GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"

GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"
PENDERITAAN


__ADS_3

Drrrttt


Pintu di buka oleh Eri, tampak seorang kakek-kakek tinggi nan bungkuk. Dia tersenyum melihat kami datang, dia berjalan membukakan pintu di sana. Dengan arahan ayunan tangan, kakek itu mengisyaratkan kami untuk masuk. Aku mengangguk lalu tersenyum mengikuti langkah Eri di depanku.


Pintu ini tidak menunjukkan ruang selanjutnya namun sebuah tangga menuju bawah sana. Kami turun dari tangga satu persatu hingga menemukan sebuah lorong gelap dengan pencahayaan obor api.


“Putri?” Suara berasal dari belakang membuatku terkejut. Terlihat seorang wanita paruh baya yang tinggi, dia tersenyum sembari membungkuk ke arahku. Aku tersenyum kepadanya sembari membungkuk pula, agak tidak sopan jika orang tua membungkuk seperti itu kepadaku yang masih muda. “Mari ikuti saya.”


Aku dan Eri berjalan mengikuti ke sebuah ruangan luas, di batasi tirai tipis. Banyak orang tua dan anak-anak di dalam sana, sebagian dari mereka kurus kering. Sejahat inikah pemerintah sektor 1 hingga membuat penduduknya kelaparan hingga kurus bersisa tulang.


Aku dan Eri berjalan melihat satu persatu tirai tipis ini. Ada yang berbatuk-batuk, ada yang menangis di sebelah orang yang sedang sakit, anak-anak yang kekurangan gizi. Hatiku sangat terpanggil untuk membantu mereka, mereka sangat menderita dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk melawan pemerintahan.


“Mereka adalah orang-orang yang di buang oleh prajurit di hutan, Ian yang telah membawa mereka ke sini.” Wanita paruh baya di depanku berhenti dan menyuruhku duduk di sebuah batu sebagai dudukan, sementara yang lain duduk di tanah. Aku mengikuti Eri duduk di tanah, sangat tidak sopan jika ada orang duduk di bawah, aku duduk di atas. Wanita paruh baya tersenyum padaku sembari mengelus lenganku “Kenalkan namaku Tis, Putri terima kasih telah datang untuk membantu kamu. Ian sudah berjanji akan membawamu ke sini untuk melawan pemerintahan yang kejam.”


Aku hanya bisa tersenyum padanya, aku juga tidak tahu bagaimana menjawabnya, sementara aku saja baru di beri tahu kemarin oleh Ian. Semua mata di ruang bawah tanah ini mulai melihatku dengan penuh harap, ada beberapa di antara mereka duduk bersama kami, ada pula yang hanya duduk di balik tirai mendengarkan kami.


“Kamu sudah bisa lihat sendiri Putri, kami semua di sini menderita.” Tiba-tiba Tis menangis, aku bisa merasakan kesedihannya. Dia pasti menderita melihat teman, keluarga dan anak-anak mengalami ini semua. “Kami tidak punya apa pun untuk melawan mereka Putri, semakin hari semakin banyak yang tiada. 3 anakku sudah di tembak mati oleh para prajurit, dia memberontak ketika aku ingin di buang.”


Pilu sekali hati ini mendengar rintihan seorang wanita paruh baya yang kehilangan anaknya, ini menyakiti bagi seorang Ibu. Eri di sampingku hanya mengangguk-angguk paham, aku tahu dia pasti juga sedih melihat semua ini.

__ADS_1


“Maaf aku sedikit terlambat” Ucap Ian yang sedang berlari ke arah kamu dengan beberapa anak muda yang tinggi di belakangnya. Dia ikut duduk tegap bersama kami, aura prajuritnya memancar keluar. “Kita langsung ke intinya saja, baru saja aku mendengar panglima Rik dari Planet Leo datang dan memberi tahukan perihal aku yang membawa mereka kesini, otomatis aku akan di cari oleh para Prajurit lain.”


Tis mengaguk, dia mengelus pipi Ian sembari menangis “Kamu seperti anakku nak.”


“Waktu kita tidak banyak.” Kali ini anak laki-laki seusia Ian berbicara, dia tersenyum kala melihatku. “Satu-satunya cara untuk mengalahkan Kil adalah di ring Kekuatan. Sebuah jalan untuk menggantikannya dari posisinya adalah dengan mengalahkannya di ring Kekuatan, apa kamu sudah siap Putri?.”


“Dia belum siap, dia belum mengetahui semua kekuatannya.” Jawab Ian, Ian sanga mengerti diriku.


