Gadis Mafia Dan Dokter Jutek

Gadis Mafia Dan Dokter Jutek
RENCANA LICIK


__ADS_3

Happy reading gaes 🤗🥰.


***


Hari yang cerah. Semua penghuni mansion sedang sibuk dengan tugas masing-masing. Termasuk Moli dan juga Diwan.


Mereka berdua di beri tugas oleh Tiana , memeriksa setumpuk rekaman cctv dan data perusahaan.


Azka bertugas sebagai mata-mata di Blue Sky. Irsyad mengawal Alend. Umar mengurus perusahaan di bantu oleh Juan.


Sedang Tiana pergi ke sekte bersama Melisa dan Septi.


Kedua gadis itu sudah cukup membantu dan melindunginya.


***


" Hei..., bukankah kita harus memeriksa dari awal kalau begitu ?" protes Moli , karena Diwan salah menyusun draf.


" Hais... , kenapa sulit sekali sih tugas nya !!" keluh Diwan pusing. Sudah ke tiga kalinya ia menyusun draf dari awal.


" Sudah kubilang urutkan dari abjad jangan pakai angka. Begini lah kalau SD tidak lulus !" ujar Moli mencibir Diwan.


" Hei... ,jangan merundung ku.. Bukankah semua dimata ketua sama. Jangan membandingkan status sosial ataupun pendidikan. Kau saja berpendidikan tapi sifatmu buruk!" cibir Diwan balik.


" Apa...? Kau...!!"


" Wle... , bla bla bla..., sudah jangan banyak bicara. Kita ulang sekali lagi... Kali ini tidak akan salah !" ujar Diwan percaya diri.


" Huh... kalau bukan karena ketua yang minta, aku juga malas mengerjakan denganmu !" oceh Moli kesal. Namun di dalam hatinya berkata lain.


***


Di sebuah desa di kaki gunung.


Tiana berjalan menapaki setapak kecil, jalan yang sempit dan mejulang tajam. Lereng bukit ini menuju tempat aula utama di sekte tersembunyi.


Disana juga Abah Dahlan beristirahat. Katanya sekarang kondisinya sudah tidak bisa di harapkan.


" Nona ! Hari ini Renata sudah memanggil semua tetua sekte untuk menyambut Anda ketua yang baru!" lapor Melisa pada sang ketua.


" Em... Bagaimana dengan yang lain, ?" tanya Tiana .


" Seluruh murid juga menerima keputusan Abah !"


" Hah... aku tidak berharap mereka semua menyambutku , yang aku inginkan mereka semua mau bekerjasama mematuhi semua aturanku!" kata Tiana dingin.


" Ya ketua !" jawab Melisa .


" Ana, bagaimana dengan si tua Herman ? Bukankah dia yang menolak keras keputusan Abah ?" tanya Septi .


" Em... tapi Mondi sudah membereskan nya.. sekarang dia hanya bisa mengangguk dan menggeleng saja ! bukan begitu Melisa ?" ujar Tiana dengan senyuman devilnya.


" Really?? Ah senangnya , aku harus menyapanya dahulu !" kata Septi antusias.

__ADS_1


Melisa hanya tersenyum penuh arti.


***


Di sebuah ruangan besar .


" Ah... kenapa aku harus berakhir dengan pria kaku ini disini!" keluh Juan pada sekertaris nya .


Yang dimaksud pria kaku adalah Umar .


Sang sekertaris hanya tersenyum , dia menggelengkan kepala tanda tidak tahu.


" Hah... seharusnya Nona Tiana mengajakku pergi ke gunung dari pada bersama pria ini. Membosankan!"


" Niat pulang mau liburan, malah kerja-kerja lagi. Huh sialnya aku!" Omel Juan yang langsung membuat Umar angkat bicara.


" Aku akan bilang pada ketua jika kami tidak mau bekerja !" ujar Umar dingin.


" Ya!! Jangan berani mengadukan aku , " teriak Juan histeris.


Umar hanya menatap tajam ke arah Juan. Dan masih setia mengerjakan tugasnya.


Drtt drtt...


Ponsel Umar bergetar.


Panggilan dari Azka rupanya.


Lalu ia menggeser tombol hijau, suara Azka terdengar di seberang , " Kenari masuk ke pasar ! Ganti..."


Lalu sambungan terputus.


" Ada apa ?" tanya Juan serius.


" Target sudah masuk perangkap. Kita mulai sekarang !"


" Ya.." jawab Juan datar.


