebahagiaan yang sudah seharusnya didapatkan oleh Lea," ucap Gail dengan mantap sambil menatap bayangannya di cermin.
Ia berjalan menuju kamar mandi lalu masuk ke dalam ruangan itu. Gail menghampiri bathub dan setelah melepaskan seluruh pakaiannya, ia pun berendam di sana untuk menenangkan pikirannya yang sedang kalut.
Setelah beberapa menit kemudian, lelaki itu keluar dari dalam kamar mandi dengan kondisi yang terlihat jauh lebih segar. Gail lalu menghampiri ruang ganti pakaian, yang masih terletak di dalam kamarnya nan luas itu, kemudian berdiri di antara banyaknya jejeran setelan jas mahal miliknya.
Gail terdiam sejenak di sana dengan wajah yang terlihat bingung. Ini pertama kalinya ia merasa kebingungan memilih pakaian yang akan ia kenakan. Tangannya dengan lincah memilah-milah jejeran setelan mahal itu, tetapi sepertinya tak satu pun dari berpuluh-puluh setelan jas itu yang berhasil membuat dirinya tertarik.
"Aku harus memilih yang mana? Kenapa tiba-tiba mereka terlihat jelek semua?" gumam Gail dengan wajah panik.
Ia meraih satu persatu setelan jas mahalnya itu, kemudian mengenakannya. Seperti biasa, ia terlihat tampan dengan setelan miliknya itu. Namun, entah mengapa menurut Gail masih ada yang kurang pada penampilannya saat itu.
Hampir satu jam penuh ia berada di ruangan itu sambil bergonta-ganti pakaian, hingga akhirnya Gail berhasil mendapatkan satu setel pakaian yang menurutnya paling bagus dan paling cocok untuk ia kenakan.
"Hmmm, lumayan. Aku suka ini," gumamnya sambil tersenyum kemudian keluar dari ruangan itu dengan wajah semringah.
Setelah merapikan rambut hitam pekatnya dan menyemprotkan parfum termahal milknya, Gail pun bersiap untuk berangkat. Dengan tergesa-gesa, ia berjalan menelusuri anak tangga hingga langkahnya terhenti ketika kepala pelayan di rumah itu memanggil namanya.
"Tuan Gail, sarapan Anda sudah siap," ucap lelaki paruh baya itu sambil membungkuk hormat.
Gail berbalik kemudian menatap lelaki paruh baya itu. "Sepertinya hari ini aku akan sarapan di luar," jawab Gail yang kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
Lelaki paruh baya itu mengerutkan kedua alisnya. Ia bingung melihat Gail yang hari ini tampak begitu berbeda dari hari-hari biasanya.
"Ada apa dengan Tuan Gail?"
Sementara itu, Gail terus berjalan ke depan dan ternyata Nick sudah menunggu kedatangannya. Lelaki itu bergegas membuka pintu mobil kemudian mempersilakan Gail untuk masuk ke dalam mobilnya itu.
"Mari, Tuan Gail."
"Selamat pagi. Nick, sepertinya hari ini kamu harus berangkat sendirian. Aku akan datang terlambat, sebaiknya kamu duluan saja," sahut Gail.
Nick mengangguk pelan sambil menutup kembali pintu mobil yang tadinya terbuka lebar. "Baiklah kalau begitu, Tuan."
__ADS_1
"Ya." Gail kembali melanjutkan langkahnya menuju garasi mobil. Di mana koleksi mobil serta motor kesayangannya berada. Setelah Gail memasuki ruangan yang berukuran sangat luas itu, Nick memilih untuk melanjutkan tugasnya.
Di dalam ruangan itu.
Abigail menelusuri ruangan itu sambil melihat-lihat jejeran koleksi mobil mewahnya. Setelah memutuskan mobil mana yang akan ia bawa, Gail pun segera meraih sebuah kuncinya yang tersimpan di dalam lemari khusus.
Setelah mendapatkan kunci mobil tersebut, ia pun bergegas menghampiri mobil sport berwarna merah yang sudah ia pilih sebelumnya. Namun, sebelum memasuki mobil mewah itu, Gail sempat melirik salah satu mobil miliknya yang berada di pojok ruangan.
Mobil yang menjadi saksi bisu pada kejadian naas di malam itu. Mobil berwarna hitam itu kini terbungkus cover mobil. Gail sengaja menutup benda tersebut agar matanya tidak selalu tertuju pada benda kesayangannya itu.
Kini Gail melaju, meninggalkan kediaman mewahnya. Mobil yang hanya bermuatan dua orang itu melaju memecah keramaian kota dan sempat berhenti di depan sebuah toko bunga.