Para pemuda itu menghembuskan nafas kasar, sepertinya dia sangat kecewa mendengar hal itu “Kalau begitu, pergilah ke sektor 5 dan sektor 3, carilah pemilik Kekuatan untuk melatihnya.” Pemuda itu mengalihkan pandangannya dari Ian lalu ke diriku “Putri maafkan kami telah merepotkanmu, kamu tidak bisa bertahan lama. Cepat atau lambat kota ini akan banyak di serbu banyak prajurit untuk menangkap Ian dan kalian.”


“Aku tidak tahu pola sektor 5 dan 3, aku tidak pernah ke sana sebelumnya.” Ian membuat pemuda itu menghela nafas panjang. Aku ingat ketika di sebelah gedung Kantin, Ian membuat sebuah gambar pola di udara untuk membuka pintu teleportasi.


Ian mengaguk mengerti lalu berdiri di ikuti aku, Eri dan semuanya. Tis memegang tanganku dengan sangat lembut, aura keibuannya terpancar keluar “Kami akan tunggu kabar baiknya Putri, kamu percaya padamu.”


Aku tersenyum manis walau itu aku paksakan, mereka hanya ingin hidup yang layak, tapi entah aku bisa mewujudkannya atau tidak. Semua terasa sulit dan berat, tapi setidaknya aku memiliki Eri dan Ian di sampingku.


Aku dan Eri keluar lebih dulu agar para prajurit tidak curiga, setelah itu Ian. Kami harus ke rumah Ian lebih dulu untuk mengambil tas kami, sebab di sana ada telepon genggam walau sudah mati karena kehabisan baterai dan tidak ada sinyal di sini.


“Hey” Jantungku terasa ingin copot ketika mendengar suara tegas dari seorang prajurit. Aku membalikkan badan, aku rasa dia sudah mengetahui kalau aku ada orang yang mereka cari. Prajurit itu mendekat ke arah kami “Kalian, bantu angkat beras ini ke truk sama. Cepat!.”

__ADS_1


Aku melihat karung beras di depan sana, karung berisi beras yang beratnya mungkin mencapai 100 kilogram. Mengangkat galon saja aku sudah susah payah apalagi mengangkat itu, yang ada tubuhku yang gepeng lebih dahulu sebelum mengangkatnya. Eri menarikku ke arah karung beras di sana, sebelum prajurit di depan kami curiga.


“Nanti biar aku bantu dengan kekuatan telekinesisku.” Bisik Eri di sampingku, dia sangat tahu apa yang aku pikirkan.


“Berhenti!!” Langkah kami berhenti tepat setelah melewati prajurit itu. Nafasku tertahan, apakah kali ini dia mengetahui identitas kami dan langsung membunuh kami. Prajurit itu berjalan di depan kami dan menunjuk arah sapi-sapi yang berjejer rapi “Yang laki-laki, kamu membantu bagian sana.”


Kami berdua tidak tahu harus apa, sementara prajurit itu menarik tangan Eri menuju sapi-sapi di sana dan menyuruhku untuk mengangkat karung-karung beras. Jika benar bisa aku mengangkat karung itu, maka akan aku lemparkan pada mereka.


Prajurit yang menjaga karung beras sebanyak 10 orang, di tubuh mereka di lengkapi dengan banyak senjata. Orang-orang yang mengangkat karung beras beragam usianya, dari anak seusiaku, dewasa, dan orang tua. Sedih sekali kalau harus melihat orang tua dan anak-anak mengangkat karung beras yang sangat berat ini.


“Kamu cepat ke sini.” Perintah prajurit di sana, aku mengikuti arahannya. Dia menyuruhku mengangkat dan bawanya ke arah truk yang jauhnya 10 meter.


Aku mengelap peluh keringat di dahiku, mengangkat ujung karung saja aku tidak bisa. Aku melihat Eri yang menatapku dengan penuh rasa kasihan, aku paling tidak suka di tatap seperti itu, bagai aku tidak bisa melakukan apa-apa.


“Cepat!!” Teriak prajurit yang membuatku sangat jengkel. Emosiku sudah sampai puncaknya, sekali lagi dia mengucapkan itu, akan aku pukul wajahnya. Punggungku di dorong-dorongan oleh sebuah kayu dari prajurit di belakangku “Cepat angkat!!.”


Aku berdiri menatapnya dengan tajam “Aku tidak bisa, angkat saja sendiri. Kalian punya tangan, pakai saja tangan kalian sendiri.” Aku melewatinya dan berjalan ke arah Eri.


Dor

__ADS_1


__ADS_2