
Aku merasakan badanku panas, sepertinya ini karena kemarin aku bermain-main air hingga malam. Aku sudah berdiri di tempat latihan bersama Eri, Ian dan juga Jian, tumben sekali Jian berlatih bersama kami, biasanya berlatih seorang diri di tengah hutan bersama hewan-hewan raksasa. Kami berempat menunggu Paman Yian, biasanya dia lebih dulu datang di bandingkan kamu, tapi ini sudah lewat 1 jam dia belum datang.
Eri dan Ian tidak berbicara padaku, mungkin karena aku tidak memberi tahukan ke mana saja aku kemarin. Mereka seperti anak kecil yang suka mengambek dan bertengkar. Padahal itu bukan masalah besar, toh juga aku sudah besar.
Duduk di tanah sembari bersandar di batang pohon sendirian, Eri, Ian dan Jian dengan jahat menjauhiku. Kepalaku sedikit pusing, sepertinya sehabis latihan aku akan istirahat tidur. Kemarin Paman Yian juga bilang kalau lusa istirahat, tidak berlatih dulu.
Tak terasa 5 menit kemudian Paman Yian datang dengan membawa pisau dan sebuah pedang, pisaunya berjumlah 10 sedangkan pedangnya berjumlah 3. Melihat itu perasaanku menjadi tidak enak, tapi mana mungkin paman Yian akan menggunakan pisau dan pedangnya untuk berlatih. Tapi untuk apa pula dia membawanya jika untuk tidak berlatih.
Aku bangkit dari dudukku dan berjalan menghampiri yang lain, aku memandang wajah sinis dari Eri. Anak itu, membuat pagiku merasa lebih berat saja.
“Selamat pagi anak-anak.” Sapa pagi dari Paman Yian, kami semua menjawabnya dengan ngeri-ngeri sedap. Paman Yian tersenyum kala melihat wajah kami yang tegang “Hari ini kita akan berlatih menggunakan senjata ini, kalian hanya perlu menghindarinya. Kali tidak ada pertarungan-pertarungan, hanya latihan untuk menghindar. Dan Jian akan membantuku untuk latihan hari ini.”
Firasat buruk ternyata benar, kami akan mempertaruhkan nyawa untuk latihan kali ini. Eri terlihat mengeluh sedangkan Ian seorang prajurit muda berdiri tegap dengan apa pun di depannya.
“Jian akan berlatih dengan Eri dan Ian, dan aku akan melatih Tina.” Ucap Paman Yian sangat aku bantah, jelas-jelas aku ini tidak terlalu mahir di tambah badanku yang demam. Namun perintah Paman Yian tidak ada yang bisa membantah, kami harus menurut dengan kata-katanya.
Jian sudah mengambil 1 pedang dan 9 pisau, dia menatap tajam Eri dan Ian sembari memainkan pisau dan pendangnya “Ayo kawan-kawan, mari kita bermain-main sedikit.”
“Bermain-main sedikit katanya.” Resah Eri, sedari tadi kakinya terus bergerak-gerak.
Jian mulai melemparkan satu persatu pisau pada Eri dan Ian, Eri sangat kewalahan sebab Jian memakai kekuatan telekinesis, dia membolak-balikkan pisau. Sedangkan Ian dia dengan lihai menghindari setiap serang.
“Putri.” Aku menoleh ke Paman Yian, dia melemparkan satu pedang padaku, dan dia memegang satu pedang dan 1 pisau. “Fokuslah padaku.”
Aku mengangguk mantap, yang aku pusingkan bukanlah Paman Yian tapi pedang yang aku pegang. Selama hidupku, aku tidak pernah menggunakan senjata kecuali pisau untuk memasak, selebih itu aku tidak pernah memegang senjata apa pun. Pedang itu sangat tajam, terlihat kilapkan pada pedang itu. Mungkin saja, dia bisa membunuhku sekali tebasan pedang saja.
__ADS_1
Paman Yian mulai bergerak dengan pedang, aku mundur beberapa langkah untuk menghindari langkahnya. Paman Yian melangkah maju dengan menari-narikan pedangnya ke arahku, sedangkan yang aku bisa hanya mengarahkan ke depan tanpa bisa menangkis serangan yang tidak bisa aku prediksi.
“Akkkhhh.” Teriakku ketika lenganku terkena pedang, awalnya rasanya sakit namun beberapa detik kemudian rasa sakit itu hilang. Tidak seperti biasanya, biasanya aku tidak merasakan sakit namun ini aku merasakan sakit walau hanya sebentar. Apa kekuatanku menurun.
Sayatan dari pedangnya membuat darahku keluar dengan deras dan beberapa saat kemudian tubuhku melakukan penyembuhan sendiri. Belum aku memperhatikan luka yang baru aku dapat, Paman Yian sudah memberikan luka baru di leherku. Paman Yian benar-benar ingin membunuhku dengan dalih latihan.
Tangan kiriku memegang luka di leherku, awalnya memang sakit namun lama-kelamaan tidak terasa sakit. Sedangkan tangan kananku masih dengan pedang yang lumayan berat, di tambang menghadapi Paman Yian yang sangat lincah. Dari tempatku aku bisa mendengar suara teriakan dari Eri dan dia di belakang sana, aku tidak khawatir pada mereka, mereka adalah tim yang hebat, saling mengisi satu sama lain.
“Ayo Putri, gunakan kekuatanmu.” Ucap Paman Yian dengan begitu mudah, setidaknya dia harus mengingat aku hanya gadis berusia 15 tahun. “Putri, aku akan mempercepat gerakkanku, bersiap-siaplah.”
