
“Lamban.” Gerutu Eri ketika aku tiba, seperti biasa aku terlambat bangun. Aku tidak tahu bagaimana caranya Eri dan Ian mengatur tidur mereka, mereka terlihat bugar tanpa rasa kantuk.
Aku berjalan ke arah Ian tanpa memedulikan Eri yang sedang menggerutu. Karena hari ini kita akan ke sektor 3, kami sudah berkumpul di tempat biasanya api unggun di nyalakan. Jian dengan tas kecil di punggungnya, dia mengenakan pakaian hitam sama seperti kita semua. “Baiklah, ayo kita berangkat.”
Ian dan Jian membuat pola teleportasi di udara, dan muncullah lingkaran hitam yang mengeluarkan asap putih. Aku ikut dengan Ian, sementara Eri ikut dengan Jian. Sama seperti sebelumnya ketika aku melewati lingkaran teleportasi ini, rasanya seperti naik perosotan anak-anak.
Pertama kali injakan kakiku adalah sebuah bongkahan bangunan yang telah hancur, menyesuaikan sinar matahari pagi yang masuk di mataku. Aku melihat hampir semua bangunan di sini hancur, ada beberapa tenda yang di bangun. Beda dari sektor 9, sektor 3 ini tidak di jaga oleh prajurit. Sektor ini terlihat sangat sepi, sempat aku melihat seseorang dari balik bongkahan bangunan si sana, namun orang itu bersembunyi.
Jian memimpin langkah kami, aku tidak tahu dia mengarah ke mana, namun orang-orang mulai berkeluaran sembari memanggil nama Jian. Pasti Jian harapan besar bagi mereka, mereka terlihat senang bahkan ada yang menangis ketika melihat Jian. Aku tahu, Jian akan bisa menjadi pemimpin yang hebat di negeri ini. Pemimpin yang di sayangi oleh rakyatnya, pemimpin yang baik dan pemimpin yang adil.
“Hati-hati.” Ian memegang lenganku ketika aku hampir terjatuh karena tersandung oleh bongkahan bangunan.
“Terima kasih.” Aku tersenyum padanya. Ian dengan baik menuntunku melewati jalan yang rusak, tidak seperti Eri di depan sana.
Kami melewati jalan setapak yang di sisi kana dan kirinya terdapat bangunan hancur, lalu kami melewati tenda-tenda berkain, awalnya sedikit namun lama kelamaan tenda-tenda semakin banyak. Jian berhenti tepat di tenda cukup besar, kehadiran kami khususnya Jian mendapatkan banyak perhatian orang-orang yang bersembunyi di balik tenda mereka.
__ADS_1
Sudah banyak orang yang mengelilingi kami, lalu seseorang pria berusia 40 tahunan keluar dari tenda besar di depan kami. Dia terlihat syok, lalu tersenyum menghampiri Jian dan memeluknya. Jian membalas dengan hangat pula, tinggi mereka hampir sama namun Jian lebih tinggi dari pria itu. Aku memandang sekelilingku, aku dan Eri seperti anak sepuluh tahun di antara mereka.
“Sudah lama sekali kamu tidak ke sini nak.” Bapak itu melepas pelukannya, dia menepuk-nepuk bahu Jian.
“Iya paman.” Jawab Jian tersenyum malu, ternyata bapak-bapak itu pamannya Jian. Jian menoleh ke arah kami lalu menunjuk Eri “Aku membawa mereka. Dia adalah Eri dari Planet Aries, kekuatan telekinesisnya cukup hebat”
“Cukup hebat katanya.” Eri tampak tidak terima, aku hanya tersenyum, tapi menurutku Eri sudah paling hebat.
Lalu Jian menunjukkan Ian “Yang itu adalah mantan prajurit, Ian namanya. Dia memiliki kekuatan hebat, dia juga yang telah membawa Eri dan Tina ke sini.”
