GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"

GALAKSI ZODIAK "PLANET CAPRICORN"
IKAN BERCAHAYA


__ADS_3

Hmmm.” Aku menoleh pada Riz, dia melambai-lambai tangannya dan menunjuk sesuatu di pasir. Dengan tombaknya dia menunjukkan sesuatu di pasir, itu kerangnya. Saat aku ingin mengambil itu, Riz melarangku.


Aku memiringkan kepala, aku bingung kenapa tidak langsung di ambil. Namun kebingunganku langsung di jawab, Riz mengarahkan tombaknya pada pasir di belakang kerang itu dan. “Hap” tombak Riz menembus sesuatu, seperti gurita namun berwarna hitam. Darah keluar dari gurita itu, dia meronta-ronta mencabut tombak dari tubuhnya. Namun beberapa detik kemudian, gurita itu tidak bergerak lagi, gurita itu telah tiada.


Aku kasihan sekali aku melihat gurita itu tiada. Riz langsung mengambil kerang di bawah gurita itu dan memberikannya padaku dan guritanya dia masukkan ke jaring yang tersemat di pinggangnya. Kalau aku lihat lagi, kerang ini yang pernah aku lihat sebelumnya. Itu kerang yang sama dari pemberian Ian, iya, itu sama persis. Itu berarti Ian mengambil kerang ini di sini, membunuh gurita itu juga.


“Hmmm.” Aku menoleh lagi pada Riz, dia menyuruhku mencari sendiri kerang yang lain melalui bahasa isyarat tubuhnya. Namun aku menggeleng, aku tidak mau menyakiti makhluk apa pun, kecuali makhluk itu merugikan orang lain. Toh juga di sini kita yang merugikan mereka, jadi aku tidak mau. Aku ingin mencari ikan bercahaya saja.


Mengayunkan kaki-kakiku, mengelilingi terumbu karang dan melihat dengan saksama. Siapa tahu ikan bercahaya itu bersembunyi di sana, tapi jika mengingat perkataan Riz, kalau Ikan bercahaya itu akan datang dengan orang yang berhati bersih. Jika melihatku, aku bukanlah orang yang berhati bersih, aku sering kali marah-marah pada Eri dan mengerjainya. Mana mungkin hatiku bersih, aku saja sering mengunjungi orang dengan hatiku sendiri.


Sekitar 10 menit aku mengelilingi terumbu karang ini, namun tidak ada tanda-tanda ikan bercahaya. Sebenarnya aku juga tidak tahu ikan bercahaya itu seperti apa, tapi yang pasti ikan itu bercahaya. Hanya ada ikan-ikan yang pipih dan panjang, sesekali aku juga melihat seekor kura-kura.


5 menit berlalu, tidak ada tanda-tanda kehadiran ikan bercahaya. Riz mungkin benar, Ikan itu akan datang pada orang berhati bersih. Riz mendekatiku, di jaringan banyak sekali ikan-ikan dan gurita, di jaring lainnya juga aku melihat dua kerang. Riz menunjuk ke arah permukaan lalu tabung oksigen. Mungkin oksigen di tabungnya sudah mulai menipis, tapi bagaimana denganku, aku belum bisa menemukan ikan bercahaya.


Aku membuat tanda silang dengan tanganku, aku belum mau ke permukaan. Aku akan di sini sampai menemukan ikan bercahaya itu sendiri, sudah sejauh ini, tidak mau aku kembali tanpa membawa apa pun. Aku menyuruh Riz dan yang lainnya lebih dulu naik ke kapal dan aku menunggu beberapa menit lagi di sini.


Awalnya Riz melihatku dengan ragu, namun tak lama dia mengaguk. Dia bilang untuk tidak terlalu lama di sini dan cepat kembali ke kapal. Aku mengangguk, kulit tangan dan kakiku pun mulai keriput, dan air dingin ini semakin lama semakin dingin.


Aku berkeliling sekali lagi, tidak ada yang membuatku curiga, aku juga sudah mendekati terumbu karang dan memegang beberapa ikan di sana. Sangat menggemaskan, tapi aku tidak tertarik untuk membawa mereka. Kali ini aku menelusuri pasir-pasir, tidak ada yang mencurigakan, sampai aku melihat sesuatu yang berkilau.