Gerakan Paman Yian menjadi sangat cepat, aku tidak siap dengan serangan-serangannya. Beberapa goresan mulai memenuhi tubuhku. Keringat mulai membanjiri tubuhku, aku berpikir keras menghadapinya, tapi jelas-jelas itu mustahil. Aku ingat aku memiliki kekuatan ruang dan waktu walau hanya 5 detik, itu mungkin saja bisa menghindarinya.
Syuut
Waktu terhenti, hampir saja aku terkena pedang di lenganku. Kali ini aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, aku berlari cepat ke arah belakang tubuh Paman Yian dan menggoreskan pedangku pada punggungnya. Tidak panjang dan tidak dalam, aku kasihan pada Paman Yian, dia tidak bisa menyembuhkan dirinya sendiri.
Syut
Darah segar mengalir deras dari perutku, rasanya sangat menyakitkan walau berangsur menghilang namun tetap saja rasanya sangat sakit, di tambah lukaku tidak sembuh dengan hitungan detik, mungkin saja sembuhnya bisa memakan waktu bermenit-menit atau bahkan berjam-jam.
“TINAA!!” Teriak Eri dari depan sana, dia dan Ian menatapku dengan khawatir. Aku juga melihat Jian, dia terlibat tegap tanpa luka di tubuhnya. Jian memang sangat kuat.
“Berdirilah Putri, suatu saat nanti kamu akan menjadi ratu di kerajaanmu. Seorang Ratu tidak boleh lemah, mereka kuat dan tidak tertandingi.” Paman Yian mundur beberapa langkah, memberikan aku waktu untuk bersiap.
Paman Yian memang benar aku adalah anak satu-satunya dari keluarga kerajaan Planet-Ku dan suatu saat nanti aku akan menjadi seorang Ratu di sana. Aku berdiri dengan hati-hati, aku memang sudah tidak merasakan sakit lagi namun tetap saja darahnya masih mengalir deras. Akan sangat memalukan jika seseorang Ratu kalah tanpa perjuangan.
__ADS_1
Aku memegang pedangku dengan kedua tanganku bergemetar, aku menatap tajam Paman Yian. Kali ini aku tidak boleh kalah, aku memang lemah tapi aku tidak akan kalah sebelum aku berjuang.
Syut
Waktu terhenti, kali ini aku tidak takut untuk melukai Paman Yian. Aku maju ke arahnya, waktuku hanya sedikit jika harus memikirkan lukaku. Aku mengarah pada kedua tangan Paman Yian, melukainya di pergelangan tangan agar kekuatan dalam pedangnya menurun. Aku buru-buru menghindar dari sana dan langsung berjaga serangan yang akan datang selanjutnya.
Syut
Paman Yian meringis, tanpa dia menoleh ke arahku dia langsung melemparkan pisaunya padaku. Aku belum siap menghindar, aku tidak berpikir Paman Yian bisa mengetahui posisiku tanpa melihatku. Alhasil pisau itu melukai pundakku, belum selesai dengan luka di perut dan yang lainnya sekarang di tambah luka di pundak yang cukup dalam.
Aku mencabut sendiri pisau dari pundakku, lalu aku langsung lemparkan pada Paman Yian. Paman Yian dengan cepat menyingkirkan pisau itu dengan pedangnya, dia maju ke arahku “Maafkan aku Putri.”
Tepat di kalimat terakhirnya yang menurutku itu seperti kata-kata terakhir yang aku dengar. Paman Yian dengan cepat mengarahkan pedangnya, dia menusuk jantungku, hatiku, perutku dan yang terakhir adalah Paman Yian memutuskan tangan kananku dari tempatnya.
Aku jatuh tersungkur, tidak kuat menerima semua serangan mematikan ini. Aku terbatuk-batuk seraya mengeluarkan darah dari mulutku, aku juga bisa melihat tangan kananku yang sudah terlepas dari tubuhku. Sebelum kesadaranku hilang, aku melihat Eri dan Ian, mereka adalah sahabat terbaik.
“TIIIINNNNAAAA.” Teriak Eri dan Ian secara bersamaan, mereka langsung berlari ke arahku, mengabaikan Jian di sana. Wajah mereka terlihat sangat cemas namun menggemaskan, Eri dan Ian menangis melihat tubuhku tak utuh lagi.
“DIA MEMANG BISA MENYEMBUHKAN DIRINYA SENDIRI!!” Eri berteriak pada Paman Yian, wajahnya terlihat sangat marah, sementara Ian menemaniku tanpa tahu harus bagaimana. Eri berkali-kali menghapus air matanya “Bukan berarti dia bisa sekuat itu...”
Kesadaranku hilang, semuanya gelap. Akankah aku akan mati, jika iya, maka biarlah, aku ingin bertemu dengan ke dua ibuku dan ayah. Hidup bersama mereka di alam sana.
Entah cahaya dari mana kini aku bisa melihat diriku berdiri mengambang tinggi dengan rambut berwarna putih dan mata yang merah. Saat ini aku berada di ruangan yang gelap, namun hanya ada sinar yang menyinari diriku dan aku yang lain.
Di depan sana seperti sebuah televisi yang besar, memperlihatkan apa yang aku lihat. Aku ingat, jika aku tidak sadarkan diri karena suatu hal, pasti diriku yang lain akan menggantikannya, namun bedanya jika dulu aku berada di luar tubuhku tapi saat ini aku di dalam tubuhku. Melihat diriku berambut putih ini mengendalikan tubuhku
__ADS_1
Aku melihat wajah teman-teman dari sama, wajah mereka terlihat sangat syok. Aku tidak peduli apa yang terjadi nantinya, biarkan rambut putih ini mengatasinya. Aku sudah sangat lelah menghadapi Paman Yian, dan sekarang waktunya aku beristirahat.