
Satu minggu sebelum hari pernikahan dilangsungkan.
Lea duduk di sofa sambil memilah-milah kartu undangan pernikahannya. Ia meraih satu kemudian menyerahkannya kepada Sri.
"Sri, ini punyamu. Jangan lupa ajak kekasihmu sekalian," ucap Lea sambil tersenyum menatap anak buahnya itu.
Sri meraih kartu undangan itu kemudian membukanya. "Hmm, aku masih jomblo, Mbak. Bagaimana ini?" celetuknya dengan wajah menekuk.
Lea terkekeh. "Ya, sudah. Kalau begitu ajak saja mantan kekasihmu yang dari kampung," sahut Lea.
Sri ikut terkekeh. "Ish, Mbak ini. Ah, lebih baik aku datang sendirian aja. Siapa tahu dapat kenalan holang kaya."
"Ya-ya-ya, boleh juga. Oh ya, Sri. Hari ini kita akan pulang lebih awal soalnya Gail akan menjemputku malam ini," ucap Lea sambil merapikan kartu undangan yang tadinya berserak di atas sofa.
"Woke, Boss! Dengan senang hati," sahut Sri dengan wajah semringah.
"Ehmm, Mbak! Mbak Lea serius ingin mengenakan gaun ini di pernikahan kalian nanti?" tanya Sri kemudian sambil menunjuk gaun pengantin cantik yang dulu pernah ditolak oleh Martha.
"Kalau aku inginnya sih seperti itu. Itu pun kalau Gail mengizinkan. Takutnya dia tidak setuju karena gaun ini dulunya milik Nona Martha."
"Oh iya, ya. Benar juga. Padahal menurut saya gaun ini sangat cantik loh, Mbak. Pokoknya cocok mah digunakan sama Mbak Lea yang cantik," ucap Sri.
Lea tersenyum. "Ah, kamu ini bisa aja, Sri."
Setelah beberapa jam kemudian, Lea pun menyudahi pekerjaan mereka. Ia segera mengajak Sri keluar dari bangunan sederhana itu kemudian berdiri di depan, menunggu Pak Rahman menjemputnya.
"Mbak, aku duluan, ya!" Sri melambaikan tangannya sembari melangkah pergi.
"Ya. Hati-hati di jalan ya, Sri! Jangan lupa, besok kerja lagi!" ucap Lea sambil tersenyum lebar.
"Ya, Mbak!" Sri tersenyum kemudian berbalik lagi dan fokus berjalan menuju kontrakannya.
Sepeninggal Sri.
Ponsel milik Lea tiba-tiba berdering. Ia melirik benda pipih itu dan tampak nama Pak Rahman terpampang di sana. Lea pun segera menerima panggilan dari sopir pribadinya itu.
__ADS_1
"Ya, Pak?"
"Non, tiba-tiba mobilnya mogok. Bapak tidak bisa menjemput Non Lea tepat waktu. Ini Bapak masih di bengkel dan mereka masih memeriksa kerusakannya," tutur Pak Rahman dari seberang telepon.
Lea melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Oh, ya sudah kalau begitu, Pak. Aku pesan taksi online saja," sahut Lea.
"Iya, Non. Maafin Bapak," ucap Pak Rahman yang merasa bersalah.
"Iya, tidak apa-apa, Pak."
Setelah memutuskan panggilan dari Pak Rahman, Lea pun mulai membuka aplikasi taksi online yang bisa ia gunakan untuk memesan taksi atau ojek yang bisa mengantarkannya kembali ke rumah.
Namun, entah kenapa aplikasi itu tidak bisa digunakan. Beberapa kali ia mencoba meng-order taksi online tersebut, selalu saja gagal dan gagal. Lea pun kebingungan, sementara dia ingin segera pulang karena harus bersiap-siap sebelum Gail menjemputnya.
"Ya ampun, bagaimana ini? Apa aku harus mencari tukang ojek pengkolan buat nganterin aku pulang?" gumam Lea sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
Karena tak kunjung berhasil menggunakan aplikasi itu, Lea pun akhirnya memutuskan untuk mencari tempat mangkal tukang ojek pengkolan. Ia melangkahkan kakinya menelusuri jalan sambil melihat-lihat sekeliling.
"Lea?"