__ADS_1


Aku melihat lebih jelas lagi, cahaya berkilau itu berasal dari bawah terumbu karang, di bawah terumbu karang memiliki sedikit ruang kecil di sana. Aku mengayunkan kaki, mendekati cahaya berkilau itu, aku yakin sekali, sebelumnya tidak ada kilauan di sana. Dan mungkin saja itu adalah Ikan bercahaya yang aku cari-cari.


Semakin mendekat semakin cepat detak jantungku, semakin dekat kilauan cahaya itu menyilaukan cahayaku. Perasaan apa ini, sulit menjelaskannya. Perasaan ini terasa seperti perasaan tenang dan damai, sebelumnya aku mendengar suara-suara beberapa ikan, kini senyap, suara-suara itu hilang begitu saja. Perasaan yang tidak pernah aku rasakan, entah kepada perasaan dan pikiranku lebih tenang dari sebelumnya.


Tinggal beberapa meter lagi, sedikit lagi. Semakin dekat, semakin jelas pula di balik kilauan itu. Sedikit lagi, hampir sampai dan aku melihatnya dengan jelas. Ikan itu, itu adalah ikan bercahaya, tidak salah lagi. Mata berwarna biru langit yang memancarkan sinar cahaya, sisik berwarna perpaduan antara putih dan hijau muda dan ekor serta siripnya yang panjang menjuntai anggun mengikuti arahan tuannya.


Satu kata untuk ikan di depanku adalah menakjubkan, ikan ini benar-benar indah dan cantik, memancar perasaan tenang dan damai. Ikan itu berenang mendekatiku dengan anggun, dia berputar-putar mengelilingi tubuhku dan cahaya itu tidak pernah pudar dari tubuhnya.


Melihatnya membuatku senang sendiri, secara tidak langsung ikan ini membuktikan kalau hatiku bersih. Aku harus menunjukkan ikan ini pada Eri, agar dia tahu bahwa temannya ini memiliki hati yang bersih dan baik. Dan tidak seharusnya dia menjahili orang baik sepertiku.


Ikan bercahaya itu berhenti berenang tepat di depan wajahku, dia menatapku dengan mata indahnya. Ingin sekali aku menangkapnya, tapi, aku tidak tahu, ikan ini terlalu spesial dan istimewa untuk di tangkap. Namun akan percuma aku datang kesini dengan susah payah, aku menghabiskan waktu seharian untuk kalung itu dan akan sia-sia aku kesini kalau tidak menangkapnya.


Tapi saat aku berpikir untuk menangkapnya, aku melihat 5 kilauan kecil di tempat sebelumnya Ikan ini berada. Aku yakin itu adalah anak-anaknya, mereka sangat lucu dan sangat mirip dengan ibunya. Mereka keluar dari tempat tinggalnya dan menghampiriku, mereka juga mengelilingiku mengikuti Ibunya.


Aku tersenyum dan tertawa kecil, mereka semua sangat menggemaskan. Ingin sekali aku tunjukkan ini pada Eri dan Ian, ekspresi wajah mereka pasti sama sepertiku. Kami bermain-main, perasaan cemas, sedih dan beban yang aku tanggung berkurang. Mereka membawa dampak baik bagi diri mereka dan makhluk di sekitar mereka.


Kini keputusanku sudah bulat, aku memutuskan untuk tidak menangkap mereka. Aku tidak mau ambisiusku mendapatkan kalung Kakek membawa dampak buruk bagi keluarga kecil ikan ini dan makhluk sekitarnya. Aku tidak mau jika anak-anak ikan kecil ini terpisah dengan ibu mereka, dunia ini sangat kejam dan berbahaya untuk anak-anak Ikan sekecil mereka.


Sesudah bermain dengan mereka, aku mengelus ikan-ikan mengemaskan ini. Ini belaian terakhirku, aku akan kembali ke permukaan, Riz dan yang lainnya pasti sudah menunggu. Untuk ikan ini, walau tidak membawa mereka, tapi perjalanan ini tidak sia-sia, bertemu dan bermain dengan mereka sudah lebih dari cukup.

