
Dari tempatku, aku sudah bisa mencium-cium bau perkelahian kedua. “Kalian hentikanlah, aku ingin pulang. Ini sudah petang, lihat.”
Mereka melihatku dengan syok. Aku mengerutkan dahi, aku tidak tahu mereka kenapa, padahal aku hanya menyuruh mereka untuk berhenti berkelahi. Tapi setelah aku melihat arah mata mereka, mereka tidak langsung melihat diriku namun ke arah di belakang tubuhku. Aku menoleh, mataku membulat “Kalian?.”
Lingkar hitam yang aku lihat bulan lalu, kini aku melihatnya lagi. Kali ini bukan hanya tiga orang namun 7 orang pria dewasa dengan pakaian serba hitam. 3 orang yang aku lihat dulu pun ada di sana.
Brak
Satu kursi dari belakangku menyerang 7 orang di depanku, namun dengan sigap 7 orang itu menghindar. Dan di saat itu ada yang menarik tanganku ke belakang, siapa lagi kalau bukan Eri.
“Tetaplah bersamaku.” Eri menarikku di belakang tubuhnya, aku tahu Eri kuat namun melawa 7 orang besar-besar ini tidak mungkin. Eri menarik tangan Ian “Berlindunglah, mereka orang-orang jahat yang ingin menculik Tina.”
Aku menarik tangan Ian untuk di sampingku, dan menarik tangan Eri “Eri, kamu tidak mungkin bisa melawan mereka, mereka memiliki senjata.”
Eri diam tidak menjawab. Pria berpakaian serba hitam berkepala cepak berjalan menghampiri kami, jaraknya masih lumayan jauh namun aku bisa merasakan hal yang tidak enak dari kedatangan mereka.
Pria berambut cepak itu membungkuk “Kita bertemu lagi Putri Leo dan Keturunan Asli Aries.” Dia menjeda sedikit bicaranya ketika melihat Ian di sampingku namun tak lama dia tersenyum “Ah, tentu saja Ian dari negeri Capricorn.”
Aku dan Eri terkejut dengan apa yang barusan di ucapkan oleh si Rambut Cepak, Ian dari negeri Capricorn. Aku menatapnya, dia hanya menatap lurus dengan tajam pada si Rambut Cepak.
__ADS_1
“Putri, perkenalkan namaku adalah Rik. Kami ingin menjemputmu dengan baik-baik, jangan sampai kita membuat pertempuran di sekolahmu ini Putri.” Si rambut Cepak itu ternyata bernama Rik. Perasaanku ternyata benar, Rik melangkah lebih dekat pada kami “Putri, sebaiknya kamu ikut kami, di bandingkan kamu di sini. Ian yang ada di sampingmu itu adalah orang suruhan dari negeri Capricorn untuk membunuhmu Putri.”
Aku menoleh tak percaya pada Ian di sampingku, aku tersadar aku masih memegang lengannya lalu aku lepas dengan cepat. Eri menatap Ian dengan penuh curiga. Aku menggelengkan kepalaku dengan keras, aku tidak mengerti situasi ini. 7 orang di depanku, mereka ingin menculikku. Sedangkan Ian di sampingku, ingin membunuhku.
Aku tidak tahu mempunyai masalah apa dengan mereka sampai mereka ingin menculik dan membunuhku. Apa wajah atau keberadaanku sangat mengganggu mereka sehingga mereka ingin membunuhku, sedangkan aku saja tidak mengenal salah satu dari mereka.
“Ian, Apakah keberadaanku sangat mengganggumu sehingga kamu ingin membunuhku?” Tanyaku pada Ian yang menjolak kaget, dia melihatku lalu mengaguk. Aku mengangguk dan tersenyum “Apa aku mempunyai salah padamu?.”
Ian tidak menjawab, Eri menarik tanganku menjauh darinya. Kini posisiku dan Eri terpojok. Pintu kantin berada di depan sana, kami harus melewati 7 orang itu dulu untuk mencapainya. Sedangkan Ian hanya menatap kami dengan tatapan yang sulit aku artikan.
Aku menatap Eri yang penuh waswas itu, dia sangat peduli dengan keselamatanku. “Eri, terima kasih telah selalu melindungiku, tapi biarlah mereka mendapatkan yang mereka mau.”
