
Happy reading all 🥰🤗
...****************...
Mama Ratih dan Lya saling berebut obrolan dengan Tiana. Membuat Tiana dibuat geleng-geleng kepala pasrah.
Memang kelakuan mama dan adiknya Alend yang selalu diluar prediksi manusia.
" Mama bawain sesuatu buat kamu, coba buka suka gak ?" Mama Ratih meletakkan beberapa paper bag yang dibawanya tadi ke meja di depan mereka duduk Sekarang.
" Apa ini ma ?" tanya Tiana antusias.
" Coba buka kakak ipar suka gak ?" tanya Lya sok misterius.
" Apa sih kok Tiana jadi kepo !" jawab Tiana dengan raut wajah dengan penasaran.
" Ini Lya loh yang pilihin !" ujar Lya bangga dengan pilihannya. Huh pilihan Lya itu paling bagus modis dan juga gak norak.
Setelah membuka paper bag, ia pun terkejut ternyata beberapa paper bag yang katanya cuma beberapa padahal banyak banget ada puluhan paper bag dan isinya juga semuanya baju dengan model daster namun berbagai motif dan juga model , dari size L sampe size XL juga ada . Dari warna gelap dan juga cerah. Duh emang ini mau buka butik ya kok banyak banget !
" Mama .. kenapa banyak banget, Tiana aja perutnya baru Segede ini ?!" jawaban yang langsung bikin mama sama Lya jadi fokus ke perut Tiana.
"???" mama dan Lya .
Melihat reaksi mama dan adiknya yang hanya diam dan melihat perut Tiana. Membuat Tiana jadi tidak enak , ia langsung mengucapkan terima kasih.
" Makasih mama , Lya kalian perhatian banget sih... orang mas Alend di ajak ke mall ogah-ogahan, jadi Tiana belum beli baju hamil !?" ujar Tiana dengan wajah yang terlihat memang kurang kasih sayang dari suami. Itu menurut mereka (Lya dan mama Ratih).
"???" Tiana .
" Kasihan tuh kan ma ,kak Al itu emang gak pengertian deh Ama kakak ipar.. huh lihat aja nanti kalau ketemu biar Lya bejek-bejek tuh !!" tukas Lya emosi .
" Iya itu anak gimana sih !? " kesal mama Ratih. Dasar bikin kecewa aja itu anak . Batin mama Ratih tidak enak dengan keluhan sang menantu.
Sekali lagi Tiana dibuat bingung dengan respon kedua anak dan mama itu "???!".
...****************...
Sedangkan di hospital Pradipta, Al dan para dewan direksi sudah selesai dengan rapatnya.
__ADS_1
Di ruangan Dirut.
' Hachi .. Hachi ...'
" Kenapa ?" tanya dokter Rian selalu wakil presiden Direksi sekaligus sahabat Alend .
" Gak tahu kayaknya ada yang mengumpat kesal padaku " ujar Alend dingin.
" Haha mungkin wanita yang gagal memikat pria sukses seperti mu !" tawa meledak dari dokter Rian.
" Huh.. " melirik kesal ke arah dokter Rian.
" Tertawa saja lebih keras, sepertinya di rumah sakit Turki sedang kekurangan anggota medis , bagaimana jika ku usulkan namamu ke sana . Lumayan bisa bantu para korban gempa !" ucap Alend dengan santai , tapi kata-katanya terdengar mengerikan di pendengaran dokter Rian.
" Aku sibuk " jawaban dari dokter Rian sekaligus mengakhiri tawa dari dirinya.
" Tidak masalah pekerjaan disini bisa ku alihkan ke dokter Rei " jawab Alend tak kalah sengit.
" Ayolah, kenapa aku yang jadi kena sial sih? Logikanya kamu yang diunpat orang , kenapa aku yang tanggung jawab?" keluh dokter Rian dengan wajah memelasnya.
" Huh banyak bacot !" tukas Al cuek.
' Salah terus ' batin dokter Rian mengeluh.
" Oh ya ngomong-ngomong, ini data yang kamu mau !" sambil meletakkan amplop putih tebal ke meja dokter Alend.
" Lengkap ?" tanya Alend pada Rian.
