GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"

GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"
RUMAH IAN


__ADS_3

Kini Ibu Ian tertidur di kasurku, dia terlihat sangat lelah dan kurus. Ibu Ian telah melewati banyak hal, pasti sangat sulit menjadi dirinya. Aku meninggalkannya tertidur di sana, berkeliling tempat baru ini ide yang baik. Aku sudah mengajak Eri, namun kondisinya sedang tidak memungkinkan.


Berjalan menjauh dari rumah panggung yang aku tempati tadi, kini aku berjalan bertelanjang kaki, merasakan setiap butiran-butiran pasir di kakiku. Dulu sekali, aku pernah mengunjungi pantai dengan ibu, dan sekarang aku merasa suasana pantai lebih nyaman. Ada beberapa perahu nelayan yang sedang parkir, ada pula karang-karang tinggi di ujung sana dan angin kencang membawa bau khas pantai padaku.


Rambutku berkibar, ini kali pertamanya aku melihat pantai seindah ini. Pasir putih yang bersih, dan aku sempat melihat beberapa kepiting yang sedang berjalan. Seperti memakan mereka enak sekali, di tambah suasana pantai. Sejenak aku melupakan apa yang terjadi padaku, aku lupa kalau aku baru saja melewati pertempuran di sektor 3. Dan hampir saja aku kehilangan Eri.


Jika di ingat, kekuatanku kala itu sangat besar, kekuatan itu muncul saat aku merasakan begitu kehilangan. Aku marah pada mereka yang menembak Eri dan sayangnya ketika itu pula aku tidak bisa mengendalikan kekuatanku. Kekuatanku lepas begitu saja menyerang siapa pun di sekitarku, tidak melihat itu lawan atau kawan. Bahkan Ian tidak bisa menghentikanku, rasanya aku ingin terbang bebas tanpa hambatan, aku juga tidak bisa mendeskripsikan bagaimana rasanya saat itu.


Aku duduk di antara pasir-pasir putih, membiarkan ombak-ombak kecil mengguyur kakiku. Banyak sekali yang telah aku lewati, umurku baru lima belas tahun, namun ada saja orang yang ingin membunuh gadis tidak bersalah sepertiku.


Setidaknya Eri baik-baik saja, aku tidak tahu bagaimana diriku saat Eri tiada. Dan aku bersyukur Ian sudah bertemu dengan Ayah dan Ibunya, keluarga mereka sudah lengkap. Sebenarnya aku ingin mengajak Ian bersamaku, namun melihatnya bahagia dengan orang tuanya, membuatku mengurungkan niatku. Ian berhak berada di sini, bersama dengan orang-orang yang di sayangi.

__ADS_1


“Sedang memikirkan apa?” Aku berlonjak kaget mendengar suara Ian secara tiba-tiba, dia sedang duduk di sampingku seraya tersenyum. Entah sejak dia duduk di situ, wajahnya sangat cerah, secerah matahari pagi ini. “Sudah merasa lebih baik?.”


“Iya, terima kasih sudah merawatku.” Aku tersenyum padanya, aku merasakan kecanggungan di antara kami. Tidak seperti biasanya kami seperti ini, Ian terlihat sedikit berbeda. “Ibumu sangat baik, dia sangat menyayangimu Ian.”


“Iya, aku tahu.” Jawabnya dengan singkat, dia mengenakan kaus berwarna hitam dengan celana kain. “Aku punya sesuatu untukmu.”


Senyum melebar saat Ian bilang seperti itu, pasti dia membawaku sebuah hadiah. Namun aku sedikit khawatir, Ian terkadang menjadi sangat jahil seperti Eri. Tapi tidak mungkin di saat-saat seperti ini, apa lagi aku baru sadar. Dia pasti menyiapkan sesuatu yang spesial.


Mulutku masih menganga, tapi kepalaku mengaguk mengerti. Tuh kan, sudahku duga kalau Ian pasti mengerjaiku, seharusnya dia memberikanku jadinya, bukan mentahnya. Aku menghela nafas panjang dengan sedikit tertawa kecil “Ian, ini adalah hadiah yang paling indah dan aneh yang pernah aku terima, terima kasih.”


“Sama-sama.” Jawab Ian tanpa beban, sepertinya dia benar-benar mengerjaiku. Setelah itu kami saling diam, mendengar ombak-ombak yang datang dan pergi. Sesekali aku melirik Ian, dia terus tersenyum lebar menghadap laut biru di depan sana. “Aku sangat bahagia.”

__ADS_1


Aku menoleh padanya, rambutnya yang mulai memanjang menyibak oleh angin laut. Dia tersenyum bebas tanpa beban, aku bisa merasakannya, rasanya sama kala aku bersama Ibunya. Ian membuat gambar pada pasir di bawahnya “Aku sangat bahagia bertemu orang tuaku, dan rasanya aku ingin tinggal di sini bersama mereka. Bahagia seperti keluarga lainnya.”


Aku memaksakan senyumku, ini pasti terjadi, Ian akan tetap di sini bersama orang tuanya. Walau kami baru dekat, Ian adalah orang yang sangat baik, dan aku bahagia jika dia bahagia. Aku sedikit membohongiku diriku sendiri “Aku juga bahagia melihatmu senyum bebas tanpa beban, kamu berhak bahagia Ian. Hiduplah sesuai dengan yang kamu mau, bahagia kamu ada di tanganmu sendiri.”


Ian mengaguk sembari menggambar sebuah keluarga di pasir. Walau di paksa senyum, hatiku tidak bisa berbohong kalau aku sedih mengucapkan itu. Kata-kata ini bagai kata perpisahan untuk kami, aku akan senang jika Ian ikut bersamaku dan Eri. Berlatih lebih banyak kekuatan dan menggabungkan kekuatan untuk melawan penghianat di negeriku. Tapi ini adalah hidupnya, aku tidak bisa menjadi tokoh utama di kehidupannya. Dia akan membuat skenario indah di kehidupan dengan hatinya sebagai tinta.


Ian bercerita kalau Sina dan Paman Yian di bawa ke sektor 7, sementara sektor 3 sudah hancur lebur oleh bom-bom. Jian sedang ada di kota bersama dengan kakaknya, kami di sini menunggu informasi dari Jian. Syukurlah jika Sina dan yang lain baik-baik saja, aku yakin mereka di sektor 7 aman dan bahagia di sana.


Buih-buih putih terlahir dari ombak-ombak menabrak pasir, matahari mulai naik, tapi aku enggan mengalihkan pandanganku dari laut biru di depan sana. Aku membiarkan kaki-kaki basah, pikiranku belum teralih dari Ian. Padahal kamu sudah membentuk Tim Laris Cappucino, tapi mau bagaimana lagi. Ian berhak memilih kehidupannya, aku yakin dia akan selalu bahagia bersama orang tuannya.


“Tin.” Aku menoleh pada Ian, dia menatapku sangat lama. Akhirnya dia bicara yang membuat bungkam pikiranku “Tinggallah di sini bersama aku dan orang tuaku, ajak Eri juga. Lupakan dunia yang kejam ini, mari kita bahagia.”

__ADS_1


__ADS_2