Sudah saatnya mereka bekerja di lapangan . Bersenang-senang juga perlu rencana !.


***


Di sebuah Villa .


Rombongan Tiana sudah berada di aula. Para tetua juga serempak menyambut dengan senyum lebar.


Tidak ada yang berani protes maupun kurang ajar .


" Setelah bertemu tatap , aku merasa kalian semua tidak puas dengan rencanaku !" ujar Tiana dengan datar.


" Maaf ketua kami tidak berani!" jawab Santo dan Yosep serempak. Yang lain ??


Mereka semua diam. Sudah jelas kan siapa yang mendukung Tiana ?!.

__ADS_1


" Paman-paman... Aku tahu tidak sepantasnya gadis kecil sepertiku memimpin sebuah sekte, namun klan Zara sudah tidak ada penerus. Abah Dahlan juga sudah sepuh, benda ini memilihku menjadi pemiliknya, apakah aku harus melepaskan sedangkan dari sekian ratus orang disini tidak ada yang mampu menjinakkannya!" kata Tiana dingin. Ada kilatan amarah dimatanya yang jernih.


" Nona... Anda terlalu memuji tinggi diri Anda! " ujar pria berjenggot lebat.


Ia adalah Baron ... anak angkat Abah Dahlan. Semua tetua menghormati nya karena kekuatan batin yang jauh lebih tinggi .


Dan yang lain juga setuju dengan ucapan Baron, kecuali Santo dan Yosep.


Ketidakpuasan pada Tiana terlihat jelas di mata Baron. Siapapun yang melihat situasi saat ini berpikir bahwa Baron menginginkan tahta itu.


" Bagaimana jika kita menentukan siapa yang pantas memimpin sekte dengan adu kekuatan, jika ketua Baron kalah maka ia harus menerima keputusan Abah, namun jika Nona Tiana yang kalah maka harus menyerahkan liontin zauri pada ketua Baron, dan harus meninggalkan sekte untuk selama-lamanya! " usul Tono menengahi perseteruan ini.


" Hahaha... kalian sungguh lucu, apa bisa ketua di tentukan dengan kekuatan yang tertinggi saja? Sungguh konyol!" kata Renata kesal.


" Kamu! Diamlah.." kata Tono marah.


" Apa Anda pikir kami semua bodoh? Hanya mengandalkan ilmu saja tidak cukup untuk menjadi pemimpin sekte. Anda harus diakui oleh liontin zauri, sebagai senjata dan penanda jika Anda keturunan Dewi semesta.!" kata Renata dingin.


Semua tetua juga setuju dengan spekulasi itu, jika kamu kuat namun tidak diakui oleh senjata surga itu, lalu apa gunanya kamu menjadi pemimpin, jika tidak bisa membuat seluruh prajurit siap tempur mendengar perintah mu?! Hanya yang diakui oleh benda itu, baru bisa memerintahkan puluhan ratus prajurit surga!.


" Sampai disini kurasa Anda semua paham!" kata Melisa memecah keheningan.


" Ya... "


" Benar !"


" Itu masuk akal.."


" Ya ,sudah seharusnya pemimpin sekte adalah seorang yang kuat dan juga bisa membawa kita semua ke puncak tertinggi! Jika hanya dengan kekuatan tanpa kecerdasan dan juga kekuasaan, maka apa artinya ?" ujar Cipto dengan nada pasrah.


Cipto adalah orang yang paling di hormati setelah Abah Dahlan di sekte ini.


Selain orangnya adil, dia juga baik. Tidak pernah sekalipun berpihak pada yang berat.


Semua tetua jadi diam menunduk.


" Kalau begitu, apa masih perlu pertandingan nya ?" tanya Renata .


" Perlu... " jawab Tono masih ngeyel.


" Jika kita tidak tahu sampai dimana kekuatan gadis ini, bagaimana kami tenang menyerahkan kehormatan sekte pada nya ?" tanya Tono ngotot.


" Nona ..- ?"


" Aku tidak bertanggung jawab jika sesuatu yang buruk terjadi !" kata Tiana tenang.


" Baik...!" jawab Tono dengan seringai licik. Ia melihat ke arah Baron dengan kilatan rencana jahat .


Baron yang melihat itu, dengan senang hati memgganggukkan kepala nya.


***


Hai gaes jangan lupa like kalau sudah baca, komen dan Vote yaa...

__ADS_1


klik favorit ❤️, biar kalian gak ketinggalan update terbaru.


terimakasih..


__ADS_2