"Apa kabar, Lea? Sudah lama ya, kita tidak bertemu," ucap wanita berperut buncit itu.
Dia adalah Amanda. Sahabat yang menjadi duri di dalam daging. Sahabat yang sudah menikamnya dari belakang. Sahabat yang sudah menghancurkan masa depannya.
Lea memperhatikan penampilan Amanda saat itu. Terlihat banyak sekali perubahan. Terutama di bagian bentuk tubuh. Tubuhnya yang dulu ideal, kini tampak lebih berisi. Terlebih di bagian perut yang sudah membuncit.
"Aku baik," sahut Lea sambil tersenyum miring.
"Syukurlah kalau begitu. Oh ya, kamu mau ke mana, Lea? Tumben jalan kaki," celetuk Amanda lagi sambil sesekali mengelus perut buncitnya.
"Mobilku mogok dan Pak Rahman membawanya ke bengkel," jawab Lea dengan malas.
Sebenarnya Lea sangat malas berbincang dengan mantan sahabatnya itu. Bagaimana tidak, Lea begitu muak melihat tingkah Amanda yang seolah semuanya baik-baik saja dan seakan tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Amanda seolah lupa bahwa ada hati yang terluka di balik kebahagiaannya sekarang ini.
"Oh ya, Amanda ...." Lea membuka tasnya kemudian meraih sesuatu dari dalam sana. Sebuah kartu undangan tanpa nama miliknya yang kemudian ia serahkan kepada mantan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Ini kartu undangan pernikahanku yang akan dilaksanakan pada hari minggu nanti. Jika berkenan, datanglah. Jangan lupa ajak serta suamimu," ucap Lea sambil menyunggingkan sebuah senyuman.
"Undangan pernikahan?"
Amanda tersentak kaget setelah mendengar penuturan dari Lea barusan. Ia tidak percaya bahwa Lea akan secepat itu mendapatkan sosok pengganti Rangga.
Amanda membaca isi undangan pernikahan itu dengan seksama. Tiba-tiba kedua netranya membola setelah tahu siapa yang menjadi calon suami Lea.
"Abigail Sebastian? Loh, bukannya lelaki ini—" Amanda terdiam ketika Lea tiba-tiba menyela ucapannya.
"Ya, dia adalah mantan tunangan nona Martha. Wanita yang dulu pernah meng-order gaun pengantin kepadaku," sela Lea dengan wajah datar.
"Ya. Tapi bagaimana bisa?" Amanda masih tidak dapat mempercayai bahwa calon suami Lea bukanlah lelaki sembarangan.
"Tentu saja bisa, Manda. Tidak ada yang tidak mungkin, jika Tuhan sudah berkehendak,"jawab Lea mantap.
"Ehm, Amanda sayang, ini sop buahmu!"
Tiba-tiba Rangga datang dan menghampiri sang istri. Rangga yang tadinya ingin menyerahkan sop buah pesanan Amanda, mendadak terdiam setelah sadar bahwa Lea ada di sana. Ia terpaku dengan tatapan yang terus tertuju pada wanita itu.
"Baiklah, aku permisi dulu dan jangan lupa datang ke pesta pernikahanku." Lea tersenyum kemudian mengangguk pelan. Ia lalu kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan pasangan itu.
"Apa maksud Lea? Pernikahan siapa?" tanya Rangga dengan alis mengerut.
"Hhmm."
Amanda bergumam seraya menyerahkan sebuah kartu undangan tanpa nama yang tadi diberikan oleh Lea tersebut ke tangan Rangga. Rangga memperhatikan kartu undangan itu kemudian membacanya.
"E-ehhmm, bukankah ini boss pemilik perusahaan tempat aku bekerja itu, Amanda?" pekik Rangga dengan mata membulat.
"Apa? Boss-mu?" pekik Amanda yang begitu terkejut setelah tahu bahwa Abigail adalah boss pemilik perusahaan, di mana Rangga bekerja selama ini.
"Ya, Tuan Abigail adalah pewaris tunggal Victoria Group," jelas Rangga, yang masih tidak percaya bahwa Lea akan menikah dengan sosok tampan dan mapan itu.
"Hhh, beruntung sekali nasib Lea! Melepaskan recehan, lalu mendapatkan milyaran," gumam Amanda dalam hati.
__ADS_1
\*\*\*