Gail memilih satu bucket bunga mawar kemudian membelinya. Ia membawa bunga mawar itu bersamanya kemudian kembali melaju menuju suatu tempat.
Setelah beberapa saat kemudian, Gail tiba di tempat yang di tuju. Ia menghentikan mobilnya kemudian berdiri di depan pagar sambil melihat-lihat ke dalam rumah. Rumah sederhana milik Lea yang berdiri kokoh di hadapannya.
Sesosok lelaki paruh baya berlari kecil ke arah pagar sambil tersenyum. Ia kemudian bertanya kepada Gail yang masih mematung di posisinya sambil memegang buket bunga mawar.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Pak Rahman dengan senyuman yang selalu mengambang di wajahnya.
"Ah, non Lea, ya? Non Lea tidak ada di rumah, Tuan. Nona sedang bekerja," tutur Pak Rahman.
"Bekerja?" Gail menautkan kedua alisnya heran. "Oh ya, boleh saya minta alamatnya?"
"Oh, tentu saja, Tuan."
Pak Rahman memberikan alamat butik Lea kepada Gail dan setelah mendapatkan alamatnya, Gail pun bergegas pergi.
"Siapa, Pak?" tanya Bi Enah kepada Pak Rahman yang masih terdiam di tempatnya sambil menatap kepergian Abigail.
Pak Rahman tersentak kaget. Ia lalu berbalik kemudian tersenyum menatap sang istri yang berjalan ke arahnya.
"Oh itu, Bu. Tuan yang dulu berkunjung ke sini."
Bi Enah berdiri di samping Pak Rahman. "Menurut Ibu, Tuan itu sepertinya menyukai non Lea deh, Pak." Bi Enah berpendapat.
__ADS_1
Pak Rahman melirik istrinya itu sambil tersenyum kecil. "Sepemikiran."
"Nah, 'kan!" Bi Enah begitu antusias. "Semoga saja itu benar dan semoga saja mereka berjodoh. Kasihan non Lea, selama ini ia sudah cukup menderita," lanjut Bi Enah.
"Iya, Ibu benar." Pak Rahman menimpali.
Sementara itu, mobil yang dikemudikan oleh Gail terus melaju menuju alamat yang diberikan oleh Pak Rahman. Hingga setelah beberapa menit kemudian,
"Siapa itu? Keren banget mobilnya," gumam Sri tiba-tiba sambil mengintip dari balik kaca. Ia bahkan sampai lupa dengan pekerjaannya. Melihat Sri yang tiba-tiba terdiam di depan kaca sambil melihat ke arah luar, Lea pun berinisiatif untuk menegur karyawannya itu.
"Ehem!"
Lea berdeham dengan cukup keras. Namun, Sri tidak juga beranjak dari tempatnya. Ia malah semakin fokus dengan apa yang dilihatnya sekarang. Karena kesal, akhirnya Lea menghampiri wanita itu kemudian menepuk punggungnya dengan perlahan.
"Sri!" panggil Lea.
Sri tersentak kaget. Ia mengelus dadanya dan dengan mata melotot menatap Lea. "Ish, Mbak bikin aku kaget saja!"
"Memangnya apa sih yang kamu lihat di sana? Asik banget, sampai-sampai lupa sama pekerjaan," ucap Lea.
"Itu loh, Mbak. Ada mobil keren yang mampir ke sini," sahut Sri dengan begitu antusias.
"Hah, masa sih?" Lea ikut mengintip dari balik kaca dan ternyata benar apa yang dikatakan oleh Sri barusan. Sebuah mobil sport berwarna merah tengah terparkir di halaman depan butik sederhana miliknya.
"Iya, bener. Kira-kira siapa, ya? Apa mungkin itu nona Martha yang kemarin meminta agar gaun pengantinnya dikerjakan kembali," ucap Lea sambil menautkan kedua alisnya.
"Wah, jika benar itu dia, maka Mbak harus siap-siap menghadapinya," sahut Sri lagi.
Mereka masih mengintip hingga akhirnya sesosok tampan itu pun keluar dari dalam mobil tersebut. Lea membulatkan matanya dengan sempurna setelah tahu siapa yang kini berjalan ke arah butiknya dengan membawa sebuket bunga.
"Ya, Tuhan! Apa yang diinginkan oleh lelaki itu?!" pekik Lea dengan mata membulat sempurna.
Namun, beda halnya dengan Sri. Wanita muda itu malah terlihat begitu antusias melihat sosok tampan itu. "Wah, gila! Ganteng banget," pekiknya dengan mata membulat sempurna.
\*\*\*
__ADS_1