Bukan aku ingin menyerah, ingin sekali aku melawan. Tapi hanya kita berdua di sini, sangat tidak mungkin Eri bisa menang melawan 8 orang di depan kami. Aku akan merasa bersalah jika Eri harus mengorbankan dirinya hanya untuk melindungiku, dia adalah teman yang sangat baik.
Ian hadangnya dengan tubuhnya “Jangan, mereka akan menguras kekuatan yang ada di dalam tubuhmu lalu membunuhmu.” Aku tidak mengerti posisi ini, bukankah Ian ingin membunuhku lalu kenapa dia membelaku.
“Lalu apa bedanya denganmu, kenapa kamu ingin membunuhnya, padahal dia orang yang baik dan hangat” Hatiku merasa hangat ketika Eri mengucapkan itu. Aku tersenyum padanya, ternyata Eri pandai membuat hati orang besar.
“CUKUPP!!” Teriakku menghentikan adu mulut mereka “Aku tidak akan ikut siapa pun dan tidak ada yang bisa membunuhku. Kamu Rik, aku tidak akan ikut denganmu, kamu telah membunuh Ibuku.”
__ADS_1
Seketika dadaku sesak saat mengucapkan itu. Eri tersenyum melihatku, setidaknya aku memiliki teman yang baik seperti Agnia dan Eri.
Eri mengarah kursi dan meja menyerang 7 pria berbaju hitam, Eri terlihat sangat lihai, aku rasa dia sudah banyak berlatih dengan kekuatannya. Dengan cepat dan gesit pula 7 pria berbaju hitam itu menghindari serangan Eri. Mereka mengeluarkan pistol berwarna merah dan mulai menembaki kami.
Dor dor
Ian dia sana juga ikut menyerang 7 pria berpakaian serba hitam itu. Aku tidak mengerti dengannya, dia ingin membunuhku tapi juga menolongku. Sedangkan Eri masih menggunakan telekinesisnya, terlihat dia sangat kewalahan menghalau tembakan-tembakan yang menyeramkan kamu. Di saat semua sedang bertarung aku melihat Max dari samping sana ingin menembak Eri sebab Eri tidak akan menyadarinya.
Door
“EERRRIIII.” Aku berlari ke arah Eri, namun seolah gerakanku di perlambat seperti slow motion. Tapi dengan cepat ada seseorang yang ambil tubuh Eri di depan sana lalu menuju tubuhku. Aku bisa melihat wajahnya dia adalah Ian. Dia membawa kami keluar dari Kantin, menjauh dari 7 orang berpakaian hitam yang sedang bergerak lamban.
“Hah.” Aku menghela nafas, waktu kembali normal. Aku melihat Eri yang bingung seperti diriku, namun aku bisa menebaknya kalau itu adalah teknik memperlambat waktu.
Kami berada di sebelah gedung kantin, tidak jauh memegang tapi itu berhasil membuat kami selamat dari tembakan pria berpakaian serba hitam itu. Ian dengan waswas melihat sekeliling “Kita harus pergi dari sini, sebelum mereka menemukan kita di sini.”
Aku dan Eri saling menatap, kamu saling mengerti tanpa harus berbicara. Ini bisa jadi akal-akalan Ian untuk membunuhku dengan menyelamatkan aku lebih dahulu agar aku percaya dengannya.
“Percayalah padaku, aku tidak akan membunuhmu walau nyawaku yang akan menjadi gantinya.” Ucap Ian sembari membuat pola di udara dengan tangannya dan saat selesai pola itu bersinar dan membuat lubang di udara. “Cepatlah masuk, sebelum mereka datang.”
__ADS_1
“Kamu pikir bisa membunuh kami hah?!, Dasar manusia bermuka dua, di sana kamu membantu kami, tapi nanti kamu akan membunuh kami.” Wajah Eri merah padam, dia pasti benar-benar marah saat ini. Sedangkan Ian hanya menatapku, seolah aku harus percaya padanya.
Suara derap kaki melangkah terdengar olehku, aku menatap Ian sekali lagi untuk memastikannya. Aku bingung, jika aku di sini maka Eri akan menghadapi 7 Pria berpakaian serba hitam itu, jika aku mengikuti Ian, setidaknya kami hanya melawan satu arang. Aku tidak ingin berpikir panjang, aku menarik tangan Eri dan langsung masuk ke dalam lingkaran hitam itu.