
“Lalu untuk apa kamu datang ke tokoku?”
“Aku hanya ingin memberikan sesuatu untuk temanku sebagai ucapan permintaan maaf kek.” Jujurku tanpa menutupi apa pun, dan ya, itu berhasil. Kakek mengeluarkan kalung yang di simpan di kantungnya, lalu menaruhnya kembali ke tempat asalnya.
“Itu kalung yang mahal, mutiara ini hanya ada pada kerang di laut yang dalam.” Kakek menatapku lagi dari atas sampai bawah, dia tahu pasti aku tidak memiliki uang. “Memang kamu punya uang?.”
Aku menggeleng, uang dari mana, aku makan dan tidur saja menumpang dengan Ken dan Jian. Aku tidak pernah memikirkan uang, sebab Ken sudah memberikan kami pakaian dan makanan yang cukup. “Tidak punya kek.”
“Kalau begitu keluar, mengganggu saja?” Ucap Kakek meninggalkan aku sendiri, dia melangkah pelan mengarah pada pintu kayu di sana.
“Aku akan lakukan apa pun kek untuk mendapatkan kalung itu, kakek bisa menyuruhku apa saja.” Ucapku berhasil membuat langkah Kakek tertahan, dia berbalik badan dan melihatku dengan tatapan sinis. Aku tersenyum paksa lagi, memperlihatkan gigi-gigiku yang mulai kering “Kakek bisa menyuruhku membersihkan tempat ini.”
“Baiklah, bersihkan tempat ini, jangan sampai ada satu debu pun.” Ucap Kakek seraya berjalan dan hilang di balik pintu kayu.
Aku melompat-lompat girang, setidaknya aku bisa menembus permintaan maafku. Lagi pula ini sangat sepadan dengan perjuangan Eri mengambil ikan saat menyelam kala itu. Jadi mungkin ini juga sepadan dengan kalung yang katanya mahal itu. Awas saja jika Eri masih marah padaku, setelah usahaku mendapatkan kalung itu.
“BAIKLAH, SEMANGATT!” Api semangat 45 menyeruak dari dalam dadaku ke seluruh tubuhku, aku melihat ke sekeliling. Aku akan mulai dari barang-barang aksesoris, lalu, membersihkan ruangan ini dan terakhir membersihkan area depan toko. Sangat mudah, aku pasti bisa.
__ADS_1
“Haccimmm.” Bersinku yang entah sudah berapa kali selama satu jam ini, mataku berair begitu juga dengan hidungku. Yang awalnya aku tidak pilek, sekarang aku pilek akut. Aku menatap nanar semua aksesoris di ruang ini, belum ada setengahnya tapi sudah membuatku seperti ini. Ini tidak mudah seperti yang aku bayangkan, ini sangat berat dan sulit.
Aku menendang-nendang kardus kosong di depanku, aku merengek “Seharusnya aku tidak usah menawarkan diri untuk membersihkan tempat berdebu ini.” Aku menyeka air mata dan hidungku, aku tersenyum paksa sembari memperlihatkan gigi-gigiku yang rapi “Tak apa, tetap semangat!!.”
Kardus yang berisi kalung-kalung yang sudah di bersihkan aku taruh di pojok ruangan, kini aku mengambil beberapa gelang dan aku bersihkan dengan hati-hati dan telaten. Mengelap dengan kain basah dan langsung di keringkan dengan kain kering. Punggungku terasa sangat pegal, sebab terus duduk dan menunduk.
Hampir 45 menit aku berkutat dengan gelang-gelang cantik ini, warnanya kembali menyala kala debu-debu tersingkir. Aku menaruh gelang-gelang yang sudah di bersihkan ini ke dalam kardus, lalu aku tutup, takut terkena debu lain dan aku taruh di pojok ruang bersama kardus lainnya.
Selanjutnya aku membersihkan topi, ada yang berbentuk seperti topi di Planet bumi, ada juga yang baru aku lihat, aneh tapi bagus sekali. Ingin sekali aku membawanya untuk oleh-oleh, aku juga ingin memberikan Agnia sesuatu dari sini. Memikirkan Agnia, sedang apa ya dia sekarang, apa dia khawatir aku tidak sekolah berhari-hari.
Aku membuang pikiran lain dan fokus pada topi-topi yang sangat banyak di depanku. Dari mengelap dengan kain basah, lalu dengan kain kering, di susun dalam kardus dan membawa kardus di pojok ruangan. Di lihat memenang mudah, tapi jika di jalankan, ini sangat berat. Serasa waktu berjalan cepat namun pekerjaan berjalan lama, walau jadwal latihan nanti sore, aku takut pekerjaan ini tidak selesai.