__ADS_1


Aku melambai pada mereka, ingin sekali aku berlama-lama di sini, tapi melihat tanganku yang sudah berkeriput membuatku berpikir dua kali. Aku melihat wajah-wajah ikan ini terakhir kali, di Planet Bumi pasti tidak ada yang seperti mereka. Dan entah kapan lagi aku bisa ke sini lagi, jika bisa aku akan ke sini lagi dan bertemu mereka.


“Unggung.” Aku mendengar suara, tapi dari mana asalnya. Aku menoleh ke bawah, melihat ikan-ikan bercahaya mengeluarkan cahaya sangat terang, bahkan aku sulit melihatnya. Tak lama cahaya itu sedikit meredup, ada cahaya yang menghampiriku.


Mutiara bercahaya, itu adalah mutiara yang sangat indah. Mutiara itu menghampiriku dengan perlahan dengan cahayanya yang memikat. Aku menatap kembali ikan-ikan di bawah sana, mereka tampak melambaikan sirip-sirip mereka. Ketika mutiara sudah ada di hadapanku, aku langsung mengambilnya. Apakah mereka yang memberikan aku ini, mereka memberikan aku mutiara. Aku memasukkan mutiara ini dalam sakuku.


Aku tersenyum lebar, aku melambai sekali lagi. Aku mengayunkan kakiku untuk mencapai permukaan dengan perasaan senang dan bahagia, ternyata tidak ada yang sia-sia jika kita melakukannya dengan tulus dan baik. Sedikit lagi aku sampai di permukaan dan sedikit lagi juga aku akan mengalami perpindahan pernafasan yang menyesakkan.


“Hahhh hahhhh.” Aku mulai bernafas dengan udara setelah mencapai permukaan, tapi kali ini berbeda. Aku tidak lagi mengalami sesak dan pening. Bernafas seperti biasa, tidak ada adegan batuk-batuk atau lemas, ini benar-benar seperti aku bernafas biasa.


“TINA CEPAT NAIK.” Riz berteriak dari atas sana, rasanya terlalu pegal untuk menaiki tangga, tapi apa boleh buat, itu adalah jalan satu-satunya ke atas kapal. Aku melepas sendal kodok ini dan mulai menaiki tangga satu persatu.


Berjalan di geladak kapal, menaruh jaring, tombak, dan sendal kodok di lantai. Aku melihat Riz sedang bersedekap dada, mukanya terlihat serius, namun aku tidak peduli. Aku merebahkan diriku di lantai kapal ini, kakiku sangat pegal dan lemas. Aku juga tidak tahu kenapa kekuatan penyembuhan tidak bisa mengobati luka yang tidak berdarah, rata-rata luka yang berdarah baru bisa di sembuhkan.


“Kenapa kamu lama sekali?, Kamu tidak tahu, kami semua di sini khawatir padaku.” Ucap Riz sembari menghampiriku, wajahnya serius sekali, aku tidak pernah melihatnya seserius ini.


“Tidak semua, aku tidak peduli dengannya.” Sahut Gap yang tidak mau di samakkan, toh aku juga tidak peduli dia khawatir padaku atau tidak. Aku mendongak melihat Gap sedang memilah ikan-ikan dan gurita, dia memang seperti Kakek itu. Sangat menyebalkan.


“Kamu sudah bertemu dengan Ikan bercahaya itu?, Kenapa lama sekali di sana?, Kenapa juga kami bisa bernafas dalam air?, Kekuatan apa saja yang kamu miliki?” Riz mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaannya yang membuatku pusing. Sungguh, aku lelah sekali, satu hari ini aku tidak beristirahat sedikit pun. Aku mendengar helaan nafas panjang dari Riz “Ya sudah, kamu istirahat saja sana. Kami akan ke laut timur untuk mencari ikan yang lain.”

__ADS_1


Aku bangun dari tidurku dan tersenyum pada Riz, itulah yang aku inginkan sekarang ini. Aku pergi ke tempat tidurnya orang-orang kapal, aku mengunci pintu, berganti baju dan juga tidur. Mencari mimpi indah, mimpi di mana yang tidak bisa aku dapatkan di kehidupan nyata. Itu kenapa mimpi di ciptakan, walau kerasnya hidup di dunia nyata, tapi kita bisa menjalani kehidupan bahagia di dunia mimpi.


__ADS_2