GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"

GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"
BERMAIN


__ADS_3

Ian memberikanku satu buah apel, tidak beda jauh dari Apel di bumi. Aku memakannya, di saat itu juga, wajahku msnyipit, buah ini sangat asam, sangat asam. Ian mengerjaiku lagi, sudah tahu aku baru sembuh masih saja aku di jahili “IAN!.”


“”Maaf-maaf, yang ini pasti masih.” Ian memberikan Apel yang sama namun aku tolak, tidak ada bedanya itu Apel yang manis atau Apel yang asam. “Ini manis, serius, ini sangat manis.”


Aku mengambil Apel dari tangan Ian, sekali lagi dia menjahiliku maka aku tidak akan bicara padanya selama satu Minggu di sini maupun di sekolah nanti. Satu gigitan berhasil masuk ke dalam mulutku, rasanya manis-manis sedikit asam, ini enak sekali. Aku menghabiskannya tanpa sisa, aku melirik Ian yang tertawa melihatku. “Gak usah liat-liat!, Sampe ketawa gitu lagi.”


Aku mengalikan pandanganku darinya, aku melihat Eri di atas sana. Dia mengambil beberapa buah dan di taruh pada kausnya. Dia juga terlihat lahap sekali memakan buah itu di atas pohon, ingin sekali aku memanjat pohon ini tapi aku memakai rok yang di berikan Sina. “Eri, beri aku satu.”


“Iya, aku turun dulu, aku sudah memetik banyak.” Teriak Eri dari atas sana sembari turun perlahan-lahan dan aku bertepuk tangan seperti anak kecil yang ingin mendapatkan permen. Eri melompat dari batang pohon, mulutku menganga ketika melihat buah yang Eri bawa “Ini ambil, di atas sana banyak sekali buah kalau kurang nanti aku ambilkan lagi. Aku ingin ke pohon lain, sayang jika kita tidak mencoba semua buah.”


Aku mengangguk mantap, aku mengambil buah dari kaos Eri dan membawanya ke salah satu kursi di dekatku. Buah ini terlihat sangat lezat, aku memakannya satu, rasanya tidak beda jauh dengan yang Ian kasih. Bedanya buah ini dagingnya lebih banyak dan berair, harum buahnya juga sangat menggugah selera.


Aku sampai lupa dengan Ian, dia sudah duduk di sampingku dari tadi. Tanpa aku menawarkannya buah ini namun dia sudah mengambilnya lebih dulu. Melihat Ian dari samping, membuat pikiranku berkelana dengan cerita Ian dahulu. Sejak kecil dia sudah menghadapi banyak kekerasan, ketakutan, pemaksaan, pasti sangat sulit menjadi dirinya.

__ADS_1


“Ada apa?” Aku langsung membuang mukaku ketika Ian menoleh ke padaku, aku menggeleng dan meneruskan makanku.


Aku melihat Eri yang baru saja turun dari satu pohon, dia melambaikan tangannya padaku. Menunjukkan buah berwarna putih yang dia dapat, dia terlihat sangat senang. Aku sampai lupa pada Eri yang suka membuat onar di sekolah, anak yang suka membolos, anak yang suka memalak anak lain dan anak yang sering masuk ruangan BK. Tapi sekarang yang aku lihat adalah anak yang periang, anak yang jahil, anak yang baik dan anak yang selalu mengkhawatirkan diriku.


Angin yang lembut, kicauan burung sebagai nyanyian dan anak-anak yang sedang bermain. Suasana yang sangat tenang, nyaman sekali jika tinggal di sini, tapi akan jauh lebih menyenangkan bila kita ini dan kota lainnya tidak di kungkung oleh pemerintah sektor 1 yang kejam itu. Pasti sektor ini dan sektor lainnya sangat indah, menjadi tempat yang nyaman untuk di tinggali.


“Tina.” Panggil Eri sembari berlari ke arahku, dia membawa dua buah berwarna putih tadi. “Ini, cobalah rasanya sangat aneh tidak seperti buah tapi rasanya enak banget. Di sana aja ke sisa tiga, kita bersyukur bisa cobain ini.”


Aku mengambil dengan tidak yakin, apalagi Eri yang jahilnya sudah kelewat batas. Aku memakan buah itu dan benar saja rasanya enak sekali. Aku tidak tahu seperti buah apa tapi ini sangat enak, tidak bisa aku deskripsikan seperti apa tapi ini enak sekali. Aku saja tidak berhenti memakan buah di tanganku ini.


“Di baikin salah, di jailin salah, di palak juga salah. Terus aku harus kayak gimana.” Eri duduk mendeprok di tanah, dia mengentak kaki seperti anak kecil yang tidak di kasih uang jajan. Aku menarik tangan Ian, pergi dari sana meninggalkan Eri yang merengek. “Heii, kok aku di tinggal, udah di ambil buah sampe manjat-manjat palah di tinggal.”


“Iya-iya maaf” Aku menggeleng ketika melihat mulutnya manyun ke depan. “eh ke situ yuk, ikut main.”

__ADS_1


Aku melihat Sina dan teman-temannya sedang beriman lompat tali, ternyata di Planet ini memiliki permainan sama seperti Planet Bumi. Awalnya Eri dan Ian enggan ke sana, namun dengan rayuan dan bujukan mautku akhirnya mereka ikut bersamaku.


“Sini kak, kita main.” Sina menarik tanganku dan bergabung bersama mereka. Kami bermain bersama sampai lupa waktu, bahkan aku lupa Eri dan Ian di sana. Duduk dan melihatku bermain, aku yakin mereka sangat bosan.


“Sina kita main yang lain yuk, tu ajak dua curut juga.” Ucapku seraya melirik Eri dan Ian menguap bosan. Sina mengaguk, dia membisikkan dengan teman-temannya. Dan aku memanggil Eri dan Ian untuk bergabung, namun mereka tidak mau. Aku tahu pikiranku mereka, mereka pasti menganggap aku mengajak mereka bermain permainan perempuan. “Ian, Eri, sini cepet!.”


Dengan berjalan malas-malasan mereka menghampiriku, wajahnya mereka terlihat tidak suka. Yang satu anak cool dan yang satu anak pembuatan onar, mereka sangat lucu ketika di gabungkan. Eri dan Ian sudah ada di sampingku, mereka tersenyum masam membalas senyumku.


Sina yang sudah berdiskusi dengan teman-teman akhirnya menghampiri kami. Sempat Sina tersenyum malu pada Eri dan Ian “Jadi permainannya adalah lindungi aku. Jadi kakak cari barang berharga dan kita juga, lalu kalian harus menjaga barang itu sekaligus mengambil barang berharga punya kita, begitu juga sebaliknya. Kita juga menjaga barang berharga kita sekaligus berusaha mengambil barang berharga kakak.”


Aku mengangguk mengerti, permainan ini seperti benteng-bentengan. Bedanya ini sebuah barang, sedangkan di sana sebuah tiang atau pohon. Eri mengerti mengaguk, dia berlompat-lompat di tempat sebagai pemanasan. Sedangkan Ian, dia meregangkan otot-otot tubuhnya. Seperti permainan ini akan sangat seru.


“Peraturannya adalah kakak semua gak boleh memakai kekuatan apa pun dan sedikit pun. Karena kami semua tidak mempunyai kekuatan seperti kalian.” Ujar Sina sedikit resah, dia pasti khawatir sebab kami memiliki kekuatan.

__ADS_1


“Baiklah ayo kita mulai!”


__ADS_2