
Sudah satu setengah bulan aku di sekolah, semua berjalan lancar. Berangkat pagi pulang siang, pertemananku dengan Agnia berjalan lancar, aku semakin tahu banyak hal tentangnya. Dan Eri, aku jarang bertemu dengannya, hanya seminggu sekali untuk memberitahu bagaimana perkembangan yang dia cari.
Buk
Badanku terjatuh ketika aku sedang berlari menuju kelas, sebab ini sudah kelewat siang, aku takut terlambat memasuki kelas. Aku berdiri sembari menepuk-nepuk baju dan rokku yang kotor, lalu melihat wajah siapa yang berani menghalangi jalanku “Heh, kamu itu ngapain di sini?.”
“Kamu yang nabrak, kamu yang marah.” Dia tertawa mengejek sembari bersedekap dada. Sepertinya dia mengejekku, berani sekali dia. Laki-laki dengan badannya yang tinggi, bukan, sangat tinggi. Mungkin tinggiku hanya sedadanya. Rambutnya pendek bergelombang.
“Heh!!, Ini itu jam pelajaran ngapain kamu di sini. Ah aku tahu, kamu pasti temen si Bangor itu kan, sukanya bolos dan bikin onar” Aku menatap marah pada laki-laki di depanku, setelah di amati aku tidak pernah melihat dia di sekolah ini. Aku menepuk dahiku “Sudah ah, kamu bikin aku terlambat.”
“Dasar aneh.” Meski suaranya berbisik namun aku masih bisa mendengarnya. Ingin sekali memarahinya tapi aku sudah terlambat memasuki kelas. Aku berlari secepat mungkin menuju arah kelasku, aku sangat kesal. Kenapa kelasku berada di paling ujung sekolah, rasanya aku ingin memindahkannya di gerbang agar mudah memasukinya.
Lorong terlihat sepi, kelas-kelas sudah mulai pembelajarannya. Aku mengutuk diriku karna bangun terlalu siang,
Buk
__ADS_1
Tubuhku terjatuh untuk kedua kalinya. Aku berdiri cepat dan memasang wajah merah karena amarah. Nafasku memburu, aku lihat wajah tersenyum dari si Bangor “ERIIIII, Ngapain sih kamu di sini, aku udah telat masuk kelas.”
“Dih, kamu yang nabrak, kamu yang marah.”
“Awass!!” Aku menyingkirkan tubuh Eri dari hadapanku, aku berjalan kelas menuju kelas. Kalimat itu sudah aku dengar dua kalinya di pagi hari ini, benar-benar membuat suasana hatiku kacau.
Suasana kelas sangat ricuh, setelah istirahat jam pembelajaran di kosongkan sampai jam sekolah habis. Aku tertidur dengan tanganku sebagai bantalan, setidaknya siang ini suasana hatiku mulai membaik. Dari kursiku yang menghadap langsung ke lapangan dengan awan yang cukup bersahabat, di sana juga terdapat anak laki-laki yang sedang bermain basket dan bola sepak.
Sebelumnya semua kelas sedang membahas perlombaan HUT RI ke 70 tahun yang akan berlangsung 2 Minggu lagi, perlombaan ini meliputi balap karung, makan kerupuk, panjat pinang, dan banyak lainnya. Bahkan ada lomba melukis, membuat puisi, melukis, Basket, Futsal, bulu tangkis, voli, karaoke, renang, Pensi (Penta Seni), cat Walk bertema Nusantara, dan banyak lagi. Aku di pilih dalam beberapa perlombaan yaitu tarik tambang, bulu tangkis, Egrang, Basket, dan mengoper sendok kelereng ke yang lain.
Aku menutup mataku, waktu yang pas untuk tidur. Rasanya ingin berkelana di dalam mimpi yang indah, di penuhi bunga-bunga dan berlari melepas semua beban di pundakku. Hari yang berat aku jalani tanpa ibu, tidak ada yang membangunkanku tidur, memasak makanan kesukaanku, menceritakan semua yang aku alami dan tertawa bersamanya.
Aku tetap sama di posisiku, malas sekali melihatnya padahal aku sangat mengantuk sekarang. “Aku mengantuk.”
“Si Bangor berantem di kantin Tin.” Ucapan Agnia berhasil membuat berdiri syok. Dia dengan nafas tersengal-sengal menunjuk arah luar “Di kantin.”
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang aku langsung berlari ke Kantin, biasanya dia hanya membolos dan memalak para murid di sini. Pintu kantin sudah terpenuhi oleh orang-orang yang sedang menonton perkelahian di depannya. Aku menjinjit-jinjit sembari menyelak orang-orang yang menghalangi pintu, melihat perkelahian hebat di dalamnya.
Dengan susah payah aku melewati tubuh-tubuh orang yang padat, akhirnya berhasil juga. Aku menutup mulutku ketika melihat Eri dan anak laki-laki yang tinggi aku temui pagi tadi sedang bertengkar hebat. Teman-teman Eri dan para guru sudah mencoba menghentikan mereka namun nihil. Tempat ini tampak kacau balau, banyak kursi dan meja yang patah akibat perkelahian mereka.
“IAN, ERI HENTIKAN!” Teriakan marah dari kepala sekolah tidak membuat perkelahian orang itu berhenti. Hidup, pelipis, dan mulut mereka mengeluarkan darah dan juga beberapa lebam di sana. ‘Ian’ nama laki-laki yang berkelahi dengan Eri sekarang dan anak yang menabrakku pagi tadi.
Aku bingung sendiri, bagaimana caranya mereka berhenti berkelahi. Walau aku tidak terlalu dekat dengan Eri, tapi tetap saja Eri adalah temanku. Aku tidak bisa melihat dia bertengkar seperti ini, yang ada mereka bisa di keluarkan dari sekolah.
“ERI, IAN STOPP!!.” Takku sangka teriakku berhasil membuat mereka berhenti berkelahi melepas genggaman satu sama lain di kerah lawannya. Mereka melihatku. Eri yang tadinya marah sekarang hanya cengengesan, sedangkan Ian, dia menaikkan satu alisnya. Aku berjalan mendekati mereka dan langsung menjewer kuping mereka.
“Aaaa, tin..tin sakit”
“Lepas!”
Eri dan Ian mencoba melepaskan tanganku namun sangat tidak bisa. Mereka sangat membuatku jengkel hari ini, entah itu tadi pagi maupun saat ini. Aku menguatkan jeweran kuping mereka dan mereka terus kesakitan. Setidaknya sakit ini tidak seberapa dengan sakit mereka berkelahi. “Kalian benar-benar membuatku kesal.”
__ADS_1
Aku tidak peduli dengan para tatapan mereka padaku, tapi 2 orang ini benar-benar membuatku jengkel. Ruangan ini benar-benar menjadi sangat ramai, banyak bisik-bisik yang aku dengar namun aku tidak peduli.
“KALIAN BERTIGA BERHENTI.” Teriak kepala sekolah membuat suasana menjadi hening seketika. Aku melepas tanganku dari kuping mereka berdua. Kepala sekolah yang kudengar, dia adalah orang yang menyeramkan. Dan saat ini dia benar-benar membuktikannya. “Kalian bertiga, ke ruanganku sekarang!!.”