GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"

GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"
RIZ


__ADS_3

Menyapu lagi dan membawa debu itu pada tempat sampah. Setelah itu aku kembali lagi ke dalam, melihat seluruh sudut ruangan. Memang sudah banyak debu yang terangkat, tapi tetap saja meninggalkan jejak di tempatnya. Jadi tugasku sekarang adalah mengelap setiap sudut ruangan dan mengepel lantai. Ya, sedikit lagi pekerjaan selesai.


Aku menyeka keringatku yang bercucuran, ini sudah jam 2 siang. Pasti latihan sudah mau di mulai dan mereka mungkin sedang menungguku. Aku mulai menggelap satu persatu rak dengan telaten, terkadang aku memakai kekuatan terbangku untuk menjangkau rak yang paling tinggi.


Menit demi menit berlalu, sedikit lagi rak-rak ini selesai di bersih. Aku duduk sebentar, tanganku sangat pegal, dari pagi hingga sore terus menggosok, apalagi tempat-tempat yang susah di jangkau. Aku tidak tahu Kakek di mana, dia tidak terlihat sejak pagi. “Hacccimmm.” Aku mencubit hidungku yang gatal dan menyeka air mata. “Akhirnya selesai.”


Aku mengambil pel yang sangat panjang dari biasanya yang aku lihat, di sini memang semua besar dan panjang-panjang, mengikuti tinggi badan mereka. Setelah memeras pel dari aku, aku mulai mengepel lantai putih ini. Tidak terasa 30 menit aku berkutat dengan semua ini akhirnya selesai.


Aku menghembuskan nafas panjang lagi, semua sudah selesai di bersihkan kecuali area depan toko. Tapi saat ini aku ingin istirahat sebentar, tengkorakku kering sama dengan bibirku, rasa haus kini aku rasakan. Kakek itu benar-benar kejam, setidaknya dia menyiapkan makanan dan minuman untukku. Ingin keluar pun, aku tidak memiliki uang untuk membeli sesuatu.


Merasa cukup beristirahat aku melanjutkan pekerjaanku, yaitu menaruh aksesoris di dalam kardus sana ke rak-rak ini. Dari mengangkat kardus-kardus, menaruh dalam rak dari atas sampai bawah dan mengulang-ulang itu semua. Setidaknya ini lebih cepat di bandingkan aku mengelap satu persatu aksesoris.


“Sabar ya kalung, aku bakal bawa kamu.” Aku meniup kalung berbandul bintang laut yang ingin aku beri pada Eri, aku menaruhnya dalam rak hati-hati, dan itu juga aksesoris yang terakhir aku taruh di rak. Butuh perjuangan sekali mendapatkan ini, awas saja jika Eri tidak menghargai perjuanganku.

__ADS_1


Aku menatap seluruh ruangan, toko ini kembali seperti baru. Dan terakhir adalah membersihkan kaca jendela dan halaman toko. Aku segera bergegas menyelesaikan pekerjaan ini, tidak terasa matahari mulai turun. Aku mulai menyemprotkan air pada jendela laku mengelapnya dan mengeringkannya dengan Udara yang aku kendalikan. Setelah itu aku menyapu daun-daun kering di halaman toko.


“Selesai juga.” Aku menyeka keringatku yang terus mengalir, aku rasa bajuku basah karena keringatku. Tidak latihan, tidak di sini, sepertinya semua suka membuatku berkeringat. Aku kembali ke dalam toko, aku duduk di dekat salah satu rak. Rasanya tenggorokanku butuh air dingin, jika Ken di sini, aku akan menyuruhnya menyiramku dengan air dingin yang banyak. “Haccimm.”


“Kamu siapa?” Tubuhku menegakkan kala mendengar suara seorang laki-laki, aku menoleh pada asal suara itu. Tubuh tinggi setinggi Ken, wajah tak kalah tampan seperti Ken dan Jian, serta rambut cepak kekinian. Di tangannya terdapat jaring kecil dan tombak besi.


“Aku Tina, teman dari Ken dan Jian di sini.” Ucapku sembari berdiri, sedikit mendongak dan tersenyum kikuk padanya. Aku tidak tahu ada pelanggan di toko ini, aku kira toko ini benar-benar tidak pernah ada pengunjung. Aku berjalan ke arahnya “Kamu mau beli sesuatu?.”


“Ayahku di mana?” Tanyanya sembari berjalan melewatiku dan menuju pintu kayu.


