
Buk
Tubuhku terpental, tidak ada rasa sakit namun debu dan tanah menempel pada pakaianku. Ini sudah yang ke 7 kali aku terpental dan terjatuh. Eri di samping sama masih dengan perkasanya menghadapi Paman Yian bersama Ian, mereka berdua terlihat sedikit kewalahan. Aku sudah mencoba berkali teknik ruang dan waktu, namun hanya berlangsung 5 detik. Setidaknya aku sudah bisa siapa saja yang bisa bergerak ketika aku menggunakan ruang dan waktu.
“Tina sekarang!!” Teriak Eri di depan sana. Hawa panas menjalar ke ujung jari-jariku, aku memfokuskan diri untuk menghentikan ruang di sekitar dan waktu. Dan hanya Eri dan Ian yang dapat bergerak dalam ruang dan waktuku.
Syuut
Semua terhenti, pergerakan Paman Yian terhenti. Sedikit saja terlambat paman Yian dapat menghantam Ian dengan balok kayu yang cukup besar. Aku tidak menyangka paman Yian dapat menggunakan kekuatan telekinesis walau jaraknya hanya 7 detik yang dia bisa gunakan, dan membutuhkan waktu 1 menit untuk menggunakannya kembali.
Waktu kamu hanya 5 detik, Ian sudah menyingkirkan dari tempatnya agar balok kayu itu tidak menubruknya nanti. Di sebelahnya, Eri sedang mengumpulkan kekuatan telekinesisnya, dia mengambil balik kayu yang ada di sebelahku dan mengarahkannya kepada paman Yian.
Syut
__ADS_1
Paman Yian terjatuh di tempatnya, balik kayu itu berhasil menimpa tubuhnya. Kesempatan ini di gunakan Ian untuk maju ke depan, dia menggunakan ruang dan waktunya untuk melambatkan pergerakan Paman Yian. Namun dengan sigap paman Yian berdiri dan menghentikan waktu lebih dahulu di bandingkan Yian.
Aku yang bisa masuk dalam ruang dan waktu paman Yian melihat dia berlari ke arah Ian dengan mengepalkan tangannya. Aku berlari lebih cepat dari Paman Yian, untung saja jarakku dan jarak Ian tidak jauh. Aku mengalami menghampiri Ian, paman Yian melajukan larinya ketika melihatku.
Bruk
Aku menangkap tubuh Ian lalu terjatuh di sana, waktu kembali berjalan. Paman Yian yang sudah setengah jalan menghembuskan nafas kasar, aku kembali berdiri bersama Ian. Eri tidak tinggal diam, dia menggunakan kekuatan telekinesisnya pada Paman Yian. Namun tak aku sangka Paman Yian mengambil balok di belakangku dan menghantamku tanpa aku sadari.
“TINA!!” Teriak Eri di belakang sana, aku terjatuh tersungkur ke depan. Dari tempatku, aku bisa melihat Eri dan Ian yang marah besar, mereka maju ke depan tanpa ada rasa takut sedikit pun. Mereka menjadi menggila, mereka menyerang Paman Yian membabi buta, tidak memberikan ruang Paman Ian untuk melawan.
Aku melihatnya penuh dengan ngeri, aku tidak bisa membantu mereka karena kondisiku. Aku mencoba untuk bangkit namun gagal, sepertinya aku merasakan tulang punggung patah, namun anehnya aku tidak merasakan rasa sakit. Aku merasakan seperti ada sesuatu di punggung, dia seperti menyatukan tulang-tulang yang patah. Merasa punggungku baik-baik saja, aku berdiri.
Eri dan Ian sudah berjatuhan di tanah, kini tinggal aku dengan Paman Yian. Aku tidak memiliki kekuatan seperti Eri yang bisa mengangkat lalu menjatuhkannya pada Paman Eri, aku juga bukan Ian yang bisa bela diri hebat. Aku hanya Tina, aku hanya punya keberanian untuk melawan musuhku, tidak ada waktu untuk mengutuk diriku.
__ADS_1
“Hebat sekali Putri, kekuatan barumu mulai terbentuk.” Ucap Paman Yian setelah mengangkat balok di sampingku tanpa aku sadari dan mengarahkannya dengan keras padaku. Tepat aku tersungkur kesampaing kananku, paman Yian tersenyum “Sayangnya kamu tidak terlalu fokus Putri.”
“TINAA!!” Teriak kedua kalinya dari Eri, dia tergeletak bersama Ian di sana. Mungkin saja energi mereka sudah habis, di tambah dengan luka-luka yang di kirim oleh Paman Yian.
Untuk kedua kalinya aku jatuh tersungkur, tanganku sudah berubah bentuk. Tanganku sudah patah, ini terlalu berlebihan hanya untuk latihan. Latihan itu mengasah kemampuan bukan untuk membunuh seseorang. Aku menatap ngeri tanganku, tulangnya keluar hingga mengeluarkan darah. Namun anehnya aku tidak merasakan sakit sedikit pun, ini kemampuan atau penyakit. Penyakit yang tidak bisa merasakan sakit, tapi sebelumnya aku juga tidak pernah seperti ini.
Tak lama aku merasakan hawa hangat, sebuah cahaya merah kehitaman mengelilingi tanganku yang patah. Aku bisa merasakan kalau tulangku seperti di tarik lalu di satukan, tidak ada rasa sakit namun rasa terkejut yang amat mendalam. Aku kembali berdiri, aku melihat Paman Yian bertepuk tangan. Bukannya di bantu malah tepuk tangan.
“Bagus Putri.” Paman Yian menghampiriku tanpa ada serangan, dia menepuk pundak “Salah satu kekuatanmu sudah muncul, asahlah dengan giat.”
“Bagus apanya, dia patah tulang seperti itu di bilang bagus.” Ketus Eri yang berjalan tertatih-tatih bersama Ian. Aku tertawa melihat Eri dan Ian, mereka tampak kacau dan berantakan. Ketika mereka sudah berada di sampingku, mereka menatap tajam paman Yian “Ini namanya pembunuhan berkedok latihan.”
“Dan untuk kalian berdua.” Eri menatap Paman Yian dengan ogah-ogahan, tapi Ian menatapnya dengan antusias. Paman Yian tertawa kala melihat wajah kusut Eri “Kalian akan menjadi kuat ketika dalam kondisi genting seperti tadi, jadi latihan kekuatan kalian semaksimal mungkin. Jangan menunggu ada yang mati kalian baru bertindak, mengerti?.”
__ADS_1
“Siap mengerti Paman.” Ucapku dan Ian secara bersamaan, kecuali Eri yang tampak tidak suka. Aku menyikut Eri, tidak sopan seperit itu ketika bersama orang lain apalagi orang tua. Eri tampak tidak terima “Baiklah, baiklah, terima kasih Paman Yian yang hampir membunuh kami.”