GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"

GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"
MAKAN MALAM


__ADS_3

Langit malam yang di hiasi ribuan bintang mewarnai malam ini, di temani api unggun yang menghangatkan malam yang dingin ini. Angin yang mengibarkan rambut siapa saja yang mengenainya dan ombak-ombak yang tidak pernah berhenti bekerja.


“Eri itu milikku!” Bentakku pada Eri yang mengambil cumi-cumi panggang dari piringku, Eri tetap memakan tanpa rasa bersalah.


Eri tanpa mengenakan baju sebab perutnya masih di perban, dia makan seakan mengejekku “Aku harus makan banyak untuk masa pemulihanku, kamu yang jangan makan banyak-banyak, badanmu sangat gendut.”


Aku melempar piring pada Eri, untung saja piring itu piring plastik hingga tidak pecah jika aku melemparkannya pada Eri. Eri membalasku, dia ikut melemparkan sendok, garpu dan piring padaku. Seketika tempat ini menjadi perang antara aku dan Eri, dia Eri yang tidak mau kalah dan aku juga yang tidak mau di kalahkan.


“Anak-anak sudah cukup” Ayah Ian yang sedang duduk santai di kursi sebelahku, dia makan dengan nikmat ikan panggang di piringnya. Dia tampak biasa melihat peperangan antara aku dan Eri di depannya, terkadang ayah Ian malah memberikanku sendok atau garpu untukku melemparkan apa Eri.


“Paman jangan membantunya.” Ucap Eri seraya melemparkan piring terakhir di tangannya, dia sudah tidak memiliki apa pun untuk di lemparkan padaku. Dia mengeram marah dan melemparkan piring-piring di sekitarku dengan kekuatan telekinesisnya.


“Biarin, Ayah udah jadi Besti aku, lee” Aku menjulurkan lidahku, Eri terlihat kesal karena tidak memiliki tim pendukung sepertiku. Aku merasa puas mengejek Eri, sudah tahu lagi sakit, masih saja mengajakku bertengkar. Aku marah kala Eri menggunakan kekuatannya “Eri jangan gunakan kekuatanmu padaku.”


“Biarin.” Eri terus melemparkan sendok dan garpu dengan kekuatan telekinesisnya, aku tidak bisa membalasnya. Aku hanya berlindung di balik tubuh ayah, walau dia kesal, Eri tidak mungkin berani melemparkan Ayah piring.


Satu piring menganggur di sampingku, aku mengambilnya dan melemparkan pada Eri. Eri dengan sigap menunduk menghindari seranganku, namun sayang seribu sayang. Piring yang aku lempar mendarat tepat di wajah Ibu Ian, dan Ian yang di sebelahnya melotot padaku. Eri yang sudah mengetahui bendera merah sedang berkibar, dia menghampiriku dan berdiri di sebelahku.


“ANAK-ANAK!!” Teriak Ibu sembari menaruh hasil panggang di meja, dia terlihat tersenyum menyeramkan pada kami. Ini sudah di pastikan kami akan di hukum olehnya, dari tatapannya mampu membuat kami pingsan. Tanpa suara Ibu menunjukkan arah pantai, yang di maksudkannya adalah ‘Pergi ke sana, KALIAN DI HUKUM!!’.

__ADS_1


Aku menggeleng tidak bersalah, tapi memang aku tidak bersalah “Bu, Eri yang salah, dia mengatai aku gendut.” Wajahku memelas, namun itu tidak mampu mengubah perintah Ibu.


“Tapi benarkan.” Wajah Eri itu, ingin sekali aku memerasnya hingga tidak terbentuk lagi. Hari ini dia sangat mengesalkan, tadi pagi dia begitu saja menutup pintu kamar, padahal aku sedang menangis. Dasar Pria tidak berperasaan, tidak peka dan tidak tahu apa-apa.


“Tuhkan.” Aku mengentakkan kakiku, aku memelas meminta dukungan dari ibu namun nihil. Tanda di perintah dua kali, kami seperti pergi yang telah Ibu tunjuk. Aku berjalan kesal, kedua tanganku mengepal keras, sudah siap sekali aku menghajar wajah Eri di sebelahku “Ini semua salah kamu, aku kan belum makan panggang tadi.”


“Siapa suruh kamu tidak makan, jadi akulah yang makan.” Ucap Eri yang langsung duduk di pasir bersih ini, dia bicara seakan itu memang harus seperti itu. Eri menepuk pasir di sampingnya, seakan dia menyuruhku duduk di sana.