“Kamu sudah pulang nak?” Aku menoleh ke sumber suara itu, ternyata itu Kakek. Kakek menepuk-nepuk bahu anak laki-laki itu, dia tersenyum dan saling menanyakan kabar. Aku hanya tersenyum dan menatap bingung mereka berdua. Kakek dan anaknya itu saling bergurau lupa kalau ada aku di sini, lalu di sela-sela pembicaraan mereka. Si anak berbisik sembari melihat ke arahku. “Dia anak miskin, ingin membeli kalung tapi tidak punya uang.”


Mata dan mulutku membulatkan, kakek itu bilang aku anak miskin, tidak punya uang. Wah, andai saja Kakek itu tahu aku seorang Putri dari Planet Leo, pasti di akan langsung membungkuk hormat padaku. Tapi mau bagaimana lagi, ucapan kakek itu ada benarnya juga, aku memang tidak memiliki uang.

__ADS_1


Kakek itu mengelilingi ruangan ini, melihat setiap sudut ruangan. Dia mengeluarkan sepatu, tas, sepatu dan yang lainnya. Aku bisa melihat sudut bibirnya tersenyum kecil, lalu dia menatapku “Lumayan, tapi ini masih sedikit berdebu .”


Aku menatap malas Kakek, dia tidak tahu usahaku untuk membersihkan ini semua dengan susah payah, bahkan sampai hidungku memerah karena terus bersin. Tapi menurutku ini semua sudah bersih seperti baru, bahkan tidak terlihat lagi debu. Namun ini Kakek, tidak bisa aku bantah atau membalas ucapannya.


“Apa kamu yang membersihkan ini semua?” Ucap anak laki-laki kakek itu sembari mengelilingi seluruh seisi toko, dia berdecap kagum melihatnya. Setidaknya anak Kakek ini membuatku senang. “Kamu hebat sekali, sudah lama sekali toko ini tidak di bersihkan karena tidak ada pengunjung. Ouh iya, namaku Riz.”


Aku menyambut tangan kanannya, aku tersenyum manis padanya. Anak dan ayah memiliki sifat berbeda, anaknya terlihat ceria dan penuh semangat, sedangkan ayahnya, suram dan tidak memiliki ekspresi di wajahnya.


“Baiklah ini kalung yang kamu mau.” Kakek menyodorkan kalung yang hiasannya bintang laut yang di tengahnya ada mutiara itu, walau tanpa basa-basi aku menerimanya dengan senang hati. “Kalau begitu pergilah.”


Mata dan mulutku membulat lagi, Kakek ini benar-benar membuat adrenalinku naik-turun, setidaknya dia ucapkan terima kasih telah membersihkan tokonya yang super duper kotor ini. Aku memikirkan hal lain, mungkin saja aku juga bisa memberikan ini pada Ian, sebagai ucapan terima kasih padanya. Aku menghampiri Kakek dan berdiri di depannya, aku tersenyum paksa memperlihatkan gigi-gigiku “Kakek, apa Kakek bisa memberikan aku satu lagi untuk teman baikku?.”


“Sudah di beri percuma, mau minta lagi.” Ucapan Kakek kelewat pedas, aku jadi menyesal telah memberikan toko ini. Belum lagi aku selalu bersin, pinggang pegal dan haus. Kakek itu memberikan aku satu lagi karung yang sama, bedanya hanya mutiara yang ini berwarna biru “Ini aku beri dengan satu syarat.”

__ADS_1


Aku menerima kalung itu dengan senang hati, tapi setelah mendengar syaratnya membuat senyumku hilang. Kakek mengambil semua kalung di tanganku dengan tiba-tiba, lalu dia masukan ke dalam kantung celananya “Kamu harus membantu anakku mencari kerang dan memburunya ikan bercahaya di dasar laut.”


APAA!!!, ingin sekali aku berteriak padanya, aku tidak memiliki kemampuan apa pun dalam aktivitas nelayan dan dia menyuruhku untuk mencari keran dan ikan bercahaya di dasar laut. Aku melihat keluar jendela, hari sudah semakin sore, Ken, Jian dan Eri pasti sudah berlatih dan yang pasti aku sudah terlambat. Tidak ada salahnya aku ikut anaknya mencari kerang dan ikan bercahaya dan mungkin ini sebagian pengalamanku di sini. “Baiklah kek, aku akan ikut Riz.”


__ADS_2