Aku tersenyum malu pada Paman Jian, sepertinya Jian terlalu banyak berbicara tentangku. Respon paman Jian adalah syok kembali, wajah itu sudah aku lihat dia kali. Dia menghampiriku “Sungguh sebuah kehormatan bertemu denganmu, walau aku pernah mengelilingi beberapa Planet, hanya Planet-Mu lah yang tidak bisa aku kunjungi.” Lalu paman itu beralih ke Eri “Suatu kehormatan bisa bertemu dengan pemilik kekuatan Aries, pemilik kekuatan di Aries semakin punah. Sebaiknya dari sini kamu langsung ke sana, takutnya keadaan di sana lebih kacau di bandingkan di sini.”
Aku syok mendengar itu, apakah Eri tahu. Wajahnya terlihat biasa saja, bagaimana pun, sebuah anugerah memiliki kekuatan sepertinya dan sudah menjadi takdir jika dia harus melindungi negerinya.
Paman itu beralih ke Ian, dia menyalaminya “Aku sudah banyak mendengar tentangmu dari Jian. Kamu prajurit yang paling berani yang pernah aku temui, dan prajurit yang paling muda yang berani melawan pemerintahan yang kejam ini.” Ian mengaguk dan tersenyum hormat.
__ADS_1
“Baiklah anak-anak, namaku adalah Yian, kalian bisa memanggilku paman Yian. Aku adalah Paman Jian.” Perkenalan Paman Yian, kamu semua membungkuk hormat. Paman Yian Sam seperti Jian, sekilas wajah mereka terlihat mirip. “Selamat datang di sektor 3, aku akan membantu kalian berlatih di sini. Dan terima kasih telah datang, kalian adalah sebuah harapan besar bagi kami semua Planet Capricorn.”
Hari sudah semakin siang, aku berada di salah satu tenda kecil, ada kasur tipis serta selimut tipis pula, sedangkan tenda Eri dan Ian ada di sebelah. Setelah merapikan beberapa barang aku keluar tenda, Jian akan memandu tur kami di sektor 3 ini. Eri sangat bersemangat sekali, dia seperti ingin berkarya wisata saja.
“Besok kita sudah mulai berlatih dengan Paman Yian.” Ucap Jian sembari berjalan ke arah Utara, hampir semua bangunan hancur. “Dulu tempat ini adalah tempat yang paling indah, gedung-gedung tinggi, pendidikan yang maju di bandingkan dengan sektor lain, dan banyak anak-anak yang hebat terlahir dari sini. Namun karena penghianat itu, ketika ayahku di bunuh olehnya. Kota ini di hancurkan, dan menjadikan sektor 1 tempat yang paling modern, yang maju dan yang paling mutakhir.”
Aku bisa mendengar suara kesalnya, dia pasti sangat sedih ketika ayahnya di bunuh. Memang si penghianat Kil harus di beri pelajaran agar dirinya mengerti apa yang telah dia perbuat.
“Tin, menurutmu, nama apa yang cocok di tim kita?” Bisik Eri sembari menyenggol lenganku, aku menoleh ke arahnya dengan bingung. Eri menepuk dahinya seraya menghembus nafas lelah “Maksudku adalah bagaimana jika kita kasih nama untuk tim kita, seperti LAC atau CAL. L-Nya dari Leo, A-nya dari Aries dan C-Nya dari Capricorn.”
“Hmmm.” Aku berfikir sejenak, tidak buruk, namun masih sedikit ada yang kurang. Aku menoleh ke arah Eri “Kenapa tidak LAris CAPucino.”
“Hah?” Eri memandangku tidak mengerti, dia menyatukan kedua alisnya.
“Iya, jadi L-Nya dari Leo, Aris-Nya dari Aries dan Cappucino-Nya dari Capricorn.” Aku menjelaskannya sedikit tertawa, melihat wajah Eri yang sangat kebingungan. Akhirnya Eri mengaguk-angguk mengerti, aku sebenarnya bercanda, tidak serius. Ide itu muncul begitu saja “Sepetinya kita harus tanya Ian juga, dia kan tim kita.”
__ADS_1
“Tidak perlu, aku suka ide mu, tim kita adalah ‘Tim Laris Cappucino’” Seru Eri membuat Ian dan Jian menghentikan langkahnya, dengan lantangnya Eri meresmikan nama Tim kami “Ian, Tim kita ada Tim Laris Cappucino. Tina yang memberikan ide itu sendiri, bagaimana?.”