
“Akhirnya yang kami cari datang juga.” Suara itu, aku ingat sekali dengan suara itu. Dia masih sama mengenakan pakaian serba hitamnya, rambutnya masih cepak, sama dengan terakhir kali aku lihat. Dia adalah Rik, orang yang berusaha membawaku. Dia masih bersama lima orang bersamanya, dan juga beberapa prajurit Planet Capricorn. Dia tersenyum kala melihatku datang “Kamu sudah terlalu jauh berkelana Putri, mari kita pulang ke Planet kita.”
Aku menggeleng mantap, sembari tersenyum miring padanya, usaha mereka membawaku itu nihil. Banyak warga yang berkumpul dan di lindungi oleh Paman Yian dan Jian. Kami sudah bergabung kala datang, suasana sangat tegang, banyak anak-anak kecil yang menangis ketakutan. Aku juga melihat Sina menggandeng tangan Ibunya, dia menangis tanpa mengeluarkan suara.
“Lihat penghianat ini.” Suara itu berasal dari seorang berpakaian Prajurit, namun bedanya ada 3 binatang di dada kirinya. Tanpa dia menunjukkan siapa yang dia maksud, kami semua juga tahu siapa itu. “Ian Prajurit berkekuatan adalah seorang penghianat, membuat persekongkolan untuk menyerang sektor 1 dan membawa seorang Putri dari Planet Leo. Tidakkah kamu mengasihani orang tuamu?.”
Ian meludah sembarang, dia tertawa mendengar tutur kata dari Jendra bintang 3nya itu. “Selama ini kalianlah yang aku manfaatkan, hingga aku menemukan pola untuk ke Planet lain.”
Sebenarnya aku sedikit tidak mengerti apa yang di ucapkan Ian, namun aku tahu dia pasti sedih mendengarkan hal tentang orang tuanya. Sekuat-kuatnya seorang prajurit, sekuat-kuatnya seorang anak laki-laki, dia tetaplah seorang anak yang merasa sedih dan murka ketika orang tuanya di sakiti.
“Anak yang naif” Jendral bintang 3 itu terkekeh, dan di susul dengan kekehan prajurit lainnya. Jenderal yang wajahnya kelewatan seram tersenyum ke arah kami sembari menjentikkan jarinya, mengisyaratkan pada bawahannya.
Prajurit yang tidak berbintang naik ke dalam pesawat, dan keluar membawa dua orang. Yang satu wanita dan yang satunya lagi seorang pria, tangan mereka di ikat sangat kencang, wajah mereka tersenyum kala melihat Ian dan tubuh mereka yang penuh luka lebam. Aku bisa merasakan hawa murka dan marah dari Ian di sampingku, tanpa dia bilang padaku, aku tahu dia orang itu siapa.
“Iann.. anakku.” Suara rintih dari seorang ibu mampu membuat hati siapa pun yang mendengarnya ikut pilu, dia tersenyum kala melihat anak laki-lakinya sudah tumbuh besar. Dari gerak-geriknya, aku tahu dia ingin memeluk putra kesayangannya.
“Ayah.. Ibu..” Aku bisa mendengar suara bisik yang si campur rasa sedih dan rindu dari Ian yang melihat orang tuanya dengan penuh iba. Dia terlihat marah, rahangnya mengeras, urat-urat di wajahnya mulai ber-keluaran dan air mukanya berubah merah. Kedua tangannya mengepal keras “Sialan!.”
Suasana semakin tegang, Paman Yian terus menatap tajam semua musuh di depan kamu “Apa mau kalian hah?!.”
__ADS_1
“Kami ingin 3 anak itu dan Jian.” Jawaban yang mudah di tebak, Jenderal itu tidak memiliki senyum di wajahnya, dia bicara seperti robot, tidak ada ekspresi kecuali marah.
Di saat mereka berdua sedang berbicara, Ian menyenggol lenganku. Dia membisikkan untuk menghentikan waktu, awalnya aku bingung untuk apa, namun aku paham sekarang. Dia memintaku untuk menghentikan waktu untuk menyelamatkan orang tuanya dan juga menyuruh para warga berlindung. Namun waktu hanya berlangsung 5 detik, aku harus bisa membuat kami semua tergerak terkecuali pada Pria dewasa yang berseragam ini.
Aku menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskan nafas pelan-pelan. Aku menitikkan fokus pada ruang di sekitar kami dan ruang di area lawan, aku memilah siapa saja yang boleh bergerak dan tidak boleh bergerak. Aku menarik nafas dalam-dalam.
