GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"

GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"
SEKTOR 7


__ADS_3

“weweweww” Eri meniru bicaraku, dia tampak kesal. Aku mendorong Eri dari sampingku, dia sangat menyebalkan.


Kakek di hadapanku tersenyum, wajah yang banyak sekali garis-garis besar itu tampak senang. “Kalau begitu aku permisi dulu, kamu sudah sehat sekarang.”


Aku menyalaminya “Terima kasih kek.” Kakek itu keluar di bantu oleh pria tampan itu, sudah tampan, baik hati pula lagi. Aku menyenggol sikut Ian di sampingku “Yang bersama kakek itu siapa Ian?.”


“Dia adalah anak dari pemimpin sebelumnya, dia sangat kuat dan hebat. Namanya adalah Jian.” Ian menjelaskannya saja sudah membuatku kagum, sudah tampan, baik hati, kuat dan hebat. Sempurna sekali dirinya. “Kamu menyukainya?.”


Aku menggeleng keras dan tertawa aneh “Apaan sih Ian, orang nanya doank juga.”


“Orang nanya doank juga.” Suara Eri terdengar seperti mengejekku lagi, hari ini dia benar-benar membuatku jengkel seperti biasa. Aku memukulnya menyalurkan rasa kesalku.


Malam harinya, tubuhku sudah mulai kembali sehat dan normal. Siang hari tadi aku di temani oleh Ian, sedangkan Eri entah sedang apa dia di luar sana. Ian menceritakan banyak hal, dengan lugas dan tegas di menceritakannya padaku.


Saat kami di sektor 9 seminggu yang lalu, tepat aku jatuh pingsan, waktu kembali berjalan yang sempat aku hentikan. Para prajurit tewas dengan luka sayatan yang cukup panjang di leher mereka, mereka kehilangan banyak darah hingga akhirnya mereka tewas. Tidak mau mengambil resiko, para penduduk sektor 9 di bawa ke sektor 7 melalui teleportasi. Di takutkan prajurit akan datang dengan jumlah yang banyak, mereka bisa membunuh dan menghancurkan semua yang ada di sektor 9.

__ADS_1


Selesai dari sana, aku tidak sadarkan diri selama seminggu. Ian bilang Eri dengan wajah yang cemas dan khawatir selalu ada di sisiku, bahkan katanya, Eri melewatkan makan selama 2 hari ketika Eri menemaniku saat aku kejang-kejang. Sementara Ian sendiri dia sedang mencari pola teleportasi menuju sektor 3 dan sektor 5.


Mendengar Ian menceritakan seperti itu, pasti Eri sangat benar-benar khawatir padaku. Pasti dia takut tidak punya bahan ejekan jika aku tiada, dia pasti sangat sedih sebab kehilangan teman yang sangat berharga ini.


Ian juga bilang padaku, kami berada di sektor 7, sebenarnya di sini tidak ada pemukiman. Para penduduk tinggal di hutan tanpa di ketahui oleh pemerintah sektor 1. Mereka tinggal di bawah tanah, seperti rumah bawah tanah. Di sektor 7, memiliki paling banyak penduduk, sebagian penduduk dari sektor 2-9. Merek mempertaruhkan nyawa mereka melewati perbatasan-perbatasan sektor yang di jaga ketat oleh para Prajurit.


Kata Ian, sektor 7 adalah kehidupan yang paling indah dari sektor lainnya. Di sini mereka bebas melakukan apa saja, mencari makan bersama, mengasuh dan mendidik anak-anak bersama. Di sini tidak ada yang menuntut harus mengerjakan sesuatu seperti sektor 9 yang di paksa bertani dan berternak untuk sektor 1.


Walaupun di kelilingi hutan lebat, kehidupan ini secerah mentari pagi. Tawa dan bahagia yang tidak bisa mereka dapatkan di sektornya dulu, kini harapan itu terjadi. Tapi sayangnya hanya sedikit orang yang bisa merasakan hidup bahagia ini.