Aku duduk di sebelahnya, tepat pasir yang dia tepuk-tepuk. Eri melihatku dengan alis yang dia naikkan sebelah “Ngapain kamu duduk di sini?.” Aku melihat wajahnya dengan lebih bingung, bukankan tadi dia yang menyuruhku duduk di sini. Eri bersedekap dada “Tadi aku hanya membersihkan debu, bukan menyuruhmu duduk di sini.”


Aku mencubit perutnya hingga membuatnya meringis, Eri benar-benar menyebalkan. Bilang saja di memang menyuruhku duduk di sini, hanya saja dia malu mengatakannya. Dasar Pria malu-malu kucing, aku yakin tidak akan ada yang bertahan menjadi kekasihnya. Aku saja yang menjadi temannya saja di buat pusing setiap hari.


Kala aku masih mengkhawatirkan keadaannya, Eri tertawa puas. Aku mengerutkan dahi, tadi dia sangat kesakitan, namun sekarang dia tertawa terbahak-bahak. Apa kali ini dia benar mengerjaiku lagi “ERIIIIII.” Eri berdiri dan berlari meliuk-liuk menghindari cengkeraman tanganku, jika berhasil aku mendapatkannya akan langsung aku patahkan kepalanya.


Kami berkejaran-kejaran di bawah ribuan bintang yang indah, mereka menjadi saksi betapa menyebalkannya Eri. Aku yang sudah lelah mengejar Eri, memilih berhenti dan duduk di ribuan pasir. Dan Eri duduk tidak jauh dariku, dia tersenyum dan tertawa puas.


Aku merebahkan tubuhku, melihat dua bulan sabit yang sangat indah. Sesekali ada bintang jatuh di atas sana, langit berwarna biru tua dan hitam mendominasi warna langit. Tempat ini sangat nyaman, mungkin seperti ini pantai-pantai yang ada di Bali. Indahhh sekali.


Aku melihat Eri yang sedang menatap serius langit indah di atas sana, entah apa yang di pikirannya, tapi dia sedang berpikir serius. Melihatnya, aku menjadi penasaran bagaimana kehidupannya. Kalau Ian, aku sudah melihat sendiri bagaimana kehidupannya. Apakah Eri anak orang tidak mampu hingga suka memalak anak-anak di sekolah, atau mungkin dia adalah pangeran di Planet Aries. Tapi itu sepertinya tidak mungkin, sangat tidak mungkin, Eri adalah anak pembuatan onar di sekolah.

__ADS_1


“Kamu sedang memikirkanku?” Eri menoleh padaku kala aku sedang menatapnya dengan penuh tanda tanya, aku mengutuki kebodohanku melihatnya seperti itu. Bisa-bisa Eri menjadi gere karna aku melihatnya seperti itu. “Jangan-jangan kamu.”


Suara Eri yang penuh tanya itu membuatku pikiranku tidak tenang, jangan-jangan dia yang memikirkanku hal-hal aneh, contohnya aku menyukainya. Itu sangat tidak mungkin. “Jangan-jangan apa hah?!.”


Eri tersenyum miring, aku mengambil pasir dengan genggamanku dan melemparkan pada wajah Eri. Hampir saja kami memulai pertengkaran ini, Ibu sudah meneriaki nama kami “Anak-Anak ayo kemari.”


Aku segera berdiri sebelum Eri, kami berlari menuju Ibu lebih dulu. Aku mendorong tubuh Eri hingga dia terjungkal ke samping, aku menjulurkan lidahku “Dah Eri.” Aku tertawa terbahak-bahak kala duduk di kursi sebelah dengan Ian. Ibu, Ayah dan Ian menggeleng-geleng melihat kelakuanku kami, siapa suruh juga Eri sangat jahil padaku.


“Kalian seperti anak kecil saja.” Ibu memberikan dua buah cumi-cumi pangkalan dan satu ikan dan juga kepiting yang sudah di bumbui pedas, untuk saja makanan ini tidak di kemasi kotak-kotak, sebab akan aneh jika di lihat. Lalu ibu memberikan potongan yang sama pada piring Eri “Bagaimana keadaanmu?.”


Eri menjawab dengan kikuk, dia menunduk melihat piringnya yang mulai terisi penuh “Baik Bu, terima kasih telah merawatku.”


“Dia memang harus baik-baik saja, ka-re-na dia harus memalakku di sekolah.” Aku memakan cumi-cumi panggang dengan santai. Eri yang tidak terima menendang kakiku di bawah meja.


“Apa itu benar?” Tanya Ibu Ian yang tidak percaya, itu benar sekali, bahkan di hari pertama aku sekolah pada masa orientasi siswa, Eri yang memalakku dan Agnia.


“Pengngadu.”


“Memang kenyataannya seperti itu.”

__ADS_1


__ADS_2