“Akhirnya.” Ucapku kala menaruh lima kardus di pojok ruangan, aku meregangkan tubuhku. Aku melihat lagi aksesoris lainnya seperti gesper, tas dan yang lainnya dengan perasaan jenuh. Di rumah saja aku jarang bersihkan, hanya untuk Eri aku sampai bersin-bersin membersihkan ini semua.
Kembali pada aksesoris lainnya, aku mulai membersihkan lagi dan lagi, mengelap, menaruh di kardus dan membawanya di pojok ruangan. Rasanya pinggangku menjadi encok sebab mengangkat kardus-kardus yang berang dan banyak. Belum lagi ketika aku selesai membersihkan ruangan ini, menyapu, mengepel dan lainnya, aku juga harus menaruh dan menata lagi aksesoris ini di tempatnya semula.
Anting-anting yang sangat cantik, ingin sekali aku mengambilnya dan memakainya, tapi sayangnya aku tidak memiliki uang. Setidaknya aku bisa menggantikan ikan Ire-Nya Eri. Setelah membersihkan anting-anting ini aku terus dalam kardus, laku aku langsung membersihkan sepatu yang panjang dan besar.
__ADS_1
Mondar-mandir, bolak-balik aku berjalan seperti gasing. Sudah hampir semua aksesoris aku bersihkan, dan ini yang terakhir, yaitu tas-tas ayaman, tas bermotif hewan-hewan laut dan banyak lagi. Aku menghembuskan nafas panjang “Haccimm, akhirnya selesai juga.”
Aku menyeka air yang keluar dari hidungku, lalu mengangkat kardus terakhir dan membawanya ke pojok ruangan. Aku menatap keseluruhan ruangan setelah menaruh kardus di tanganku, tempat ini benar-benar tidak di urus, pasti sudah lama tidak kedatangan pengunjung.
Selesai membersihkan semua aksesoris, aku langsung membersihkan lebih dulu langit-langit ruangan, agar lantai tidak kotor lagi ketika aku membersihkan langit-langit ruangan di akhir nanti. Ruangan ini setinggi 6 meter, mana sampai aku membersihkan langit-langit di atas sana.
Aku memijat pangkal hidungku, rasanya sangat pusing. Ini juga sudah lewat tengah hari, tinggal beberapa jam lagi latihan akan di mulai. Aku berpikir dengan otakku yang susah di ajak kerja sama dan aku menemukan ide. Aku mengelus kepalaku sendiri Kerja bagus otak.”
Aku mengangkat keduaku tanganku ke atas, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan pelan-pelan. Angin di ruangan ini bersiur mengelilingi tubuhku, debu-debu mulai beterbangan. Merasa sudah cukup kuat udara Yanga ku kendalikan, aku arahkan semua udara ibu ke langit-langit ruangan. Udara berputar searah jarum jam, menapaki setiap jengkal langit-langit dan membawa debu-debu itu ke tengah pusaran.
Aku tersenyum senang sembari melihat langit-langit ruangan, sangat mudah sekali. Jika saja aku bisa mengendalikan Air dan telekinesis, mungkin hanya 30 menit aku membersihkan tempat ini. Melihat tidak ada lagi jaring laba-laba di atas sana, aku membawa pusaran udara itu keluar toko.
Wusss
Angin itu menghempas debu-debu tadi ke halaman toko dan aku tinggal menyapunya. Setelah membersihkan debu-debu itu, aku kembali ke dalam toko dan melihat langit-langit. Di sana sudah bersih, tidak ada lagi jaring laba-laba dan tidak ada debu. Kini tinggal membersihkan rak-rak dan lantai. Kali ini aku memanfaatkan lagi Kekuatan Pengendalian Udara, akan menghabiskan banyak waktu jika aku membersihkan secara manual. “Hacccimm.”
Udara mulai mengelilingiku sedikit demi sedikit, lalu aku mengarahkan mereka pada setiap sudut ruangan, memutar searah jarum jam. Banyak sekali debu-debu coklat masuk dalam pusaran udara, dari satu rak ke rak lainnya. Setelah merasa sudah semua debu yang terangkat, aku arahkan pusaran udara ini keluar toko.
__ADS_1
Wuss
Udara menghilang dan menyisakan debu yang sangat banyak di hadapanku, toko ini benar-benar kotor. Sayang sekali dengan aksesorinya, untung saja aksesorinya tidak ada yang rusak. Kakek sudah terlalu tua untuk membersihkan tempat ini sendiri, aku saja yang masih muda sudah sangat lelah, belum lagi pinggangku yang terasa sangat pegal. Aku tidak bisa membayangkan jika Kakek hidup sendirian di sini, pasti hidupnya kesepian.