" Sangat lengkap, terimakasih pada orang yang kamu suruh buat bantuin aku operasi!!" kata Rian dengan menarik turunkan kedua alisnya genit secara bergantian.
" Biayanya 1 M " jawab Alend santai.
" Hah ??" Rian menatap kesal pada sahabatnya itu. Gila dia yang butuh , aku yang bayar .
" Enak saja, itu urusanmu. Lain kali aku tidak mau membantu kalau aku yang rugi bandar !" keluh Rian sambil berjalan keluar ruangan.
Sebelum menutup pintu ia menambahkan " Cepat pulang, istrimu pasti sangat senang dengan kabar itu !" Lalu menutup pintu dan kembali ke ruangannya sendiri.
Alend yang mendengar kata-kata dari Rian pun hanya tersenyum simpul.
__ADS_1
...****************...
Kembali ke mansion Tiana.
Setelah berkutat dengan mama dan juga adiknya, Tiana pun membereskan beberapa potongan pakaian yang mereka belikan dan menatanya dengan rapi .
Sedangkan mama Ratih sudah istirahat di kamar tamu yang sudah disediakan untuk anggota keluarga yang akan menginap di mansion ini.
Sedang si Lya , dia kembali ke apartemen nya. Alasannya jelas karena gak enak sama Tiwi karena sudah menunggu lama sendirian. Alhasil dia pulang sore tadi setelah puas ngobrol dengan kakak ipar nya.
" Aku harus bilang ke Azka , kalau kemungkinan aku harus mengundur waktu keberangkatan ke Kenya , soalnya mama pasti gak mgebolehin aku pergi dengan keadaan hamil muda , huh kenapa gak kepikiran sampai sana sih ??" Tiana lupa kalau ia akan pergi ke Kenya malam ini, dan sekarang dirumah sedang ada mama mertua nya. Gimana ngibulin nya , gak enak juga kan .
" Huff " Lelahnya. Setelah mengemasi barang yang mau di bawa ke Kenya , Tiana juga harus mengemasi baju-baju dari mama dan adiknya . Capek tapi senang, mama dan adiknya ini sangat perhatian sekali. Tanpa di minta mereka saling berebut untuk memberikan yang terbaik untuk Tiana.
Rasa ini belum pernah ia rasakan seumur hidup ini. Kasih sayang dari mama dan juga saudara. Sangat menyenangkan hati .
Tiana lalu bergegas membersihkan diri karena waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Dia masuk ke kamar mandi dan mengisi betup dengan air hangat. Tak lupa sabun beraoma lavender kesukaan nya.
Setelah betup penuh ia melepaskan seluruh baju yang melekat pada tubuhnya. " Hum rasanya menyegarkan !" guamm Tiana rolex.
Dengan tenang dan nyaman karena aroma terapi dari sabun, Tiana memejamkan matanya . Menikmati kedamaian yang tak tahu sampai kapan.
...****************...
Di rumah sakit Pradipta.
Reigara sedang mengemasi beberapa data pasien. Ia sedang bersiap untuk pulang karena jam praktek nya sudah berakhir setengah jam yang lalu. Karena banyak yang bertanya tentang kondisi pasien jadi dokter Rei menyempatkan dirinya menjelaskan kebeberapa keluarga pasien tentang kondisi sang pasien.
Setelah selesai ia keluar dari ruangannya dan tak sengaja bertatap pandang dengan dokter Rian yang juga baru keluar dari ruangannya.
" Mau pulang ?" tanya dokter Rian ramah.
" Iya , dokter sendiri ?" tanya Reigara balik.
" Saya mau ke kantin nih mau ngopi nanti soalnya mau begadang gantiin pak Dirut " jawab Rian sekenanya.
" Oh kalau begitu saya duluan !" ujar Rei dengan sopan. Dan meninggalkan Rian . Yang langsung di angguki kepala oleh Rian.
Setelah sosok dokter Rei tak terlihat lagi, Rian pun tidak lagi melihat dengan tatapan menyelidik. Dia melenggang ke kantin dan tak mau ambil pusing dengan hasil penelusuran nya.
__ADS_1
BERSAMBUNG....