Syut
Waktu terhenti, Eri dan Ian segera menyelamatkan orang tua Ian. Paman Yian dan Jian segera membawa pergi jauh dari arena berbahaya ini. Detik demi detik sudah terlewatkan, sekarang kurang dari 2 detik. Ian dan Eri sudah berhasil membawa orang tua Ian dengan Suli, aku membantu mengangkat Ibu. Sedangkan Jian dan Paman Yian masih berlari jauh. Ibu Jian sangat cantik, namun sayangnya penuh luka di tubuhnya dan tubuhnya terlihat sangat kurus.
Dua detik sudah terlewat, waktu kami sudah habis, namun anehnya waktu masih terhenti. Tepat ketika kami sudah dalam posisi semula, waktu kembali berjalan. Aku menyadari kalau kekuatan menghentikan ruang dan waktuku meningkatkan, aku bisa menghitungnya selama 8 detik. Walau hanya bertambah 3 detik, itu sudah membuat latihanku selama ini berguna.
Ibu dan ayah Ian duduk di tengah, sedangkan kamu bertiga berdiri mengelilingi mereka, melindungi mereka dari para prajurit yang mendekat. Tanpa strategi, tanpa rencana, Eri sudah melayangkan satu bongkahan cukup besar pada mereka. Aku menatapnya dengan sengit, ini membuat lebih buruk, Jian dan Paman Yian belum kembali.
Beberapa prajurit terkena serangan dari Eri, mereka terjatuh tersungkur. Ian tidak diam saja, dia menghentikan waktunya. Aku melihat dia menyerang beberapa prajurit di depannya, aku juga tidak tinggal diam, aku mengambil satu senjata pada prajurit di depanku. Walau aku tidak pandai menggunakan senjata, tapi aku sering melihatnya dalam film-film.
Dor Dor
Aku menembak secara asal pada Prajurit di depanku, dan waktu mulai berjalan normal. Kami berengah-engah, kami berhasil membuat beberapa prajurit mati. Eri menjadi sangat brutal, dia melemparkan apa saja pada Prajurit di depannya, dia tidak memberikan ruang pada mereka untuk menyerang kembali.
__ADS_1
Syut
Waktu terhenti, kali ini bukan dariku, bukan pula dari Ian, namun dari Jendral bintang 3 di depan sana. Dia yang tidak tahu aku bisa bergerak dalam ruang dan waktu yang di buat siapa pun, aku dengan bebas menembaki prajuritnya yang terhenti itu. Dia tampak terkejut melihatku, namun dengan cepat dia melemparkan bongkahan bangunan yang cukup besar menggunakan kekuatan telekinesisnya, lalu melemparkannya ke pada kami.
Syut
Bongkahan itu datang, Eri tidak siap dengan benda itu, Ian juga berkali-kali menghentikan waktu namun tidak bisa, sebab sudah di gunakan tadi. Dengan penuh keyakinan, aku mengendalikan udara di sekitarku, cara yang sama kala latihan dengan Paman Yian. Aku menarik nafas dalam-dalam, tubuhku melayang di udara dan aku berhasil menghentikan bongkahan itu tepat di ujung kepala Eri. Aku membuangnya di depannya, aku menghela nafas, setidaknya itu bisa membuatnya terhenti.
“Terima kasih Tin.” Eri menatap nanar pada bongkahan di depannya.
Aku mengangguk padanya, aku bernafas lega. Sedikit saja aku terlambat, mungkin saja Eri sudah tidak terbentuk. Dan Ian memberikanku dua jempolnya. Akhirnya latihan yang menyakitkan bersama paman Yian membuahkan hasil, Paman Yian seharusnya ada di sini dan lihat perkembanganku.
Pikiranku teralihkan ketika ada yang bertepuk tangan di sana, Rik bertepuk tangan sembari tersenyum manis menurutnya. “Hebat sekali Putri, baru beberapa Minggu kamu sudah bisa mengendalikan udara, ruang dan waktu. Mungkin bagi kami, itu bisa di pelajari selama bertahun-tahun.”
“Aku tidak peduli, itu urusanmu.” Nadaku kelewatan ketus, dan juga aku memang tidak peduli, mau dia berlatih bertahun-tahun juga tidak ada urusannya dengan aku. “Pergilah, akan ke Planet-Ku sendiri.”
Rik terkekeh-kekeh “Bersama kami saja Putri, wargamu sudah menunggu kehadiranmu.”
“Tidak!, Kalian adalah bawahan para penghianat” Kata-kataku mampu membuatnya geram, dia mengepalkan tangannya. “Suatu saat nanti aku akan kembali bukan sebagai seorang Putri, namun sebagai seorang Ratu. RATU!.”
__ADS_1