Sesekali aku dan yang lainnya merasa senang sendiri, senyum-senyum bahkan tertawa mendengar cerita sang sesepuh. Dia bisa membawa emosi kami dalam ceritanya, hidup mereka bahagia. Namun.


Hubungan mereka tidak restui, mempunyai hubungan dengan Planet lain adalah sebuah hal yang di larang. Dua sejoli ini tidak mau di pisahkan bahkan jika harus mati mereka siap. Akhirnya mereka berdua di bunuh oleh para pemimpin Planet masing-masing.


Aku terharu sedih mendengar itu, begitu pula dengan pendengar yang lain. Ada yang murung, terharu sepertiku dan ada juga yang menangis. Kisah cinta yang bahagia mereka kandas hanya karena mereka berbeda Planet. Jika aku menemukan ini di Planetku nanti, aku akan merestui mereka. Hidup hanya satu kali, tidak baik jika kebahagiaan mereka di hancurkan karena kepentingan planet yang tidak ada sangkut pautnya.

__ADS_1


Masa cerita-cerita ini sudah selesai. Ada pemudi cantik yang sedang bernyanyi lagu khas mereka, sedangkan para pemuda di belakangnya memainkan alat musik seperti kecapi, gendang dan gitar. Lagu yang sangat indah di malam purnama ini, suasana begitu hangat berada dalam kehidupan mereka.


Tepuk tangan yang meriah saat mereka menyelesaikan nyanyian mereka. Aku sangat kagum pada gadis tinggi yang menyanyi tadi, dia sangat cantik bak model-model terkenal di barat. Hidup mancung, badan ramping, aku menjadi sangat iri pada gadis-gadis di sini. Mereka terlihat sederhana dan cantik.


Aku menyenggol lengan Ian dengan sikutku “Apa kamu memiliki pacar di sini?.”


Ian membulatkan matanya padaku, lalu dengan cepat kembali normal “Aku tidak pernah mengenal seorang gadis mana pun.”


Aku tersenyum dan tertawa. Tentu saja dia tidak memiliki kekasih, dia selalu sibuk dengan urusan-urusan lain. Tapi jika Ian di sekolah, dia akan menjadi most wanted di sekolah. Pria tinggi dan tampan ini menjadi idaman para wanita di bumi. Tanpa aku sadari, Eri di sebelahku seperti menguping pembicaraanku dengan Ian. Aku jauhkan kepalanya dariku, dasar anak penasaran, selalu ingin tahu banyak hal.


Lagu kedua di bawakan oleh Pria tampan yang aku lihat tadi siang, siapa lagi kalau bukan Jian. Aku bertepuk tangan dengan keras dan kencang, wajahnya bagai bulan purnama yang bercahaya. Saat dia bernyanyi, suara sangat khas suara laki-laki perokok berat, kalau di bumi di sebut deep voice. Merinding saat mendengarnya menyanyi, di sisi lainnya. Para gadis berteriak-teriak memanggil nama Jian.


“Kamu ingin berkenalan dengannya?” Suara Ian mampu membuat jantungku copot, dia seperti tahu apa pun yang aku pikirkan. “Jika mau, aku akan kenalkan kamu padanya.”


Aku tertawa renyah “Tidak, tidak, apaan sih, aku cuman kagum sama suaranya.” Eri di sebelahku mengikutiku bicara, dia sepertinya hari ini senang sekali mengikuti aku bicara ‘Aku cuman kagum sama suaranya’.

__ADS_1


Lagu yang di bawakan Ian sudah selesai, dia kembali ke tempat duduknya, dan para gadis itu tetap berteriak namanya. Tiba-tiba Eri menarik tanganku dan aku menarik tangan Ian. Eri yang tanpa bersalah tersenyum manis “Ayo kita bernyanyi.”


__ADS_2